
Cerita sebelumnya:
Makan malam pun datang di kamar mereka. Eva makan lebih dulu dan dia terkena racun.Dia hampir saja sekarat, untungnya Diana dengan cepat meminumkan ramuan penyembuh padanya. Sehingga Eva bisa bergerak dan menangani racun itu dengan sihir cahaya miliknya.
Ren mengetahui kabar itu dan dengan cepat menemui mereka. Untung saja Eva baik-baik saja karena dia bisa menyelamatkan dirinya dengan sihir cahaya.
Ren langsung memanggil semua orang yang terlibat untuk memasak makan malam. Dia mengintrogasi mereka satu per satu dan akhirnya menemukan pelakunya. Dia berusaha menemukan dalang lainnya, tapi pelayan itu bersikukuh untuk tidak membuka mulut. Akhirnya Sayn melenyapkan nya menjadi abu
***
Suasana hati Lena benar-benar buruk sekarang. Apalagi setelah melihat kakak kesayangan lebih memilih orang asing dibandingkan dirinya. Hal itu membuat nya semakin murka.
Dia bahkan memukuli para pengawal untuk melampiaskan amarahnya. Untung saja pukulannya sangat lemah, sehingga tidak terjadi apapun kepada pengawal itu.
Lena terus memasang wajah jelek saat dia menuju kamarnya. Lalu dia menemukan sesuatu yang tidak terduga.
Seorang elf wanita yang mengenakan pakaian pelayan, sedang berdiri di sudut lorong dengan sikap yang mencurigakan. Elf pelayan itu terus bergumam dengan bibir gemetar.
"Manusia menjijikan...aku menyentuh baju mereka...itu sangat menjijikan... aku sama sekali tidak ingin membersihkan kamar bekas mereka...aku ingin membakar nya... menjijikan... menjijikan..."
"Manusia?" Mata Lena langsung berbinar. Dia tahu manusia yang dimaksud. Mereka adalah tamu yang dibawa oleh Ren dari tempat antah berantah.
Lena dengan bersemangat menghampiri elf pelayan itu. "Hei, aku mendengar mu" Dia tersenyum senang.
Elf itu tersentak kaget saat berbalik dan langsung membungkuk hormat. "Putri..." katanya dengan wajah gugup.
"Aku mendengar semua omonganmu. Menurutmu apa yang akan terjadi kalau kakak mendengarnya?" Lena tersenyum licik.
"Putri...aku..." Wajah pelayan itu langsung memucat.
"Tenang saja. Aku hanya bercanda" Lena menepuk bahunya sambil tertawa bahagia. "Jangan terlalu serius"
Pelayan itu menghela napas lega "Terima kasih putri"
"Apa yang terjadi? Kenapa kau sangat membenci para manusia itu?" Lena bertanya dengan mata penasaran.
Elf itu pun menceritakan masa lalunya yang pahit. Dia menceritakan bagaimana orang tuanya dibunuh oleh manusia. Dan bagaimana dia bisa melarikan diri saat menjadi budak. Dia benar-benar penuh dendam dan sangat ketakutan saat itu. Walaupun sekarang dia sudah bebas dari cengkraman manusia dan hidup di istana. Kebenciannya semakin membekas.
Jadi saat dia melihat Ren membawa para manusia itu, kebencian nya menjadi bangkit kembali.
Lena mengangguk setelah mendengar keseluruhan cerita. "Sebenarnya aku juga tidak menyukai para manusia itu" dia tersenyum.
Pelayan itu tersentak dan menatap Lena dengan mata berbinar. "Bukankah mereka sangat menjijikan putri?"
__ADS_1
Lena mengangguk "Ya" Lalu dia menatap pelayan itu serius. "Aku akan membantumu mengatasi kebencianmu" dia tersenyum penuh arti.
"Benarkah putri? Kau sungguh baik. Aku yakin kau akan segera menjadi ratu di istana ini. Sejak Yang Mulia tidak memiliki calon putri mahkota sama sekali. Tuan putri lah kandidat yang cocok" dia sangat bersyukur dan memuji Lena dengan segenap hati nya.
Lena tersenyum sinis setelah mendengar pujiannya. "Tentu saja aku akan menjadi ratu. Aku akan menemani kakak Ren seumur hidupku" katanya percaya diri. Karena itulah dia perlu menyingkirkan semua parasit yang mengelilingi Ren. Parasit itu harus segera dimusnahkan agar Ren tetap murni.
Lena pun memberitahu rencananya. Pelayan itu mendengar kan dengan antusias.
"Tapi aku tidak bertanggung jawab kalau tugasmu gagal. Itu tanggung jawabmu" Lena memperingati. Dia tidak ingin namanya terlibat kalau pelayan ini ketahuan.
Pelayan itu mengangguk. "Aku sudah sangat bersyukur putri membantuku"
"tapi aku tetap harus memiliki asuransi" Lena mengeluarkan sebuah kertas kontrak. "Tanda tangani ini dengan darahmu" dia memerintahkan. Ini adalah kontrak perjanjian darah. Kalau pelayan itu menyebutkan namanya, maka dia akan langsung mati di tempat. Sang pelayan langsung menandatangani nya tanpa ragu-ragu. Dengan begitu rencana mereka pun dimulai.
***
Ren memang kejam. Dia bisa membunuh mahluk hidup semudah itu. Bahkan tidak ada darah yang berceceran. Pembunuhannya sangat bersih.
Aku sudah terbiasa melihat adegan seperti ini. Tapi tidak dengan Diana. Aku bisa melihatnya terdiam mematung karena terkejut. Tapi reaksi ketakutannya tidak terlalu berlebihan. Diana menenangkan dirinya lagi setelah itu.
"Aku tidak tahu siapa lagi yang terlibat, tapi aku pasti akan menemukannya" kata Ren setelah dia membubarkan seluruh pekerja untuk kembali ke tugas mereka masing-masing.
"Tidak perlu" aku menjawab canggung. Kelihatannya elf gelap yang meracuni kami sangat membenci manusia. Karena itu dia melakukan nya dengan motif dendam pribadi.
"Kami menyimpan beberapa makanan di ruang dimensi. Jadi semuanya baik-baik saja. Kami akan makan dulu sekarang." kata Diana, membuat wajah Ren sedikit kecewa karenanya.
Mereka tidak mempedulikan perubahan ekspresi Ren. Mereka hanya makan dengan cepat sementara Ren menunggu di dekat pintu dengan canggung. Awalnya Diana sudah menyuruh Ren untuk duduk di sofa dan makan bersama mereka. Tapi Ren menolaknya. Dia lebih memilih berdiri di depan pintu.
Lima belas menit kemudian, aku sudah selesai makan. Untung saja yang kami bawa bukan makanan kering. Jadi aku sedikit menikmati makanannya. Kami juga menyimpan daging masak di dalam. Jadi tidak buruk juga.
Akhirnya, Ren pun memandu kami ke laboratorium istana. Laboratorium itu sangat jauh. Lebih jauh dari aula. Setelah melewati halaman luas yang kulihat tadi siang, kami pergi ke bangunan berikut nya. Ternyata bangunan laboratorium terpisah dari bangunan utama istana. Dan letaknya berada di ujung istana.
Kami masuk dan seluruh ruangan lebih gelap dari biasanya. Kenapa suasana di istana elf sesuram ini? Mereka tidak semiskin itu untuk tidak mampu membeli lampu. Atau mereka alergi terhadap cahaya? Tapi itu tidak mungkin karena aku bisa melihat bahwa elf bermain dengan lincah di siang hari.
Kami memasuki ruang tunggu laboratorium yang penuh dengan berbagai macam tanaman yang digantung. Kami terus maju dan menemukan ruangan lainnya. Ruangan itu adalah ruang penelitian.
Kesan ruangan ini sangat berbeda jauh dari ruang penelitian yang ada di bumi. Ada banyak sekali alat aneh dan juga topless-topless aneh. Mengingatkanku pada gudang penyihir tapi terlihat lebih modern.
Ada tiga orang di dalam ruang penelitian itu. Satu orang pria tua dengan jenggot putih panjang dan dua orang wanita dengan masker hitam. Sungguh mengagetkan bahwa ketiga orang itu adalah manusia, bukan elf.
Tiga orang itu tahu bahwa Ren datang dan langsung menyambut nya.
"Selamat datang Yang Mulia..." mereka membungkuk hormat secara bersamaan.
__ADS_1
"Aku kemari karena ada yang ingin kubicarakan dengan Emerta. Sisanya boleh pergi" kata Ren lugas.
Dua orang lainnya mengangguk patuh dan melangkah kan kaki mereka keluar ruangan, menyisakan seorang wanita dengan masker hitam. Wanita itu menundukkan kepalanya dan dia memakai masker, jadi kita sama sekali tidak bisa melihat seperti apa ekspresi nya.
"Ibu..." Diana bergumam kecil.
Wanita itu sedikit bergeming dan perlahan membuka maskernya. "Diana..." dia berkata dengan ekspresi yang sangat sedih.
Diana langsung berlari memeluknya. Dan kedua wanita itu menangis tersedu-sedu.
"Nikmati waktu kalian" Ren pergi meninggalkan ruangan, menyisakan sekelompok keluarga itu di sana. Dia ingin membiarkan mereka berbicara secara pribadi dan tidak mau ikut campur.
Aku mengamati Emerta dan Diana yang sedang menangis sambil menggendong Evan yang tertidur.
Aku sebenarnya sedikit bingung. Bukankah Emerta sama sekali tidak memiliki emosi karena dia manusia buatan? Tapi kenapa dia terlihat seperti manusia normal bagiku. Dia bisa menangis dan memakai ekspresi sedih seperti itu.
Emerta memiliki penampilan yang sedikit berbeda dari Diana. Aku mungkin tidak akan mengira mereka adalah ibu dan anak. Rambut Emerta berwarna ungu dan matanya berwarna emas. Penampilan seperti itu termasuk langka bagi ras manusia.
Setelah memasuki dunia ini, aku jadi tahu penampilan umum ras yang ada disini, termasuk manusia. Tujuh puluh persen dari mereka memiliki rambut coklat seperti Diana dan Reina. sepuluh persen rambut emas seperti ku, Denis, dan Duke. Sepuluh persen lagi rambut hitam seperti Sayn dan Robert. Lima persen rambut merah (seperti Lilac) dan silver (Charlotte). Lima persennya lagi rambut hijau dan warna lainnya. Warna ungu termasuk warna yang sangat langka.
Bukan hanya rambut, bentuk wajah Emerta dan Diana pun berbeda. Emerta memiliki rahang tajam dan membuat penampilan nya tampak elegan dan dingin. Tetapi Diana memiliki pipi bulat, bahkan lemak bayinya masih ada walaupun dia sudah dewasa. Membuat nya memiliki kesan polos dan imut. Mungkin penampilan Diana menurun dari ayahnya.
Kedua wanita itu pun berhenti menangis. Diana pun melepaskan pelukannya. "Eva kemari" dia berkata dengan suara serak karena habis menangis.
Aku langsung maju di dekat mereka dan sedikit membungkuk kan tubuh untuk memberi salam. "Halo, nenek"
Tubuh Emerta membeku sesaat. Dia menatap gadis kecil cantik di depannya dan juga bayi kecil itu tanpa mengerjap.
"Ibu, mereka adalah anak-anakku. Aku ingin mengenalkan nya padamu" kata Diana kemudian.
Emerta masih membeku. Aku bingung dengan respon nya. Apa dia tidak menyukai kami?
Diana secara perlahan mengambil Evan dari Eva dan memeluknya. "Mereka adalah anak perempuan dan anak laki-laki yang sangat cantik" Diana berkata. "Benarkan ibu?"
"Iya..." akhirnya Emerta membuka mulutnya.
Dia menatap Eva dengan senyum yang sangat cantik. "Kemari Eva sayang"
Mataku langsung berbinar. Dan aku memeluk nya dengan cepat.
"Nenek." kataku pelan sambil membenamkan wajahku di perutnya.
Mendengar kata "nenek", Emerta membeku lagi sebelum akhirnya bulir air mata kembali mengalir di pipinya. Dia menangis lagi untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1