Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 7 Raja Albion


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Eva mendapatkan dua hari libur setiap minggunya. saat itu dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya saat libur. Tapi Duke dan Diana tidak ada disana karena mereka kembali ke markas utama. Eva mendapatkan informasi bahwa Duke sedang memiliki konflik dengan Raja, karena itulah dia kembali ke mansion utama.


Eva pun belajar membuat golem dengan bantuan Ren. Walaupun dia belum bisa menggunakan kristal sihir berharga itu, Eva sudah membuat banyak sekali golem secara random dan Ren berjanji padanya akan membantu nya membuat golem raksasa.


Lalu juga ada masalah lain saat dia menemui Vivian. Toko mereka berada dalam bahaya karena para bangsawan di kerajaan itu mulai menginginkan hak milik mereka. Padahal sebelumnya Denis sudah membuat perjanjian kerja sama dengannya. Tapi pihak kerajaan itu membatalkan nya.


***


Aku kembali ke kerajaan Kano dengan wajah linglung. Aku benar-benar belum mendapatkan jalan keluar untuk mendirikan tokoku lagi kalau Kerajaan Well melarangku berjualan. Haruskah aku berhenti berjualan? Arg, aku tidak tahu. Aku akan memikirkan nya nanti. Lagipula mereka tidak akan mengusir kita sekarang, jadi aku masih punya banyak waktu.


Beberapa hari berlalu. Aku belum mendapat kabar terbaru dari Vivian. Jadi kelihatannya untuk saat ini kami hanya bisa mundur kalau mereka tetap berniat untuk menekan kami karena hak milik itu.


Tapi tiba-tiba, saat kelas berakhir, aku mendapat kan telapati dari Ricko. Bocah itu memberitahu ku bahwa markas mereka sedang diserang oleh segerombolan penyihir. Mereka kalah jumlah dan mungkin akan berakhir dengan kekalahan. Dia meminta bantuan.


Aku sangat panik. Aku ingin pergi kesana untuk membantu. Tapi bagaimana? Aku bahkan tidak tahu markas mereka. Walaupun Ricko menjelaskan bahwa markas mereka berada di tengah hutan, tetap saja aku tidak bisa kesana dengan cepat. Butuh waktu untuk mencari tempat nya, dan saat aku tiba, itu sudah terlambat.


Dalam keadaan panik seperti itu, entah kenapa aku langsung memikirkan Ren. Ren pasti mengetahui tempat itu dan dia bisa sampai disana dengan cepat. Jujur saja, aku tidak enak meminta bantuan Ren, tapi aku masih menghubungi nya.


"Ren?"


"Ada apa?"


Ren membalas sinyal telepati ku dengan cepat.


"Apa kau tahu dimana tempat persembunyian para penyihir gelap?" aku bertanya dengan hati-hati.


"Aku tahu" dia menjawab dengan nada datar.


Gulp!


Aku menahan rasa gugupku dan bertanya lagi. "Kalau aku memintamu untuk menolong seseorang, apa kau keberatan?"

__ADS_1


"Siapa? Tidak masalah" dia menjawab.


"Walaupun itu manusia?"


"Tidak masalah"


Aku mendesah lega saat mendengar jawaban Ren. Aku mendengar bahwa elf sangat tidak menyukai manusia. Mereka tidak akan pernah ikut campur dalam kehidupan manusia karena mereka memiliki kehidupan sendiri.


Kelihatannya tidak masalah untuk meminta tolong pada Ren. Aku pun langsung menceritakan semuanya. Aku berkata-kata pada Ren bahwa aku memiliki seorang adik di dunia lain. Aku tidak memberitahu Ren perihal reinkarnasi. Aku hanya menjelaskan bahwa aku sering melihat adik laki-laki ini di dalam mimpi. Lalu dia datang ke dunia ini sebagai mahluk asing yang dikirim oleh dewa dan mulai menjadi target pemburuan semua orang. Saat ini bocah itu sedang berada di tempat persembunyian penyihir gelap. Tempat persembunyian mereka terbuka dan para penyihir mulai menyerang mereka. Mereka kalah jumlah, jadi aku ingin Ren menolong adikku itu.


Aku tidak menjelaskan bagaimana cara Ren menolong nya. Itu terserah padanya. Aku tidak mau terlalu banyak menuntut. Aku hanya berpesan pada Ren agar tidak membiarkan bocah itu terluka.


"Baiklah" jawab Ren. Suaranya sangat datar sehingga aku sama sekali tidak bisa menerka emosinya. Tapi aku kira dia tidak keberatan, jadi aku merasa tenang.


Setelah itu telepati kami terputus. Aku hanya harus menunggu kabar baik dari Ren. Tapi siapa yang menyangka bahwa kabar baik itu akan datang dengan cepat.


Hanya dalam dua jam, Ren menghubungi ku kembali dan berkata. "Selesai"


Aku tersentak. "Apa dia selamat?" aku bertanya.


"Terima kasih Ren" kataku sungguh-sungguh dengan mata berkaca-kaca. Aku tidak akan meragukan nya sejak dia sangat kuat. Dan dia tidak akan berbohong.


"Tidak masalah"


"Apa kau ingin sesuatu sebagai balas budi?" tanyaku langsung. "Aku akan melakukan apapun untuk membantumu di masa depan" kataku bersemangat.


"Apa kau benar-benar akan melakukan apapun?" Ren bertanya.


Entah kenapa aku merasa sangat tidak nyaman saat mendengar suaranya. Kenapa terdengar sangat nakal?


Melihat Eva tidak menjawab, Ren berkata lagi sambil tertawa kecil. "Aku tidak membutuhkan nya sekarang. Kalau aku butuh bantuanmu aku akan menghubungi mu" katanya.


"Baiklah. Sekali lagi terima kasih"

__ADS_1


Setelah mendapat konfirmasi dari Ren, aku segera menghubungi Ricko. Tapi bocah itu mengabaikan telepatiku. Aku sedikit kesal saat dia melakukan nya. Aku mencoba berpikir positif, dia mungkin sedang sibuk. Aku akan membiarkan nya untuk menghubungi ku nanti.


Keesokan harinya, Kerajaan Kano sangat sibuk. Karena menurut informasi yang didapat, utusan dari Kerajaan Albion akan tiba hari ini. Jadi istana sangat sibuk karena mereka ingin menyambut mereka sebaik mungkin. Lagipula Raja juga datang, walaupun dia akan kembali besok. Tidak seperti sang utusan yang akan menginap beberapa hari untuk membicarakan hubungan kerja sama.


Mereka sangat bersungguh-sungguh karena ingin menyambut seorang Raja. Kalau hanya utusan kerajaan yang datang, mereka tidak akan sesibuk ini.


Saat aku berada di kelas, aku bisa melihat para pelayan itu bolak-balik berkeliaran. Begitu juga dengan para pengawal. Pemandangan ini tentu saja menarik perhatian kami, para pendatang dari Kerajaan Well.


"Mereka sedang bersiap-siap untuk menyambut Raja Albion" kata Putra Mahkota bangga. "Tenang saja. Aku akan mengajak kalian semua melihat upacara penyambutan nya"


Dan itu benar. Beberapa menit kemudian kami semua menuju ke depan gerbang ibukota untuk menunggu para utusan itu.


Mereka pun tiba dengan sangat mewah. Kereta kuda itu sangat besar dan berkilauan. Dibawa oleh sekitar dua belas kuda di depannya. Bahkan kami sekeluarga tidak memiliki kereta kuda seperti ini.


Setelah itu ada sekitar ratusan prajurit berkuda yang mengawal mereka dari depan dan belakang. Suasana terlihat sangat penuh saat mereka masuk. Seakan-akan mereka ada rombongan perang yang baru saja tiba. Rombongan ini terlihat sangat mencolok karena mungkin mereka membawa raja di dalamnya. Tapi jujur saja, aku tidak pernah menyangka bahwa kerajaan Albion memiliki rombongan seperti ini. Aku pernah ke ibukota kerajaan mereka dan menurutku itu tidak terlalu istimewa.


Aku penasaran dan ingin lebih tahu lebih jauh. Jadi saat kereta itu mulai memasuki istana, aku mencari tempat untuk mengintip bersama dengan siswa lainnya. Itu sangat mudah, karena tidak hanya kami yang menonton, para bangsawan juga datang ke istana untuk menonton juga.


Pintu kereta besar itu terbuka. Seorang pria tua keluar dari dalam dengan tongkat kecil untuk menahan tubuhnya. Seorang pemuda juga berada di samping kirinya untuk membantunya berdiri. Itu pasti raja. Tapi aku tidak mengenal pria muda itu sampai gadis bangsawan di samping ku berteriak kaget.


"Astagaa, itu pangeran Erick!"


"Bagaimana dengan utusannya? Tidak ada utusan yang datang! Ini mengejutkan! Raja dan pangeran datang berkunjung sendiri!"


Jadi, pria muda itu adalah seorang pangeran.


Raja Albion adalah pria yang sangat tua, seperti seorang kakek. Bahkan Raja Well dan Raja Kano jauh lebih muda dibandingkan. Aku bingung bagaimana kakek setua itu bisa memimpin kerajaan. Dan kenapa dia tidak mewariskan tahtanya kepada sang pangeran? Apa dia sama sekali tidak ingin melepas kursi tahta itu?


Walaupun wajahnya sudah sedikit keriput, rambut Raja Albion belum memutih sama sekali. Aku masih bisa melihat rambut coklat terangnya. Dan penampilan nya memberikan ku rasa yang sangat familiar walaupun itu hanya penampilan umum manusia yang ada di dunia ini.


Raja Albion berjalan menuju aula istana berdampingan dengan seorang pangeran. Lalu tanpa sengaja dia melihat Eva. Seorang gadis kecil dengan rambut emas mencolok.


Mereka saling bertatapan sebentar. Eva merasa sangat familiar dengan aura sang raja. Padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Raja Albion juga tidak pernah dijelaskan di dalam novel. Dia bahkan bukan tokoh pendukung atau apapun. Lebih tepatnya dia tidak pernah muncul. Jadi dari mana rasa familiar dan nostalgia ini muncul?

__ADS_1


Sementara Raja Albion terpikat dengan warna mata Eva yang sama seperti nya. Ada banyak manusia dengan warna mata yang mirip dengan nya. Hanya mirip tapi tidak sama persis. Entah kenapa warna mata gadis kecil itu benar-benar persis seperti dirinya.


Mereka hanya saling bertatapan sebentar. Sebelum akhirnya Raja Albion mengalihkan tatapannya kembali dan masuk ke dalam aula.


__ADS_2