Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Makan Malam


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Ren datang dengan muncul tiba-tiba di dalam ruangan. Sehingga membuat semua orang menjadi gempar. Kemunculan nya membuat semua orang waspada dan bersiap dengan posisi menyerang, terutama Duke.


Duke bahkan semakin murka saat melihat istrinya memeluk Ren dengan penuh kasih sayang dan menangis. Dia juga syok dan berpikir bahwa Diana berselingkuh. Sampai akhirnya dia tahu identitas sebenarnya Ren, dan amarahnya sedikit memudar.


***


"Ren, aku tidak tahu kalau kau mengajar di akademi" kata Diana. "Um, atau mungkin aku melupakan nya juga" Dia tidak ingat Eva pernah menceritakan tentang hal itu atau tidak.


"Ya, aku mengajar di sana selama beberapa tahun"


"Kalau begitu, kenapa kau tidak menemuiku!" kata Diana cemberut. "Kau hanya menemuiku saat ingin mengambil darahku saja, humph!"


"Maafkan aku." kata Ren.


BAK! Duke menghantam meja dengan kepalan tangannya. Wajahnya berkedut saat melihat interaksi Diana dan Ren. Bagaimana mereka bisa bersikap seperti itu? Seakan-akan mereka adalah kekasih lama yang sudah lama tidak bertemu. Dia tidak menyukainya.


"Bisakah kalian berhenti berbicara? Ini meja makan, kita akan makan sekarang. Bukan mengobrol" Dia mengomel. Tapi anehnya dia tidak mengarahkan tatapan nya pada Diana, tapi pada Ren.


Sehingga Ren menjawab dengan sopan. "Maafkan aku, Duke"


"Bisakah kita mulai makan Sekarang?" aku bertanya. Cukup dengan semua konflik yang terjadi. Perutku lapar sekarang. Bisakah kalian menyimpan perkelahian nya untuk nanti?


Duke mengangguk tanpa menjawab apapun.


Akhirnya, mereka semua bisa makan tanpa gangguan apapun.


"Masakannya sangat enak" Denis memuji sambil menatap Eva. Seakan-akan mengarahkan pujian nya pada Eva.


"Vivian yang memasak. Aku hanya membantu memotong bawang" jawabku dingin. Itu benar. Ini adalah masakan Vivian. Bagaimana kau bisa bilang seolah-olah aku yang memasak nya.


Denis terdiam setelah mendengar jawabannya.


"Memotong bawang juga keterampilan yang bagus" sambung Sayn kemudian.


"Terima kasih" kataku datar.


Denis langsung menatap Sayn dengan kening berkerut. "Aku dengar kau berasal dari Kano?" tanya Denis sopan, tapi suara nya sangat dingin.


"Ya, Yang Mulia. Aku seorang pangeran" jawab Sayn. Dia ingin menekankan kata pangeran agar Denis tidak meremehkan statusnya.


"Oh? Jujur saja aku tidak terlalu tahu pangeran lainnya dari negara Kano. Hanya putera mahkota yang terlihat" Kata Denis. Perkataan nya menyatakan bahwa Sayn adalah pangeran tidak berguna, hanya putera mahkota saja yang berguna dari kerajaan itu.


Akhirnya kedua orang itu saling bertatapan tajam untuk menunjukkan permusuhan mereka. Bahkan terasa sekali ada aura petir di belakang mereka.

__ADS_1


"Makanan yang enak. Kerja bagus Vivian, Eva" kata Robert. Perkataan Robert membuat kedua orang itu menatap nya. Tapi Robert tidak mempedulikan nya. Dia menganggap Denis dan Sayn seperti bocah bodoh yang tidak bisa mengendalikan emosi mereka. Dia tidak akan menjadi orang seperti itu.


"Terima kasih" Vivian menjawab dengan malu.


Aku juga berkata "Terima kasih"


"Makanannya enak. Tapi aku bisa memasak lebih baik" Ren membuka suaranya dan memperkeruh suasana. "Yang ini sedikit asin, ini sedikit hambar, ini sedikit manis" dia mulai menunjuk makanan yang dikritik nya. Kemudahan dia menatap Eva dan bertanya dengan polos, "Bukankah makananku lebih baik? Kau sering memakannya?"


Uhuk!


Aku hampir tersedak nasi saat dia mulai membawa namaku. "Memang enak..." jawabku canggung.


"Kalian sering makan bersama?" tanya Diana. Menambah minyak ke dalam api, sehingga membuat semua orang menatap Eva.


"Tidak sering. Sesekali" aku menjawab dengan cepat.


"Dia selalu makan di rumahku. Kami selalu membaca bersama" kata Ren ambigu.


"Rumah Ren? Kalian sedekat itu dalam waktu singkat?" kata Diana, dia sedikit cemburu. Ren tidak pernah memasak untuknya. Walaupun mereka pernah tinggal bersama di masa lalu, Ren hanya memberinya masakan pasar. Dan terlebih lagi butuh waktu lama untuk mengambil hatinya, karena dia selalu jadi bahan bulian Ren. Tapi Diana sedikit merasa bangga di dalam hatinya, karena putrinya berhasil menarik perhatian Ren.


Aku melototi Ren. Kata-katanya bisa membuat orang lain salah paham! Kita sama sekali tidak dekat. Dan jelas-jelas pria itu selalu menculikku!


"Kita tidak sedekat itu"


Denis kemudian terbatuk kecil. Pembicaraan tentang Ren dan Eva pun terputus. Denis meletakkan sendok dan garpu nya di atas piring, dia sudah menyelesaikan makan malamnya.


"Aku juga ingin mengajakmu ke kerajaan Kano" Sayn tiba-tiba memotong Denis. Dia tidak mau kalah. Entah kenapa dia tidak akan pernah membiarkan Eva menjawab "iya" atas ajakan Denis.


"Bukankah kau bilang Kano cukup indah? Waktu yang kita habiskan tidak cukup saat itu. Jadi aku benar-benar ingin mengajakmu kesana" dia juga ingin mengajak Eva ke tempat persembunyian nya dan membicarakan tentang pembunuhan ibunya. Tapi tentu saja dia tidak bisa memberitahu hal itu secara terang-terangan di sini.


"Uh..."


Aku menatap dua orang itu dengan tatapan ragu. Bukannya aku tidak mau. Hanya saja aku sudah ada rencana saat liburan.


"Pak tua itu juga merindukanmu. Kuharap kau mau berkunjung ke Menara Sihir" Robert tiba-tiba berbicara, tidak mau kalah.


Aku tidak bisa berkata-kata sekarang. Tidak enak menolak mereka sebenarnya. Lebih tepatnya aku tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menolak mereka di kepalaku.


"Eva tidak bisa menerima ajakan kalian. Dia akan bersamaku selama liburan" jawab Ren percaya diri dengan ekspresi polos nya.


Tiga pria lainnya langsung membeku sesaat dan menatap Ren.


"Dia akan bersamaku selama liburan. Jadi itu sia-sia" Ren tersenyum. Entah kenapa Ren merasa senang sekarang. Seakan-akan dia memenangkan sesuatu dan membuat nya sangat puas.


Diana memerhatikan semuanya sambil menompang dagu nya dengan kedua tangannya. Dia menganggap pertunjukan di meja makan ini sangat menarik.

__ADS_1


'Ketiga bocah itu...' Diana memikirkan sesuatu sambil mengeluarkan senyum kecil di bibirnya. Lalu dia menatap Ren sambil mengernyitkan kening bingung. 'Tapi aku tidak akan menduga bahwa Ren juga akan tertarik...'


"Aku dan ibuku akan mengunjungi suatu tempat bersama Ren" aku menambahkan.


Mendengar kata "Ibu" dari mulut Eva membuat ketiga pria itu mendesah lega. Tapi saat tiga pria itu sudah mulai lega, Duke melotot kaget.


'Apa yang direncanakan oleh istri dan putrinya bersama penjahat itu? Hingga mereka harus bersama-sama?' pikir Duke tegang.


"Apa yang akan kalian lakukan?" Duke manatap istri dan putrinya dengan wajah dingin.


Aku sebenarnya ingin menjawab 'bertemu nenek'. Tapi Diana sudah mendahului ku.


"Rahasia" kata Diana sambil mengedipkan matanya pada Duke. Membuat seluruh tubuh Duke bergetar marah.


"Berhenti bercanda!" kata Duke tidak senang.


"Humph!" Diana mengalihkan wajahnya, cemberut. "Aku tidak akan memberitahu mu kalau kau terus melihat ku dengan wajah seperti itu!" protes Diana.


Tunggu, tunggu. Jangan bertengkar di sini oke. Aku sama sekali tidak ingin terjadi pertengkaran suami istri di sini.


Tapi pertengkaran yang diduga olehku tidak terjadi. Duke ternyata mengalah.


"Aku tidak akan. Jadi beritahu aku" tatapannya melembut.


"Oke, aku akan memberitahu mu nanti malam~" respon Diana. Suasana pun kembali jernih kembali.


Akhirnya makan malam yang berat itu selesai. Denis dan Sayn pulang lebih dulu. Aku mengantarkan kedua orang itu ke pintu keluar.


Diana dengan antusias menarik tangan Ren dan mengajaknya ke suatu tempat. Meninggal kan Duke dengan wajah jelek. Sementara Robert masih menemani Duke di meja makan, sambil menyesap tehnya dengan anggun.


Sebelum masuk ke dalam kereta nya, Denis berbalik dan menatap Eva. "Aku minta maaf" katanya dengan wajah menyesal. "Sampai jumpa nanti" dia langsung berbalik pergi, tidak membiarkan Eva membalas perkataan nya.


"Apa yang terjadi? Kalian bertengkar?" tanya Sayn. Tapi di dalam hati, dia sangat senang dengan kejadian ini.


"Tidak. Itu hanya kesalahpahaman" jawabku tidak peduli. Denis meminta maaf? Aku tidak akan peduli lagi oke. Walaupun dia nanti membentak atau menyalahkan ku lagi, aku sudah mempersiapkan mental untuk itu.


"Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apa kau memang dekat dengan Reina? Atau kau ingin menyelidiki pria misterius dari rumah marquis?" aku bertanya.


"Yang kedua" jawab Sayn langsung.


Aku sudah menduganya. "Tapi, kalau kau menjadi dekat dengan nya, memang nya itu lebih baik?" aku bertanya lagi. Sebenarnya, jauh di lubuk hatiku, aku takut Sayn akan terpesona dengan Reina, kemudian berbalik melawanku. Apalagi pria itu sudah tahu kelemahan keluarga ku yang diincar oleh banyak orang. Kalau Sayn menjadi musuh, situasi akan menjadi lebih genting.


Sayn melihat wajah khawatir Eva, lalu dia menepuk pelan kepalanya sambil berkata "Jangan khawatir. Aku tidak akan pernah berubah oke" dia menjawab seakan-akan dia tahu isi pikiran Eva. Jujur saja Sayn merasa senang saat tahu Eva mengkhawatirkan nya.


"Baiklah. Jangan lupa untuk berhati-hati" kataku kemudian.

__ADS_1


"Tentu saja" Sayn sebenarnya ingin memberitahu misi tentang pembunuhan Duchess, tapi dia menjadi ragu saat melihat wajah khawatir Eva. Dia tidak ingin menambah beban pada gadis kecil itu. Jadi dia memutuskan untuk membereskan semua itu sendiri. "Sampai nanti. Nikmati liburanmu" kata Sayn. Dia tersenyum lembut sebelum akhirnya menghilang.


Denis dan Sayn sudah pulang. Hanya tersisa Robert dan Ren di rumah ini. Seakan-akan terpisah menjadi dua kubu. Saat ini Diana sedang berbicara dengan Ren, dan Duke sedang berbicara dengan Robert. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi Eva memutuskan untuk menghampiri Diana dan Ren, karena perlu melakukan perjalanan jauh setelah ini.


__ADS_2