Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 3: Perselisihan : Salah Paham


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Eva memandangi udangan pesta ulang tahun itu dan mengingat kembali kejadian di dalam novel. Dia ingat bahwa Eva bersikap sangat buruk. Dan Kejadian pesta ulang tahun itu tidak berjalan baik. Dia bertekad bahwa kejadian itu tidak akan terjadi. Lebih tepatnya, dia akan menghalangi kejadian itu terjadi.


Mereka sekeluarga sudah tiba di pesta itu. Pesta berjalan dengan lancar, Eva tidak membuat masalah. Dia bahkan berdansa dengan Denis. Denis menggodanya dan meminta maaf padanya. Membuat semua kecemasan di hatinya terangkat dan membuat jantungnya berdegup tidak menentu.


Tapi hal bahagia itu tidak berlangsung lama, karena sang tokoh utama sudah bertindak. Pada akhirnya, ceritanya akan berakhir sesuai dengan novel. Tidak ada yang berubah.


***


Denis dan Reina berjalan beriringan keluar dari aula pesta. Denis berjalan santai dan memandang ke depan dengan raut wajah datar. Sementara Reina berjalan tertatih-tatih sambil menundukkan wajahnya yang memerah. Dia berusaha menahan rasa malunya dan sesekali melihat ke arah Denis.


"Baiklah, apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya Denis langsung setelah mereka sampai di halaman istana terdekat.


"Yang mulia...aku minta maaf karena sudah menganggumu..." kata Reina sedih saat dia melihat sikap Denis yang acuh tak acuh.


Haa.... Denis menghela napas. Dia berusaha menahan rasa kesalnya karena momennya bersama Eva diganggu. Tapi dia berusaha mengatur emosinya.


Dia melihat Reina yang berdiri di depannya. Gadis itu memasang wajag sedih dengan mata berkaca-kaca. Denis jadi merasa bersalah karena dia bersikap tidak peduli.


'Gadis ini berbeda dengan Eva' pikir Denis.


Saat dia memperlakukan Eva seperti ini, gadis itu tidak pernah memasang wajah sedih atau pun kasihan. Tapi malah menatapnya balik dengan tajam dan geram. Karena itulah mereka selalu bertengkar, karena tidak ada yang mau mengalah.


"Jadi, bisakah kau jelaskan?" kata Denis berusaha berkata lebih lembut.


"Baik yang mulia. Ayahku sudah punya rencana untuk mengatasi faksi keluarga kerajaan Court. Dia memintaku memberitahu yang mulia" jelas Reina.


Ini salah satu hal kenapa Denis tidak ingin Eva mendengar pembicaraan mereka. Dia tidak ingin gadis itu salah paham bahwa dia akan menyerang keluarganya.


"Para bangsawan itu memang bersikap berlebihan. Tapi aku sekarang sudah bertunangan dengan Eva. Kita tidak perlu menjalankan rencana apa pun. Lagi pula aku akan menjadi menantu Duke Court, itu akan membuat para bangsawan itu diam untuk sementara. Mereka tidak akan mungkin bersikap berlebihan"


"Tapi yang mulia, ayah bilang...ayahku berkata bahwa mereka harus di atasi. Mereka sudah berusaha mengambil alih militer di negara ini. Tanpa kekuatan militer, kami takut keluarga Well tidak bisa bertahan" Reina menyanggahnya.


Ayah Reina, Marquis Zent, adalah salah satu faksi keluarga Well. Seperti yang kita tahu keluarga Well dan keluarga Court berselisih. Keluarga Court mulai menebarkan kekuatan mereka di istana dan sekarang mereka berusaha mengambil alih militer. Para bangsawan itu bersikap berlebihan, dan raja takut akan terjadi kudeta di negara sendiri karena hal ini. Para bangsawan dari keluarga Court cukup serakah untuk mengambil kekuatan mereka kembali.


"Apalagi Duke Court sudah semakin mencolok karena putri mereka bertunangan dengan yang mulia. Ayah takut faksi itu akan semakin menjadi karena duke Court semakin berkuasa"


"Apa maksudmu?" Denis mengernyit tidak senang.


"Duke Court sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini. Dia tidak pernah terlibat dalam politik apa pun"


'Apalagi Eva, dia tidak ada hubungannya dan tidak terlibat' pikir Denis.


"Maafkan aku...yang mulia..." Reina memasang wajah sedih. "Aku salah..."


"Sudahlah. Tahan saja rencananya. Untuk sekarang tidak akan terjadi apa pun"


"Baik yang mulia..."


***


Aku masih berdiri di tengah-tengah aula. Sekarang apa yang harus kulakukan? Denis menyuruhku menunggunya bukan? Lalu aku harus berdiri diam seperti orang bodoh disini?


"Ah, tunanganmu benar-benar akan direbut~" kata suara itu dengan nada mengejek.


Eva merasa tangan seseorang menyentuh bahunya. Saat dia menoleh, ternyata Lilac!


"Berisik" kataku berusaha tidak menanggapi.


"Aku lihat semuanya loh" kata Lilac nakal sambil mengedipkan matanya. "Kau yakin tidak ingin mengikuti mereka?"


"...."


"Kau yakin? Walaupun kau tidak cemburu, tapi kau tidak penasaran? Aku saja penasaran. Mau kutemani untuk


melihatnya diam-diam?" Lilac mengajak.


Tidak mungkin aku tidak penasaran! Aku sangat penasaran, tapi aku berusaha menahannya karena takut hal yang tidak diingankan terjadi. Tapi Lilac bilang dia ingin menemaniku bukan? Bukankah tidak masalah kalau menambah orang untuk mengintip karena berbeda dari ceritanya?

__ADS_1


"Kau disini!" Tiba-tiba Louis berteriak dan menghampiri kami.


"Apa yang kau lakukan, ibu mencarimu" ata Louis kesal sambil menarik tangannya.


"Eh, eh, eh? tunggu dulu..." Lilac panik. Tapi Louis tetap menariknya.


Lilac langsung menatapku dengan mata memohon agar menghentikan Louis. Tapi aku membalas tatapannya santai dan mengangkat kedua tanganku dengan isyarat 'mau bagaimana lagi'.


Baiklah, sekarang saatnya untuk mengintip pasangan yang sedang bermesraan itu. Walaupun aku tidak membawa teman untuk mengintip, aku yakin aku tidak akan melepaskan kendali emosiku seperti Eva. Yah, lagi pula aku sudah tahu jalan ceritanya. Aku hanya penasaran perlakukan Denis terhadap Reina. Apalagi Denis sudah mulai bersikap baik padaku.


Saat aku sudah bersiap berjalan keluar aula, seseorang tiba-tiba menghentikanku.


"Aku boleh ikut?"


Eh? Itu Vivian!


Vivian ingin melihat juga karena itu adalah adiknya!


"Baiklah" aku setuju sambil mengangguk.


Kami berdua berjalan keluar aula. Dan kebetulan mereka tidak sulit ditemukan. Menurut cerita aslinya mereka harusnya berada di halaman samping. Tapi mereka berada di halaman depan yang hanya berjarak beberapa meter dari aula.


Aku mulai mengaktifkan sihir untuk menyembunyikan aura keberadaanku. Aku juga menggunakan sihir itu pada Vivian walaupun efektivitasnya hanya beberapa jam. Kami berdua mulai mencari tempat persembunyian yang dekat. Lebih dekat lebih baik karena kami dapat mendengar suara mereka lebih jelas.


"Yang mulia..." Reina berkata lirih. "Terima kasih untuk waktu itu..."


"Terima kasih untuk apa?" Denis mengernyitkan kening bingung.


"Yang mulia selalu menyelamatkanku. Kita pernah bertemu waktu kecil. Yang mulia menyelamatkanku saat itu. Dan aku belum mengucapkan terima kasih dengan benar. Maafkan ketidaksopananku yang mulia" kata Reina sambil memberi hormat.


Denis masih bingung. Kapan dia pernah bertemu gadis ini waktu kecil? Dia tahu gadis ini baru kembali di rumah Marquis baru-baru ini. Dia juga sudah mendengar bahwa sebelumnya dia hidup sebagai rakyat jelata sebelum menjadi gadis bangsawan. karena itulah dia merasa sedikit hormat padanya karena gadis ini tidak seperti gadis bangsawan lainnya yang angkuh dan sombong. Dia gadis yang sangat sederhana, lemah dan naif. Membuat orang lain tidak tega untuk menyakitinya.


Melihat wajah bingung Denis, Reina agak kecewa. "Yang mulia menyelamatkanku dari para bandit saat aku berada di hutan. Perkemahan itu..."


AH! Denis langsung memotong pembicaraannya "Aku ingat! Kau gadis kecil itu!" Dia ingat sekali gadis kecil yang datang bersama Eva. Dia juga ingat bahwa hubungan gadis ini dan Eva tidak baik saat itu. Dia melihat Eva membentaknya.


"Iya yang mulia" Reina tersenyum manis. Bibirnya mungil dan giginya putih dan rapi, membuat senyumnya benar-benar seperti gadis polos. Di tambah sinar bulan di atas langit yang tanpa sengaja menyinarinya, dia terlihat seperti dewi yang turun ke bumi.


Vivian yang berada di sampingnya tidak mendengarnya karena dia fokus pada pertunjukan. Dan secara perlahan raut wajahnya berubah.


"Kau benar-benar hidup dengan baik ya. Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik" puji Denis.


Denis tentu saja tidak merasakan apa pun saat melihat "efek khusus" tokoh utama itu. Dia hanya memperlakukan Reina dengan baik seperti gadis-gadis lainnya.


Tapi tentu saja tidak seperti itu di mata Eva dan Vivian. melihat mereka berdua sangat dekat dan saling bertatapan, mereka memiliki pikiran lainnya.


'Kedua orang ini sedang bermesraan' pikir mereka sambil mempertajam penglihatan agar bisa melihat situasi lebih jelas.


Wajah Reina memerah saat mendengar Denis memujinya. "Terima kasih yang mulia...Yang mulia juga sangat tampan dan hebat. Aku benar-benar mengaguminya.." katanya pelan. Tingkahnya yang malu-malu membuatnya tampak lebih imut.


Urat-urat kekesalan muncul di kepala Eva. "Apa-apaan itu? Kedua pasangan itu benar-benar tidak tahu tempat! Mereka saling memuji seperti itu. Bagaimana kalau ada yang melihat. Ini kan halaman depan. Masih ada pengawal dan bangsawan yang berlalu lalang" gerutu Eva.


Dia tahu kenapa Eva yang dulu bisa sangat kesal dan menyimpan dendam. Kedua orang ini benar-benar terlalu mesra!


Aku sedikit kesal saat  melihat mereka saling memuji dengan tatapan yang lembut. Seperti ada jarum yang menusuk. Tapi itu hanya terasa sebentar. Aku dengan cepat mengubah perasaanku dan menyaksikan mereka dengan penuh minat.


'Yah, lagipula aku sudah tahu ceritanya' aku berusaha menghibur diriku sendiri. Kemungkinan besar aku tidak bisa merubah takdir kedua orang itu untuk jatuh cinta. Mereka sudah ditakdirkan seperti alur novel.


'Tapi kalau hasilnya tetap sama, aku takut aku juga akan berakhir tragis'


Kalau mereka berdua tetap menjadi kekasih. Berarti aku tidak bisa merubah alur novel ini. Aku benar-benar khawatir dengan hidupku. Menjadi kuat adalah satu-satunya pilihan. Kalau kita sudah terkonfirmasi untuk menjadi musuh, aku hanya perlu melindungi diriku sendiri. Ya, aku harus semakin kuat!


"Sialan!" aku mendengar Vivian mengumpat sambil menahan amarahnya. Tubuhnya bergetar dan tangannya terkepal erat. Dia benar-benar mengepalkan tangannya erat-erat sampai tangannya terluka.


Aku terkesiap mengamatinya. Ada apa dengan Vivian? Bukankah harusnya aku yang kehilangan emosiku? Dia itu tunanganku dan sekarang dia sedang bermesraan bersama gadis lain. Tapi kenapa Vivian terlihat lebih kesal dari pada aku?


"Hei, berhentilah" aku dengan panik memegang tangannya. Lukanya akan semakin lebar kalau dia terus menancapkan kukunya.


Aku tidak sadar, kelihatannya umpatan Vivian itu terdengar oleh kedua orang itu.

__ADS_1


"Siapa?" kata Denis waspada.


Dia takut ada musuh yang menguping pembicaraan mereka.


Hee...lihat saja sikap waspadanya itu. Benar-benar menyebalkan!


Aku langsung menampakkan diriku keluar bersama Vivian "ini aku"


Melihat bahwa itu adalah Eva, Denis menghela napas lega.


"Maaf sudah menganggu waktu bermesraan kalian berdua. Kalian bisa melanjutkannya" kataku sarkatis.


"Apa maksudmu?" kata Denis tidak senang.


"Maksudku aku tidak akan mengganggu kalian berdua lagi. Tapi seharusnya kalian mencari tempat yang baik kalau ingin menggoda. Dan aku juga tidak tahu ternyata kau adalah pria seperti itu" kataku lebih sarkas. Aku benar-benar ingin mengatakan ini.


"Eva bukan seperti itu. Kau pasti salah paham..."


"Ya, ya, ya aku salah paham" kataku dengan nada mengejek. Aku menatap Reina yang menundukkan kepalanya. "Kau benar-benar menyukai gadis dengan tipe seperti itu ya. Bagaimana mungkin aku salah paham saat melihat gadis itu malu-malu dan salah tingkah? Kalian juga saling menggoda..." kataku dengan nada mengejek.


Tubuh Reina bergetar. "Maaf...." katanya sedih dengan nada bergetar.


"Diam kau Reina!" Bentak Vivian tiba-tiba. Membuatku tersentak kaget.


Aku melihat Vivian di sampingku. Wajahnya memerah dan matanya menatap Reina dengan tajam. Dia benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Bagaimana kau bisa menggoda yang mulia seperti itu? Kau sudah tahu yang mulia sudah punya tunangan dan kau berani mendekatinya!" teriak Vivian.


"Kau sama saja dengan ibumu" kata Vivian dengan senyum mengejek.


Perkataan itu membuat tubuh Reina lebih bergetar. Kakinya lemas. Dan dia mengigit bibirnya untuk menahan tangisannya. Tapi air matanya tetap keluar walaupun dia tidak terisak.


"Kalian sama-sama *******. Perusak hubungan orang lain. Kalau ibumu tidak masuk dalam hubungan keluarga kami. Ibuku tidak akan sakit dan pergi! Ayahku tidak akan membenciku!" teriak Vivian lagi dengan mata berkaca-kaca. Dia berusaha bertahan agar air matanya tidak keluar.


"Diam kau! Jaga mulutmu!" suara seorang pria tua tiba-tiba bergetar di udara. Tampaknya dia menambahkan sedikit sihir pada suaranya sehingga udara di sekitar kami sedikit terpengaruh.


Aku melihat seorang pria setengah baya yang berumur sama seperti ayahku tiba-tiba muncul. Aku belum pernah melihat orang ini? Siapa ya?


"Ayah....hiks...hiks..hiks...." Reina tidak bisa menahan isakannya lagi dan menangis. Dia langsung menghampiri ayahnya dan memeluknya.


Oh? Ternyata pria tua ini adalah Marquis Zent.


"Kau benar-benar tidak tahu malu! Bermulut jahat! Aku sama sekali tidak ingin mempunyai anak sepertimu! Bagaimana aku bisa membuatmu lahir!" kata Marquis Zent kejam sambil melihat Vivian.


Vivian berusaha menahan amarah dan tangisannya secara bersamaan. "Tapi ibunya memang *******!" katanya gigih.


"Ibuku bukan *******...hiks....hiks....hikss.." kata Reina lemah sambil terisak.


PLAK! Tangan Marquis Zent melayang dan menampar pipi Vivian. "Jaga mulutmu! Kau benar-benar jahat! Aku tidak mempunyai putri sepertimu! Aku bukan ayahmu lagi!" kata Marquis Zent dengan dingin.


Eh? Aku melonggo melihat semua kejadian. Bagaimana bisa menyimpang jauh sampai seperti ini? Bukankah event Vivian diusir itu masih lama? Tapi kenapa terjadi sekarang?


"Kau salah paham Marquis" kataku berusaha menjelaskan. "Vivian dan aku melihat semuanya. Kedua orang ini" aku menunjuk Denis dan Reina secara bersamaan. "Sedang bermesraan di sini. Bahkan orang buta juga tahu bahwa mereka saling menggoda"


Aku menatap Reina "Wajar saja Vivian marah seperti itu. Dia melakukan yang terbaik untuk mendisplinkan adiknya"


Aku mengira Marquis akan meminta maaf atau pun mengerti setelah mendengar penjelasanku, tapi ternyata tidak!


Marquis Zent menatapku dengan tidak senang. Aku sedikit bergidik. Belum pernah ada bangsawan yang seberani ini denganku. Bukankah para bangsawan itu takut pada Duke? Takut pada ayahku? Tapi Marquis Zent ini benar-benar berani menunjukkan ketidak sukaannya padaku! Itu sangat berbeda dengan para bangsawan yang selalu menjilat itu.


"Kau juga berlebihan nona" kata Marquis Zent. "Reina tidak mungkin melakukan hal yang tidak pantas. Dia hanya berbicara biasa dengan yang mulia. Dan aku sudah tahu itu. Dia ingin menyampaikan terima kasih pada yang mulia karena telah menolongnya waktu kecil"


Marqus Zent menatap Eva dengan tajam. "Aku mendengar rumor bahwa nona kecil itu sangat pecemburu. Aku tidak menyangka rumor itu benar" katanya sarkatis.


Urat-urat kesal muncul di kepalaku. Pak tua ini benar-benar tidak suka padaku?!


Hanya dalam sekejap aku menambah musuh baru!! Dan pak tua ini benar-benar tidak takut kekuatan keluarga Duke! Dan parahnya lagi, dia terlalu sombong!


Bibit-bibit kebencian mulai muncul di dalam hatiku. Aku lebih membenci pak tua ini dari pada Reina. Aku tidak tahu mengapa. Saat aku menatap matanya, aku merasa dia merencanakan sesuatu yang kejam. Bahkan mungkin lebih kejam dari Dean Caro. Aku merasa Marquis Zent ini bukan hanya membenciku. Tapi membenci seluruh keluargaku! Karena itulah aku bisa menganggap dia lebih kejam dari Caro, karena Caro hanya menargetkanku.

__ADS_1


Jangan Lupa LIKE yo ~


__ADS_2