
Cerita Sebelumnya:
Pelajaran pertama dimulai. Mereka harus bisa mengeluarkan mantra sihir dasar menggunakan kertas elemen. Eva berhasil melakukannya dan tentunya ada beberapa murid yang berhasil. Sang tokoh utama, Reina, adalah yang paling mencolok. Dia mempunyai elemen langka dan dia berhasil melakukannya dalam satu kali percobaan.
Saat pelajaran pertama selesai. Guru Wilson, wali kelas mereka memberi pekerjaan rumah. Mereka harus berhasil menggunakan mantra sihir lanjutan menggunakan kertas elemen tersebut.
Tapi tiba-tiba guru Wilson memanggil Eva untuk ke ruangannya. Eva tersentak kaget. Ada apa? Dia tidak mengenal guru itu, kenapa dia memanggilnya?
***
Aku masih berdiri mematung setelah mendengar perkataan guru Wilson.
Aku dipanggil? Kenapa?
"Eva!" teguran Lilac membuatku tersentak dan aku kehilangan lamunanku.
"Kau tidak pergi?" tanyanya. "Apa aku mengenal wali kelas itu?" tanyanya dengan penuh selidik.
"Tidak!" aku langsung menyangkalnya. "Aku sama sekali tidak mengenalnya"
"Oh? Mungkin dia ingin menyampaikan sesuatu padamu..." kata Lilac dengan nada curiga.
"Mungkin. Tapi jangan salah sangka oke. Aku sama sekali tidak mengenalnya."
Lilac hanya menatapku curiga dengan mulut cemberut. "Jangan merebut targetku oke. Kau sudah punya putra mahkota" katanya. "Pergi sana! Kau tidak bisa membiarkan guru menunggumu. Atau kau akan mendapatkan hukuman" Lilac mendorong punggungku menjauh.
Aku menoleh dan menatapnya kesal "Hmph!"
Aku langsung berjalan keluar kelas.
"Ingat perkataanku oke. Kau sudah punya putra mahkota!" Lilac masih berteriak di belakangku. Membuat semua orang langsung fokus kepadaku.
Aku menundukkan wajahku, pipiku memerah malu. "Gadis pembuat masalah itu" gumamku sambil menggertakan gigi.
Aku mempercepat langkahku untuk menghindari tatapan-tatapan yang ditujukan padaku. Ruang guru itu berada di lantai bawah.
Saat aku sampai, aku langsung mengetuk pintu.
"Masuk"
Aku mendengar suara jawaban dari dalam ruangan.
Aku membuka pintu dan masuk secara perlahan. Aku mengira ruangan ini akan seperti ruangan kelas di kehidupan lamaku yang penuh dengan meja dan sekat-sekat yang memisahkan mereka. Tapi tidak! Yah, ini kan di dunia lain...
Saat aku masuk, aku melihat lorong panjang lagi. Di sisi kiri dan kanan lorong ada banyak pintu ruangan. Ahh, ternyata mereka memisahkan ruang para guru dengan sistem yang sama seperti asrama.
"Di sini, ruang pertama"
Suara itu menjawab lagi.
Aku melihat ruangan dengan tanda no "1" dan mengetuknya.
"Permisi guru"
Aku perlahan membuka pintu.
Ah? Aku sedikit kaget saat masuk ke dalam ruangan ini. Sama sekali tidak sesuai dengan ekspektasiku. Apa-apaan ini? Ruangan ini seperti perpustakaan dengan ribuan buku. Hanya saja perpustakaannya sangat berantakan!!
Buku-buku itu tidak tersusun rapi melainkan berhamburan di lantai dan membentuk bukit-bukit kecil.
"Ini gila.." tanpa sadar aku bergumam. Walaupun aku bukan orang yang rapi, tapi aku tidak pernah melihat ruangan yang berantakan seperti ini!
"Siapa yang kau bilang gila?"
Secara perlahan, bukit buku yang berada di dekatku bergerak dan guru Wilson muncul dari dalamnya.
"Ah...aku ingin mengambil sesuatu tadi. tapi aku tidak menyangka kalau aku menjatuhkan semuanya..." keluhnya sambil menyibak pakaiannya.
"...."
"Siapa yang kau bilang gila?" tanyanya dengan dingin sambil menatapku.
"Ah! Tidak! Tidak! Kau salah dengar guru!" aku langsung mengelak dengan nada panik.
"...."
__ADS_1
dia menatapku penuh selidik.
"Baiklah. Aku tidak ingin membuang-buang waktu" Dia menggunakan sihirnya untuk mengangkat tumpukan buku. Lalu menumpuk buku-buku itu di lantai. "Silahkan duduk" katanya sambil duduk di tumpukan buku lainnya.
"Apa tidak apa-apa..." aku masih agak ragu untuk duduk di atas buku ini. Bagaimana kalau ada buku kuno dan sejenisnya? Bukankah tidak baik kalau aku mendudukinya?
Guru Wilson bisa membaca pikiran Eva dari raut wajahnya. "Tidak apa-apa. Itu bukan buku penting. Hanya sekumpulan majalah."
"oh...baiklah" aku langsung duduk dengan santai.
"Baiklah langsung saja. Kau adalah penyihir gelap? Kau menyembunyikannya dengan sangat baik ya?" katanya langsung dengan pandangan dingin. Dalam sekejap seluruh ruangan di penuhi dengan aura dingin seperti badai dengan dia sebagai pusatnya.
DEG! Aku langsung tersentak kaget. Wajahku langsung memucat. Bagaimana dia bisa tahu? Bukankah hanya sesama penyihir gelap yang tahu antar sesama mereka?
Aku menatap pemuda di depanku. Jangan-jangan dia adalah penyihir gelap? Itu masuk akal! Yang kulihat saat itu bukanlah ilusi. Dia benar-benar penyihir gelap, lebih tepatnya elf gelap.
Saat aku memandangnya, tatapan guru Wilson itu semakin tajam dan dingin.
Anehnya, walaupun aku sedikit kaget dan khawatir, aku sama sekali tidak takut. Aku membalas tatapannya dengan tajam. Dan akhirnya kami bertatapan dengan intens selama beberapa menit.
Lalu pemuda itu tiba-tiba tersenyum dan aura dingin itu menghilang dalam sekejap. "Aku hanya bercanda. Ini tata cara penyambutan antar sesama penyihir gelap. Lagipula sesama penyihir gelap kita harus akur" katanya riang.
"...."
"Baiklah haa~" dia menghela napas. "Aku ingin menanyakan padamu. Apa seorang bocah elf tinggal bersamamu?'
"Ah!" aku tersentak. "Iya" kataku mengangguk. "Tapi kenapa kau menanyakan itu? Apa hubunganmu dengan anak itu?" tanyaku penuh curiga.
Bocah elf gelap itu memang misterius. Aku tidak tahu dia berasal dari mana dan siapa namanya.
"Jangan terlalu cemas." jawabnya sambil terkikik. "Bisa jadi bocah itu adalah muridku."
"Murid?"
Dia mengangguk. "Aku kehilangan dia selama beberapa bulan ini. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat itu dia sedang berlibur bersama orang tuanya. Lalu seminggu yang lalu aku menemukan mayat orang tuanya tapi bocah itu menghilang. Aku kira dia tidak akan selamat. Sampai aku melihatnya berada di keretamu saat kau tiba di depan gerbang akademi" jelasnya.
"Ah! Kau memang gurunya! Aku menyelamat bocah itu dari pendagang budak bersama dengan ras elf lainnya. Bocah itu mempunyai alat sihir untuk menyamarkan dirinya"
"pendagang budak?" katanya dingin. Dan sekali lagi aura yang sangat dingin menyebar, tapi bercampur dengan sedikit aura membunuh.
Tapi dalam sekejap aura mencengkam itu menghilang lagi, dan orang itu tersenyum dengan ceria. "Alat sihir itu. Aku yang memberikannya padanya."
Orang ini benar-benar mengerikan!! Dia bisa mengubah dirinya lagi dalam sekejap menjadi kepribadian yang berbeda. Dia mengerikan....
"Hmm...Lalu kau ingin membawanya kembali..?" tanyaku ragu.
Pemuda itu menggeleng. "Tidak. Kelihatannya bocah itu senang tinggal di tempatmu. Aku belum pernah melihatnya tersenyum seperti itu. Lagi pula sekarang aku harus fokus dengan pekerjaanku di akademi. Aku tidak bisa mengurusnya. Aku hanya ingin kau mempertemukan kami saja"
"Aku akan segera mengaturnya"
"Jangan terburu-buru. Kau bisa mengaturnya nanti. Aku bisa menemuinya kapan pun. Asalkan dia selamat, itu sudah cukup" katanya dengan nada lelah.
"Sekarang kau boleh pergi" dia melambaikan tangannya dengan isyarat menyuruhku keluar.
"Eh? Hanya ini?"
"Tentu saja. Lagipula bukan "hanya ini". Bukankah kita memiliki rahasia yang sama dan menyembunyikannya dari akademi?" katanya sambil tersenyum nakal.
"Baiklah guru, aku permisi dulu" kataku dengan nada cemberut.
Elf gelap sialan! Dia benar-benar mengancamku! Tapi dia tidak mungkin mengeksposnya, huh! Karena kita sama-sama penyihir gelap, kalau aku ketahuan dia juga mati ahahaha!
Guru Wilson masih memandangi Eva sampai sosoknya menghilang.
"Hm....penyihir gelap manusia ya...Ini benar-benar menarik..." gumamnya sambil tersenyum sinis.
***
Aku benar-benar bertemu hal yang baru kali ini. Aku belum sebulan berada di ibu kota, tapi aku sudah menemukan dua elf gelap langka. Aku tidak menyangka mereka akan bersembunyi seperti ini. Bahkan menyusup ke dalam akademi!
Ibu kota ini benar-benar menarik. Aku pasti akan banyak menemukan sesuatu yang tidak terduga disini.
Hmmm....mungkin saja ada beberapa elf yang menyusup di dalam kerajaan?
Setelah keluar dari ruang guru, aku langsung menuju ke perpustakaan yang ada di gedung A. Aku harus menyiapkan bahan untuk menyelesaikan tugasku.
__ADS_1
Perpustakaan ini cukup biasa. Cukup besar tapi tidak terlalu megah untuk membuatku kagum. Tapi setidaknya ini menampung beberapa buku yang berguna.
Saat aku sedang asyik melihat beberapa buku dan berjalan. BUK! Aku menabrak seseorang lagi. Tapi kali ini aku tidak mendengar suara orang terjatuh. Kami hanya bersenggolan bahu.
"Maaf..." kataku sambil menatap orang itu.
Tidak mungkin! Ini Denis!
Aku langsung melangkah mundur dan menjauh.
"Maaf yang mulia..." kataku sekali lagi dengan gaya yang canggung.
Semenjak kejadian kemarin aku benar-benar tidak ingin bertemu dengan orang ini!!!
Kenapa aku harus bersinggungan dengannya dari sekian banyak orang sih!
Denis menyodorkan sesuatu padaku.
Eh? Amplop?
"Ini undangan ulang tahunku yang ke enam belas" katanya datar. "Di pesta ini pertunangan kita juga akan diumumkan. Raja memintamu untuk hadir. Kami juga sudah mengundang duke dan duchess"
"Oh? Baiklah" aku mengambil amplop undangan itu.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Denis langsung melenggang pergi.
Aku kira dia membenciku? Bukankah dia tidak menghiraukanku sama sekali?
Dasar Denis sialan! Dia benar-benar tidak meminta maaf padaku karena membentakku waktu itu. Apa-apaan sikapnya itu? Cih!
Tapi ya sudahlah...
Ngomong-ngomong, Robert ada dimana ya? Kenapa aku tidak melihatnya seharian ini di akademi? Dia juga bukan wali kelasku. Jadi dia mendaftar menjadi guru apa di akademi ini?
***
Denis sudah mengintip gadis kecil itu sejak di ruang kelas.
'Kelasnya sudah selesai? Haruskah aku langsung menemuinya?'
Tapi ternyata gadis itu menuju ke tempat lain saat pelajaran selesai.
"Ruang guru?"
Akhirnya, dia menunggu gadis itu selama beberapa menit sampai gadis itu keluar dari ruang guru dan menuju perpustakaan.
"Gadis kecil sialan! Dia benar-benar membuatku jadi penguntit" gumam Denis kesal sambil menghentakan kakinya.
Dia ingin meminta maaf sejak gadis itu keluar dari ruang kelas. Dia ingin menghampirinya. Tapi perasaan dan gerakan tubuhnya tidak sinkron. Dia ingin meminta maaf tapi tubuhnya tidak mau maju menghampiri.
Sampai akhirnya dia melihat gadis itu menuju perpustakaan dan melihat beberapa buku.
'Haruskah aku seorang putra mahkota, mengejar gadis kecil sampai seperti ini?' pikirnya. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjalnya. 'Bukankah akan menurunkan martabatku kalau aku mengejarnya seperti orang bodoh lalu meminta maaf dengan wajah malu-malu?'
Intinya, dia sangat ingin meminta maaf, tapi rasa gengsi yang kuat membuat gerakan tubuhnya tidak sinkron.
Akhirnya dia mencari cara keren untuk bertemu dengan gadis itu, tanpa terlihat bahwa dia yang mengikutinya selama ini. Dia berpura-pura sedang mencari buku dan berjalan mendekatinya. Sampai akhirnya bahu mereka bersinggungan.
Dia mengira bahwa dia akan meminta maaf. Tapi mulutnya langsung terkunci. Dia melihat gadis itu bersikap sangat canggung dengan wajah menunduk. Gadis itu tidak mau menatapnya.
'Ayolah, aku harus meminta maaf' pikirnya. Dia melihat gadis itu dan langsung terpesona. Dia menjadi lupa apa yang harus dilakukan. Dia hanya memberikan gadis itu undangan ulang tahunnya dan memintanya untuk datang. Dia berusaha tersenyum malu-malu dengan nada bicara datarnya. Tapi Eva tidak melihat padanya. Sehingga dia merasa canggung karena tersenyum sendiri.
Sampai akhirnya kakinya melangkah sendiri menjauhinya.
'Apa yang kau lakukan bodoh!!' pikirannya berteriak. 'Aku benar-benar lupa untuk minta maaf. Bagaimana ini???' pikirnya panik.
'Tenang, tenang. Masih ada kesempatan. Aku bisa meminta maaf saat pesta, ya, aku bisa. Aku juga akan memberinya hadiah'
Tanpa sadar dia meninggalkan perpustakaan dengan wajah memerah seperti udang rebus.
'Bagaimana dia menjadi terpesona dan tidak berkutik?' Padahal dia hanya melihat wajahnya.
'Apa gadis itu menggunakan sihir aneh padaku?'
LIKE ya >>>>>
__ADS_1