Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 3: Akademi: Event Kecelakaan


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva memasuki aula untuk menghadiri acara penyambutan. Saat itu para murid duduk secara berkelompok dan kelompk itu terbagi dua. Menjadi kelompok orang biasa dan kelompok para bangsawan. Eva memilih bangku dengan posisi strategis di tengah. Dan yang mengejutkannya, dia duduk di antara para tokoh tambahan terkenal yang ada di dalam novel, si kembar api.


Lalu Reina datang sesuai dengan alur novel. Reina duduk di antara para orang biasa dan membuat kegemparan. Bahkan itu menarik perhatian Denis saat dirinya berdiri di depan podium.


Acara penyambutan itu berjalan lancar. hanya saja acara itu sangat membosankan bagi Eva. Saat Reina akan memberikan kata sambutan, berarti acara sudah akan selesai. Saat itu terjadi event lainnya, yaitu Reina terpeleset dan Denis menolongnya dengan menggendongnya bak putri. Hal itu terjadi, dan Denis juga menolong Reina, hanya saja dia menolongnya menggunakan sihirnya. Eva menjadi bingung, apakah ini dihitung mengikuti alur novel atau tidak ya?


Akhirnya acara penyambutan pun berakhir. Setelah ini, Eva mengurungkan niatnya untuk kembali ke mansion. Dia ingin melihat-lihat asarama yang ada di akademi.


***


Aku memperhatikan seluruh gedung. Para murid itu sudah berhamburan keluar satu per satu. Karena masih terlalu ramai, aku masih duduk di kursiku sampai keadaannya kondusif dan melangkah keluar.


Kalau tidak salah menurut novel Eva mendapatkan kejadian yang lumayan tragis.


Waktu itu, saat acara penyambutan sudah selesai, Eva berlalri menghampiri Denis. Denis mengacuhkannya tapi Eva terus mengikutinya.


Karena terus diabaikan Eva melepaskan kekesalannya dan tidak sengaja menabrak Reina. Gadis itu terjatuh, tapi Eva tidak menolongnya dan membentaknya. Lalu kemarahannya semakin besar saat dia ingat gadis ini pernah dipeluk oleh Denis saat di atas podium. Dia mulai melampiaskan kebenciannya para Reina dan akan memukulnya.


Tapi, Denis datang. Dia langsung memarahi Eva dan melindungi Reina. Denis membantu Reina berdiri dan memandang Eva dengan dingin. Walaupun Eva beruaha menjelaskan bahwa dia tidak sengaja, Denis mengacuhkannya dan mengancamnya untuk tidak mendekatinya lagi. Akhirnya Denis merangkul Reina menjauh dari Eva. Dari kejadian itu, benih-benih kebencian Denis terhadap Eva semakin besar. Dan Denis mulai terpikat dengan Reina.


Aku menompang daguku dengan kedua tanganku, memikirkan kejadian yang ada di dalam novel.


Kejadian itu tidak akan pernah terjadi karena aku tidak akan pernah mengejar Denis. Jadi kukira ini baik-baik saja kan?


"Eva" Lilac menegurku.


"Ya?"


"Kami pergi duluan ya" katanya sambil menarik tangan Louis.


"Jangan menyentuhku" Louis memberontak.


Tapi Lilac langsung memukul kepalanya. "Jangan bertingkah bodoh. Kereta kita sudah ada di depan, kau mau ibu melihat kita tidak akur begini" kata Lilac bijaksana.


"Hati-hati" sahutku sambil melambaikan tangan.


"Sampai jumpa Eva. Aku harap kita sekelas" kata Lilac.


Lalu kedua orang itu melenggang pergi keluar aula.


Aku melihat aula sudah mulai sepi. Kelihatannya sebagian besar orang sudah keluar dari aula.


Aku pun langsung melangkahkan kakiku dengan santai keluar.


Ah, tujuan kali ini adalah asrama! Aku sangat ingin melihat asrama yang ada di sini!


Hoam! Aku menguap, bosan. Aku melihat sekeliling akademi. Kalau tidak salah, asrama terletak di belakang bangunan utama. Aku tahu ini, karena dijelaskan di dalam novelnya.


Sebenarnya aku tidak perlu menginap di asrama karena aku mempunyai mansion di ibu kota. Asrama biasanya diperuntukan bagi para orang biasa dan para bangsawan yang tidak punya mansion di ibukota (bangsawan kecil yang memerintah sebuah desa).


Tapi aku ingin menikmati masa sekolahku di akademi! Dan itu tidak lengkap tanpa asrama. Ah! Kalau tidak salah Reina juga menginap di asrama walaupun mansionnya berada di ibu kota. Dia bahkan berbaur dengan orang biasa. Aku tidak tahu alasannya.


Jadi, aku memutuskan untuk mencari asrama yang baik. Membooking asrama itu, lalu tinggal di sana selama setengah tahun atau setahun. Aku kira ini bukan rencana yang buruk.


"Eva!" tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggilku.


Dan ternyata itu Denis! Aku melihat pria itu menghampiriku!


Ahh! Aku tidak ingin menemuinya!


Jadi aku berbalik arah dan menghindarinya. Aku mempercepat langkah kakiku tapi aku tetap mempertahankan postur jalanku seperti biasa.

__ADS_1


Tapi tiba-tiba sesuatu muncul di depanku. Aku tidak bisa menghindar dan BUK! Kami bertabrakan!


Aku melihat orang yang menabrakku itu terjatuh ke bawah. Uwahhh! Tidak mungkin! Reina!!!


Aku benar-benar bertabrakan dengan gadis ini dari sekian banyak orang?!


Bukankah ini sama saja dengan alur novelnya? Walaupun aku sudah menghindarinya?


Aku mengulurkan tanganku. "Kau tidak apa-apa?"


Tapi Reina tertunduk dan dia terus meringis sedih. Dia tidak menghiraukan lambaian tanganku sampai Denis tiba di tempat kejadian.


"Apa yang terjadi?" tanya Denis.


Ahh! Aku menjerit dalam hati. Alurnya benar-benar terjadi. Hiks, nasib burukku...


"Dia terjatuh" aku menjawab santai.


Denis mengernyitkan keningnya. "Kenapa dia terjatuh? Kau menganggunya?"


Aku benar-benar melonggo setelah mendengar perkataan Denis. Bagaimana dia bisa tiba-tiba menyimpulkan bahwa aku yang bersalah disini? Padahal gadis itu tiba-tiba muncul entah dari mana dan menabrakku?


"Apa maksudmu?" aku menjawab tidak senang. Kalau aku benar-benar emosi, aku mengambaikan embel-embel "yang mulia" itu.


"Bagaimana kau bisa menyimpulkan bahwa aku yang mengganggunya? Kau tidak melihatnya kan?" kataku dingin.


"Tapi kau gadis yang arogan" kata Denis langsung. Dia melihat Reina yang meringis sedih. "Gadis sepertinya terlalu lemah untuk bertarung denganmu. Pasti kau membuat masalah duluan."


Denis berpikir Eva terlalu bersemangat sehingga dia mulai menganggu anak bangsawan lainnya. Dia menyimpulkan itu, karena Eva kecil sering melakukannya. Apalagi saat pesat teh itu.


"sikap arogannya benar-benar tidak berubah' pikir Denis.


Denis menatap Reina dan mengulurkan tangannya. "kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa yang mulia...."kata Reina irih sambil menyambut tangan Denis dengan malu-malu.


mereka benar-benar menganggu!


Lalu Reina mulai menatap Eva dengan sedih. "Aku minta maaf...nona...."


"Eva! Kau harus minta maaf!" sahut Denis tiba-tiba.


Ah! Kenapa aku harus minta maaf? Dia yang menabrakku dan dia tiba-tiba jatuh. Apa-apaan itu?


"Hmph! Aku tidak bersalah. kenapa aku harus minta maaf?" kataku bersikeras sambil mengalihkan wajahku.


"Kau benar-benar gadis keras kepala. Aku benar-benar pusing memikirkan cara agar kau bisa bersikap menjadi gadis yang baik" kata Denis kecewa.


Eh? Kurasa ada yang aneh. Biasanya saat melihat Reina dan Denis berinteraksi, jantungku akan berdenyut kesakitan. Tapi semenjak kejadian di podium itu, aku tidak bereaksi apa pun. Sampai sekarang pun aku tidak merasakan apa-apa. Apa perasaan Eva yang dulu sudah lenyap? Karena itulah tidak bereaksi saat Denis dekat dnegan Reina. Jadi sekarang tubuh ini sepenuhnya milikku? Yeah, akhirnya~


Akhirnya aku memiliki tubuhku sendiri ~


"Nona, maafkan kelakuan tunangan saya" kata Denis lirih sambil menatap Reina.


"Ah...tidak yang mulia....ini salah saya" jawab Reina malu-malu.


Ah! Tokoh utama tak tahu malu ini!


Aku jadi mengerti perasaan para murid saat mereka melihatku dengan Denis. Karena sekarang aku juga merasakannya!


'Kalau kalian ingin bermesraan, bisakah lakukan di tempat lain?'


Aku mengabaikan kedua orang itu dan berbalik pergi.

__ADS_1


"Eva!" terdengar teriakan.


Aku menoleh dan berteriak dengan nada kesal. "Kenapa kau selalu meneriakku?!"


"...."


Tapi...ternyata sumber teriakan itu bukan Denis, tapi Robert?!


Kenapa Robert ada di tempat ini?


"Master?" aku bergumam bingung sambil mengamatinya dari atas sampai bawah.


Apa ini benar-benar Robert?


"Kenapa kau ada di tempat seperti ini?"


Robert tersenyum "Aku akan menjelaskannya padamu nanti"


Lalu wajahnya berubah kecewa "Aku kira kau tidak senang melihatku, tadi kau membentakku..."


"Tidak, tidak...master! Kau salah paham!" kataku cepat. "Suasana hatiku sedang tidak baik" kataku sambil melirik Denis dan Reina.


"Eh? Apa yang terjadi dengan gaunmu?" tiba-tiba Robert bertanya sambil memegang bahuku.


Aku melihat gaunku sedikit robek dan kotor. Apa karena tabrakan tadi? Aku benar-benar tidak menyadarinya!


"Tadi ada yang menabrakku" aku menjawab sambil menatap Reina dingin.


Gadis itu, seberapa keras dia menabraku sampai bajuku benar-benar robek! Untung saja konstitusiku tidak lemah, kalau tidak pasti aku yang akan tersungkur ke tanah.


Mendengar perkataan Eva, tubuh Reina bergetar.  Denis juga langsung melepas pegangannya terhadap Reina saat mendengar perkataan Eva.


"Maafkan aku..." kata Reina lirih. "Aku benar-benar tidak sengaja" Dia membuat wajah sedih seperti seorang gadis yang dianiaya.


Aku tidak mempedulikannya dan menatap Robert. "Master kau berhutang penjelasan padaku. kenapa kau ada di tempat ini?"


"Aku akan menjelaskannya padamu nanti" Robert melepaskan jubah yang dikenakannya dan meletakkannya di bahu Eva. "Pakai ini dulu. Pakaian robekmu tidak enak dilihat"


"Hum"


"Ayo" Robert langsung menarik tangan Eva. "Kita bicarakan ini di rumah" katanya senang.


Dalam sekejap Eva langsung melupakan tentang 'asrama' yang ingin di datanginya dan mengangguk.


SHUU! Sosok kedua orang itu secara perlahan menghilang.


Denis masih melonggo di tempatnya. Kata-katanya tersendat. Dia tahu bahwa dia sudah salah paham. Dia tidak mempercayai gadis itu dan menunduhnya. Bukankah dia terlalu terburu-buru menyalahkan gadis itu? Seperti di dorong oleh sesuatu yang tidak terlihat, bahwa Eva pasti melakukannya. Sehingga dia langsung mengambil kesimpulan yang tidak benar.


Melihat gadis itu mengabaikannya dan pergi bersama pria lain dia sangat kecewa dan sedih.


"Yang mulia....aku minta maaf" suara Reina mencicit sedih.


Denis langsung menatapnya dengan dingin.


 'Tidak, kau tidak bisa seperti ini. Jangan menyalahkan orang lain. Dirimulah yang salah' batinnya berusaha menenangkan sehingga tatapan dingin itu mereda.


"Sudahlah, itu bukan salahmu" jawab Denis acuh tak acuh.


Dia langsung meninggalkan dan mengabaikan Reina yang sedang berdiri dalam keadaan linglung.


"Apa yang harus kulakukan?!" Denis bergumam panik sambil mengigit jempolnya. "Aku sudah membuat masalah. Aku harus meminta maaf"


'Aku harus minta maaf pada gadis kecil itu karena sudah menuduhnya dan membentaknya. Tapi dia harus melakukan apa? Apa aku sebaiknya membelikannya sesuatu?'

__ADS_1


"Dan paman sialan itu! Berani-beraninya dia memegang tangan Eva!" gumamnya sambil mengertakan gigi, benci. "Tapi tidak apa-apa, tenanglah. Dia adalah tunanganku, dia tetap milikku!" Denis bergumam yakin.


Jangan lupa LIKEEE ~~


__ADS_2