
Cerita sebelumnya:
Eva meminta tolong pada Sayn dan Robert untuk membantunya. Tapi kedua orang itu tidak bisa. Sayn tidak bisa mengacau di akademi karena dia adalah seorang guru. sementara Sayn masih sibuk dengan misinya, Eva merasa tidak enak untuk meminta tolong padanya.
Akhirnya Eva melakukan misi penyelamatan itu seorang diri. Dia menyelinap keluar tengah malam dari asrama nya, menuju penjara bawah tanah.
Dia berhasil menyelamatkan Fena tapi alarm keamanan berbunyi dan membuat mereka dikejar oleh seluruh staff dan guru yang ada di akademi.
***
Aku sangat panik sekarang. Aku berhasil membebaskan Fena, jadi sekarang apa? Aku bahkan tidak memikirkan langkah selanjutnya sama sekali.
Aku ingin Fena melarikan diri dari kerajaan ini. Tapi bagaimana? Dengan siapa? Kedua orang tuanya masih menjadi tahanan di tempat ini. Tidak mungkin dia akan melarikan diri sendiri.
Arghhh! Aku benar-benar bertindak gegabah. Harusnya aku memikirkan rencana selanjutnya yang lebih logis. Sekarang harus bagaimana? Aku bahkan sudah menjadi buronan dan tidak bisa kembali lagi.
Aku bisa melihat bahwa satu persatu penyihir mulai berteleportasi ke tempat ini. Sehingga aku harus melewati mereka semua satu persatu. Untuk sekarang aku harus melarikan diri lebih dulu. Aku masih memiliki kesempatan karena kepala sekolah masih belum mengejar kami.
Sayang sekali aku tidak bisa membawa orang lain berteleportasi bersamaku. Aku hanya bisa membawa diriku saja. Jadi aku harus menggunakan kertas mantra untuk berteleportasi ke tempat yang sangat random dan acak. Jarak tempat itu juga dekat karena kami tidak bisa berteleportasi jarak jauh dengan kertas mantra.
Orang yang mengejar kami semakin banyak. Bahkan beberapa dari mereka menjaga gerbang ibukota agar kita tidak bisa keluar.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Fena bertanya. Kami saat ini sedang bersembunyi di gang gelap sambil menundukkan kepala dan menghilangkan hawa keberadaan kami.
"Sebelum itu, aku ingin bertanya dulu. Setelah mereka tahu bahwa kau Penyihir gelap, bagaimana dengan orang tuamu? Bukankah mereka bangsawan?"
Fena menundukkan kepalanya malu-malu dan menjawab "Aku sebenarnya bukan anak kandung mereka. Mereka adalah orang tua angkat ku. Jadi mereka sama sekali tidak akan melakukan apapun pada orang tuaku. Apalagi kedua orang tuaku tidak ada hubungannya dengan penyihir gelap sama sekali" Fena menjawab sedih.
Pasangan bangsawan yang menjadi orang tua angkat nya hanyalah bangsawan kecil. Mereka mengangkat nya dari panti asuhan karena mereka tidak bisa memiliki anak.
__ADS_1
"Mereka adalah orang tua yang sangat baik ..." Fena berkata dengan wajah menyedihkan. "Tapi sayangnya mereka mungkin akan membenciku setelah tahu identitasku sebagai penyihir gelap. Aku tidak ingin menemui mereka. Aku tidak ingin melihat tatapan penuh kebencian itu..." katanya hampir menangis.
"Baiklah, baiklah. Aku akan mengirim mu keluar dari Kerajaan ini. Apa kau punya beberapa kenalan di tempat lainnya?" aku bertanya lagi.
"Tidak..." dia menjawab sedih.
"Lalu darimana kau mempelajari sihir gelap? Dan juga buku-buku sihir itu asalnya darimana?" aku mengernyitkan keningku bingung. Aku mengira ada orang lain yang memberikan benda-benda itu pada nya agar dia bisa berlatih.
"Jujur saja, aku membawa buku-buku itu sejak aku kecil. Panti asuhan tempatku dibesarkan hanya berisi orang-orang biasa. Mereka tidak mengerti tentang sihir. Jadi mereka tidak tahu bahwa buku-buku yang ada bersamaku itu buku mantra sihir gelap. Mereka mengira itu peninggalan orang tuaku. Lalu aku juga membeli beberapa barang lainnya dari pasar gelap" dia menjelaskan. "Karena aku ingin melatih sihir gelapku. Walupun sihir gelapku benar-benar tidak terlihat kuat sama sekali. Sihir airku mungkin lebih baik beberapa kali lipat" katanya kecewa.
Aku sudah bertanya semuanya. Sekarang aku mendapat kan beberapa informasi yang dibutuhkan. Pertama, tidak perlu mencemaskan keluarga Fena. Kedua, dia tidak punya siapapun yang bisa digunakan sebagai tempat pelarian.
Aku berusaha memikirkan tempat yang cocok untuknya. Wilayah elf adalah tempat yang buruk. Kalau identitas manusianya ketauan, keselamatan nya bisa terancam. Aku hanya memikirkan satu tempat yang aman untuk nya sekarang. Tempat itu adalah Menara Sihir. Aku bisa menitipkan Fena sementara kepada nenek misterius yang pernah kutemui di masa lalu.
"Menyingkir" aku langsung menarik Fena menjauh dan BAM! Tempat dimana kami berada sebelum nya terkena serangan sihir api.
Mereka berhasil membuat kami keluar dari tempat persembunyian dan mengepung kami. Dengan cepat aku menggunakan kertas mantra dan kami berteleportasi ke tempat acak lainnya di ibukota. Untung saja aku bertindak cepat, kalau tidak mereka akan memblokir kertas mantra ku dan aku akan tertangkap.
"Serahkan gadis itu kepadaku" Kepala sekolah sama sekali tidak mengenali Eva. Dia berpikir Eva adalah penyusup acak yang menyerang akademi demi menyelamatkan rekannya. "Lalu serahkan dirimu"
"Kenapa aku harus menyerah kan diriku untuk mati?" aku balik bertanya sambil tersenyum miris.
"Aku dengar kalian benar-benar menghukum mati semua penyihir gelap yang kalian tangkap. Itu benar-benar tidak manusiawi. Lagipula tidak semua penyihir gelap itu jahat. Buktinya mereka tetap bersembunyi di tempat ini tanpa menyebabkan masalah apapun. Mereka hanya ingin hidup tenang. Tapi kalian membunuh semuanya tanpa pandang bulu karena kebencian dan ketakutan semata." kataku sambil menggertakan gigi benci.
Ekspresi kepala sekolah berubah menjadi tidak nyaman."Serahkan saja diri kalian. Apakah kalian orang jahat atau tidak, kami akan menyelidikinya lebih dulu" kata wanita tua itu bijak. "Jangan mencari masalah. Kalian tidak tahu bahwa ditangkap oleh akademi masih Seratus persen lebih baik daripada ditangkap oleh kerajaan. kalau tentara kerajaan bertindak, mereka akan membunuh kalian tanpa peduli kalian jahat atau tidak" wanita itu berusaha membujuk mereka untuk tidak melawan.
Tapi mereka bukan anak kecil yang tertipu oleh bujukan manis itu. Ibarat nya wanita itu berkata "ditangkap kami, kau akan selamat. Kalau ditangkap orang lain, kau akan mati". Tidak membiarkan kami untuk memilih pilihan lain nya sama sekali.
"Tidak" aku langsung menggunakan belatiku untuk menyerangnya dengan cepat.
__ADS_1
Walaupun kepala sekolah adalah penyihir dengan tubuh lemah. Dia bisa memanggil sihirnya dengan cepat dan langsung membentuk pelindung yang kuat di sekitarnya.
"Kalian berani!" kepala sekolah pun mulai menggunakan sihir nya.
Di menarik oksigen di sekitar kami, menyebabkan kami tidak bisa bernapas sama sekali. Ini adalah sihir udara!
Fena terkena dampak terparah. Wajah Fena terlihat pucat dan dia memegang lehernya kesakitan. Sementara aku masih bisa menahannya.
Aku menarik Fena untuk menjauh dari tempat itu. Tapi kepala sekolah menghalangi kami dengan cepat. Dia membentuk tanaman menjalar aneh dengan sihir bumi dan tanaman itu langsung melilit sekujur tubuh kami dengan cepat.
SLASH! SLASH! SLASH!
Aku memotong Tanamannya. Lalu memusnahkan nya dengan sihir api agar tanaman aneh itu tidak hidup lagi.
Aku mengeluarkan sihir tingkat tinggi "Wind" kearah kepala sekolah. Jujur saja aku yakin sihir ini seperti kacang kecil baginya. Lagipula kepala sekolah adalah seorang penatua juga. Dia menguasai banyak sekali sihir tingkat tinggi yang sangat efisien. Tapi tujuanku menggunakan Sihir itu untuk mengalihkan perhatiannya agar aku bisa lari dari tempat ini. Bukan untuk melawannya sepenuhnya.
Tapi gagal. Kepala sekolah dengan cepat menghilangkan sihirku, lalu dia muncul tiba-tiba dihadapan kami dan menempelkan kertas mantra ke tubuh kami. Aku berhasil menghindar di saat-saat kritis. Tapi Fena tertangkap. Kertas mantra itu berhasil mengenai nya. Lalu tubuh Fena mematung seperti seorang vampir. Kertas itu langsung mengunci semua pergerakan nya. Membuat nya tidak bisa melarikan diri.
Fena tertangkap lagi. Aku hampir saja menyerah. Aku ingin melarikan diri. Kalau aku berhasil melarikan diri, aku akan meminta tolong kakek untuk membantu. Kenapa dari awal aku tidak mengikuti saran Robert dan meminta bantuan kakek? Semuanya tentu saja tidak akan sekacau ini kalau itu terjadi.
Tapi tiba-tiba, petir besar yang entah darimana datangnya menyambar ke arah kami. Lebih tepatnya ke arah kepala sekolah.
Suasana menjadi kacau sebentar karena kepala sekolah merasakan aura membunuh yang sangat besar.
"Hei!" Lalu tiba-tiba sosok berjubah hitam aneh, muncul di samping ku. "Bebaskan gadis itu juga. Ayo pergi" kata jubah hitam itu.
Aku dengan cepat melepaskan kertas mantra itu dari tubuh Fena dan kami mengikuti jubah hitam itu. Sejak dia ingin menolong kami, aku tidak menganggap nya sebagai orang jahat sama sekali. Tapi bukan berarti aku mempercayai nya. Aku harus tetap waspada.
si jubah hitam misterius itu mengeluarkan kertas mantranya. Lalu kami bertiga berteleportasi ke dalam sebuah rumah yang terlihat seperti penginapan.
__ADS_1
Sosok itu melepaskan jubah hitamnya sambil menggerutu. "Sangat panas dan tidak nyaman. Aku bingung kenapa Gord bisa menggunakan jubah jelek itu setiap hari" dia menggerutu sambil melempar kan jubahnya di tanah.
Lalu sosok yang familiar terlihat. Ya, mereka pernah bertemu secara tidak sengaja saat itu karena saling bertabrakan. Dan sekarang pemuda aneh itu juga menolong mereka secara misterius.