Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Pertandingan Sihir: Kota Sihir 18


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Mereka akhirnya makan bersama sambil membicarakan beberapa topik. Topik utama adalah tentang penyelamatan Eva dan para jubah hitam. Serta peristiwa yang terjadi tadi malam. Walaupun ada beberapa kesalahpahaman di pikiran Reina, Eva tidak terlalu peduli karena itu sama sekali tidak penting untuknya.


***


"Selamat tinggal Yang Mulia. Terima kasih atas jamuannya" kataku pamit.


Kami sudah selesai makan, sekarang saatnya berbelanja lagi. Aku tidak akan menanyakan apa pun kalau mereka tidak mau memberitahuku. Walaupun aku sedikit penasaran apa yang dilakukan tiga orang ini di Kota Sihir. Tapi aku juga tidak bisa memaksa mereka untuk memberitahu hal itu padaku. Aku tidak mau dibenci dan dianggap gadis jahat lagi karena terlalu menuntut.


Denis menundukkan kepalanya sambil mengepalkan tangannya. Dia sepertinya ingin melakukan sesuatu. Tapi dia sangat ragu.


"Tunggu!" kata Denis kemudian.


Aku menoleh sambil memiringkan kepalaku, bingung.


"Aku ingin berbicara denganmu secara pribadi" kata Denis menguatkan tekad. Bahkan tanpa persetujuan Eva, dia menarik tangannya dan membawanya ke suatu tempat. Mereka memilih sebuah celah kecil di antara kota untuk berbicara. Meninggalkan Robert, Reina dan Jensen dalam keadaan bingung.


"Ada apa Yang Mulia? Aku yakin kau tidak punya banyak waktu sekarang karena kau sangat sibuk bukan?" tanyaku sarkas.


"Jangan salah paham!" sentak Denis langsung.


Aku mengernyitkan kening. "Salah paham? Apa maksudnya?"


"Aku ada di tempat ini karena misi kerajaan. Walaupun aku tidak bisa memberitahumu misi apa itu. Aku hanya menjalankan misi ini dengan Jensen. Lalu Gadis bangsawan itu datang mengikutiku. Aku bahkan tidak tahu dia ada di tempat ini. Jadi jangan salah paham" kata Denis.


Aku menatap Denis dengan tatapan bingung. Jadi orang ini ada di Kota Sihir karena misi kerajaan. Aku tidak tahu misi apa yang dilakukannya karena novel itu sama sekali tidak pernah menjelaskannya. Tapi ternyata Reina hanya mengikuti Denis ke Kota Sihir karena misi itu.

__ADS_1


Jadi sebenarnya Reina mengikuti Denis ke Kota Sihir untuk membantunya. ternyata Robert juga ada disini. Robert yang sedang keasmaraan pun membantu Reina dan tanpa dia sadari dia juga membantu Denis. Jadi seperti itukah yang terjadi di dalam novel itu? Sebenarnya isi novel itu sangat ambigu. Itu tidak mengungkapkan alasan kedatangan Reina secara jelas ke Kota Sihir. Novel itu mengatakan bahwa Reina dan Robert bertemu dengan tidak sengaja. Lagipula itu terjadi di sudut pandang Robert (POV Robert), bukan Reina. Karena Pertandingan Sihir ini adalah kisah utama Robert di dalam novel.


Argghh! Aku bingung sekali. Lebih baik untuk tidak terlalu memikirkan hal yang membingungkan seperti ini. Lagipula tujuan yang paling penting adalah, pertama, mencegah Reina mendapatkan binatang sihir legendaris itu dan kedua, memperenggang hubungannya dengan Robert. Aku kira aku sudah berhasil melakukan tujuan kedua. Hanya tinggal berusaha semaksimal mungkin di tujuan pertama. Untuk yang lainnya aku kira itu tidak terlalu penting untuk sekarang karena bukan poin utama di dalam novel.


"Itu bukan salah paham Yang Mulia. Saya sama sekali tidak berniat untuk ikut campur urusan Yang Mulia" kataku sambil memberikan senyum terbaikku. Perkataanku setengah kebenaran dan setengah kebohongan. Aku benar-benar tidak tertarik dengan urusan Denis karena itu bukanlah poin penting yang mengancam nyawaku, menurut novel itu.


Entah kenapa setelah mendengar jawaban dan melihat sneyum Eva, Denis semakin kesal. Dia mengepalkan tangannya era-erat.


'Gadis ini sama sekali tidak peduli padanya!' pekik Denis pahit di dalam pikirannya. Dia merasa sangat kesal sekali sekarang. Tapi dia berusaha menahan emosinya.


Lebih tepatnya Denis merasa sangat kesal dengan sikap tidak peduli Eva. Gadis itu sama sekali tidak mempedulikannya. Tidak ingin tahu tentangnya lebih jauh. Dan bahkan tidak tertarik padanya! Denis merasa emosinya membara saat ini. Lalu saat dia kembali mengingat kedekatan Eva dan Robert, hawa dingin langsung keluar dari tubuhnya.


Aku melihat Denis tidak merespon. "Yang Mulia, kalau tidak ada yang dibicarakan lagi. Aku akan undur diri" kataku sambil memberi hormat pada Denis dan berbalik.


"Tunggu!" tapi tiba-tiba Denis menarik tanganku.


Aku menoleh dan mata kami saling bertatapan.


"Aku akan melindungimu. Aku pasti akan melindungimu!" kata Denis tiba-tiba. Lalu dia melepaskan pegangannya dan berbalik pergi. Meninggalkanku dalam kebingungan.


Ada apa dengan Denis? Apa otaknya rusak? Kenapa dia berbicara acak dan tidak jelas hari ini.


"Aku sama sekali tidak mengerti" gumamku dengan mulut berkedut.


Tapi bukankah dia akan melindungiku? Apa ini mimpi? Benar-benar di luar dugaan kalau Denis akan mengatakan hal seperti itu.


Tapi aku tidak memikirkannya lagi dan berbalik ke rumah makan itu untuk menghampiri yang lainnya. Tapi hanya tersisa Robert yang sudah menungguku. Aku tidak melihat Reina dan Jensen. Mungkin dua orang itu sudah pergi menghampiri Denis.

__ADS_1


"Mereka sudah pergi" kata Robert kemudian saat melihat Eva celingak-celinguk melihat sekeliling.


Aku mengangguk mengerti.


"Mastaa, ayo kita berkeliling lagi" kataku santai sambil menarik tangan Robert keluar dari tempat makan itu.


***


Setelah berbicara secara pribadi dengan Eva, entah kenapa Denis tidak bisa mengontrol rasa malunya dan lari begitu saja. Dia melewati beberapa gang kecil sebelum tiba di jalan yang berbeda. Lalu beberapa menit kemudian, Reina dan Jensen menyusulnya.


"Ada apa Yang Mulia? Kenapa wajahmu memerah? Apa kau sakit?" kata Reina tiba-tiba sambil memegang pipi Denis.


Mata Denis membelalak dan dia menghempas tangan Reina "Aku sama sekali tidak sakit"


Lalu dia memberi Reina tatapan tajam. "Aku sudah bilang kalau aku tidak membutuhkanmu bukan? Kenapa kau mengikutiku diam-diam dan mengajakku bertemu?" kata Denis tidak senang.


Reina menundukkan kepalanya, merasa bersalah. "Maafkan aku, Yang Mulia" katanya lirih. "Aku benar-benar ingin membantumu, karena itu aku menguatkan tekadku." tangannya mengepal keras. Lalu dia mendongak dan menatap Denis dengan serius "Aku tidak takut dimarahi. Aku tidak takut diusir. Aku akan membantu Yang Mulia!"


Melihat kesungguhan gadis itu, kemarahan Denis mereda. Dia menghela napas. "Jadi apa yang sudah kau dapatkan?"


Mata Reina berbinar dan dia tersenyum. "Yang Mulia, terima kasih. Aku menemukan beberapa cara untuk memperlancar rencana Yang Mulia. Aku sudah membujuk tim dari Jiwa Sihir. Dan mereka setuju untuk membantu! Ini benar-benar kabar bahagia. Semakin banyak orang yang membantu, semakin mudah kita akan menemukannya" jelas Reina dengan wajah berseri-seri.


Dia mengira Denis akan memujinya, tapi ternyata Denis dengan tiba-tiba berteriak padanya. "Dasar bodoh! Kenapa kau mengatakan misi kita kepada orang asing! Apa kau ingin mati!"


DEG! Reina terdiam sesaat karena kaget. Dia berkeringat dingin dan jantungnya berdetak cepat. "Aku....aku tidk mengatakan apa pun tentang misi....aku hanya meminta mereka untuk membantuku mencari sesuatu....dan mereka setuju....karena kita teman..." jelas Reina terbata-bata karena ketakutan.


Denis kembali tenang. Dia menatap tajam Reina beberapa detik sebelum berbalik pergi.

__ADS_1


"Aku harap semua itu benar" kata Denis dengan dingin meninggalkan kata-kata terakhirnya.


Reina berdiri di jalanan kecil dan sepi. Kepalanya menunduk. Di dahinya keringat kecil bercucuran. Jantungnya juga berdetak cepat. Wajahnya pucat. Matanya berkaca-kaca karena hampir menangis. Sebenarnya dia mengatakan kebohongan kecil pada Denis. Dia memang membocorkan misi Denis untuk mencari alat sihir itu. Dia membocorkan bahwa Putra Mahkota ingin menyelamatkan negaranya. Tidak lupa dia menambahkan bahwa ada banyak harta di sana, tim Jiwa Sihir bisa mengambil sisanya karena mereka hanya membutuhkan satu harta saja. Dia berpikir kembali bahwa dia benar-benar bodoh waktu itu. Kenapa dia bisa mengungkapkan semuanya dengan mudah seperti itu. Kalau Denis tahu, dia pasti akan membencinya. Reina tidak mau semua itu terjadi. Dia akan bertahan. Dia akan membuat Denis berhasil melaksanakan misinya dan dia yakin itu. Lagipula di dalam pikirannya, orang-orang di Jiwa Sihir adalah orang yang baik. Mereka pasti akan membantunya.


__ADS_2