Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Naga Hutan, Damian


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Diana dan Evan kembali lebih dulu ke kerajaan Well karena kondisi Evan yang lumayan rentan. Sementara Eva dan Rexus memilih untuk tetap disini karena masih ada beberapa hal yang harus mereka lakukan. Mereka masih perlu mencari keberadaan naga tua, teman para elf itu.


Jadi mereka mencari nya dengan bantuan Fram. Tempat tinggal naga tua itu berada di sebuab goa besar yang terletak di perbatasan wilayah elf gelap dan cahaya.


Ren tidak ikut mengantar karena dia sangat sibuk. Akhir-akhir ini konflik para elf karena perebutan wilayah membuat nya sangat pusing. Elf cahaya dan elf gelap mulai menyerang satu sama lain. Sehingga Ren harus segera membereskan masalah ini karena dia ingin melanjutkan penelitian nya lagi.


***


Kami bertiga menatap naga besar itu dengan tatapan terpesona. Sang naga perlahan membuka kelopak matanya dan menatap kami. Lalu dia secara perlahan mengangkat kepalanya dengan malas.


Rexus merasa bersemangat saat melihat naga itu bergerak.


"Damian, kami kemari dengan izin dari Ren" kata Fram cepat-cepat. Dia takut naga itu mara pada mereka karena sudah mengusik tidurnya.


Aku dengan cepat mengeluarkan kristal hijau aneh dari sakuku dan menunjukkan nya. "Dia memberi kami ini. Kami hanya ingin berbicara denganmu"


Naga itu tidak merespon. Dia memutar bola matanya menatap manusia, elf dan naga kecil di depannya.


Naga besar bernama Damian ini memiliki sisik hijau tua seperti Daun. Seluruh tubuh dan sayapnya berwarna hijau. Matanya berwarna emas, sehingga membuat nya cukup mencolok. Mengingatkanku pada bunglon raksasa.


Sebelum pergi kemari sebenarnya Ren sudah menjelaskan sedikit detail tentang Damian. Damian adalah naga hutan. Dia unggul dalam sihir angin, tanah dan air. Umurnya sudah sangat tua, hampir 10.000 tahun. Naga yang sudah hidup lama dan tidak mempedulikan situasi apapun di luar. Dia hanya bersantai setiap harinya. Tapi Para elf sangat menghormati nya karena sang naga pernah membantu pertanian mereka saat krisis panen terjadi.


Naga itu menjulurkan kepalanya yang besar ke arah kami satu persatu. Seakan-akan menyeleksi sesuatu. Membuat kami membeku di tempat.


"Elf" dia berkata sambil memandang Fram. Lalu dia menggertakkan kepalanya ke arahku. "Manusia" aku terpesona dengan pupil emasnya. Emerta juga mempunyai pupil emas. Harus kuakui pupil emas sangat indah. Lalu Damian memindahkan kepalanya ke arah Rexus. "Aku tidak tahu kau apa" dia berkata dengan datar. Membuat kami semua tersentak.


Dia tidak mengenali Rexus? Bagaimana mungkin? Rexus 100% naga, sama seperti nya. Aku melihat kelahiran Rexus dengan mata kepalaku sendiri.


"Kami kemari karena Rexus ingin melihat mu. Dia ingin bertemu dengan spesies naga, sejak dia tidak pernah menemukan satu pun saat dia lahir" aku mulai menyatakan tujuanku.


Damian melihat Eva dan Rexus secara bergantian. "Tidak ada kontrak. Bagaimana kalian bisa bersama seperti itu?" Dia menatap Rexus seakan-akan dia spesies asing. "Bagaimana kau bisa begitu akrab dengan manusia?"


"Kontrak?" aku bergumam dengan wajah bingung. Damian seperti nya tahu bahwa Rexus adalah naga. Tapi apa maksud perkataan 'aku tidak tahu kau apa' yang keluar dari mulutnya?

__ADS_1


Naga itu mengabaikan ekspresi bingung ku dan melihat Rexus dengan tatapan serius. "Aku sama sekali tidak mengenalmu. Terlalu banyak campuran. Naga hitam? Tapi kau bukan naga hitam. Walaupun kau keturunan naga hitam. Tapi ada sesuatu yang lain darimu dan akh tidak tahu apa itu"


"Aku juga tidak tahu" Rexus yang sedari tadi membisu akhirnya membuka mulutnya. Rexus juga tidak tahu jati dirinya. Dia tidak tahu identitas tentang Orang tuanya sama sekali karena mereka meninggal tanpa meninggalkan jejak.


"Kau baru saja lahir. Manamu sangat tidak stabil. Tinggal lah disini. Aku akan melatihmu menggunakan mana" suara dingin naga itu melayang di seluruh goa.


Aku membeku di tempat. Ada sedikit rasa tidak nyaman. Rexus akan berpisah dariku?


Aku menatap Rexus dengan cemas. Rexus juga menolehkan kepalanya menatapku. Sebenarnya aku tidak mau ikut campur sama sekali. Aku akan membiarkan Rexus mengambil keputusan sendiri. Lagipula ini untuk kebaikan nya sendiri. Dia bisa tinggal dan berlatih mana dengan anga tua, sehingga dia bisa menjadi lebih kuat dan perkasa.


"Eva, bagaimana?" Rexus mengerjap kan matanya bingung.


"Aku tidak akan memberikan pendapat apapun. Semuanya terserah dirimu Rexus kecil" kataku kemudian.


Rexus terdiam, dia berpikir sebentar. Sebelum akhirnya dia melihat Damian dan mengangguk.


Aku sebenarnya agak kecewa saat tahu naga kecil itu akan meninggalkan ku. Tapi ini bukan perpisahan selamanya. Ini hanya perpisahan sementara. Lagipula aku masih bisa mengunjungi Rexus kalau aku tidak sibuk di masa depan.


"Aku akan kembali nanti" Rexus menatap Damian sungguh-sungguh. "Untuk sekarang aku akan menemani Eva sampai dia kembali ke kerajaan manusia. Setelah itu, aku akan kembali ke tempat mu untuk berlatih" Rexus membuat keputusan.


Aku sangat bingung dengan arti kontrak disini. Apa maksudnya kontrak dengan binatang sihir ya? Jujur saja aku tidak pernah menganggap Rexus seperti binatang sihir sama sekali. Rexus bisa berbicara dan dia memiliki emosi. Mereka mungkin sedikit berbeda. Dan aku menganggap nya sebagai teman bukan binatang sihir.


"Berikan padaku kristalinya" Damian kemudian berkata.


Aku pun mendekat sambil menyodorkan kristal itu. Damian membuka mulutnya dan dia menelan kristal kecil itu dengan mudah.


Apa itu?


Apa itu makanan naga?


Aku menatap semuanya dengan linglung.


"Itu adalah inti kristal milik ku" Damian menjawab, seakan-akan dia mengerti pertanyaan dari wajah bingung Eva.


"Inti kristal?"

__ADS_1


"Inti kristal adalah salah satu pusaka yang kami simpan. Inti kristal mengandung banyak mana di dalamnya. Sebelum nya aku meminjamkan inti kristalku pada Ren. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan dengan inti kristalku. Tapi sepertinya dia membutuhkan nya untuk penelitian. Sekarang dia sudah mengembalikan nya padaku. Dia tidak membutuhkan nya lagi" Damian menjelaskan semuanya.


"Kakak Ren ingin membuat prototipe yang mirip dengan inti kristal. Sebuah bola-bola kecil yang menyimpan mana" Fram kemudian menambah kan. Anak kecil itu ternyata tahu banyak hal tentang apa saja yang dilakukan oleh Ren.


"Kenapa dia membuatnya?"


"Inti kristal itu adalah energi yang membuat semua robot aneh bisa bergerak di desa kami"


"Ah! Aku mengerti!" teriakku refleks. Jadi fungsinya sama seperti baterai? Karena inti kristal itu menyimpan mana dan robot-robot iut juga digerakan oleh mana. Karena itulah robot-robot bisa bergerak sendiri tanpa perlu mana penyihir untuk menggerakkan nya.


"Ren benar-benar jenius" kataku kagum. Setidaknya sejauh ini aku menemukan bahwa penemuan Ren sangat menakjubkan. Bahkan lebih menakjubkan dan berguna daripada penemuan si David itu.


"Manusia, saat aku menyentuh tanganmu. Aku merasakan sesuatu yang aneh. Bolehkan aku menyentuh tanganmu lagi" Damian tiba-tiba berkata dengan nada penasaran.


Aku mengulurkan tanganku dengan mudah. Dan Damian menggerakkan kepalanya. Lalu dahinya yang besar menempel tepat di telapak tanganku.


"Aku merasakan keberadaan samar-samar dewa dalam manamu" Damian bergumam. "Apa kau titisan dewa?"


Aku melotot saat mendengar nya. Tidak mungkin aku titisan dewa. Satu-satunya dewa yang pernah kutemui adalah kucing jelek itu. Dan kucing jelek itu tidak pernah lagi menunjukkan dirinya selama bertahun-tahun.


"Bukan" aku langsung menolak.


"Sungguh? Apa kau tidak pernah bertemu dengan mereka sebelum nya?" tanya sang naga.


Mereka? Apa maksudnya ada lebih dari satu dewa di dunia ini?


"Aku mungkin pernah bertemu satu" jawabku tidak yakin "Dalam mimpi ku"


Damian masih menatap ku dengan tatapan tidak percaya. Seakan-akan dia berkata 'Aku berbohong'. Tapi kemudian dia menyerah untuk memastikan. "Mungkin dewa memberkati mu" katanya lemah.


Ya! Dewa kucing itu memberiku berkah. Berkah kematian! Dia membuat ku hidup lagi dalam karakter sialan yang bernasib tragis di dalam novel. Sebenarnya, aku masih tidak terima dengan hal ini. aku merasa sangat dirugikan. Dan ini tidak adil! Tapi semuanya sudah terlanjur. Aku hanya harus menghadapi hidup ku sekarang dengan lapang dada.


Harusnya kami berempat bisa berbicara dengan tenang disini, tapi tiba-tiba suara melengking terdengar di seluruh goa. "Hei, naga! Berikan aku pusakamu!" suara itu terlihat kekanak-kanakan dan sangat arogan.


Kami pun menoleh dan melihat sejumlah elf menuju ke arah kami. Mereka bukan elf gelap karena warna kulit mereka sangat berbeda m Ada sekitar sekitar lima belas elf dewasa, dengan seorang elf kecil yang bertindak sebagai pemimpin di depan kelompok.

__ADS_1


Siapa mereka?


__ADS_2