Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Lingkaran Sihir Rahasia


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva menanyakan keberadaan Emerta pada Ren. Tapi Ren tidak mengingat nya. Ternyata Ren memiliki ingatan yang buruk karena dia berumur panjang. Dia memilih untuk tidak mengingat manusia yang dekat dengan nya karena dia tidak ingin bersedih.


Eva turut prihatin dengan keadaan nya dan tanpa sadar dia menghibur nya dengan lembut.


Membuat Ren merasakan perasaan aneh dalam dirinya.


***


Ren menatap gadis kecil di depannya. Dia memberi kan aura yang sama seperti gadis kecil yang ditemuinya di masa lalu. Ya, dia mirip dengan ibunya, Diana. Hanya saja Eva memiliki aura yang lebih dewasa dari pada seumuran dirinya. Dan emosinya dapat berubah dengan cepat, karena itu Ren sangat suka menggodanya. Baginya, perubahan emosi Eva adalah hal yang menyenangkan untuknya.


Bahkan saat Eva menyentuhnya, Ren merasakan sedikit kehangatan menembus ke dalam hatinya. Dan dia tanpa sadar terpesona karena menikmati rasa hangat itu.


Tapi kemudian sesuatu menyadarkan nya dan dia kembali normal. Ren ingin berpikir secara realistis kali ini. Dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu. Dia tidak akan menyimpan rasa apapun terhadap manusia. Ini adalah sikap defensif yang muncul pada dirinya untuk memperingati nya agar dia tidak melewati batas yang ada.


"Dia adalah manusia. Dia akan menghilang lebih cepat dari dunia ini" pikir Ren.


Raut wajahnya berubah dingin dan datar kembali.


"Ikut aku" kata Ren tiba-tiba.


Ren kembali ke dirinya yang seperti biasa. Aura hangatnya menghilang dalam sekejap dan berganti menjadi aura dingin kembali. Untung saja aku terbiasa dengan keberadaan nya yang seperti ini. Jadi aku tidak terlalu terkejut dengan perubahan nya.


Aku mengikuti Ren dengan patuh. Kita masuk ke dalam sebuah ruangan di dalam rumah pohon itu. Kelihatannya ini adalah ruang kerja pribadi milik Ren karena aku bisa melihat tumpukan buku dan dokumen yang sangat berantakan di dalamnya. Lebih tepatnya tumpukan itu memenuhi seluruh lantai di dalam ruangan.


Ren menggunakan sihir anginnya. Dalam sekejap seluruh buku yang berhamburan di lantai terangkat ke langit-langit ruangan.


Ren masuk ke dalam ruangan dengan tumpukan buku dan kertas yang melayang di atas kepala kami. Lalu Ren berhenti. Aku juga langsung berhenti. Ren menggerakan jarinya ke bawah lantai. Ada sebuah lingkaran sihir di sana.


"Ini adalah lingkaran sihir untuk menuju ke kastil ku. Jujur saja aku belum pernah menggunakan nya sama sekali sejak aku tiba di tempat ini. Jadi sihir nya masih sangat penuh" kata Ren.


Aku hanya menatap nya lalu menatap lingkaran sihir itu. Dia ingin aku mengunjungi nenek dengan lingkaran sihir ini bukan?

__ADS_1


"Kau berkata ingin mengunjungi kastilku bukan? Untuk menemui wanita bernama um...aku lupa siapa namanya. Intinya wanita itu yang bahkan aku tidak ingat. Kau bisa mengunjungi nya dengan lingkaran sihir ini" Ren menjelaskan lagi.


"Apa kau ingin mengunjungi nya sekarang?"


"Tidak" aku langsung menolak nya. Lalu aku menatap Ren serius. "Bolehkah aku membawa ibuku kesini? Aku ingin mengunjungi nenek bersama ibu dan adikku"


"Tidak" Ren langsung menolaknya tanpa berkedip. "Tidak ada orang asing yang boleh ke tempat pribadi milikku" sambung nya lagi.


Aku langsung membeku. Wajahku berubah menjadi sedih. Bukankah Ren ini benar-benar pelit? Itu hanya lingkaran sihir. Dia benar-benar menandai daerah kekuasaan nya seperti seekor anjing.


Memikirkan aku tidak bisa menggunakan nya bersama Diana hanya membuat ku meeasa sedih. Tapi ibuku lebih penting. Jadi kurasa aku akan pergi ke desa elf secara manual saja. Walaupun mungkin akan memakan waktu yang sangat panjang untuk perjalanan.


"Ibuku sama sekali bukan orang asing. Bukankah kalian pernah bertemu dulu?" gumamku lemah. Aku ingin mengutuknya sebagai pak tua yang pelit. Tapi tentu saja aku Tidak berani melakukan nya secara terang-terangan. Jadi aku hanya mengutuknya di dalam hati.


"Baiklah..." Ren menyerah saat dia melihat wajah sedih Eva. "Aku akan mengizinkan Diana, tapi tidak untuk yang lainnya" sambung nya.


Aku hampir merasa senang. Tapi dia bilang Evan tidak boleh ikut? Apa-apaan?


"Aku tidak peduli. Bayi tetaplah seorang mahluk hidup. Aku tidak akan mengizinkan mahluk hidup asing masuk ke dalam tempat ku" Ren bersikukuh.


Pelit! Pria tua ini benar-benar pelit!


"Tidak bisakah kau memberikan pengecualian? Aku hanya memohon padamu sekali ini saja. Izinkan adikku ikut oke?" aku memohon padanya dengan mata berair. Ini tidak pura-pura, aku hampir menangis saat tahu kalau dia benar-benar pelit.


"Baiklah..." Ren menjawab lirih sambil membuang tatapannya. Dia tidak ingin memperlihatkan wajahnya yang memerah tiba-tiba pada gadis kecil di depannya.


Eva tidak memperhatikan perubahan pada Wajah Ren. Dia terdiam tak percaya bahwa semudah ini membujuk Ren. Hanya perlu sedetik bagi Ren untuk menyetujui permintaan nya tanpa kompensasi apapun. Terlalu tidak masuk akal.


Emosi Ren saat ini sedang berkecamuk. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya karena jantung nya berdetak lebih cepat dan suhu tubuhnya juga naik tiba-tiba.


Karena semua hal itu terjadi dengan tiba-tiba, Ren sama sekali tidak bisa mengontrol dirinya. Hal ini berefek pada sihir yang digunakan nya. Ren bahkan tidak menyadari bahwa sihirnya hampir menghilang, tumpukan buku di atas mereka bergetar karena ingin jatuh ke bawah. Tapi Ren sibuk menyembunyikan wajahnya.


Eva juga belum pulih dari keterkejutan nya dan sibuk melamun.

__ADS_1


Jadi dua orang ini tidak tahu bahwa tumpukan buku di atas kepala mereka akan jatuh ke bawah karena terlalu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


Sampai akhirnya, BRUK! Sihir Ren menghilang dan buku-buku itu mulai terjatuh.


Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sebuah bunyi keras membangunkan ku. Saat aku sadar, sesuatu yang besar mulai mengarah jatuh ke arahku.


Tidak mungkin kan...?


Tumpukkan buku itu jatuh?


Aku bahkan tidak sempat mengeluarkan sihirku karena jaraknya hanya beberapa sentimeter dari kepalaku.


Refleks, aku menutup mataku rapat-rapat dan melindungi kepalaku dengan kedua lenganku. Ini hanya buku. Aku tidak akan mati walaupun tertimbun. Tapi tetap saja rasanya akan sedikit sakit.


BRUKKK!


Aku bisa mendengar suara yang keras menghantam lantai. Tumpukan buku itu sudah menghantam lantai.


Umu?


Tapi kenapa aku tidak merasakan apapun?


Aku perlahan membuka mataku dan melihat dua tangan besar melindungi kepalaku. Siapa lagi pemiliknya kalau bukan Ren.


"Terima kasih..." kataku lirih. Tapi kenapa aku harus berterima kasih? Bukankah ini semua salahnya? Bagaimana orang sekuat itu bisa kehilangan kontrol hanya karena sihir tingkat rendah?! Ini tidak masuk akal sama sekali!


Ren melepaskan perlindungan tangannya dan menatapku dengan ekspresi datar.


"Ayo kembali" dia dengan enteng berbalik pergi seakan-akan tidak terjadi apapun.


"...."


Aku hanya melongo menatapnya, tidak bergerak dari tempat ku. Aku sama sekali tidak tahu apa yang dia pikirkan. Tapi aku yakin, dia cukup aneh hari ini.

__ADS_1


__ADS_2