Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Kisah Emerta


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Diana tersadar. Dia tahu bahwa ada seseorang pria muda yang menolongnya. Diana pun tinggal dengan pria bernama Ren itu sampai ibunya menjemput.


Beberapa hari berlalu, sang ibu menjemput nya. Ibunya memberikan imbalan kepada Ren karena sudah merawat putrinya selama beberapa hari ini.


Diana pun pergi dengan ibunya kembali. Saat di perjalanan Diana memberanikan diri untuk bertanya tentang identitas mereka sebagai penyihir gelap. ibunya memberitahunya kebenaran dengan berat hati. Tapi Diana tetap menerima identitasnya sebagai penyihir gelap. Dia berusaha berpikiran terbuka.


***


Namaku adalah Emerta. Aku adalah manusia buatan. Ayahku yang memberiku nama. Aku lahir dari seorang ayah yang sangat kuat. Selain diriku, aku juga memiliki empat saudara lainnya. Kami lahir dari sel yang sama.


Sekarang aku masih berumur lima tahun. Saudara-saudaraku memiliki umur lebih muda dariku. Aku adalah saudara tertua. Karena itulah, aku terlahir dengan banyak sekali hal cacat. Aku adalah percobaan pertama, jadi itu sangat wajar.


Ayah berkata, aku sama sekali tidak mirip dengan manusia walaupun aku memiliki kekuatan yang kuat. Dia berkata aku tidak memiliki emosi dan hati. Mungkin dia benar dan aku juga tidak dapat melakukan apapun tentang itu.


Lalu, suatu hari terjadi kecelakaan yang tidak terduga. Semua saudara ku meninggal karena kecelakaan itu. Ayahku menuntut balas kepada pelaku nya dan tidak pernah kembali. Sampai dunia memberitakan kematian dan juga kejahatannya secara bersamaan.


Hanya aku yang tersisa. Aku harus hidup sendiri tanpa mengetahui apapun tentang dunia.


Ayah bilang aku gagal. Dia benar. Aku tidak bisa berinteraksi dalam komunitas manusia. Aku bahkan bingung apakah aku ini manusia. Tapi bentukku sangat mirip dengan manusia walaupun aku hanya buatan.


Awalnya, aku mengira manusia buatan tidak akan bisa melakukan sesuatu seperti manusia normal lainnya. Tapi itu salah. Aku pun perlu makan dan juga minum. Aku juga bisa meningkatkan kekuatan sihir kalau aku berlatih. Aku bisa melakukan semuanya kecuali memperbaiki ekspresi wajah dan juga emosiku.


Intinya aku masih sama seperti manusia. Walaupun semua manusia itu menjauhiku karena aku tidak biaa bersosialisasi.


Lalu suatu hari ada kejadian yang tidak terduga. Siapa yang mengira bahwa aku bisa menyukai manusia lainnya. Mereka mengatakan itu sebagai jatuh cinta. aku tidak tahu apakah aku jatuh cinta atau tidak. Tapi aku tidak menyangkal bahwa aku memang menyukai seseorang.


Seseorang yang kusukai adalah seorang pria pengembara. Dia Yang mengatakan identitasnya padaku sendiri. Dan aku mempercayainya begitu saja.


"Perkenalkan. Nama ku Dirga" dia berkata dengan senyum merekah.


Ini adalah pertemuan pertama kami. Aku tidak meresponnya dan mengabaikan perkenalannya.


Setelah itu dia selalu mengikutiku. Padahal aku selalu mengabaikannya, tapi dia tidak pernah menyerah. Jadi aku hanya bisa membiarkan nya mengikuti ku. Lama kelamaan, aku terbiasa dengan penguntit pria itu.


Kami pun melalui banyak hal bersama. Dan tanpa menyadarinya, aku semakin akrab dan terikat dengan nya. Hingga akhirnya aku benar-benar menyukai orang itu dan tidak ingin melepaskannya dari sisiku.


Hidup kami berlangsung dengan damai, sampai dia tahu bahwa aku adalah penyihir gelap. Semenjak dia tahu identitas ku yang sebenarnya, dia menatapku dengan mata yang berbeda.


Aku tidak tahu apakah dia membenciku atau tidak. Tapi dia selalu menghindar dariku. Jadi aku menyimpulkan, dia memang membenciku.


Ya, seharusnya dia memang membenciku. Tapi dugaanku salah. Dia kembali bersikap normal setelah beberapa hari berlalu.


"Maafkan aku. Aku hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan itu" katanya dengan wajah malu. Setelah sekian lama, dia baru memberiku alasan atas sikapnya itu. Aku sangat marah. Jadi aku mulai mengabaikan nya lagi. Tapi dia tetap gigih mengikutiku. Sehingga pola awal hubungan kami terjadi lagi.


Tanpa terasa aku sudah mengembara satu tahun bersama Dirga. Hubungan kami semakin baik. Bahkan beberapa orang mengatakan bahwa kami adalah pasangan. Dan aku tidak menyangkal hal itu juga.


Tapi aku cukup ragu, apakah aku bisa menjadi pasangan yang layak untuk Dirga. Pasalnya aku hanya manusia palsu.

__ADS_1


Dua tahun pun berlalu lagi. Dirga melamarku. Dengan cincin di tangan nya dia berlutut di depanku. "Maukah kau menikah bersamaku? Aku akan membawamu kembali ke kerajaan ku" katanya.


Aku mengangguk pelan. Aku setuju untuk ikut dengannya. Aku sedang senang saat ini. Tapi saat aku melihat kaca, ekspresi ku tetap datar. Aku sama sekali tidak bisa tersenyum, tertawa atau menangis.


"Aku memang cacat..." aku bergumam lirih sambil menguleni pipi dan wajahku.


Atau mungkin otot wajahku tidak terbentuk dengan baik saat ayah membuatku? Jadi aku sama sekali tidak bisa menggunakan ekspresi apapun dengan wajah ini.


Aku pun mengikuti Dirga kembali ke rumahnya. Bukan rumah, dia bilang itu sebuah kerajaan yang cukup jauh.


"Kau tahu, aku lari dari rumah karena terlalu banyak konflik di rumahku. Aku tidak tahu bagaimana kondisi sekarang ini..." Dirga berkata sambil memegang tanganku.


Aku tidak bisa merespon banyak. Jadi aku hanya berkata "Mungkin semuanya baik-baik saja"


Setelah itu kami lanjut berlari menyusuri hutan.


Perlu menempuh sebulan perjalanan untuk sampai di tempat itu. Dan tiba di sebuah rumah yang sangat besar.


Aku memiringkan kepalaku dan berpikir. Ini pertama kalinya aku masuk ke bangunan yang megah seperti ini. Mereka mengatakan ini sebuah istana. Dan biasanya aku hanya bisa melihat bangunan seperti ini dari jauh. Tapi sekarang aku menginjakkan kakiku di tempat ini.


"Yang Mulia" semua orang berlutut saat melihat kami datang. Tentu saja mereka tidak berlutut untukku karena aku bukan siapa-siapa. Semuanya terjadi karena Dirga.


Walaupun aku bingung dan ada banyak sekali pertanyaan di dalam otakku, aku tetap diam. Sampai akhirnya Dirga membawa ku ke sebuah kamar.


"Maafkan aku sudah berbohong padamu. Aku seorang pangeran di negara ini" kata Dirga dengan wajah menyesal. "Setelah tahu, apakah kau masih ingin tinggal denganku?"


Aku mengangguk setuju "Tidak masalah".


Dia mendapat berita bahwa konflik ini sudah berakhir setahun yang lalu. Tapi dia tidak kembali karena ingin menemaniku. Haruskah aku bahagia setelah mendengar alasan itu?


Sebenarnya aku sangat bahagia. Tapi aku tidak bisa mengekspresikan kebahagiaan ini di wajahku.


Dirga memintaku untuk tetap di istananya karena masih banyak konflik yang tersisa. Jujur saja aku tidak mau terlibat konflik di kerajaan ini. Karena itu akan menyita waktuku. Tapi, karena kerajaan ini adalah rumah Dirga. Aku membantunya.


Pernah sekali Dirga memohon padaku untuk menyelematkan seseorang yang sangat penting baginya. Seorang gadis yang merupakan teman masa kecilnya. Gadis itu disekap oleh para bangsawan yang menjadi musuhnya.


Aku pun membantunya tanpa memikirkan apapun. Aku menolong gadis itu. Aku juga memusnahkan semua musuh yang menghalangi jalannya. Lagipula aku kuat.


Aku melakukannya agar pria itu bisa hidup dengan nyaman. Aku juga melakukannya untuk kepentingan ku sendiri. Karena aku ingin tinggal dengan Dirga. Jadi aku juga ingin kehidupan yang damai.


Tapi sayangnya itu tidak akan pernah terjadi untukku. Karena suatu hari gadis itu, teman masa kecil Dirga menyatakan kenyataan yang sangat sulit kuterima.


"Dirga tidak akan membawamu kemari kalau dia tidak butuh kekuatan mu! Dia sama sekali tidak mencintaimu. Dia mencintaiku. Jadi pergilah dari sini dan jangan menganggu hubungan kami!" gadis itu mengomel padaku diselingi dengan isak tangis.


Aku tidak mengatakan apapun padanya dan hanya mematung. Jujur saja, aku tidak mempercayai gadis itu. Aku sudah hidup bersama Dirga cukup lama. Bisa dibilang aku mempercayainya.


Hari-hari pun berlalu. Aku hidup dengan nyaman di istana. Sikap Dirga masih seperti biasa padaku. Jadi kecurigaan ku padanya benar-benar memudar karena hal itu.


Tapi suatu hari, sebuah pesta yang sangat megah diadakan di istana. Aku yang selalu terkurung di dalam kamar pun memutuskan untuk melihat. Pasalnya aku sama sekali tidak pernah menghadiri pesta besar. Jadi aku sangat penasaran dengan itu.

__ADS_1


Tapi siapa yang mengira bahwa ternyata itu adalah pesta pernikahan. Yang lebih mengejutkan lagi itu adalah pesta pernikahan Dirga dan teman masa kecilnya itu.


Aku membeku syok saat melihat kedua pasangan itu duduk di singgasana sambil tersenyum kepada semua orang.


Pikiranku berkecamuk akan banyak hal.


Kenapa Dirga tidak memberitahu ku tentang ini?


Kenapa Dirga menyembunyikan semuanya padaku?


Kenapa Dirga masih mengizinkan ku tinggal di istana?


Kenapa Dirga berbohong padaku?


Aku sangat sedih sekarang. Pernikahan yang dijanjikan Dirga padaku tidak akan pernah terjadi. Atau bisa jadi aku salah dengar? Atau lamaran Dirga hanya halusinasi ku?


Aku memang sedih. Hatiku terasa terkoyak sekarang. Tapi sayangnya, aku sama sekali tidak menangis. Dan eskpresi ku masih datar seperti biasanya.


Aku melihat kedua pasangan yang sedang tersenyum itu untuk terakhir kalinya. Setelah kejadian ini, aku tidak akan pernah mempercayai siapapun lagi.


"Selamat tinggal"


Aku mengucapkan kata-kata perpisahan terakhirku sebelum aku meninggalkan istana. Dan kembali ke kehidupan awalku sebagai pengembara.


Tapi siapa yang mengira bahwa aku membawa sesuatu saat aku meninggalkan istana itu. Ya, aku hamil.


Aku sudah memberi tahu semua orang bahwa aku tidak bisa hamil. Siapa yang mengira aku akan bisa hamil? Aku adalah manusia buatan. Terlebih lagi aku barang cacat. Ini adalah sesuatu yang tidak terduga dan mengejutkan.


Aku mengusap perutku sambil berpikir haruskah aku mengugurkan anak ini. Kalau aku mau, aku bisa melakukannya dengan mudah menggunakan sihir atau ramuan. Tapi aku mengurungkan niat ku. Aku sangat penasaran bagaimana melahirkan seorang bayi. Jadi aku akan menjaga bayi itu dengan baik.


Hari demi hari berlalu. Aku berkelana sendirian dengan bayi itu. Sebenarnya aku ingin menetap di suatu tempat, tapi aku tidak bisa. Statusku yang berbahaya ini hanya akan menjadi buronan seluruh dunia. Penyihir gelap tidak akan bisa tenang hidup di suatu tempat, kecuali mereka memiliki status yang cukup untuk bersembunyi.


Perutku semakin hari semakin membesar. Bayi itu akan lahir kedunia. Aku benar-benar antusias.


Sampai tiba hari kelahiran. Aku menyiapkan persalinan ku sendiri. Ini cukup mudah karena aku mempunyai banyak sekali ramuan penyembuh, jadi aku tidak perlu merasakan rasa sakit yang teramat sangat.


Bayi itu pun lahir. Seorang bayi perempuan yang sangat kecil. Bayi itu terus terisak sampai aku memberinya susu.


Saat aku mendekap nya dalam pelukanku, dia terasa sangat lembut. Seakan-akan dia adalah benda yang mudah hancur kalau kau menekannya.


Setelah bayi itu berhenti menangis, aku mengangkat nya dan mata kami bertatapan. Bayi itu tiba-tiba tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya.


DEG!


Melihat senyuman itu jantungku berdebar kencang. Aku merasa sesuatu pada diriku perlahan berubah. Bayi itu memberikan sensasi yang aneh untukku. Bahkan aku tidak sadar bahwa aku menangis sekarang.


"Ini pertama kalinya aku menangis. Kenapa aku menagis" aku mengusap air mataku. Ini adalah pertama kalinya aku merasakan air mata dengan tanganku.


Aku bingung dengan perasaanku. Apakah aku senang? Aku sangat senang. Apakah aku sedih? Tapi aku menangis.

__ADS_1


Aku mengembalikan bayi itu kedalam pelukan hangatku sambil mengelusnya hingga dia tertidur.


"Selamat datang ke dunia, Diana...."


__ADS_2