
Cerita Sebelumnya:
Eva mengikuti Sayn masuk ke dalam portal teleportasi. Di sana dia menemukan sebuah mansion aneh. Dia tidak merasakan keberadaan Sayn sama sekali, jadi dia berusaha mencarinya. Sampai akhirnya dia bertemu ruang bawah tanah rahasia yang menyimpan banyak anak-anak. Seorang penjaga toko yang dikenalnya juga tiba-tiba mengambil salah satu anak. Eva memutuskan untuk mengikutinya agar dia bisa bertemu denganĀ Sayn dan memberi tahu apa yang diluhatnya.
***
Aku mengikuti penjaga toko itu secara diam-diam. Kami keluar dari ruang bawah tanah dan kembali ke mansion. Lalu penjaga toko itu mulai menekan tombol aneh yang berada di tembok aula.
Drrrttt! Aulanya berderit dan tiba-tiba dindingnya bergeser, menampakan ruang rahasia lainnya.
"Sial! Berapa banyak sih ruang rahasia yang ada di sini?" gumamku.
Setelah penjaga toko dan si anak masuk. Aku langsung mengikutinya sebelum pintu rahasia itu secara perlahan tertutup dan membentuk dinding kembali.
Saat masuk, aku menyelusuri lorong gelap dengan titik cahaya di depan. Dan saat sampai ke sumber cahaya, aku melihat ruangan serba putih. Bukan, ini sebuah kamar! Aku melihat ada tempat tidur, meja dan kursi. Lalu ada toilet. Dan aku melihat seorang pria setengah baya dengan badan gemuk duduk di atas kasur sambil mengenangkan piyama. Sayn berada di sisi lainnya, duduk di kursi tamu. Dan penjaga toko itu menghampiri mereka sambil menarik si anak.
"Ini tuan" kata si penjaga toko sambil menarik si anak. "Aku membawanya"
"Ah~ anakku yang malang~" kata tuan gemuk itu sambil memeluk si bocah di dadanya. "Aku benar-benar enggan berpisah darimu" katanya sedih.
Sayn masih diam di sisi lain. Dia langsung melemparkan sihir pada si bocah dan menghipnotisnya. Dia juga melemparkan sihir untuk melindungi pikiran si bocah "Ayo, bukankah kau bilang ingin ikut denganku?" kata Sayn.
Dan bocah itu mengangguk patuh seperti mayat.
Sementara tuan gemuk itu membuat raut wajah tidak senang saat melihat si anak. Tapi raut wajahnya berubah sedih lagi secara tiba-tiba. Bahkan dia mengeluarkan air mata. "Maafkan ayah karena tidak membuatmu puas oke. Kau boleh kembali. Tapi ayah merindukanmu" Dia berharap bocah ini mengurungkan niatnya. Tapi bocah ini tidak merespon apa-apa dan hanya terdiam. Seperti menganggapnya tidak ada sama sekali.
"Ayo" Sayn tanpa basi basi menarik tangan bocah itu.
'Setidaknya aku bisa menggali informasi dari bocah ini' pikir Sayn.
"Terima kasih atas bantuannya tuan" kata Sayn sopan. "Kami undur diri dulu"
Tuan gemuk itu menatap tajam Sayn dan tersenyum. "Baiklah, hati-hati di jalan"
Sayn tanpa basa-basi melenggang keluar kamar.
Aku yang sedang menganati cepat-cepat berlari menyusuri lorong dan membuka pintu dinding. Lalu aku menempatkan diriku di halaman luar, menunggu Sayn keluar.
***
__ADS_1
Setelah kepergian Sayn dan anak itu. Hanya tersisa tuan dan pelayannya di dalam kamar.
"Kau sudah mencuci pikirannya bukan?" tanya tuan gemuk itu dingin.
"Sudah tuan"
"Tapi tidak bisa memastikan kalau anak itu tidak akan mengatakan apa pun" kata tuan gemuk itu cemas. "Kirim beberapa orang dan bunuh anak itu."
"Ah...tapi tuan...pria tadi utusan dari keluarga kerajaan..." jawab si pelayan takut. Dia takut pihak kerajaan mengetahui ulah mereka.
"Hmph!" dengus tuan gemuk itu dengan wajah sombong. "Utusan apanya. Dia hanya seorang pelayan. Tidak mungkin utusan kerajaan berpakaian seperti pengemis. Aku pernah bertemu dengan utusan pelayan asli. Mereka memakai baju dengan lambang lencana kerajaan. Utusan itu bukan posisi main-main. Memangnya aku mudah ditipu. Dilihat dari penampilannya, dia hanya pelayan biasa yang disuruh bertugas. Lagipula aku hanya memerintahkanmu untuk membunuh bocah itu. Kalaupun utusan itu terluka. Langsung bunuh saja. Dan buang mayatnya. Tidak akan ada yang mencari mayat seorang pelayan rendah."
"Baik tuan..."
"Laksanakan tugasmu dengan baik. Aku ingin tidur.." katanya sambil mengibaskan tangannya. Si pelayan pun pergi. Dan tuan gemuk itu langsung merebahkan diri di kasurnya. Dia menarik selimut dan memejamkan matanya. Menganggap tidak pernah terjadi apa pun. Dia bahkan tidak tahu bahwa besok dia tidak bisa bernapas lagi."
***
Setelah melihat Sayn dan bocah itu keluar mansion, aku langsung menghampiri mereka.
Mata Sayn membelalak kaget saat melihat Eva menghampiri mereka.
"Aku mengikuti dirimu hehehe"
Wajah Sayn berubah serius. Dia tiba-tiba menghampiriku dengan aura dingin yang menjalar di seluruh tubuhnya. Aku terkejut karena sikapnya yang tiba-tba dan tanpa sadar berjalan mundur. Ah! Orang ini pasti marah bukan? Karena aku terlalu ikut campur. Aku tidak tahu bagaimana tindakan Sayn kalau marah. Apa dia akan memukulku? Atau melakukan sesuatu yang lain?
"Ah! Aku salah! Maafkan aku!" aku berteriak minta maaf sambil mengangkat kedua tanganku melindungi wajahku. Aku benar-benar takut melihat wajah Sayn yang seperti ini. Sudah kuduga dari seorang pembunuh. Dia mempunyai aura yang mengerikan.
Sayn tersenyum saat melihat tindakan konyol Eva, dan tentu saja Eva tidak melihatanya. Dia langsung mengangkat tangannya dan menyentil kening gadis itu kuat-kuat. "Jangan melakukan ini lagi. Ini berbahaya. Kenapa kau selalu melibatkan dirimu dalam hal berbahaya? Apa kau bosan hidup?" kata Sayn dengan nada bicara yang dingin.
"Uh..." aku hanya mengeluh sambil mengusap dahiku. "Aku minta maaf. Aku tidak akan melakukannya lagi..." kataku menyesal.
"Aku tidak percaya padamu" sangkal Sayn. "Orang sepertiu tidak akan pernah jera. Pasti akan mengulanginya dan mengulangi kesalahan terus. Bagaimana bisa seorang gadis bangsawan punya tabiat nakal seperti ini"
"Humph!" aku menggembungkan pipiku cemberut. "Aku sama sekali tidak nakal. Aku hanya sedikit bersemangat. Dan aku selalu penasaran. Aku sama sekali tidak nakal!" Aku tidak terima dibilang gadis nakal oke? Benar-benar julukan yang sangat buruk.
Haa~ Sayn menghela napas. "Ayo, tinggalkan tempat ini. Kita pergi dulu dari sini." Sayn menarik tangan bocah itu dan membawanya terbang. Setelah itu, Eva menyusulnya terbang juga. Mereka melintas keluar halaman dan menyusuri hutan yang mengelilingi mansion ini.
"Ah! Mansion ini benar-benar terpencil ya...Berada di tengah hutan seperti ini" gumamku. "Aku juga melihat banyak sekali ruang rahasia di dalam mansion."
__ADS_1
"...."
"Sayn...Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku melihat sesuatu yang aneh di mansion itu. Ada ruang bawah tanah. Lalu ada jeruji besi di dalam ruang bawah tanah. Dan ada banyak anak-anak di dalamnya. Lalu anak-anak itu dipasang sebuah selang aneh yang mengalirkan sesuatu dari tubuh mereka ke sebuah tangki besar"
Sayn langsung menghentikan gerakannya. Dia menatap Eva dan mengguncang bahunya. "Dimana kau melihatnya? Ceritakan semuanya padaku!"
Aku pun mulai menceritakan semuanya. Kau hanya harus membuka ruang bawah tanah dengan seuntai tali di langit-langit. Lalu masuk menyusuri lorong untuk melihat anak-anak itu. Aku menjelaskan dengan detail apa yang sudah kulihat saat itu. "Apa ini berhubungan dengan misimu Sayn?"
Sayn mengangguk.
"Kalau begitu harus diurus cepat-cepat. Aku khawatir dengan anak-anak itu. Kelihatannya mereka sama sekali tidak sehat..." gumamku lirih.
"Sial!" tapi Sayn tiba-tiba membalasku dengan teriakan umpatan.
"beraninya kau mengumpatku! Dasar tidak tahu terima kasih!" kataku tidak senang.
Tapi Sayn mengacuhkan perkataan Eva dan menyeret tubuh gadis itu di belakang tubuhnya. Dia menarik tangan si bocah dan melemparkannya ke Eva. "Jaga bocah itu!"
"Em? Kenapa?"
"Ada yang mengikuti kita" kata Sayn waspada sambil mengamati seluruh hutan.
Ah! Aku baru sadar kalau perubahan sikap Sayn yang tiba-tiba ini karena dia merasakan penyusup ya....Aku pun mulai menggunakan manaku untuk mengamati daerah sekitar. Dan benar saja! Aku merasakan banyak orang mengelilingi kami. Sejak kapan mereka mengejar? Siapa yang mengirim mereka?
"Diam disini dan jaga bocah itu. Aku akan mengurusnya" kata Sayn heroik sambil terbang ke arah musuh.
Aku langsung mempertajam penglihatanku dengan sihir untuk melihat pergerakan Sayn. Aku melihatnya melumpuhkan beberapa orang yang berada di atas pohon. Sayn mematahkan tangan dan kaki orang itu. Sayn bermaksud membiarkan mereka hidup agar bisa memperoleh informasi. Tapi para pengejar itu memakan racun yang sudah disembunyikan di belakang gigi mereka dan mati di tempat.
"Ck!" Sayn mendecakkan lidahnya kesal.
Saat aku sedang sibuk memperhatikan Sayn bertarung, tiba-tiba dua orang muncul di belakangku. Untung saja aku waspada dan memasang sihir pendeteksi. Jadi aku tahu bahwa dua orang itu akan menyerang.
Saat mereka mulai mendekat, aku langsung mengaktifkan perisai sihir. Dan mengeluarkan sihir penghancur. Sihir yang kugunakan bernama blast. Sihir ini merupakan tingkat tinggi dari sihir api.
Dan BLARR! Sihir ini mengenai kedua orang itu. Dan kelihatannya aku terlalu berlebihan. Karena sihirku sama sekali tidak menyisakan tubuh mereka. Membuat mereka meleleh. Dan aku juga merusak lingkungan lagi dengan membuat cetakan besar di tanah." Ah! Mereka terlalu lemah" gumamku.
PUK! Sayn tiba-tiba muncul dan memukul kepalaku. "Jangan meremehkan pertarungan. walaupun mereka lemah, kalau kau tidak waspada. Mereka akan melukaimu" dia menasehati. "Ayo pulang, aku sama sekali tidak mendapatkan informasi dari serangga-serangga ini. Aku akan kembali lagi ke sini nanti bersama dengan yang lainnya" Sayn dengan sigap meraih Eva dan si bocah, lalu secara perlahan tiga sosok itu memudar dan menghilang.
Jangan Lupa LIKE
__ADS_1