
Cerita sebelumnya:
Eva kembali ke kerajaan Well dan dia menghabiskan sisa waktu liburannya dengan Vivian. Saat dia dan Vivian menikmati waktu mereka di ibukota, Eva secara tidak sengaja menabrak seorang pemuda dengan penampilan yang sangat familiar. Eva merasa dia pernah melihat pemuda itu sebelumnya, tapi dia tidak mengingat nya. Sampai pemuda itu mulai pergi dan dia mengingat bahwa dia sangat mirip dengan adiknya.
***
Hari ini liburan sudah berakhir. Aku dan Vivian kembali ke asrama untuk memulai kelas pertama kami sebagai murid tingkat dua. Aku ingat kalau Eva hanya menjalani hidup nya sampai dia menjadi murid tingkat tiga di dalam novel itu. Karena Denis membunuhnya sebelum dia bisa menjadi wanita dewasa.
Aku mencoba mengingat beberapa event yang terjadi saat aku mulai menjadi murid tingkat dua. Saat ini adalah saat-saat krusial, asal mulanya kehancuran. Dimana Diana mulai sakit-sakitan dan akhirnya meninggal satu tahin ke depan. Serta asal mula kehancuran keluarga Court.
Tapi aku merasa hal itu tidak akan terjadi kali ini. Lebih tepatnya aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Lagipula Diana tidak terlihat sakit sama sekali. Dia sehat dan bahkan kami memiliki Evan juga. Jadi harusnya tidak perlu terlalu khawatir.
Hari pertama sebagai murid tingkat dua di akademi sama saja dengan hari-hari biasanya. Kelasku juga terpisah dengan Vivian. Dan saat aku masuk ke dalam kelas, aku melihat beberapa wajah familiar. Teman sekelasku kurang lebih sama seperti sebelumnya. Hanya berganti beberapa orang saja, yang bahkan bisa dihitung dengan jari.
Saat aku masuk, kelas menjadi sunyi. Mereka semua menghentikan pembicaraan mereka dan mulai menatapku. Aku sudah terbiasa menghadapi tatapan seperti ini. Jadi kenapa? Sama sekali tidak masalah. Tatap saja aku seperti kalian menatap orang jahat. aku tidak peduli sama sekali Humph! Aku pun segera mencari kursi kosong untuk duduk.
Yah, aku berpikir seperti itu. Tapi beberapa orang mulai menghampiri ku terutama para wanita bangsawan. Dengan senyum di wajah mereka, mereka mulai memujiku.
Aku mengernyitkan kening ku bingung. Aku ingat bahwa tatapan mereka tidak ramah sekai saat itu, tapi sekarang mereka mulai menghampiri ku dengan tatapan menjilat. Mereka sama sekali tidak tulus. Aku bisa mengetahuinya dari ekspresi mereka.
"Maaf, aku lelah. Aku tidak bisa pergi kemanapun" aku dengan sopan menolak ajakan mereka semua.
Beberapa dari mereka mengundang ku ke mansion mereka. Beberapa mengajakku untuk berbelanja bersaama. Beberapa lagi mengajakku untuk makan bersama. Tapi aku menolak semua ajakan itu. Bukannya aku sombong, tapi aku yakin sedang terjadi sesuatu antar bangsawan yang membuat mereka tiba-tiba mendekatiku seperti ini.
Setelah aku menolak mereka. Semua anak bangsawan itu kembali ke kursi mereka dengan wajah masam. Saat itu, aku tidak sengaja bertemu pandang dengan Lilac. Gadis itu tersentak saat mata kami bertemu dan dia mulai membuang tatapannya dengan canggung.
"..…”
Aku bahkan tidak tahu sejak kapan kami menjadi canggung satu sama lain seperti ini.
Kelas pun berakhir. Hari ini para guru hanya menjelaskan beberapa hal dasar untuk menggunakan sihir tingkat lanjut.
Saat di kelas satu, mereka mengajarkan car menggunakan sihir tingkat dasar. Kelas dua, mereka mengajarkan sihir tingkat lanjut. Dan kelas tiga, mereka mengajarkan sihir tingkat tinggi. Jadi sangat diharapkan setiap lulusan dari akademi ini menguasai satu sihir tingkat tinggi. Walaupun ada beberapa individu jenius yang menguasai banyak sihir tingkat tinggi.
Aku dengar Denis adalah jenius lulusan terbaik. Dia berhasil menguasai delapan sihir tingkat tinggi. Jujur saja aku bahkan masih kalah dari Denis. Aku hanya menguasai empat sihir tingkat tinggi untuk saat ini, aku akan mencoba untuk mempelajari sihir lainnya nanti.
Aku berniat untuk kembali ke asrama, tapi tiba-tiba terjadi keributan di depan kelas kami. Saat guru mulai meninggalkan kelas, anak-anak mulai berhamburan ke depan seakan-akan mereka mengejar sesuatu. Aku pun ikut mengintip.
Ternyata itu Denis. Dia ada di depan kelas kami. Dia seperti nya sedang berbicara dengan Reina di tonton oleh banyak orang yang penasaran. Aku tidak tertarik untuk mengetahui isi pembicaraan mereka sama sekali, tapi orang-orang ini memblokir pintu keluar sehingga aku merasa kesulitan karena terhimpit oleh banyak orang.
Tiba-tiba seseorang menarik tanganku dan membuatku bebas dari desakan itu. Aku akhirnya bisa bernapas lega.
"Terima ka..." aku menoleh dan melihat Denis di sampingku. Sontak tenggorokan ku langsung tersekat dan suaraku berhenti.
"Ikut aku..." kata Denis singkat. Dia menarik Eva ke suatu tempat di bawah tatapan banyak orang. Meninggalkan Reina disana, yang menatap Eva dengan tatapan tidak senang.
Aku tidak memberontak dan membiarkan Denis menarikku. Pria itu membawaku ke ruangan Dewan yang saat itu sedang kosong.
"Ada apa?" aku bertanya sambil menghempaskan tangannya.
__ADS_1
"..."
Denis terdiam saat melihat Eva membuang tangannya. Tapi dia membuka mulut nya dengan ekspresi datar. "Aku ingin meminta tolong padamu"
Aku terkejut. Ini pertama kalinya aku mendengar Denis ingin meminta tolong padaku. "Apa itu?" tanyaku dengan mata penasaran.
"Aku akan pergi selama beberapa saat. Gantikan aku sebagai ketua Dewan sejak kau adalah wakil ketuanya" kata Denis tajam. "Mereka memiliki banyak kegiatan akhir-akhir ini dan sangat memerlukan pemimpin"
Saat mendengar nya, aku langsung terdiam. Jujur saja aku tidak ingin. Lagipula Denis yang menjadikanku wakil ketua dewan secara paksa. Itu bukan keinginan ku sama sekali.
"Apa kau tidak mau?" Ekspresi Denis meredup. "Di masa depan, kau akan menjadi pendamping ku, jadi kau harus terbiasa dengan berbagai tugas untuk menggantikan ku" katanya.
Perkataan nya membuat emosiku naik. Aku ingin marah. Tapi kemudian dia melanjutkan.
"Terutama saat aku tidak ada. Kau harus siap untuk mengurus semuanya sendiri" katanya.
Setelah mendengar nya, aku tidak jadi marah. Denis sangat menghargai kerajaan ini. Dia melakukan apapun agar kerajaannya sejahtera. Aku langsung mengingat, saat dia gugur di medan perang, Reina menikah dengan pemimpin dari Kota Suci. Sehingga kerajaan Well adalah kerajaan pertama yang menjadi Base untuk Kota Suci. Tidak ada kerajaan Well lagi di masa depan, itu berganti menjadi Kota Suci.
"Baiklah..." aku mengangguk setuju. "Tapi aku hanya akan membantu sebisaku" kataku kemudian. Kalau ada tugas yang sulit di luar kemampuan ku, aku tidak akan menanggung nya.
"Tidak masalah. Lakukan saja sebisa mu" Denis tersenyum.
"Oke" pembicaraan selesai. Aku ingin kembali ke asrama, tapi Denis menghentikan ku.
"Jangan terlalu dekat dengan pangeran dari Kano itu" katanya tiba-tiba. Dia menatapku dengan tatapan tidak senang. "Aku dengar dari Reina bahwa kau sering menghabiskan waktu dengannya. Apa kau tidak menyadari status mu sebagai tunanganku?" katanya tajam.
"Kita hanya berteman. Dan kau sama sekali tidak bisa melarangku untuk berteman dengan siapapun" kataku dengan wajah cemberut.
Denis langsung menegang. Mungkin perkataan ku terlalu kejam, tapi aku tidak peduli. Kalau dia sama sekali tidak suka kalau aku berteman dengan orang lain, dia bisa menjauh. Aku tidak masalah sama sekali dengan hal itu.
Dan entah kenapa, aku sudah tidak menggunakan bahasa formal saat berbicara dengan Denis. Mungkin karena terlalu terbiasa. Dan aku tidak terlalu mempedulikan kesopanan lagi sejak hubungan kami sudah memburuk. Aku sudah menyerah untuk mencari muka di hadapannya dengan berpura-pura baik. Aku lelah.
Denis ingin membicarakan sesuatu "Kau..." tapi suaranya tercekat. Seperti nya pria itu ingin marah. Tapi aku tidak peduli dan langsung berbalik meninggalkan nya. Dia sama sekali tidak menghentikanku sama sekali kali ini. Jadi aku mendesah lega.
Eva tidak tahu bahwa Denis menatapnya dengan sedih saat itu.
***
Keesokan harinya, aku mendatangi ruangan dewan itu dengan enggan. Tapi aku tetap memberanikan diriku untuk datang. Walaupun aku tahu tempat itu bukan tempat yang baik.
Aku belum pernah mendengar bahwa Reina dijahati oleh para anggota dewan itu saat dia mulai dekat dengan Denis. Bagaimana pun juga semua mereka adalah orang yang berbakat dan beradab. Mereka tidak akan melakukan pembulian tidak bermoral kepada Reina. Mereka hanya bisa menindas nya saat bertarung, tapi kesempatan itu tidak pernah datang sama sekali. Tapi pada akhirnya wanita-wanita berbakat yang mengikuti Denis ini hanya akan menjadi pengawalnya di masa depan.
Aku pernah berhadapan dengan salah satu anggota dewan. Aku bahkan lupa namanya. Emm...Kalau tidak salah Geranina?
Aku masuk dengan gugup. Saat masuk aku bisa melihat enam orang berada di dalam ruangan. Lima orang wanita dan satu orang pria berkacamata. Semuanya adalah siswa yang baru saja naik ke tingkat tiga. Dan Geranina juga berada disini.
Saat aku membuka pintu, aku sudah menjadi pusat perhatian. Saat aku masuk dan menuju ke kursi ketua, mata mereka mengikuti ku. Aku yakin mereka tidak senang dengan keberadaan ku bukan? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kalau mereka tiba-tiba mengejekku, aku harus pura-pura tidak dengar dan memasang wajah poker. Itu adalah pilihan yang terbaik.
Tapi semua kemungkinan yang kupikirkan tidak terjadi sama sekali. Pria berkacamata itu tiba-tiba membungkuk kan tubuhnya dengan hormat. "Selamat datang nona".
__ADS_1
Kelima gadis di dekatnya juga membungkukan tubuh mereka, bahkan Geranina "Selamat datang nona" kata mereka serentak.
Aku melonggo kaget. Bahkan bola mataku hampir keluar saking terkejutnya. Aku sama sekali tidak menduga kejadian ini akan terjadi! Ada apa dengan mereka? Kenapa mereka tiba-tiba begitu hormat padaku?
"Ehem!" aku berusaha menyadarkan diriku sendiri untuk bersikap bermatabat. Bagaimanapun aku adalah pengganti Denis sekarang. "Aku akan menggantikan Denis selama beberapa hari" kataku frontal. "Kalian sudah tahu itu bukan?"
Pria berkacamata itu tersenyum. "Ya" dia menjawab ramah.
Gulp!
Aku masih tidak bisa percaya dengan semua keramahan yang kulihat ini.
"Perkenalkan, namaku Sion. Aku adalah sekretaris dewan" dia mengenalkan dirinya. Sion kemudian mengenalkan kelima gadis di belakangnya. "Dia bernama Geranina, dia adalah bendahara. Dia bernama Nia, dia adalah ketua kedisplinan. Sementara yang itu bernama Dian, dia adalah ketua para pendekar sihir. Gadis di samping Dian adalah Hera, dia adalah ketua para penyihir. Dan yang terakhir adalah Rose, dia adalah ketua laboratorium. Sementara kita memilkli ratusan anggota aktif dan tidak aktif." dia menjelaskan.
Lalu Sion juga menjelaskan bahwa semua siswa di akademi ini secara otomatis bergabung dengan dewan. Hanya saja ada anggota aktif dan tidak aktif.
Mereka semua adalah semua inti penting dari dewan, dan hanya mereka yang bisa masuk ke dalam ruangan ini. Dewan adalah organisasi yang dibentuk untuk mengatur para siswa. Organisasi ini dibentuk oleh kepala sekolah secara langsung.
Aku mengangguk mengerti setelah mendengar penjelasannya. Aku sedikit tahu tentang struktur organisasi ini sekarang.
Sion tersenyum saat melihat respon Eva. Llau tiba-tiba dia mengeluarkan setumpuk berkaa dari ruang dimensi nya dan meletakkannya si sudut meja.
BAM!
Berkas-berkas yang menggunung itu menghantam meja.
"Yang Mulia selalu berpergian. Dia mengabaikan banyak sekali tugas. Ada banyak tugas yang belum di tanda tangani" katanya dengan senyum tulus. Tapi senyum itu terasa sangat mengerikan untukku.
"..."
Aku bahkan tidak bisa berkata-kata sekarang. Aku harus membaca semua berkas ini. Bukankah ini neraka?
Sion tidak menunggu respon Eva. Dia langsung melangkah keluar ruangan dengan santai. Lima gadis lainnya mengikutinya. Sebelum menutup pintu ruangan, Sion berkata sambil tersenyum. "Semangat Nona"
"...."
Aku yakin dia tidak menyemangati ku sama sekali. Jelas sekali kalau dia tersenyum mengejek padaku barusan!
Haa~
Aku menghela napas.
Aku hanya bisa pasrah sekarang dan melakukan tugasku dengan baik. Lagipula kalau aku protes, tidak akan ada yang mempedulikan nya. Jadi melakukan hal itu hanya membuang-buang tenagaku saja.
Aku mencoba membaca berkas itu satu persatu. Semuanya adalah masalah yang terjadi di akademi seperti tentang perkelahian antara murid dan perusakan lingkungan sekolah. Bahkan ada juga beberapa anggaran biaya yang dikeluarkan oleh anggota dewan dan sebagainya.
Selama tujuh hari berturut-turut, aku mengurus semua berkas itu. Hingga akhirnya tumpukkan kertas itu semakin menipis. Dan di hari terakhir hanya satu berkas yang tersisa. Saat membaca kasus terakhir itu, aku cukup terkejut.
"Penyusupan penyihir gelap ke dalam akademi"
__ADS_1