
cerita sebelumnya:
Ren menemui Eva karena dia ingin gadis itu membantunya dalam penelitian anehnya. Eva pun menyetujuinya karena dia ingin bertanya keberadaan neneknya, Emerta, pada Ren. Sempat ada konflik diam antara Sayn dan Ren sebelum mereka berangkat, tapi hal itu tidak terlalu penting.
Eva dan Ren pun pergi menuju ke rumah pohon. Di sana Ren memberikan minuman soda hasil penelitiannya. Dia juga menggoda Eva dengan beberapa pria yang dekat dengan nya. Tapi Eva terus menyangkal hubungan nya sehingga suasana di antara mereka menjadi sangat canggung.
***
"Aku ingin menunjukkan mu sesuatu" Ren pun memecah kesunyian suasana canggung mereka. Dia berdiri dan mengambil sebuah barang aneh. Lalu memberikannya pada Eva.
"Lihat ini"
Aku langsung melongo kaget saat melihat barang yang ditunjukkan Ren padaku. "Ini pistol!" kataku bersemangat sambil memegang nya dengan antusias.
"Coba gunakan itu. Lepaskan sihirmu" kata Robert sambil tersenyum.
"Bagaimana cara menggunakannya?" aku bertanya sambil memiringkan kepalaku bingung.
__ADS_1
"Lepaskan saja sihirmu" jawab Ren ambigu.
"Sihir apapun?"
"Ya"
Jadi, aku melepaskan mana sihir apiku dan DOR! Tiba-tiba peluru api keluar dari pistol itu. Peluru itu terlempar dengan cepat keluar jendela, menembus batang pohon dan DASH! Batang pohon itu langsung terbakar!
Ini mengejutkan! Kita tidak perlu menggunakan mantra tingkat tinggi untuk membuat serangan yang kuat! Sangat efektif!
"Coba dengan sihirmu yang lain" Ren memerintahkan.
"Ini sangat menakjubkan. Kalau aku menggunakan benda ini, aku bisa menyerang dari jarak jauh!" kataku kagum.
Melihat ekspresi senang Eva yang berlebihan, Ren tersenyum kecil. Entah kenapa dia juga merasa senang saat melihat ekspresinya.
"Kau bisa memiliki senjata sihir itu" kata Ren kemudian.
__ADS_1
"Eh?"
"Kau bisa memilikinya. Aku akan memberikannya padamu. Kau adalah orang pertama yang mendapatkan senjata sihir dari ku" jelas Ren dengan sedikit nada bangga dalam suaranya.
"Apa kau benar-benar akan memberikan ini padaku?" aku mengerjap tak percaya. Tanpa sadar aku merasa sedikit senang mendengar pernyataan itu.
"Tentu saja. Itu ada percobaan pertama. Percobaan pertama akan selalu menjadi yang terburuk. Jadi tidak masalah" kata Ren kemudian.
Oke. Rasa senangku menghilang dalam sekejap.
"Dan bukankah aku menjadikan mu Manusia percobaan. Jadi aku ingin kau mencoba keamanan senjata itu. Mungkin saja alat sihir itu akan meledak atau rusak? Kita tidak pernah tahu hal itu" sambung nya lagi dengan wajah cemberut.
Ekspresi Eva langsung berubah. Senyum kecil di bibirnya langsung menghilang. Dia menatap Ren dengan wajah cemberut tapi dia tidak mengatakan apapun. Seakan-akan dia memaki Ren di dalam hatinya.
'Dasar pak tua brengsek!' tentu saja Eva mengumpat dalam hatinya. Dan dia terus mengulanginya sampai dia puas.
Ren mengamati perubahan ekspresi Eva. Menurutnya hal itu sangat lucu. Gadis kecil itu tertawa sebelumnya, lalu tiba-tiba wajahnya berubah cemberut dalam sekejap. Hal itu membuat nya merasa terhibur. Dan tanpa sadar, dia tertawa kecil karena tingkah gadis kecil itu.
__ADS_1
Eva yang menyadari bahwa dirinya di tertawakan hanya bisa mengumpat dalam diam. Dia terus mengutuk Ren sambil menatap nya dengan mata melotot.
Aku harusnya tidak usah mempercayai perkataannya. Benar-benar memalukan tersenyum senang seperti itu saat tahu bahwa dirimu itu salah paham. Tapi tetap saja aku merasa sangat sedih saat dia menyatakan aku hanyalah manusia percobaan. Kehadiran ku benar-benar tidak sepenting itu...