
Cerita Sebelumnya:
Robert mengantarkan Eva untuk melihat kamar asrama. Ada banyak jenis kamar. Dan Eva memilih kamar yang dipikirkannya cocok. Dia memilih kamar untuk bangsawan dengan anggota dua orang. Setelah selesai memilih, mereka kembali ke mansion.
***
"Apaa?? Nona ingin menginap di asrama??!" Wiya langsung berteriak. "Tidak bisa! Itu tidak bisa!" katanya tidak setuju. "Bagaimana nona memutuskan untuk menginap di tempat asing yang bahkan keamananya sangat lemah?"
Ahh...keamanan mansion ini bahkan lebih lemah dari Menara Sihir. Apa kau tidak ingat saat aku diculik dari sini! Hmph! Tapi tentu saja aku tidak berani mengatakannya pada Wiya.
"Asrama itu berada di ruang lingkup akademi. Di sana penuh dengan sihir keamanan. Keamanannya sangat terjamin kok" kataku berusaha meyakinkan pelayan cerewet itu.
"Aku bahkan belum melihat tempatnya.Bagaimana kalau tempatnya sangat buruk?" dia masih tidak setuju.
"Aku sudah mengecek kamarnya. Itu lumayan besar. Tidak berbeda jauh dari kamarku. Ayolah Wiya" aku memohon sambil menarik-narik tangannya. Aku hanya tinggal sebentar oke. Hanya beberapa bulan saja. Lalu aku akan pindah lagi kemari. AKu ingin mendapatkan teman" kataku kecewa.
Melihat nona mudanya memohon dan kata "mendapatkan teman" itu melunakan hatinya. Nona muda mereka memang terisolasi dari pergaulan para bangsawan itu. Dan tidak pernah menghadiri pesta teh bangsawan lainnya walaupun dia diundang. Dia hanya menghadiri pesta teh putra mahkota.
"Baiklah..." kata Wiya setuju. "Tapi nona harus ingat, hanya beberapa bulan saja oke"
Aku mengangguk patuh.
Setelah Wiya menyetujui bahwa aku akan pindah, aku bergegas ke lantai atas menuju kamarku. Di situ Robert sedang duduk dengan wajah serius sambil mengamati sesuatu.
"Master apa yang kau lihat?"
Aku tidak sempat melihat apa pun. Karena saat aku berbicara, Robert langsung menyembunyikanny!
Apa itu? Tingkah Robert benar-benar mencurigakan. Aku tidak menyukai ini.
"Bukan apa-apa." Kata Robert menyangkal.
"Bagaimana? Pelayan itu menyetujuinya?" dia mengalihkan pembicaraan.
Yah...karena dia tidak ingin aku tahu, aku tidak akan menanyakannya lagi.
"Iya, Wiya setuju. Aku harus mengemas beberapa pakaian tidur dan perlengkapan tidur untuk di asrama" kataku sambil membuka lemari baju.
Sebenarnya, aku merahasiakan bahwa Robert akan menginap di kamarku dari semua orang, termasuk Wiya. Wiya adalah orang yang paling tidak boleh tahu. Atau dia benar-benar akan mengamuk dan melaporkan semuanya pada ayahku nanti.
TING! Saat aku sedang asyik memilih baju tiba-tiba sebuah telepati masuk dalam pikiranku.
"Eva Van Court, kelas A"
Ah! Ini pemberitahuan dari akademi tentang pembagian kelas.
__ADS_1
Aku sudah tahu bahwa aku di kelas A. Kelas A adalah kelas terbaik tahu. Pasti semua orang bertanya-tanya bagaimana aku bisa masuk dalam kelas itu padahal aku tidak meraih prestasi apa pun.
Tentu saja itu karena pangkatku sebagai putri duke.
Kelas A adalah perkumpulan murid terbaik dari berbagai hal. Di kelas itu ada murid terpintar, murid dengan kekuatan tertinggi, murid terkaya dan juga para bangsawan tingkat tinggi. Kelas itu sangat unik. kelas satu-satunya yang menggabungkan orang biasa dan para bangsawan.
Hmm...biar kuingat lagi. Kalau tidak salah aku sekelas dengan Reina dan si kembar api. Lalu aku juga sekelas dengan karakter pendukung lainnya. Dan juga Robert menjadi wali kelas kami.
Aku melirik Robert yang sudah merebahkan dirinya di kasurku.
Robert mengambil salah satu boneka dan menyentuh renda-renda pada bantal. "Gadis kecil benar-benar menyukai hal-hal seperti ini ya" katanya.
"Tentu saja. itu wajar"
"Hmmm...baiklah" katanya sambil berpikir 'ini mungkin bisa dijadikan refensinya saat memilih hadiah untuk Eva'
Aku segera mempercepat pengemasan. Setelah selesai, aku langsung berganti baju dan merebahkan diriku.
Aku terpaku melihat Robert yang sudah tertidur duluan. Yah, kukiran dia sudah tidur tapi ternyata tidak! Robert menggulingkan tubuhnya dan tangannya menyambar tubuhku. Sehingga aku kembali menjadi bantal gulingny lagi.
***
Keesokan harinya. Aku bangun lebih awal karena aku harus memindahkan barang-barangku di akademi terlebih dahulu sebelum menghadiri kelas. Saat aku bangun, aku hanya sendirian. Robert sudah pergi entah kemana. Tapi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku yakin Robert sedang ada urusan.
Aku bersiap dan bergegas untuk pergi ke akademi.
"Tapi kan bisa terbang!" aku berusaha membantah.
Tapi sebagai balasannya, aku mendapat cermahan yang sangat panjang dari Wiya.
Haa~ akhirnya aku menyerah. Aku benar-benar tidak bisa menjauh dari benda ini.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya aku sampai di akademi. AKu turun tepat di depan gerbang. Dan gerbang itu masih tertutup sangat rapat.
Gerbang tertutup rapat. Suasana yang sunyi dan tenang, memberiku perasaan yang berbeda. Biasanya aku melihat akademi dalam situasi yang ramai dan penuh dengan suara. Tapi karena jam akademi belum dimulai, belum ada murid yang berdatangan atau berlalu lalang.
KRIETTT! Gerbang itu secara perlahan terbuka dengan sendirinya.
Ternyata dugaanku salah. Aku kira situasinya sepi dan tidak ada orang, tapi ternyata tidak. Saat gerbang itu terbuka dan menampakan halaman depan akademi, aku melihat banyak murid yang menunggu.
Ah! mereka pasti para murid yang ingin menginap di asrama. Hampir semua dari mereka adalah orang biasa karena mereka membawa koper besar yang tidak efisien. Itu hal yang wajar, karena sangat jarang bagi orang biasa untuk mempunyai ruang dimensi.
Aku kira aku akan menjadi pusat perhatian sekali lagi karena lambang bangsawanku. Untung saja itu tidak terjadi. Saat aku mulai masuk, seorang guru juga muncul. Guru itu berkata "ikut aku", yang membuat perhatian semua murid mengarah padanya.
Guru itu berjalan diikuti dengan gerombolan murid di belakangnya. Aku juga mengikuti di barisan paling belakang. Kami menuju bangunan asrama yang terletak di belakang akademi.
__ADS_1
Saat kami sampai, aku sedikit kaget. Aku mengira bangunan asrama akan mirip seperti bangunan akademi atau pun mansion para bangsawan. Tapi ternyata tidak. Bangunan itu hanya seperti bangunan biasa yang bertingkat. Tapi ini mengejutkan, karena isi kamarnya benar-benar indah dan mewah. Berbanding terbalik dengan tampilan luarnya. Orang yang membangun bangunan ini benar-benar memikirkan kenyamanan penghuninya dan tidak terlalu mementingkan estetika.
Guru pembimbing itu menatap kami satu per satu. "Yang sudah punya kunci kamar, maju ke barisan paling depan" katanya.
Ah! Aku punya!
Jadi aku segera maju ke depan. Aku melihat sekeliling. Dan ini mengejutkan! Para murid yang sudah mempunyai kunci adalah bangsawan. Karena aku melihat lambang keluarga pada seragam mereka. Aku melihat murid-murid lain di barisan belakang.
Haa~ ternyata inilah kekuatan koneksi orang kaya dan berpengaruh ya. Mereka bisa memilih lebih dahulu, lalu orang lain hanya tinggal memilih sisa.
Guru pembimbing itu mengangguk. "Kalian masuk lebih dulu. Cari kamar kalian. Jangan tidur lagi. Karena dalam beberapa jam kelas akan dimulai. Kalian bisa langsung ke kelas setelah itu"
"Ya guru!" kami berteriak serentak.
Akhirnya para murid di barisan depan berhamburan menuju asrama duluan. Aku juga masuk ke dalam.
Saat masuk ke dalam, aku disuguhkan dengan pemandangan yang familiar. Semua ini sangat mirip dengan pemandangan di Menara Sihir. Lorong panjang lalu banyak pintu kamar yang berjejer di sekelilingnya. Pintu kamar ini juga memiliki angka yang beragam sebagai pembedanya. Yah, mirip sekali dengan konsep hotel yang ada di bumi.
Aku segera mencari tangga karena asrama tidak memliki ruang dimensi untuk teleport seperti Menara Sihir. Sebenarnya naik tangga sampai ke lantai tiga itu cukup lelah. Tapi karena aku adalah penyihir, aku bisa menggunakan cara praktis seperti terbang. Ternyata bukan hanya aku yang berpikir begitu. Aku melihat murid-murid lainnya juga terbang di sisiku.
Karena murid yang memiliki kunci adalah bangsawan, kamar yang kami tuju juga tidak berbeda jauh. Bisa jadi lantai tiga atau lantai empat.
Hmmm..tapi sepanjang perjalanan tadi, aku tidak melihat Reina. Bukankah harusnya dia juga masuk ke dalam asrama. Aku yakin, kalau gadis itu muncul, pasti akan terjadi kegaduhan karena haloo tokoh utamanya. Tapi aku benar-benar tidak melihat batang hidungnya dari tadi! Mungkinkah dia berbaur dengan kerumunan, dan aku tidak melihatnya?
Ah! Jangan memikirkan hal yang tidak penting~
Aku sudah sampai di lantai tiga. Aku hanya tinggal mencari nomor kamarku, sesuai dengan kunci.
"Ah, aku menemukannya" aku segera menghampiri kamarku.
Tapi ternyata sudah ada seorang gadis yang menunggu di depan kamar.
Gadis itu berdiri mematung sambil menatap pintu kamar. Dan dia mengeluarkan aura yang sangat dingin. Rambutnya hitam panjang, matanya tajam seperti kucing dan bibirnya tipis. Lalu ada tahi lalat kecil di atas bibirnya. Dia benar-benar memberikan kesan 'ah, dia pasti gadis yang dingin dan sangat sulit untuk di dekati'. Dia juga memiliki fitur-fitur karakter antagonis dalam sebuah cerita. Fiturnya lebih menonjol dari penampilanku.
Gadis itu teman sekamarku? Karena kami sekamar, gadis itu pasti bangsawan. Tapi aku tidak pernah membaca gadis seperti itu di dalam novel. Apa dia bukan karakter yang ditulis ya? Hanya karakter pendukung yang tidak terlihat? (sebut saja NPC novel).
"Halo" aku menegurnya. "Perkenalkan saya Eva Van Court" kataku sambil memberi hormat dengan tata cara bangsawan.
"Oh?" gadis itu tersentak. "Keluarga duke ya?" dia bergumam.
"Perkenalkan saya Vivian Zent, dari keluarga marquis Zent"
DUAR! Mendengar perkataannya, aku langsung disambar petir!
Tidak mungkin! Tidak mungkin!
__ADS_1
Gadis ini memang karakter yang belum pernah bertemu denganku. Dia adalah kakak tiri Reina!!!!