
Cerita Sebelumnya:
Eva akhirnya mengalah dan terlelap dalam pelukan Robert. Empat jam kemudian, mereka terbangun dan berganti jam tidur dengan dua orang lainnya.
Sambil menunggu matahari terbit, Robert dan Eva membicarakan banyak hal. Sampai akhirnya, pagi menjelang dan semua orang melanjutkan perjalan mereka kembali.
***
Robert membuka peta.
"Kita ada di titik ini" katanya sambil menunjuk lima titik bercahaya yang saling berkumpul.
"Tidak lama lagi kita akan sampai di sungai. Tapi sebelum itu kita harus melewati rawa. Kita bisa melewati rawa ini, tapi kita harus berjalanan memutar. Dan ini akan memakan lebih banyak waktu" Robert menjelaskan sambil menggerakkan jarinya pada titik-titik peta.
"Jadi haruskah kita memutar supaya lebih aman? Atau melewati rawa yang berbahaya?"
"Belum tentu saat kita memutar kita tidak bertemu bahaya apa pun. Kita bisa saja bertemu dengan tim musuh bukan?" aku menjawab polos.
Robert mengangguk. "Benar"
Jadi akhirnya kami memutuskan untuk berjalan melintasi rawa. Lagipula menurutku manusia lebih berbahaya dari binatang sihir. Jadi lebih baik untuk menghadapi binatang sihir dari pada menghadapi para manusia yang lumayan licik dan penuh dengan trik.
Robert menyimpan petanya dan kami melanjutkan perjalanan.
Metode perjalanan yang kami gunakan itu seperti biasa. Tapi lebih baik bantuan penyihir angin digunakan saat kami melewati rawa, agar kami bisa melintasi tempat itu dengan cepat. Jadi untuk saat ini kami memutuskan untuk berjalan biasa melewati hutan.
Beberapa jam ke depan, perjalanan kami sangat damai. Bahkan kami tidak menemukan satu pun binatang sihir. Ini cukup damai, tapi juga cukup mencurigakan.
Pada umumnya binatang sihir akan berkeliaran di seluruh hutan. Kecuali hutan itu menjadi domain binatang sihir dengan level tinggi, binatang sihir level rendah akan memutuskan untuk melarikan diri. Sebab, binatang sihir level tinggi akan memakan binatang sihir level rendah dan manusia sebagai makanan mereka.
"Hati-hati..." Robert memperingati.
Semua orang mengangguk. Mereka tahu situasi seperti ini mencurigakan. Akankah mereka menemukan binatang sihir level tinggi padahal mereka belum melintasi rawa sama sekali?
"Tolong...." mereka mendengarkan sayup-sayup teriakan dan otomatis mereka langsung berhenti.
Ada suara seseorang minta tolong?!
Suara itu bukan berasal dari kelompok kami, apakah itu dari kelompok lainnya?
"Haruskah kita mencari sumber suara itu?" tanyaku bodoh.
__ADS_1
"Jangan. Bisa jadi itu jebakan dari tim lainnya" Robert berpikir bijaksana.
Ah, benar juga! Bisa jadi tim lainnya memasang perangkap di sekitar sini.
"Tolong..." kami mendengar sayup-sayup itu lagi. Tapi kami sama sekali tidak melihat keberadaan apa pun. Hutan itu begitu sunyi, hany ada suara dedaunan yang bergerak karena tertiup angin.
Ya, angin...
Tiba-tiba anginnya bertambah kencang!
Plak! Plak! Kami mendengar suara kepakan sayap. Penglihatan kami mulai gelap karena sesuatu yang besar menutupi langit di atas kami bersamaan dengan terpaan angin yang sangat kuat.
Ya ampun! Itu Binatang sihir jenis burung! terlebih lagi itu sangat besar!
"Tolong!!" Kali ini suara teriakan itu semakin terdengar jelas.
Itu berasal dari atas! Dari binatang sihir itu!
Aku menoleh dan melihat seseorang bergelantungan. Paruh burung itu menjepit jubah si manusia.
Salah satu anggota dari tim lain benar-benar ingin dimakan oleh binatang sihir.
"Haruskah kita menolognya?" aku bergumam tanpa sengaja dengan nada bingung.
Tapi perkataan itu terlambat, karena bintang sihir itu sudah melihat mereka. Burung itu pun dengan cepat mengepakan sayap dan meluncur ke arah mereka.
Kami harus menghadapi terpaan angin yang sangat kuat dan berusaha menahan tubuh kami di atas tanah agar tidak terlempar.
Burung itu mendarat. Besarnya sekitar enam meter. Itu burung gagak! Burung gagak raksasa!
"Gagak hitam level 7" Robert berkata.
Ah! Binatang sihir level 7! Kali ini benar-benar binatang sihir yang cukup kuat. Binatang sihir terkuat yang pernah kutemui adalah binatang sihir level 6. Aku bertemu dengan binatang itu saat masih kecil dan berakhir dengan menyedihkan. Benar-benar sedih sekaligus menyebalkan kalau aku harus mengingat masa laluku yang menyedihkan.
"Aku akan menghadapinya. Ini masih mudah" jawab Robert santai.
"Eh? Master, kalau kau terkena serangan poinmu akan berkurang. sebaiknya untuk jaga-jaga, biar aku saja" saranku. Tapi tujuan utamu adalah untuk menebus kesalahan di masa lalu. Aku tidak akan kalah lagi dari binatang sihir, bahkan sampai meledakkan diriku. Itu cukup bodoh.
"Baiklah, jangan terlalu lama oke. Kita masih perlu melanjutkan perjalanan" kata Robert santai.
Aku mengangguk yakin.
__ADS_1
"Kami akan membantu" Hans dan Jean menawarkan bantuan.
Kurasa tidak apa-apa jika dua orang itu membantu. Lagipula menurut pembagian tugas, memang kita bertiga yang harus berurusan dengan binatang sihir.
"Baiklah"
Hans dan Jean langsung maju sambil mengeluarkan sihir mereka. Jean menggunakan sihir apinya, lalu Hans menggunakan sihir anginnya. Sihir gabungan mereka membentuk sebuah badai api yang mengarah ke binatang sihir itu.
Serangan yang cukup bagus. Tapi sihir yang mereka gunakan adalah sihir menegah. Jadi tidak cukup untuk melukai bintang itu. Mereka hanya menyebabkan beberapa bulu burung itu terbakar dan menyebabkan binatang itu semakin marah.
Aku juga mulai menggunakan sihi apiku. Aku sangat penasaran, kalau aku menggunakan sihir tingkat tinggi akankah aku bisa memanggang burung itu?
"Inferno"
Ini adalah sihir tingkat tinggi yang kupelajari dari Dean Cristal. Sihir ini dapat membentuk kawah lava yang lumayan besar dan menenggelamkan lawan dalam lava.
Kawah lava terbentuk di bawah kaki burung itu. Burung itu menjerit dan berusaha melarikan diri dengan mengepakkan sayapnya. Tapi aku langsung menghentikannya.
"Wind Wirl"
Aku membentuk badai angin dan menjepit burung itu di dalam badai. Burung itu berusaha melepaskan diri, tapi aku tetap mengendalikan badainya dengan kuat dan menjepit tubuh burung itu. Burung itu berusaha melepaskan diri, tapi aku dengan perlahan mencelupkannya di dalam kawah lava.
Semua orang yang menyaksikan itu cukup kaget, termasuk Robert. Tapi ekspresi kagetnya hanya sebentar.
Sementara Jean dan Hans merasa merinding.
"Sihir...tingkat..ti..tinggi..."
"Ba...bagaimana...mungkin..."
Mereka tergagap menyaksikan semuanya. Untuk anak-anak sihir menengah sudah termasuk hebat dan termasuk dalam kalangan elit. Tapi ini adalah sihir tingkat tinggi untuk anak kecil yang bahkan belum lima belas tahun! Apa-apaan ini! Mereka tidak tahu eksitensi seperti ini ada di Menara Sihir! Kalau mereka berdua tahu, mereka pasti akan menyembah gadis ini sebagai dewi mereka.
"Dia berkembang terlalu cepat..." Charlotte juga sangat terkejut dan dia bergumam masam.
Rasa iri dan masam di hatinya semakin kuat.
Aku selesai menenggelamkan burung raksasa itu dalam lava. Jadi aku mengangkatnya kembali. Buruk itu benar-benar terbakar. Walau pun tubuh burung itu menghitam dan hangus, itu belum menjadi abu.
"Apakah buruk gagak panggang sangat enak? Sayangnya ini hangus" aku menggumam tanpa sadar sambil menatap yang lainnya.
"...."
__ADS_1
Tentu saja tidak ada yang menjawab pertanyaannya.