Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Pertandingan Sihir: Kota Sihir 9


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva akhirnya sadar. Dia menemukan bahwa dua orang asing dengan jubah coklat menyelamatkannya. Dan dua orang itu juga peserta Pertandingan Sihir. Mereka berasal dari komunitas pengembara.


Sementara Robert dan Sayn di sisi lain berusaha mencari Eva dengan kekuatan dan koneksi mereka masing-masing.


***


"Bisakah kita keluar?" aku bertanya lagi karena aku tidak mendapatkan jawabannya.


"Emm..bukannya kami tidak mau nona. Tapi...aku yakin para pengejar itu masih mencarimu. Lebih baik tetap disini sampai semuanya lebih baik oke" katanya. "Rune ini bersasal dari alat sihir kuno milik tuanku, jadi kekuatannya tidak tidak diragukan lagi. Hanya saja tidak efektif lagi kalau kita keluar sekarang"


"Tapi aku tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Aku perlu kembali ke penginapan. Sebentar lagi para Dean Menara Sihir akan datang. Kami perlu bersiap-siap untuk masuk ke Domain Sihir juga"


"Jangan panik nona. Kita tidak akan bersembunyi lama di sini. Saat hari mulai gelap, kami akan mengawalmu pulang" responnya.


Haa~ aku menghela napas lega. AKu mengira aku akan terkurung lama di tempat ini.


"Baiklah..." kataku. Lagipula tidak terlalu buruk untuk menunggu untuk menghapus jejak dan sampai para pengintai berbahaya itu menjauh.


Aku akan menunggu sampai malam datang.


Selama menunggu, aku menanyakan banyak hal pada mereka. Walaupun si tuan tidak pernah membuka mulutnya lagi sejak kata "rekan" keluar. Aku tetap mendapatkan beberapa jawaban.


Dua orang itu adalah pengembara. Mereka bersaudara. Mereka datang ke Kota Sihir untuk berkunjung dan membeli beberapa barang. Tapi di perjalanan mereka bertemu dengan Komunitas Pengembara. Saat itu Komunitas Pengembara sedang menghadapi segerombolan binatang iblis dan mereka membantunya. Akhirnya mereka berdua bergabung dengan komunitas itu dan mengikuti pertandingan sihir.


Bisa dibilang mereka mendapatkan jackpot. Karena membantu orang yang tepat, mereka mendapatkan tiket untuk mengikuti Pertandingan Sihir.


Aku tidak sadar bahwa waktu sudah berjalan, karena terlalu sibuk mendengar cerita petualangan mereka. hari sudah gelap dan malam pun sudah tiba.


"Kita keluar sekarang?" aku bertanya untuk memastikan.


Dua orang itu mengangguk.

__ADS_1


Si tuan pun membatalkan rune, dan kami bertiga tiba-tiba berpindah tempat. Tempat ini sangat lapang. Aku tidak melihat rumah atau pepohonan di sini. Tempat ini adalah padang rumput yang lumayan luas.


"Sekarang kita ada di mana?" aku bertanya.


"Kita berada di daerah sekitar Kota sihir, nona" jelasnya. "Di sana ada hutan. Setelah melewati hutan, kita akan sampai di Kota Sihir. Sayang sekali kami tidak bisa teleport begitu jauh."


"Um...jangan minta maaf. Aku berterima kasih sekali kalian menyelamatkanku." Ini benar-benar tidak terduga untukku. Ternyata masih ada yang mau menyelamatkanku, walaupun kita tidak saling kenal. Maksudku, aku selalu dihantui event kematian, dan tidak ada yang menyelamatkanku. Jadi ini benar-benar langka bertemu orang asing sebaik ini.


"Baiklah, kami akan mengantarkanmu ke Kota Sihir, nona. Setelah itu, berhati-hatilah di masa depan"


"Tentu saja"


"Tunggu" kata si tuan. Dia tiba-tiba mengeluarkan tiga buah sesuatu yang aneh.


Um...apa ini? Sarung tangan?


"Pakai itu. Itu adalah alat sihir untuk menyembunyikan keberadaanmu. Sangat efektif untuk bersembunyi" akhirnya si tuan mengeluarkan banyak kata.


Aku mengangguk dan menggunakan sarung tangan yang diberikan. Yah, aku merasa bahwa hawa keberadaanku menghilang. Benda ini rupanya sangat efektif.


Akhirnya, si tuan mulai membuat lingkaran teleportasi. Mereka berdiri di dalam lingkaran lalu menghilang dalam hitungan detik.


***


Dean Wason dan lainnya harusnya tiba besok. Tapi mereka tiba lebih awal di penginapan. Mereka tiba dengan cepat di malam hari! Ini semua karena kabar buruk yang dibawa Robert. Mereka harus menggunakan alat sihir untuk berteleportasi ke tempat ini.


Saat mereka tiba, Dean baru itu menyambut mereka dengan senyum sumringah. Lalu dia mulai menceritakan hasil pertandingan babak satu dengan menggebu-gebu. Suasana hatinya sangat baik sekarang. Ya...suasana hatinya memang sangat baik. Tapi...suasana hati Dean Wason saat ini sangat buruk...


"Diamlah!" Dean Wason berteriak.


Dean baru itu langsung menghentikan ocehannya.


"Kau benar-benar...bagaimana aku bisa memilihmu sebagai pembibing? Bahkan saat salah satu muridmu dalam bahaya. kau sama sekali tidak peduli!"

__ADS_1


Mata Dean baru itu membelalak.


'Siapa yang dalam bahaya? Dia mengingat bahwa semua muridnya ada di penginapan. Jean, Hans dan Robert yang ada di dekatnya. Ah! Gadis bangsawan itu tidak ada! Dia memang menyusahkan! Paling-paling dia pergi berbelanja dan tidak kembali. Kenapa harus aku yang disalahkan karena kanakalannya?! Ini tidak adil! Cih!' pikir Dean baru itu. Tapi tentu saja dia tidak berani mengatakan hal itu di depan orang banyak. Dia merubah ekspresinya menjadi ekspresi khawatir. "Maafkan aku...aku tidak tahu gadis itu menghilang. Aku mengira dia sedang pergi bermain. Maafkan aku lalai..." katanya pasrah. Tapi tetap saja dia sedang menggerutu di dalam hatinya.


Setelah itu Dean Wason menghampiri Robert. Robert langsung menceritakan semua yang terjadi, yang tidak bisa dia ceritakan dengan telepati.Dia menceritakan cerita lengkapnya.


"Apa kau menemukan sesuatu yang ditinggalkan para penyerang ini?" tanya Dean Wason.


Tanpa basa-basi Robert mengeluarkan potongan kain hitam dari saku jubahnya. "Kebetulan sekali mereka memakan jubah hitam dari bahan ini. Mereka juga memakai topeng. Tapi topeng itu tidak menutupi bahwa mereka seorang kakek. Selain itu mereka tidak meninggalkan apa pun. Mereka sangat kuat. Baik mana, alat sihir dan artefak mereka. " jelas Robert.


Dean Wason mengamati potongan kain hitam itu sambil mengerutkan keningnya. "Ada mana yang tertinggal di kain itu. Entah kenapa terasa tidak asing. Tapi...aku tidak bisa mengingatnya..." kata Dean Wason. "Ha...ini pasti karena faktor umur. Aku suka sekali melupakan banyak hal penting akhir-akhir ini" katanya kecewa.


"untuk sekarang kita hanya harus berpencar mencarinya. Aku yakin orang-orang itu berpusat di Kota Sihir. Mereka tidak akan lari jauh" kata Dean Wason.


Semua orang menganggukan kepala mereka setuju. Mereka akan mencari gadis kecil itu malam ini.


***


Sementara di sisi lain, Eva dan dua orang pria itu berteleportasi ke dalam sebuah rumah penginapan.


"Ehhhhh?" salah satu dari mereka berteriak kaget secara tiba-tiba. Eva cukup kaget karena sikapnya itu. "Kenapa kita berteleportasi ke tempat tidak jelas seperti ini?!" teriaknya.


Aku mengernyit bingung. Bukankah mereka mengatur sendiri tujuannya. Kenapa mereka sendiri yang kaget?


Si tuan kelihatan bisa membaca ekspresi Eva dan menjawab. "Kami memang mengatur sendiri tujuan lingkaran teleportasi ini. Tapi tujuannya bukan tempat tidak dikenal ini. Kami mengaturnya langsung ke penginapan para peserta pertandingan" jawabnya.


"Eh? Apa yang terjadi?" aku juga ikut bingung.


"Kelihatannya ada yang menganggu lingkaran sihir milik kita sehingga kita tiba di tempat yang salah" kata si tuan dengan nada serius.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2