
Cerita Sebelumnya:
Eva mengikuti penjaga toko dan si anak menuju sebuah ruang rahasia yang berada di dalam tembok! Di sana ada si pemilik rumah yang bertubuh gemuk dan Sayn. Sayn pun tanpa basa-basi mengambil si bocah dan pergi dari tempat itu. Tapi siapa yang menduga bahwa si tuan gemuk itu mengirim beberapa orang untuk membunuh mereka.
Eva langsung menghampiri Sayn saat dia keluar dari mansion. Dan tentu saja dia dimarahi oleh Sayn! Mereka pun berjalanan pulang. Lalu dari perjalanan pulang, mereka bertiga disergap beberapa orang. Sayn dan Eva berhasil mengalahkan semua penyergap itu. Tapi mereka sama sekali tidak memperoleh informasi apa pun.
***
Saat Sayn menyentuh kami, tubuhku langsung secara perlahan berpindah tempat ke istana. Lebih tepatnya kami sampai ke penginapan.
"Pulanglah, aku akan mengurus hal lainnya" kata Sayn sambil membawa bocah itu menuju istananya.
Aku hanya mengangguk.
Aku pun perlahan memasuki penginapan. Dan aku langsung terkejut karena Lilac sedang menunggu di depan kamarku.
"Eh?"
"Eva! Kau sudah pulang?" teriak Lilac senang sambil berlari memelukku.
"Eh? Ada apa?" tanyaku bingung saat melihat wajah khawatir Lilac.
"Dasar kau!" teriak Lilac geram sambil memukul kepada sahabatnya itu. "kenapa kau menghilang tiba-tiba seperti itu? Aku benar-benar cemas kau tahu!"
"Uh...." Aku benar-benar lupa kalau aku tidak memberitahu Lilac kepergianku. Karena aku menyelinap diam-diam. "Maaf...aku sedang ada urusan.."
"Harusnya kau memberitahuku! Kau tidak tahu betapa cemasnya kami? Guru bahkan mencarimu!"
"Eh?" aku membelalak kaget. Cemas? Guru? "Maksudmu guru Robert mencariku?"
"Tentu saja! Kau benar-benar hilang di ibu kota. Guru bahkan tidak bisa mengirimkan sinyal telepati padamu. Kami sangat cemas. Kami takut kau kenapa-kenapa karena kami sekarang berada di kerajaan lain. Kami takut ini akan memicu hal buruk."
Aku tidak tahu bahwa sihir telepati juga tidak bisa digunakan di mansion aneh itu. Aku hanya tahu kita tidak bisa menggunakan sihir teleportasi saja.
"Maafkan aku...." kataku menyesal.
"Kemari!" tiba-tiba teriakan tegas terdengar di telingaku. Dan aku melihat Robert sudah berdiri di belakang kami dengan cemberut.
Lilac tampak takut. "Hahaha...Eva...aku permisi dulu..." kata Lilac canggung lalu melarikan diri dengan cepat.
"Ah tunggu! Aku ingin berkunjung ke kamarmu!" teriakku sambil menyusul Lilac. Tapi aku merasakan bajuku ditarik.
Robert menarik baju Eva dan menyeretnya masuk ke dalam kamar. "Ikut aku!"
Kelihatannya Robert benar-benar marah! Mau tak mau aku menurutinya dan berlutut di atas kasur sambil menundukkan wajahku.
"Ada yang ingin kau katakan?"
"Maaf..." jawabku lirih.
__ADS_1
"Darimana saja kau? Kenapa jejakmu bisa menghilang seperti itu?"
"Ummm..."
Akhirnya setelah beberapa detik membuang semua keraguan, aku menjelaskan apa yang kualami pada Robert. Aku menjelaskan bahwa aku mengikuti Sayn untuk menjalankan misinya di sebuah mansion aneh. Aku juga mengatakan banyak anak-anak yang ditawan di dalam mansion itu.
TAK! Robert langsung menyentil keningnya.
"Sakit mastaa...."
"Kau benar-benar ya! Aku tidak tahu bagaimana menasehatimu lagi. Bagaimana kau bisa ikut campur dengan urusan orang lain? Dan pergi ke tempat berbahaya seperti itu?"
"Tapi Sayn itu temanku bukan orang lain. Maaf mastaa..."
"Jangan ulangi lagi"
"Em" aku mengangguk patuh.
"Besok kita akan kembali ke kerajaan pagi-pagi sekali. Istirahatlah."
"Mastaa, kau ingin pergi kemana?"
TAK! Robert menyentil keningnya lagi dengan keras.
"Ah!" aku menjerit sambil memegang keningku.
"jangan suka ikut campur. Aku ada urusan. Awas saja kalau kau melakukan hal berbahaya lagi. Aku akan melaporkanmu pada duke nanti."
"Aku tidak akan melaporkannya kalau kau menjadi gadis yang baik" kata Robert sombong sambil melipat kedua tangannya. "Awas ya" dia memperingatiku sebelum menghilang dari hadapanku.
Haa~ aku menghela napas.
Untung saja Robert tidak melaporkan semuanya pada ayah bodoh itu. Aku tidak bisa membayangkannya kalau ayahku tahu. Aku yakin aku akan langsung dihukum.
***
Malam pun tiba. Aku sama sekali tidak keluar kamar semenjak di marahi Robert. Aku benar-benar takut dengan ancaman bahwa dia akan melaporkan semuanya pada ayahku, kalau aku membuat ulah lagi.
Jadi seharian ini aku hanya berbaring dengan santai di kasur. kadang aku tertidur. Kadang hanya berguling-gulig tidak jelas. Intinya aku sangat bosan ah~ Aku ingin hari ini cepat berlalu. Agar aku bisa pulang besok. Aku rindu rumah.
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamarku berbunyi. Siapa ya? Aku mengira mungkin ini Lilac.
Aku pun berjalan mendekati pintu dan membukanya. Lalu aku menemukan sosok berjubah hitam berdiri di depanku.
Ah! Sayn!
"Boleh aku masuk?"
__ADS_1
Aku mengangukkan kepalaku. "Ada apa?"
"Kau kelihatannya tidak senang aku kemari. Apa kau menyembunyikan sesuatu?" kata Sayn penuh selidik.
"Aku tidak menyembunyikan apa pun" kataku cemberut. "Itu sangat aneh kau ke kamarku malam-malam. Ada apa?"
Sayn berjalan santai sambil mengamati seluruh isi kamar "Lagipula istana ini tempat tinggalku. Jadi terserah aku mau kemana saja" jawabnya ambigu. Dia dengan santai melangkahkan kakinya menuju kasurku dan melemparkan dirinya.
Aku sama sekali tidak senang dengan sikapnya "Jangan sentuh kasurku!" kataku sambil mendorong tubuhnya. "Em...bagaimana dengan kasus itu? Apa sudah selesai?"
"Sudah"
"Aku ingin tahu" aku memohon padanya dengan mata berbinar.
Haa~ Sayn menghela napas. Dan dia pun mulai menjelaskan kejadiannya. Ternyata mana anak-anak itu dikuras agar mereka dapat membuat ramuan. Ini mengingatkanku pada toko kepala sekolah. Saat aku membayar buku mantra itu dengan mana. Bisa jadi kepala sekolah menggunakan mana itu untuk membuat ramuan yang kuat. Aku baru tahu bahwa ramuan-ramuan ini dibuat dengan mana.
Untung saja tidak ada anak yang meninggal. Saat mereka menyergap tempat itu, mereka langsung menangkap tuan muda buntal itu. Dan menyerahkannya kepada perdana mentri. Lalu tugas mereka selesai. Mereka menyerahkan kepengurusan anak-anak dan hukuman kepada pihak kerajaan.
"Kami mendapat banyak sekali uang sebagai upahnya" Sayn tersenyum. Dengan santai Sayn menaruh kedua tangannya di kepala. "Kita akan ke kerajaan Well besok. Aku sangat penasaran seperti apa tempatnya. Aku mendengar tempat ini lebih ceria dari kerajaan ini" kata Sayn melankolis.
Sayn pernah mengunjungi Kerajaan Well, tapi dia hanya berkunjung ke tempat-tempat tertentu. Dia tidak mengetahui kerajaan itu secara keseluruhan. Dia hanya mendengar rumor bahwa semua rakyat di sana hidup dengan bahagia. Tidak ada rakyat yang terlantar seperti di kerajaan ini.
"Tidak berbeda jauh kok. Walaupun warga telantar yang ada di Kerajaan Well tidak separah di Kerajaan Kano. Kerajaan Well juga mempunyai masalah sendiri" kataku serius sambil memikirkan para bangsawan yang ingin memperebutkan kekuasaan.
"ah! Pertunanganmu juga salah satu dari masalah itu kan~" kata Sayn dengan nada mengejek.
PUK! Aku langsung memukul wajahnya dengan bantal. "Itu bukan masalah. Aku cukup beruntung bertunangan dengan putra mahkota tampan" kataku dengan nada sombong.
Sayn langsung mengernyitkan kening saat mendengar perkataan Eva. Raut wajahnya berubah tidak senang. Ternyata gadis ini tertarik pada putra mahkota sialan itu! Dia sangat tidak senang! Dia membencinya!
Sayn tidak bisa menahan emosinya. Dia menarik tangan Eva dan menindih gadis itu di bawah itu. Lalu dia memegang kuat-kuat pergelangan tangannya dan menatapnya dengan serius.
"Kau menyukainya?"
Aku sedikit terkejut dengan sikap Sayn yang tiba-tiba ini. Apa-apaan ini? Kenapa orang ini marah?
"....."
"Katakan padaku! Apa bagusnya putra mahkota sialan itu. Hanya karena dia putra mahkota? Aku bisa menjadikan kerajaan ini milikku kalau kau menginginkannya!" kata Sayn.
Aku merasa semuanya mulai tidak beres. Aku tidak nyaman dengan sikap Sayn yang seperti ini. Bukankah kalimat ini sedikit de ja vu? Aku pernah membacanya di dalam novel. Kata-kata yang dikatakan Sayn sebelum dia memulai kudeta dan perang. "Tidak...itu..." aku berusaha menjelaskan tapi aku cukup gugup kalau aku mengatakan sesuatu yang salah. Bisa-bisa kudeta ini benar-benar terjadi kalau aku salah ngomong.
"Apa yang kau lakukann?!" Sebuah teriakan bergema di seluruh kamar.
Robert tiba-tiba muncul entah dari mana. Dan wajahnya murka saat dia melihat kejadian di depannya.
Robert langsung memukul tubuh Sayn dan BRUK! Tubuh Sayn terlempar di dinding samping dan menyebabkan retakan.
Aku melonggo kaget dengan mulut menganga. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa jadi kacau seperti ini?
__ADS_1
Sayn sama sekali tidak terluka. Perlahan dia mulai bangkit dari reruntuhan tembok dan menatap Robert dengan tajam. "Kau rupanya!" katanya geram sambil menggertakan gigi.
WHATTT! "Tunggu!!" aku langsung berteriak menghentikan mereka. Kenapa mereka jadi bertarung seperti ini. Aku tidak ingin kamarku hancur ah~