
cerita sebelumnya:
Eva sudah menyelesaikan urusan nya di wilayah elf. Dia segera kembali setelah mengurus masalah Rexus dan juga Lena.
***
Saat kembali ke mansion, aku sendirian. Aku tidak melihat Duke, Diana dan Vivian. Bahkan Wiya juga tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali. Saat aku bertanya kepada kepala pelayan, Duke dan Diana kembali ke villa utama mereka. Wiya menemani mereka. Sementara Vivian pergi sebentar ke ibukota dan akan kembali nanti.
Jujur saja, aku merasa sangat kesepian. Saat pergi, kami sangat ramai sekali. Tapi setelah kembali, aku hanya sendirian. Fram dan Rexus memutuskan untuk tetap tinggal di wilayah elf.
Aku hanya bisa kembali ke kamarku sekarang. Lalu tertidur tanpa sadar karena terlalu lelah. Aku tidak tidur kemarin, jadi wajar saja aku langsung tertidur setelah menyentuh kasur ku yang nyaman.
Saat aku bangun, hari sudah mulai gelap. Aku bisa melihat Vivian di samping tempat tidurku. Gadis itu sedang membaca buku sihir dengan serius dan sedikit tersentak saat melihatku bangun.
"Kau sudah kembali? Aku benar-benar tidak tahu. Kalau aku tahu mungkin aku akan memasak untukmu" katanya cemberut.
"Maafkan aku..." kataku.
"Apa kau lapar? Ingin makan malam di mansion atau diluar?" Vivian tiba-tiba bertanya. "Aku menemukan tempat makan yang sangat enak diluar" katanya.
"Tapi sekarang sudah malam..." kataku ragu. Ini sangat aneh. Vivian jarang sekali mengajakku untuk makan di luar, apalagi di malam hari.
"Aku tidak memaksamu" kata Vivian sambil tersenyum. Tapi senyumnya terlihat sangat menyedihkan. Aku jadi merasa bersalah saat melihatnya.
"Kenapa kau tiba-tiba mengajakku kesana?" aku bertanya.
Blush, tiba-tiba wajah Vivian memerah malu. Gadis itu mulai menundukkan kepalanya dan menjawab lirih. "Aku...aku membuka sebuah restauran kecil di ibukota. Aku ingin kau menjadi pelanggan pertama" katanya.
Mataku langsung berbinar. Jadi ini alasan kenapa Vivian pergi pagi dan kembali saat hari mulai gelap. Ternyata dia membuka restauran makanan di ibukota!
"Ayo kita kesana!" kataku bersemangat. Tidak ada alasan untuk menolak sama sekali. Aku juga sangat penasaran dengan restauran baru milik Vivian.
__ADS_1
Setelah bersiap-siap, kami pergi ke sana dengan sihir terbang. Ini cara yang lebih aman dan cepat daripada harus berjalan kaki melintasi banyak orang. Tentu saja, aku yang membawa Vivian dengan sihirku.
Hanya perlu beberapa menit perjalanan hingga akhirnya kami sampai di tempat tujuan. Restauran itu terletak di pinggir kota dan tidak terlihat terlalu mencolok, sama seperti bangunan yang ada di sekitarnya. Itu bukan bangunan lantai dua, melainkan hanya satu lantai dan terlihat sederhana. Restauran kecil itu bernama "Eat and Joy". Aku tidak tahu arti dari nama itu tapi itu nama yang bagus.
Kami masuk ke dalam. Wajah Vivian masih memerah malu. Saat masuk, kami langsung disambut pemandangan meja dan kursi yang terlihat sangat minimalis. Meja dan kursi yang berwana putih tulang itu terlihat kontras dengan warna dinding yang berwarna pastel.
Kami duduk dan memesan makanan. Pelayan itu menyambut kami dengan ramah dan menyerahkan menu makanannya. Vivian memesan beberapa menu rekomendasi. Lalu kami menunggu sampai makanan itu disiapkan.
Vivian menceritakan alasan kenapa dia ingin membuka restauran. Dia berkata dia menemukan masa depannya. Karena dia bukan lagi seorang bangsawan, dia memutuskan untuk menjadi seorang koki ataupun pengusaha makanan. Lalu dia memutuskan untuk menjadi pengusaha. Dengan tabungan nya saat ini, dia hanya bisa membuka satu restauran kecil. Dia sudah memperkejakan koki profesional dan juga para pelayan terlatih di tokonya. Tidak lupa dia juga sudah menyerahkan resep makanan rahasianya kepada para koki itu untuk dikembangkan. Walaupun restauran ini kecil, Vivian menempatkan pekerja profesional untuk bekerja di restauran nya.
Beberapa lama kemudian makanan yang kami pesan datang. Ini memang resep milik Vivian, aku bisa merasakan rasa Vivian di dalamnya. Aku mencoba menggoda Vivian dengan mengatakan "Rasa Vivian" berulang kali, membuat wajah gadis itu menjadi cemberut.
"Hmm, liburan kita tinggal sebentar lagi. Tiga hari lagi, kita akan masuk ke akademi sebagai murid tingkat dua" gumam Vivian. "Apa kau punya rencana bagus untuk menghabiskan sisa-sisa waktu liburan?" Vivian langsung merubah topiknya.
"Hmmm, aku tidak tahu" aku mengangkat kedua tanganku sambil memiringkan kepalaku. "Tapi kenapa kita perlu rencana untuk bersenang-senang? Kita tinggal melakukan apapun yang kita mau kan?" kataku.
Mata Vivian langsung berbinar seakan-akan dia mendapat kan pencerahan. "Kau benar! Kita hanya perlu bersenang-senang!" Mereka tidak perlu merencanakan apapun selama mereka bisa menghabiskan waktu bersama.
Pada hari ketiga, mereka menghabiskan waktu mereka untuk berbelanja gaun dan membuat baru seragam mereka. Sebenarnya seragam lama mereka masih bagus, hanya saja warnanya menjadi lebih kusam. Jadi mereka memutuskan untuk membuat seragam baru bersama. Pembuatan seragam sama sekali tidak lama, hanya perlu menunggu tiga puluh menit karena mereka membuat seragam dengan sihir. Jadi lebih efektif.
Eva memanfaatkan waktu menunggu ini unutk memberikan beberapa kristal sihir kepada Vivian. Dia sudah mendapatkan bayaran nya tadi pagi. Ren langsung mengirim kristal sihir bagiannya ke kamarnya dengan sihir teleportasi.
Jujur saja aku kagum dengan sihir teleportasi milik Ren. Ren bisa membawa mahluk hidup bahkan mengantarkan benda mati dengan sihirnya. Perlu mencapai tingkat seperti apa agar sihirku bisa sekuat itu? Sampai saat ini aku hanya bisa memindahkan diriku sendiri saja. Ini menyedihkan, karena aku terlalu fokus untuk menaikkan tingkat sihir elemen ku. Aku melupakan sihir teleportasi ku. Aku perlu meluangkan waktu untuk belajar menaikkan tingkat sihir teleportasi ku. Karena sihir ini sangat berguna.
Seragam baru mereka pun akhirnya selesai. Mereka memutuskan untuk bermain sampai malam kali ini karena ingin mencoba beberapa cemilan pinggir jalan yang dijual saat malam hari. Dan ternyata tempat itu sangat ramai. Mereka harus berdesakan dengan orang lain. Untung saja mereka selalu memakai gaun biasa saat berpergian, sehingga tak terlihat terlalu mencolok.
Aku membeli beberapa tusuk meat ball bakar yang dibuat dari daging binatang sihir. Aku dan Vivian belum pernah mencobanya. Tapi cemilan ini mengingatkan ku akan bola-bola daging yang pernah kumakan di bumi, semacam nugget mungkin.
Aku memakannya. "Ini enak" gumamku dengan mata berbinar. Ini benar-benar enak. Rasanya seperti daging bakar. Penjual itu berkata daging ini dapat meningkatkan kekuatan mana. Dan hal itu benar, walaupun hanya naik sangat sedikit.
Setelah itu, kami mencoba membeli beberapa tusuk lagi dan beberapa cemilan lainnya. Aku memakannya sambil berjalan. Sampai akhirnya BUK! Seseorang menabrak bahuku dan membuat semua cemilan yang ada di tangaku terjatuh ke tanah.
__ADS_1
"..."
Aku membeku sesaat.
Vivian juga kaget sambil menutup mulutnya.
Aku mengerutkan kening ku tidak senang sambil melihat pelaku yang sudah menabrakku. Itu adalah seorang pemuda seumuran denganku. Pemuda itu memiliki rambut dan mata hitam. Penampilan seperti orang Asia itu sangat jarang di dunia ini. Walaupun Robert memiliki rambut hitam, rahang dan bentuk wajahnya tidak seperti orang Asia sama Sekali. Tapi penampilan pemuda ini benar-benar seperti manusia yang ada di bumi.
Umu? Entah mengapa aku merasa wajahnya sangat familiar? Apa kami pernah bertemu?
"Makananmu mengotori bajuku" pemuda itu tiba-tiba berkata dengan tidak sopan dengan ekspresi kesal.
"Apa maksudmu? Kau yang menabrakku duluan!" aku membentaknya kesal. "Siaap yang salah disini? Kau tidak punya mata?" kataku sarkas.
"Kau..." dia menggertakkan giginya, tapi perkataan nya tertahan di tenggorokan nya.
"Yang Mulia, kau tidak apa-apa?" pria berjubah hitam di belakang nya bertanya. Eva tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup tudung jubah. Pria besar itu dengan sigap membersihkan sisa makanan yang menempel di baju pemuda itu dengan sihir.
"Yang mulia?" aku bisa mendengar Vivian bergumam kecil sambil mengerutkan kening nya.
Kami berdua mengira bahwa dia adalah pangeran atau sejenisnya karena panggilan itu.
"Ah, sudah lah!" pemuda itu berteriak kesal. Dia memberiku tatapan tajam sebelum beranjak pergi.
Saat dia pergi, aku baru tersadar sesuatu. Aku ingat sekarang. Wajah itu...Kenapa orang itu mirip dengan adikku?! Suaranya sama. Bahkan sikap angkuh dan menyebalkan nya itu sama! Dia sangat mirip dengan adikku di kehidupan masa lalu!
"Apa ini kebetulan saja?" aku bergumam dengan mata melotot.
Eva membeku selama beberapa menit. Bahkan saat Vivian memanggil namanya, dia tidak mendengar nya karena dia terlalu syok.
"Eva..."
__ADS_1
Akhirnya Eva kembali sadar. Dia mendengar Vivian memanggil nya. Tapi dia tidak mempedulikan nya dan berlari menuju ke arah pemuda aneh itu. Sayangnya tempat itu sangat ramai dan pemuda itu tidak bisa terlihat lagi. Padahal Eva ingin menanyakan sesuatu pada nya. Eva bahkan berpikir adiknya juga bereinkarnasi ke dunia ini dan menjadi tokoh lain yang tidak ada di dalam novel.