Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 7 Pindah


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Eva menghubungi Duke melalui bola kristal dan mereka membicarakan banyak hal. Termasuk pembatalan pertunangan. Lalu membicarakan hal lainnya juga.


Ternyata ada alasan spesifik kenapa Duke kembali ke mansion utama dan mengikat kerjasama dengan Menara Sihir. Itu semua karena hubungan nya dan Raja sedang memburuk.


***


Eva tidak tahu apa yang terjadi antara Raja dan Duke. Dia hanya mendengar isu tentang pembatalan pertunangan. Dia tidak pernah tahu bahwa hubungan keduanya sedang memburuk dan sekarang Duke ingin membuat hubungan kerjasama dengan Menara Sihir.


Setelah pembicaraan selesai, dia menutup matanya dan tidur dengan nyaman.


Keesokan harinya, setelah menyelesaikan sarapan aku pergi menemui Vivian. Aku mencarinya di asrama tapi gadis itu tidak ada. Aku pun mencari nya di ibukota.


Vivian pernah memberitahu ku bahwa dia membeli gedung baru yang digunakan sebgaai kantor untuk nya bekerja. Lagipula bisnis penjualan robot itu sudah semakin besar dan meluas. Ditambah dengan bisnis restauran nya. Dia juga sudah membuka beberapa cabang toko. Jadi dia memutuskan untuk menambah beberapa tenaga kerja yang membantunya mengurus administrasi dan juga membuka kantor baru.


Ini pertama kalinya aku melihat gedung kantor di dunia ini. Penampilan luar gedung ini sama seperti gedung bertingkat di ibukota. Tidak ada tanda istimewa apapun yang membedakan gedung ini dari gedung lainnya.


Saat masuk ke dalam, suasananya sangat berbeda. Ruangan aula yang sangat luas di lantai satu dengan satu orang resepsionis di sana.


"Selamat datang" Resepsionis wanita itu berkata dengan senyum ramah. Tidak ada aturan khusus untuk seragam kantor. Mereka menggunakan pakaian seadanya. Dan wanita ini menggunakan gaun biasa seperti wanita lainnya di ibukota.


"Apa Vivian ada?"


"Nona Vivian ada di lantai dua" katanya. Kelihatannya dia mengenali Eva dan langsung mengizinkan nya masuk. Vivian mengajari para karyawan nya dengan sangat baik. Terutama untuk mengenali wajah orang-orang penting dan bersikap ramah pada mereka.


Aku langsung menuju ke lantai dua. Di sana aku bisa melihat lorong panjang dengan setiap ruangan disisi nya. Aku tidak tahu ruangan-ruangan itu adalah ruangan apa.


Kebetulan dua orang karyawan lainnya keluar dari salah satu ruangan dan kami berpapasan. Aku pun bertanya di mana ruangan Vivian dan mereka menjawab dengan mudah. Mereka bahkan tersenyum ramah seperti mereka mengenalku dengan dekat. Padahal aku tidak mengenal mereka dengan baik. Vivian mungkin sudah memberikan identitas ku kepada mereka karena itulah mereka sangat bersahabat.


Ruangan Vivian berada di ujung lorong. Ruangan itu memiliki dinding kaca di sisi kirinya sehingga aku bisa melihat meja dan kursi di dalamnya.

__ADS_1


Saat aku masuk, Vivian yang fokus dengan dokumen di depannya langsung menoleh ke arahku dengan mata mengerjap kaget.


"Kau tidak bilang kalau ingin kemari?" kata Vivian bingung.


"Em kejutan!" kataku bahagia. Tapi aku langsung terdiam karena aku merasa Vivian tidak menyambut kedatangan ku sama sekali.


Saat ini dia memasang wajah bingung dan ragu. Dia berusaha tersenyum yang membuat nya tampak lebih mengerikan.


"Ada masalah?" aku bertanya.


Haa~ Vivian menghela napas.


"Aku berharap bisa merahasiakan nya darimu. Tapi ternyata tidak" kata Vivian kemudian.


Aku mengerutkan keningku. "Apa yang terjadi?"


"Ada banyak masalah akhir-akhir ini..." kata Vivian sedih. "Aku tidak tahu kenapa ini terjadi. Padahal sebelumnya pihak kerajaan sangat bersahabat dengan bisnis robot ini. Tapi tiba-tiba mereka meminta hak milik" kata Vivian pasrah.


"Kenapa bisa terjadi? Mereka sangat bersahabat sebelumnya?" aku bergumam bingung.


Vivian menggeleng pasrah. "Aku tidak tahu. Beberapa hari yang lalu utusan istana tiba-tiba datang dan meminta hak kepemilikan toko itu. Mereka mengatakan bahwa kita harus menyerahkannya atau mereka akan melarang kita untuk membuka toko di ibukota."


Aku mengerjap tak percaya. Aku sudah memberitahu Denis sebelum nya bahwa ini bukan milikku bukan? Bukan aku yang menciptakan robot-robot itu. Dan Denis menerimanya dengan senang hati. Walaupun aku yakin masalah ini tidak terkait dengan Denis, tetap saja dia seharusnya tahu bukan ?


"Aku akan berbicara dengan Denis. Semuanya baik-baik saja sebelumnya. Kenapa jadi seperti ini? Kenapa orang-orang itu menjadi serakah?" kataku marah.


"Tidak, tidak. Yang mulia tidak ada masalah nya dengan hal ini." Vivian dengan cepat menghentikanku. "Aku yakin itu keinginan para bangsawan. Mereka melihat bahwa bisnis ini berkembang ke seluruh dunia. Jadi mereka menginginkan nya" kata Vivian sedih.


Mendengar perkataan nya, aku menangkap suatu fakta. "Apa utusan kerajaan itu Marquis Zent?"


Wajah Vivian langsung memucat dan dia mengangguk kecil.

__ADS_1


"Jadi ini benar-benar keputusan para bangsawan dari faksi kerajaan! Walaupun Denis tidak terlibat, Raja tetap saja terlibat. Karena orang itu yang mengambil keputusan akhir. Marquis Zent berani melakukan semua itu juga karena raja menyetujuinya!" kataku kesal.


"...."


Vivian tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya.


"Jadi apa lagi yang mereka inginkan? Apa mereka benar-benar akan melarang kita untuk mendirikan toko disini?" aku bertanya lagi.


Vivian mengangguk. "Lebih tepatnya di negara ini. Mereka memberi kita waktu seminggu untuk berpikir. Mereka berkata kita tidak akan rugi walaupun mereka mengambil hak kepemilikan. Karena keuntungan akan dibagi masing-masing 50%. Mereka juga berkata ini adalah kewajiban kita sebagai rakyat untuk membantu kerajaan menjadi berkembang lebih baik" lanjutnya.


Apa-apaan! Mereka benar-benar licik. Walaupun aku lahir di kerajaan ini sejak kapan aku ingin menyerahkan semuanya untuk kerajaan. Mungkin tidak apa-apa kalau itu benar-benar bisnis milikku. Tapi semuanya sejak awal adalah milik Ren dan aku hanya memasarkan nya karena ingin membuat uang.


"Aku tidak bisa menyerahkan hak miliknya" kataku pasrah. "Kalau mereka memang mengusir kita, tutup saja. Aku akan mencari alternatif lain untuk tempat nya" kataku kemudian.


Tidak mungkin aku menghentikan penjualan hanya karena kerajaan Well menentang kita berjualan. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kejadian ini akan terjadi. Bukankah Denis bahkan sudah datang sendiri kesini untuk bekerja sama? Bagaimana mereka bisa tiba-tiba memikirkan inisiatif jelek seperti itu?


"Bagaimana dengan Denis? Apa dia tahu semua ini?"


Vivian menggeleng. "Tidak tahu. Tapi aku yakin yang mulia tidak tahu berita ini karena dia sedang tidak ada di ibukota sekarang"


"Misi lagi?"


"Ya"


"jadi begitu. Denis mungkin benar-benar tidak terlibat."


Sekarang aku harus memutuskan tempat baru untuk membuka toko. Aku memikirkan Kerajaan elf gelap sebagai pilihan pertama. Tapi setelah dipikir-pikir itu tidak mungkin. Desa elf sangat tertutup. Para pendagang itu tidak bisa keluar masuk dengan bebas. Walaupun Ren membantuku untuk membuat kebijakan baru, elf lainnya tidak akan setuju. Aku akan menyusahkan Ren karena hal ini.


Alternatif kedua adalah kerajaan Kano. Tapi aku tidak yakin. Aku perlu membicarakan hal ini lebih dulu dengan Sayn. Lagipula kekuatan Sayn di kerajaan Kano tidak terlalu berpengaruh. Aku takut kejadian yang sama akan terulang lagi. Raja Kano ingin meminta hak milik.


Alternatif ketiga adalah Menara Sihir. Tapi Menara sihir bukan Sebuah kerajaan, itu adalah organisasi. Dan tempat itu sangat tertutup, sama seperti desa elf. Mereka hanya mengizinkan anggota mereka untuk masuk ek dalam.

__ADS_1


Aku benar-benar pusing sekarang. Aku harus mencari tempat baru yang cocok. Seandainya toko online sudah ada di zaman ini....


__ADS_2