
Cerita sebelumnya:
Mereka melintasi rawa. Tapi setelah sekian lama melewati rawa, mereka tidak menemukan jalan keluar sama sekali.
Robert merasa ada yang aneh dan mengeceknya.
Charlotte dan Eva ditinggal di belakang, untuk menunggu sampai tim Robert kembali.
Charlotte pergi sebentar entah kemana. Eva memgecek sesuatu mencurigakan yang mengganggunya dan itu hanyalah telur burung dengan cangkang emas.
Saat Robert kembali, dia mengatakan bahwa mereka terjebak dalam sebuah segel, sehingga mereka tidak akan bisa melihat jalan keluar.
***
"Apa kau yakin kita benar-benar terjebak?" tanya Charlotte tidak yakin.
"Ya." jawab Hans langsung.
"Kami hanya berjalan ke depan, dan kembali ke tempat ini setelah beberapa menit" sambung Jean. "Kami tidak melakukan apapun. Pantas saja perjalanan kita tidak berkembang sama sekali. Ternyata kita terjebak."
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Mencari sumber sihirnya?" tanyaku bingung.
"Ya. Kita harus mencari lingkaran sihirnya." jelas Robert. "Mereka memasang penghalang, kita perlu menemukan penghalang itu dan menghancurkan nya."
"Apa kalian melihat sesuatu yang aneh saat kita melintasi tempat ini? Seperti lingkaran sihir dan sejenisnya?" tanya Robert.
Aku tidak melihat apa pun selain telur emas itu. Aku yakin telur emas itu hanyalah telur dari binatang sihir. Tidak mungkin ada hubungannya dengan formasi sihir yang menjebak kita.
"Apa kita perlu berpisah menjadi beberapa kelompok dan menyebar? Dengan begitu pencarian kita akan lebih cepat" kataku menyarankan.
"Terlalu berbahaya kalau kita menyebar Sekarang karena kita dikelilingi banyak sekali musuh yang tidak diketahui" Charlotte langsung menyangkal saranku. "Lebih baik kita mencari petunjuk yang lebih spesifik. Lagipula kita bisa menggunakan alat sihir untuk menemukan lingkaran sihir yang menjebak kita"
Charlotte mengeluarkan sebuah ranting putih kecil. "Guruku memberikan ini padaku. Aku bisa mencari jejak sihir dengan alat ini. Dan ini menjadi lebih mudah karena aku memiliki elemen bumi. Tapi kekurangan nya aku hanya bisa mendeteksi kalau lingkaran sihir itu berada di daratan. Daerah perairan dan langit berada di luar jangkauan ku" jelas Charlotte.
Kami semua hanya mengangguk setuju. Setidaknya pencarian kita akan lebih mudah dengan alat ini.
Charlotte menggunakan mananya dan menerbangkan ranting kecil itu ke udara. Ranting itu bersinar dan BUM! Jatuh ke darat dengan suara dentuman keras. Lalu menancap sampai setengah tubuh ranting itu terbenam ke tanah.
"Leir~" gumam Charlotte.
Cahaya ranting itu mulai menyebar dan beresonansi ke seluruh area.
Charlotte menutup matanya selama beberapa detik, lalu dia membukanya.
"Aku menemukan jejak sihir aneh disana" katanya sambil menunjuk ke arah depan.
"Ikut aku"
Kami semua megikutinya tanpa perlawanan.
Setelah beberapa menit berjalan ke depan, kami akhirnya berhenti.
__ADS_1
"Disini" Charlotte menunjuk ke arah pepohonan. "Aku melihat petunjuk ke arah ini. Ada elemental sihir yang berbeda. Tapi aku tidak menemukan tempat spesifiknya. Kita harus mencari di sekitar ini"
Aku menyipit, melihat daerah yang ditunjuk Charlotte. Ini adalah daerah yang aku lewati sebelumnya! Daerah yang kulewati saat aku melihat telur emas itu!
Aku ingat menemukan pohon aneh di sekitar ini. Apa jangan-jangan pohon aneh itu adalah sumbernya?
Kami pun berpencar dan mulai mencari lingkaran sihir.
Aku segera mengingat dimana aku menemukan pohon aneh itu dan melihat sekeliling.
Akhirnya, aku menemukan pohon aneh itu!
Pohon itu memang agak aneh untuk ku karena berbeda dari pohon lainnya.
Pohon itu kehilangan banyak daun dan batangnya berwarna hijau tua. Sangat berbeda dari semua pohon yang ada disini.
Aku mendekat dan memeriksa pohon itu. Tapo aku sama sekali tidak menemukan lingkaran sihir setelah mengamati seluruh pohon. Tapi kenapa aku merasa pohon ini sangat aneh.
Aku tidak menyerah dan berusaha mengamati pohon ini lebih detail.
"Apa yang kau lakukan?"
Robert tiba-tiba datang menghampiri ku.
"Mengamati pohon yang mencurigakan" jawabku sambil tetap mengamati.
"Pohon ini memang mengeluarkan aura aneh" respon Robert sambil mengerutkan keningnya.
Ehhh?!
"Kenapa kau menghancurkan pohon itu?" tanyaku panik. "Bagaimana kalau kita kehilangan petunjuk karena kau menghancurkan pohonnya?"
"Lihat" Robert memberikan arahan dengan wajah santai.
Aku melihat ke arah yang ditunjuk Robert. Saat pohon itu dihancurkan menjadi abu, sebuah lekuk aneh terlihat membekas di tanah.
Ah! Lingkaran sihir!
Ternyata lingkaran sihir ini berada di bawah pohon. Dan baru bisa terlihat dengan jelas saat pohonnya dihilangkan.
Robert mendekati lingkaran sihir itu dan menyentuh nya.
"Ini buruk" gumamnya sambil menarik tangannya kembali.
"Ini lingkaran sihir khusus elemen kegelapan" kata Robert sambil menatap Eva penuh arti.
"Eh?"
"Apa maksud mu sihir gelap?" sebuah suara dingin tiba-tiba terdengar.
Kami menoleh dan melihat Charlotte menatap kami dengan wajah dingin.
__ADS_1
Kelihatannya Charlotte sangat membenci "elemen gelap" dan amarahnya benar-benar saat dia mendengar kata itu.
Charlotte tiba-tiba menatapku dengan tatapan benci. Robert juga mengalihkan tatapannya padaku.
Eh? Aku tidak bersalah disini oke?
Aku sama sekali tidak melakukan apapun. Kenapa mereka menatapku dengan curiga seperti itu? Hanya karena aku penyihir gelap dan aku yang menemukan tempat ini, bukan berarti aku pelakunya oke?
Aku hanya membalas mereka dengan tatapan polos.
Charlotte mengatur ekspresi wajahnya dan kembali tenang.
"Maksudnya kalian menemukan elemen gelap?"
Robert mengangguk.
"Kami menemukan lingkaran sihir yang membuat kita terjebak." jawab Robert sambil menunjuk lingkaran sihir itu.
Charlotte segera mendekat dan mengamati lingkaran sihir. Lalu dia berbalik menatap Eva dengan tatapan curiga.
"Apa kau ada hubungannya dengan ini?" tanyanya dengan nada penuh selidik.
Charlotte merasa curiga karena Eva sebelumnya berpergian sendiri di tempat ini, sama seperti dirinya.
"Eh? Aku tidak tahu apa pun tentang hal ini. Sebelumnya aku melihat cahaya emas dan tertarik untuk menyelidikinya. Ternyata itu hanyalah telur dari binatang sihir. Aku juga melihat pohon ini dan merasa aneh. Tapi aku benar-benar tidak tahu ini sumbernya" aku berusaha menjelaskan nya pada mereka.
"..." Charlotte tidak merespon sampai akhirnya dia membuka mulutnya.
"Ini mencurigakan karena hanya kau yang berhubungan dengan penyihir gelap disini. Tidak mungkin para penatua sihir yang meletakkan lingkaran sihir ini karena sihir gelap sangat dilarang. Pasti penyusup atau penyihir gelap yang tersembunyi"
Dia menatap Eva "Aku percaya padamu. Orang ini menargetkan tim kita. Tidak mungkin dirimu yang melakukannya. Tapi kenapa mereka menargetkan tim kita seperti ini?" Walaupun kebencian Charlotte dengan penyihir gelap cukup besar, dia tetap menggunakan logikanya.
"Walaupun kita bukan satu tim, aku tetap tidak akan pernah melakukan hal seperti itu kepada tim lawan" balasku cemberut.
"Kita tidak bisa membatalkan lingkaran sihir ini karena kita tidak memiliki elemen gelap" Robert menyela. "Bisa kah kau melakukan nya?" dia menatap Eva. "Lingkaran sihir ini tidak terlalu rumit, kelihatannya dibuat oleh penyihir pemula"
"Aku akan mencoba..."
Aku menyentuh lingkaran sihir ini. Sebenarnya menghancurkan lingkaran sihir sangat mudah. Kita hanya harus mengacaukan sirkuitnya dengan elemen yang sama.
Benar sekali, lingkaran sihir ini tidak rumit. Hanya saja elemen gelap sangat langka, sehingga membuat lingkaran sihir ini sulit dihancurkan. Pelaku yang membuat lingkaran sihir ini tidak tahu bahwa ada penyihir gelap di kelompok kami.
Aku menyalurkan sihirku. Lingkaran sihir itu mengeluarkan cahaya secara tiba-tiba sebelum akhirnya secara perlahan cahaya itu memudar.
Dan TRANG! Kami mendengar suara dan juga penghalang di sekeliling kami pecah seperti serpihan kaca.
Ternyata kami selama ini dikelilingi pelindung yang terlihat seperti kaca yang berwarna gelap. Itulah sebabnya rawa ini kelihatan begitu gelap. Saat penghalang itu hancur, sedikit cahaya mulai masuk ke dalam rasa. Walaupun rawa ini masih kelihatan gelap, tapi tidak segelap sebelumnya. Sekarang kami bisa melihat pemandangan yang ada disekitar kami tanpa perlu menggunakan bola-bola api.
"Ayo kita panggil dua orang itu dan lanjutkan perjalanan" kata Robert.
Kami hanya merespon dengan menganggukan kepala kami.
__ADS_1