
Cerita sebelumnya:
Tempat tujuan terakhir mereka adalah Rumah Fram. Mereka menemukan rumah itu dengan bantuan hidung Rexus. Fram ternyata adalah seorang Bangsawan elf. Berita ini cukup mengejutkan untuk Eva. Dia tidak menyangka bahwa Fram adalah anak seorang perdana menteri.
Fram sebenarnya tidak menginginkan warisan itu. Dia melarikan diri dari rumah karena terdesak dengan warisannya. Dia ingin menjadi seorang petualang.
Tanpa sadar Eva memberi Fram ide aneh, yaitu pura-pura mati untuk menghindari hak waris. Dan Fram benar-benar melakukan ide bodoh itu, membuat Ren menjadi sangat pusing.
***
Sudah tiga hari kami berada di istana Elf. Diana juga sudah menghabiskan waktunya bersama Emerta setiap hari. Akhirnya di hari keempat Diana memutuskan untuk kembali. Dia tidak bisa tinggal lebih lama karena Evan sangat rentan.
Tapi aku dan Rexus akan tinggal lebih lama karena kami memiliki tujuan lainnya yaitu menemui Naga tua itu.
Hari ini adalah hari perpisahan. Aku, Emerta, Ren, Diana, Rexus, Fram menatap Diana yang berdiri di lingkaran sihir bersama Evan.
"Eva, jangan bertindak ceroboh disini" Diana memperingati nya.
"Em" aku mengangguk patuh. Aku akan bertindak dengan hati-hati.
"Ibu, sampai nanti" Diana menatap Emerta dengan mata melankolis.
Emerta langsung memeluk nya. Ini adalah pelukan terakhir mereka sebelum Emerta berkunjung. "Jaga dirimu dan hati-hati" Emerta menepuk lembut bahu putrinya. Lalu dia melepas pelukannya.
"Tentu saja. Ibu juga. Jaga dirimu dan hati-hati" kata Diana.
"Fram dan Rexus, aku akan menunggu kalian kembali" kata Diana sambil tersenyum.
Fram dan Rexus mengangguk kecil.
Ren menuangkan setetes darahnya pada lingkaran sihir. Sebuah cahaya menyilaukan muncul dari lingkaran sihir menyelimuti seluruh tubuh Diana.
"Ren, jaga mereka" ini adalah perkataan terakhir Diana sebelum akhirnya sosok itu menghilang.
"Tentu saja" Ren menjawab. Tapi Diana sudah tidak ada di sana.
Hari ini kami akan bertemu dengan naga tua itu. Ren sudah memberikan kami izin. Tapi dia tidak bisa ikut karena dia harus membereskan beberapa hal di istana, termasuk konflik antar elf yang terjadi akhir-akhir ini. Jadi Fram yang akan mengantar kami.
"Berikan ini pada Damian. Dia tidak akan menyerang kalian jika dia melihat nya" Ren memberikan sebuah bola kristal hijau sebesar kelereng padaku.
"Siapa itu Damian?"
"Sang naga"
"Oh"
Aku mengangguk mengerti dan meletakkan bola kristal itu dengan hati-hati ke dalam saku bajuku.
Akhirnya kami pun memulai perjalanan kami.
"Apakah tempat nya jauh?" aku bertanya pada Fram dengan tatapan penasaran.
"Cukup jauh" Fram menjawab tidak yakin. "Mungkin kalau kita terbang akan jauh lebih dekat" jawabnya lagi setelah berpikir sebentar.
Kami pun menggunakan sihir terbang saat sudah menginjakkan kaki kami keluar istana. Aku merasa sangat aneh saat melihat desa elf dari atas. Karena setelah keluar dari penghalang, aku tidak melihat apapun di bawah. Hanya ada rimbunan pepohonan karena tempat ini memang hutan. Seakan-akan penghalang menutupi seluruh desa. Hal ini mengingatkan ku pada rumah pohon Ren.
__ADS_1
Kami pun melintasi hutan besar itu dengan sihir terbang. Aku menikmati melihat pemandangan di bawah kami.
"Apa tidak ada binatang sihir di hutan ini?" aku bertanya pada Fram.
"Tentu saja ada. Itulah sebabnya tempat tinggal elf sangat sulit dijangkau oleh orang biasa. karena perjalanan menuju kemari itu sangat sulit. Kau perlu melewati beberapa hewan kuat. Belum lagi para penjahat jalanan" Fram menjelaskan dengan nada mengeluh. Seakan-akan dia pernah memiliki pengalaman seperti ini sebelumnya.
Aku yakin dia pasti mengalami hal seperti itu saat melarikan diri.
"Karena kita masih punya banyak waktu. Aku akan menunjukkan sesuatu yang menarik padamu" kata Fram tiba-tiba. Dengan bersemangat dia terbang lebih tinggi.
Aku mengikuti nya. Tapi Rexus yang berada di dalam tas rotan mengeluh. "Ini sangat menganggu" dia mengutuk karena tasnya bergoyang terkena tekanan angin.
Aku mengabaikan nya dan terus mengikuti Fram. Kami terbang cukup ini. Ini adalah pertama kalinya aku terbang setinggi ini. Jujur saja hal ini menghabiskan banyak mana. Itu tidak masalat untukku. Tapi untuk penyihir normal, mereka tidak akan bisa melakukan nya.
Aku melihat Fram. Aku sedikit kagum padanya. Ternyata bocah kecil itu cukup kuat dan terampil. Hasil pelatihan seratus tahun hidup nya tidak sia-sia ternyata. Aku tidak bisa membayangkan betapa kuatnya Ren yamg sudah mengalami pelatihan selama ribuan tahun.
Dari hal ini aku sadar, bahwa kekuatan ras elf benar-benar di atas manusia. Umur panjang mereka adalah faktor yang sangat menentukan. Mereka bisa berlatih lebih lama dan memupuk kekuatan mereka. Jujur saja, aku sedikit iri dengan hal itu. Andai saja aku punya waktu panjang untuk berlatih.
Tapi dewa itu sangat adil. Walaupun mereka berumur panjang, mereka sangat susah mendapatkan keturunan. Sehingga mereka kesulitan memperbanyak ras mereka. Karena itulah elf muda seperti Fram sangat dihargai di tempat ini.
Fram pun berhenti setelah dia merasakan titik yang cocok.
"Lihat disana" Fram menunjuk ke bawah.
Jarak pandang ku menjadi lebih luas setelah terbang lebih tinggi. Tapi aku tidak mengerti apa yang ingin Fram tunjukkan padaku.
"Apa ? Aku tidak melihat apapun" jawabku cemberut.
"Lihat garis kuning di sana" Kata Fram lagi.
"Garis kuning itu membatasi wilayah ras elf" Fram menatap ku dengan ekspresi polos. "Garis kuning itu terbentuk karena mereka mewarnai pohonnya menjadi kuning. Aku pikir bagian ini terdengar sangat lucu. Tapi mengetahui perbatasan di hutan elf itu penting" dia menghela napas sebelum menjelaskan lagi. "Hanya ada dua ras yang memiliki wilayah besar di hutan ini. Mereka ada ras elf gelap dan cahaya. Sisi kiri adalah wilayah elf gelap. Sisi kanan adalah wilayah elf cahaya" dia menunjukkan lokasi nya.
Aku mengangguk mengerti.
"Jangan tersesat di masa depan oke"
"Tidak akan"
"Lalu di ujung hutan. Tepat di perbatasan antara wilayah elf gelap dan cahaya, ada sebuah gua besar. Itu adalah tempat tinggal sang naga" Fram menambah kan.
Aku mengangguk mengerti. Kalau begitu sangat wajar kalau naga itu marah saat ada konflik antara dua ras elf. Dia tinggal tepat di perbatasan wilayah mereka.
"Baiklah, selesai. Ayo kita lanjutkan perjalanan kita ke depan" Fram menambahkan.
Dia memandu kami. Aku merasa aneh saat melihat punggung kecil Fram yang memandu kami. Seakan-akan aku menggantungkan diriku pada bocah enam tahun bukan elf berumur seratus tahun.
Perjalanan itu hanya menghabiskan waktu lima belas menit sebelum akhirnya tiba di tempat tujuan.
Tidak ada satu pun dari kami yang kelelahan setelah menggunakan sihir terbang cukup lama. Fram cukup luar biasa. Aku jadi penasaran, seberapa kuat elf kecil ini. Aku belum pernah melihat kekuatannya sama sekali.
Gua besar di depan kami sangat mencolok. Bahkan bagian depan guanya didekorasi dengan kristal, membuat nya terlihat mewah. Aku berpikir bahwa naga tua ini sangat menyukai benda yang berkilau.
Kami pun masuk. Saat kami masuk, karpet rumput alami menyambut kami. Rumput-rumput ini terlihat sangat lembut. Tidak ada rumput yang terlalu panjang seakan-akan rumput-rumput ini dirawat setiap hari dengan baik
Dindingnya gua bahkan memiliki ornamen. Apa naga tua ini menyukai karya seni? Aku juga bisa melihat lampu sihir yang berjejer rapi di dinding gua.
__ADS_1
Kami terus masuk sampai akhirnya aku bisa melihat dengan jelas sang naga. Naga itu sangat besar. Hampir setinggi istana. Badannya meringkuk seperti kucing sekarang dan matanya tertutup. Ya, dia sedang tertidur dengan nyenyak dalam bantalan rumput bercahaya di bawahnya.
"Damian..." Fram tiba-tiba berseru.
Rexus melompat keluar dari tas rotan dengan antusias.
Sang naga juga membuka kelopak matanya secara perlahan.
***
Ren sangat sibuk dengan pekerjaan nya. Sejak dia kembali dia harus mendengar setumpuk masalah yang membuat nya pusing.
Sebenarnya Ren tidak ingin berpikir terlalu rumit. Dia hanya ingin menghancurkan semua sumber masalah nya. Tapi kalau dia melakukan itu bukankah dia benar-benar akan di cap sebagai raja jahat ?
Ren sudah membunuh banyak orang. Tapi bukan berarti dia haus darah. Dia hanya membunuh orang-orang yang ingin dia bunuh. Dia tidak ingin membunuh semua orang. Termasuk rasnya sendiri.
Akhir-akhir ini konflik antar ras elf semakin melonjak. Semua itu terjadi karena wilayah. Pihak lain menginginkan wilayah lebih besar dan menyatakan perang dengan ras lainnya.
Ras yang menjadi korban pertama adalah elf daun. Ras itu tidak bisa berkelahi dan selalu cinta damai. Tapi sekarang ras cinta damai itu bergabung dengan elf cahaya.
Ren tidak tahu bagaimana Elf Cahaya mengakusisi wilayah elf daun tanpa menghilangkan satu nyawa pun. Seolah-olah mereka adalah elf yang baik hati. Tapi mereka memang baik.
Lalu, akhirnya terjadilah konflik yang paling ditakutkan. Elf gelap dan elf cahaya mulai berkelahi satu sama lain saat mereka bertemu. Seakan-akan mereka adalah musuh bebuyutan.
Ren bahkan mendengar beberapa dari mereka terluka. Sehingga pihak lain menuntut pertanggungjawaban.
"Kalian melukai teman kami" itulah balasan dari raja elf cahaya, Vien, saat dia mendapatkan sinyal telepati dari Ren.
Vien seumuran dengan Ren. Mereka adalah rival sewaktu kecil. Tapi sayang nya nasib mereka sedikit berbeda, walaupun keduanya adalah raja. Ya, Vien sudah menikah dan memiliki putri yang sangat cantik. Hal itu membangkitkan rasa iri di hati Ren.
"Kalian juga melukai kaum kami" Ren membalas dengan dingin.
Sebenarnya mereka saling melukai. Tidak ada yang bisa disalah kan disini. Hanya saja tidak ada yang mau mengalah.
Vien menutut kompensasi. Ren juga menuntut kompensasi. Hal itu terus berlanjut karena tidak ada yang mau mengalah. Hingga akhirnya saling memutus telepati masing-masing.
"Apa kita akan berperang Yang Mulia?" tanya Drian antusias. Sebagian besar elf gelap sangat gila akan perkelahian. Hidup damai tidak cocok untuk mereka. Drian sudah lama menahan tangannya yang gatal untuk terjun ke dalam peperangan.
"Tidak. Kita akan menunggu sebentar lagi" Ya, Ren akan menunggu respon Vien. Kalau mereka tidak menemukan kesepakatan apapun, Ren akan menyatakan perang. Dia ingin konflik ini cepat selesai agar dia bisa melanjutkan penelitian nya yang berharga. Lagipula bagi Ren, tidak sulit untuk membunuh Vien. Tapi sangat disayangkan harus membunuh orang baik seperti itu.
Beberapa jam berlalu, Ren masih sibuk dengan beberapa dokumen penyelesaian konflik yang terjadi. Tapi dia tiba-tiba mendapat kan kabar yang mengejutkan dari Vien.
"Orang-orangmu sudah melukai putriku" suara Vien sangat dingin seperti es.
Ren membeku. Dia tidak menyangka akan ada orang yang berani melukai putri Vien. Walaupun mereka berkonflik, hal itu tidak mungkin.
"Siapa yang berani melakukan nya?" tanya Ren lagi.
"Seorang gadis manusia dan elf kecil" entah mengapa saat mengatakan ini, nada suara Vien sedikit mengejek.
Ren tersentak. Dia mengenali mereka. Mereka adalah Eva dan Fram yang baru saja meninggal kan istana beberapa jam yang lalu. Mereka baru saja pergi sebentar, tapi bagaimana mereka sudah membuat masalah seperti ini?
Ren memegangi kepalanya yang pusing.
"Jadi kompensasi apa yang kau ingin kan?" Ren menyerah. Tapi kalau Vien menginginkan hal yang tidak masuk akal seperti wilayah atau tahtanya, dia akan menyatakan perang kepada elf cahaya tanpa keraguan.
__ADS_1
"Pernikahan..." Vien menjawab dengan nada lirih. "Pernikahan putriku..."