
Cerita sebelumnya:
Persiapan eksekusi pun dilakukan. Aula balai kota yang menjadi tempat eksekusi dipenuhi banyak orang. Dan saat Diana muncul, semua orang mulai melempari nya dengan sampah. Diana akan dihukum mati dengan racun. Denis memilih metode ini karena dia masih berbaik hati pada Diana untuk membantu tubuhnya tetap utuh.
***
Dari atas, Eva bisa melihat sekumpulan manusia di tengah hutan. Mereka mendirikan tenda kecil dan ada banyak sekali orang dengan armor yang mengelilingi tempat itu.
Eva merasa armor dari prajurit itu sangat familiar. Itu adalah pasukan ayahnya! Jadi dia berpikir bahwa mereka adalah pasukan Duke yang akan menuju ke ibukota. Dan jumlah mereka cukup banyak.
Eva dengan bersemangat memberitahu Emerta untuk turun. Dan bahwa Duke ada di sana.
Jadi ketiga orang itu pun turun di tengah-tengah perkemahan dan menjadi pusat perhatian.
"Dimana ayah?" tanya Eva tanpa basa-basi. Dia berpikir Duke ada di salah satu tenda.
Tapi tidak ada yang menjawabnya sehingga Eva sedikit bingung.
'Mungkin Duke tidak ada disini' Eva berpikir.
"Aku ingin menemui jendral kalian" katanya Lagi. Tapi tidak ada yang merespon. Sehingga Eva sangat bingung. Seharusnya para prajurit ini mengenali identitasnya. Tapi kenapa merek mengabaikan nya?
"Halo, putri" tiba-tiba suara yang familiar terdengar.
"Armin!" Itu adalah salah satu jendral kepercayaan ayahnya. Pria itu selalu berperang di sisi ayahnya dan menjadi tangan kanan kepercayaan Duke.
__ADS_1
Eva langsung menghampiri Armin dan memeluknya. "Apa kalian ke ibukota karena ingin menyelamatkan ayah? Ayah tidak ada disini?" tanya Eva bertubi-tubi.
Armin tersenyum. "Kami memang akan menuju ke ibukota" katanya. Lalu perlahan dia meletakkan pisau di leher Eva. "Tapi bukan misi penyelamatan"
Eva kaget. Emerta bersiap untuk menyerang, tapi Armin mendekatkan pisau di tangannya ke leher Eva. Dan bahkan menggorea sedikit kulit gadis kecil itu. "Kalau kau menyerang, dia mati" ancamannya.
Lalu ribuan prajurit mengelilingi Emerta dan Erick sambil mengacungkan pedang mereka.
Melihat situasi nya, Eva mengerti. Dia tahu bahwa tidak semua orang akan menyukai keluarganya setelah identitas asli mereka terbongkar. Beberapa dari mereka yang dulunya terasa akrab, bisa menjadi musuh dalam sekejap.
"Kenapa?" tanya Eva sambil melirik semua orang. "Aku tidak tahu kenapa kau ingin menyerang kami. Kami melakukannya sesuatu yang salah pada kalian? Ayahku bahkan menganggap kalian sebagai orang kepercayaannya"
Armin menghela napas. "Tidak ada alasan" dia mengaktifkan alat sihir untuk menyegel mana. Dia tahu bahwa tiga orang ini penyihir jadi dia harus menonaktifkan mereka terlebih dahulu.
"Aku hanya ingin hidup nyaman dan tidak ingin terlibat masalah" Armin membayangkan kalau dia berhasil membawa Eva di ibukota. Raja mungkin akan memberikan nya penghargaan. Dan mungkin jabatannya akan naik. Dia sangat mengidamkan posisi jendral besar.
Eva menatap semua orang dan menghela napas. Dia tahu dia tidak bisa menyalahkan orang-orang ini. Bagaimanapun mereka adalah prajurit. Tugas mereka adalah melindungi tanah air mereka.
Eva mengangkat kaki kanan nya dan BAM! Retakan besar terbentuk.
Armin kaget. Dan dia tersungkur ke belakang karena getaran itu. Lalu dia menatap Eva tak percaya. Dia sudah mengaktifkan segelnya, bagaimana bisa dia menggunakan sihir dengan mudah?
Armin tidak tahu bahwa segel sihir hanya efektif melawan penyihir biasa. Untuk penyihir yang mempunyai banyak sekali mana penyimpanan dalam tubuh meeeka, hal itu tidak berguna sama sekali. Terkecuali, mana simpanan dalam tubuh mereka menghilang dan mereka kelelahan.
"Serang!" Armin berteriak. Dan semua prajurit mulai menyerang mereka.
__ADS_1
"Jangan bunuh mereka" kata Eva. Dia mengingatkan neneknya untuk tidak membunuh sembarangan. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa dilukai.
SAT! Sihir aneh seperti tebasan pedang keluar dari jari Emerta, mengenai tanah di bawah sekelompok prajurit dan menyebabkan retakan besar lainnya.
Emerta berusaha untuk tidak membiarkan sedangkan terkena langsung ke tubuh para prajurit, karena mereka bisa mati di tempat. Dan dia mengarahkan nya ke tanah di bawah kaki mereka. Dan hal itu pun cukup membuat mereka kewalahan. Beberapa prajurit mengalami patah tulang.
Pangeran Erick duduk bersila sambil menyandarkan dagunya. Dia mengeluarkan bola api dari jarinya dan menembak para prajurit satu per satu. Dia merasa sangat malas, karena para prajurit ini seperti semut di matanya. Walaupun mereka sangat banyak.
Ya, mereka sangat banyak. Tiga orang itu tidak bisa menyerang mereka tanpa membunuh. Hal itu akan memakan banyak waktu sementara mereka harus menuju ke ibukota sekarang.
Eva mengeluarkan sihir anginnya. Dia membuat sepuluh badai kecil yang memporak-porandakan perkemahan.
Lalu dia mengajak Emerta dan Erick untuk kembali terbang. "Kita tidak bisa membuang waktu disini"
Emerta mengangguk. Tapi dia menoleh dan memicingkan mata. "Aku setuju tidak akan membunuh semua orang tapi satu orang ahri mati"
"Um?" Eva menatap Emerta, tidak mengerti.
SLASH! Emerta mengayunkan tangannya dan tebasan angin kecil menuju ke arah Armin yang sedang berteriak untuk mengarah kam prajurit.
Tebasan itu mengenai nya. Armin membeku sesaat sebelum tubuhnya terbelah menjadi dua dan jatuh ke tanah.
Suasana menjadi hening. Para prajurit juga membeku karena jendral mereka dibunuh.
"Nenek..."
__ADS_1
Emerta kembali menggendong Eva sambil menepuk kepalanya. Dia merasa bersalah sekarang. Mungkin pembunuhan seperti itu terlalu berlebihan untuk anak kecil. Emerta berpikir seperti ini karena dia tidak pernah tahu bahwa Eva sudah pernah membunuh sebelumnya. "Dia orang jahat. Kita tidak bisa membiarkannya hidup. Itu akan menyusahkan" jelas Emerta.
Sementara pangeran Erick menatap Emerta dengan perasaan merinding. Tebasan sihir aneh itu juga menakutkan untuknya. Dan Emerta adalah manusia paling menakutkan yang pernah dia temui selain ayahnya.