Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Sisi Lain Vivian


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva menemui Diana untuk memberitahu tentang keberadaan lingkaran sihir. Dia menanyakan apakah Diana mau pergi ke kastil Elf gelap selama liburan sekolah nya. Diana pun setuju akan hal itu.


Saat itu, selain ingin memberikan informasi itu pada Diana. Eva juga bermain-main dengan Evan. Dan dia cukup ketagihan menyentuh bayi itu. Evan membawa penampilan Diana yang terlihat polos dan imut. Berbeda jauh dari penampilan Duke yang sangat tajam. Sehingga Eva menduga, saat besar nanti Evan akan menjadi seorang pria yang sangat imut.


***


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali aku sudah menghubungi Ren bahwa Diana setuju menggunakan lingkaran sihir itu. Dan kami mungkin akan pergi dua atau tiga hari lagi. Aku tidak akan langsung pergi karena aku ingin menghabiskan waktu dengan Vivian terlebih dahulu. Aku ingin Vivian merasa terbiasa untuk tinggal di mansion ini.


"Aku akan datang berkunjung" tiba-tiba Ren memberi jawaban yang tidak terduga, yang sangat menyimpang dari topik pembicaraan.


"Ehh?" aku masih mengerjap kaget.


"Sampai nanti" itu adalah perkataan terakhir Ren, sebelum pria itu akhirnya memutuskan koneksi telepati nya pada ku.


Aku masih terdiam dengan wajah bingung. Setelah beberapa saat, aku kembali menghubungi nya untuk menayakan alasannya. Tapi telepati ku langsung ditolak hanya dalam beberapa detik.


Bukannya aku tidak menyukai orang itu untuk datang kemari. Hanya saja, kesan tentang nya sangat buruk di mata Duke. Sehingga Duke sama sekali tidak menyukainya.


Bagaimana kalau kedua orang itu bertemu? Bukankah akan ada perang di rumah ini? Aku sama sekali tidak mau rumah ku yang indah ini hancur hanya karena dua orang bodoh itu.


Ha~ aku hanya bisa menghela napas. Aku akan memikirkan masalah ini nanti. Bisa jadi Ren tidak datang secara terang-terangan. Mungkin saja dia akan menyelinap seperti Robert.


Sekarang, aku hanya harus fokus pada seseorang di depanku, Vivian. Gadis itu dengan senyum lebar mengelilingi seluruh dapur di dalam mansionku. Bahkan aku juga harus menemaninya ke gudang penyimpanan makanan untuk melihat-lihat bahan masakan.


"Apa yang akan kita masak?" aku bertanya dengan wajah penasaran.


"Hmm...aku sedang memikirkan nya" Vivian meletakkan telunjuknya di bibir. Dia sedang berpikir.


"Aku berencana untuk membuat makanan untuk Duke dan juga Duchess. Apa kau punya rekomendasi makanan favorit mereka?" tanya Vivian kemudian.

__ADS_1


Makanan kesukaan Duke dan Diana? Aku berpikir mereka suka segalanya dan tidak terlalu pemilih soal makanan. Tapi...


"Ibuku menyukai makanan yang tidak terlalu pedas. Ayahku...dia bisa memakan apapun" aku menjawab dengan ambigu.


"Ini cukup umum..." jawab Vivian cemberut.


"Kau bisa memasak apapun" kataku kemudian. "Aku akan membantu sebisaku"


Vivian belum tahu bahwa aku sama sekali tidak mempunyai bakat untuk memasak. Tapi itu tidak masalah. Aku akan berusaha sebaik mungkin.


Vivian pun mengangguk. Dia mulai menyuruh beberapa pelayan untuk memindahkan beberapa bahan masakan.


"Ini kurang. Ayo kita berbelanja beberapa bumbu lagi" kata Vivian kemudian.


Wajahku berkedut melihat segunung bahan makanan di depanku. "Ini hanya untuk empat orang. Kenapa harus memasak sebanyak itu" gumamku tak percaya.


"Tidak akan sia-sia. Kalau lebih kita bisa memberikan nya untuk para pelayan dan pengawal" jawab Vivian kemudian.


Tapi aku benar-benar tidak mengira bahwa Vivian juga akan memikirkan para pelayan dan pengawal yang memiliki pangkat lebih rendah. Bukan kah novel itu menyatakan bahwa dia cukup egois akan harga dirinya sebagai bangsawan? Mungkin dia berubah sejak dia memutuskan hubungannya dengan Marquis. Aku tidak tahu juga, karena bagiku Vivian tetap Vivian.


Aku pun menemani Vivian pergi ke toko makanan. Kami hanya akan membeli beberapa bumbu yang tidak ada di dapur. Aku juga cukup terkejut Vivian mengingat semua bumbu masakan. Itu adalah bakat yang cukup unik.


Di dunia modern, dia bisa menjadi seorang ibu rumah tangga yang baik karena dia memiliki bakat memasak. Sesuai dengan cita-cita sederhana nya. Tapi aku tidak menjaminnya di dunia ini. Karena dunia ini sedikit berbeda. Tapi mungkin Vivian akan bahagia kalau dia menemukan pasangan yang baik dan cocok dengan kepribadian nya.


Awalnya, Duke memerintahkan kami pergi menggunakan kereta. Tapi kami berdua menolak dengan sopan. Kami lebih memilih untuk berjalan karena itu lebih menyenangkan. Terlebih lagi toko itu tidak terlalu jauh dari mansion dan juga kereta dari rumah Duke sangat mencolok di keramaian.


Kami memasuki toko dengan damai karena kami memakai pakaian polos yang tidak mencolok. Tidak ada yang tahu bahwa kami adalah bangsawan dari pakaian yang kami kenakan. Serta topi bundar besar yang kami pakai menutup sebagian wajah kami juga. Jadi benar-benar aman.


Bukan berarti aku merasa diriku cukup terkenal kalau aku tidak menutupi wajahku, oke.


Vivian pun memilih beberapa bumbu rempah. Aku hanya mengikuti nya di belakang, mengitari rak-rak bumbu makanan.

__ADS_1


Lalu aku menemukan sesuatu yang tidak terduga. Serbuk ini terlihat tidak asing.


"Vivian, apa ini?" aku bertanya sambil mengambil sebuah botol bumbu.


"Oh? Bubuk itu digunakan untuk membuat kue saat pesta teh. Tapi hasilnya tidak terlalu istimewa. Lebih enak membuat kue dengan resep sendiri" jelas Vivian.


"Bubuk kue?" aku membuka tutup botol nya dan mencium aromanya. Bau susu pun menyebar di depanku. "Boleh tidak aku mencicipi nya?" tanyaku ragu-ragu sambil melihat Vivian.


"Tentu saja. Kita akan membelinya kalau begitu" jawab Vivian enteng. Lagipula itu bukan barang yang mahal.


Aku langsung menuangkan serbuk itu di telapak tanganku dan mencicipinya. Rasanya manis. "Ini dari susu dan gula?" aku bertanya lagi.


"Ya. Kita bisa membuat kue susu dengan itu." Vivian mengangguk.


Perasaan ini sangat familiar. Ini bukan tentang kue susu, tapi suatu hal yang lain. Hanya saja aku benar-benar tidak ingat sekarang.


"Baiklah, aku akan memikirkannya nanti." aku langsung memasukkan botol itu ke dalam keranjang belanja.


Beberapa menit kemudian, kami berdua selesai dengan membawa dua keranjang belanja penuh saat keluar dari toko. Kami langsung meletakkan semua barang belanjaan kami ke dalam ruang dimensi.


Oke, sekarang saatnya pulang.


"Eva?"


tiba-tiba seseorang memanggil ku.


Aku menoleh. "Sayn?"


Dan tebak siapa yang kulihat berada di samping Sayn, Reina....


Dalam sekejap tubuhku dan Vivian langsung bergetar.

__ADS_1


__ADS_2