Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Lena


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Selama dua hari tersisa, Eva menghabiskan waktunya bersama Vivian. Dia bahkan mengenalkan Vivian kepada Fram dan Rexus. Vivian menyambut Fram dengan antusias karena dia menyukai anak kecil. Tapi dia tidak terlalu menyambut Rexus, karena dia tidak menyukai reptil. Sehingga membuat Rexus merasa sedikit tersinggung.


Dua hari berlalu, Ren pun datang menjemput mereka. Fram dan Rexus ternyata bergabung juga. Fram merindukan kampung halamannya. Sementara Rexus sangat penasaran dengan keberadaan naga tua di desa elf.


Mereka pun pergi ke istana elf gelap, langsung berteleportasi ke aula istana. saat mereka tiba seperti nya ada masalah serius, sehingga Ren mengirim mereka lebih dulu ke kamar tamu.


***


Sekarang masih siang. Tidak masuk akal Ren menyuruh kami untuk berisitirahat di kamar. Dia kelihatannya sangat sibuk sekarang. Itu salahnya juga karena dia terlalu lama meninggal kan istana. Sehingga pekerjaan nya benar-benar menumpuk sekarang. Mungkin perlu waktu lama untuk menunggu nya berkunjung ke sini.


Kamar tamu yang disediakan oleh Ren sangat luas dan megah. Aku menyukai desain nya. Tapi entah kenapa aura di tempat ini tidak menyenangkan. Seakan-akan ada banyak mata yang mengawasi padahal tidak ada siapapun di sini.


Tiba-tiba Evan terbangun dan menangis cukup keras. Diana langsung menyenangkan nya dan memberinya susu.


"Ibu, sebelumnya kau pernah kemari bukan? Apa kau ingat denah istananya?" aku bertanya dengan sedikit antusias. Sebenarnya ada keinginan kecil di hati ku untuk menyelinap lalu menjelajah istana ini secara diam-diam. Bisa jadi, kita bisa bertemu Emerta lebij cepat tanpa harus membawa Ren.


Diana menggeleng pelan. "Aku tidak mengingat nya sama sekali." dia menjawab pelan. Bagi Diana, istana ini sudah terasa asing untuknya. walaupun di masa lalu dia pernah berkunjung ke tempat ini.


Aku cukup kecewa sebenarnya. Aku sedikit berharap Diana akan mengingat beberapa tempat sehingga aku bisa menjelajah tanpa khawatir. Tapi Diana benar-benar sudah melupakan tempat ini.


Tapi aku sama sekali tidak kehilangan minat untuk menjelajahi istana ini. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjelajah secara diam-diam.


Diana sibuk mengurus Evan sehingga dia benar-benar lupa keberadaan Eva. Eva memanfaatkan kesempatan ini untuk menyelinap keluar kamar dengan teleportasi. Tidak lupa dia menggunakan sihir untuk membuat tubuhnya tembus pandang.


Rexus tetap setia menemaninya di dalam tas rotan kecil miliknya. Tapi bocah itu masih tertidur lelap. Dia hanya memindahkan dirinya dari kepala Eva ke dalam tas yang sudah diisi bantal empuk hanya untuk kembali tidur.


Ini pertama kalinya aku berada di lorong istana. Benar-benar terasa besar, sunyi dan gelap. Sebenarnya aku sedikit takut. Tapi tidak ada hantu di dunia ini bukan? Jadi aku tidak perlu takut pada apapun. Karena hantu tidak ada di dunia ini. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.


Aku terus maju menyusuri lorong. Karena aku menggunakan sihir, suara langkah kakiku sama sekali tidak terdengar. Sehingga membuat suasana yang sangat sunyi itu menakutkan.


Padahal tempat ini adalah istana. Tapi kenapa sangat sunyi? Aku tidak pernah melihat satu pun pelayan atau pengawal yang berlalu lalang. Seakan-akan ini adalah daerah terlarang yang takut dikunjungi oleh orang lain.


Aku bahkan dengan iseng mencoba membuka pintu-pintu asing di samping dinding. Tapi semuanya terkunci. Aku tidak akan bisa masuk kecuali dengan menghancurkan nya. Dan tidak mungkin aku akan menghancurkan pintu seperti itu tanpa alasan yang jelas. Bisa-bisa nanti Ren menuntut ganti rugi padaku karena penghancuran properti. Aku juga tidak bisa masuk ke dalam dengan teleportasi karena aku belum pernah mengunjungi tempat itu sama sekali.


Aku terus menyusuri lorong sampai akhirnya aku melihat cahaya di depan. Ada halaman yang sangat besar di sana. Dan astaga! Halaman itu sangat indah.


Siapa yang mengira bahwa ada sebuah taman warna-warni di istana sesuram ini. Istana ini sangat aneh. Halamannya sangat indah dan terawat. Tapi bagian dalam istana nya sangat menyedihkan. Seakan-akan tidak ada satu pun dari mereka yang mempunyai bakat desain. Tapi mereka memiliki tukang kebun berbakat untuk merawat taman.


Halaman itu terbagi menjadi dua sisi. Sisi kanan penuh dengan ladang bunga warna-warni. Aku tidak tahu jenis bunga apa saja yang ada di sana. Tapi mereka sangat indah.


Lalu di sisi lainnya ada sebuah danau besar yang sangat jernih. Ada jembatan yang dibangun di atas danau dan di atas jembatan iti ada sebuab pondok/ gazebo putih. Mengingatkanku akan negeri dongeng. Biasanya para pemeran utama akan minum teh bersama di tempat yang indah seperti itu.


Aku yakin yang membangun konsep taman seperti ini adalah seorang perempuan. Karena tidak mungkin laki-laki akan memikirkan konsep feminim seperti ini. Aku jadi penasaran siapa yang membuat ide konsep seperti ini.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan disini?" sebuah suara dingin tiba-tiba menggelitik telinga ku.


"Ah!"


Refleks, aku langsung berteriak dan melompat. Bahkan Rexus yang terlelap di dalam tas rotan terbangun karena goncangan yang tiba-tiba.


Ada seseorang di belakang ku. Dia adalah seorang gadis elf dengan rambut keperakan. Kelihatannya dia seumuran dengan ku. Tapi tubuhnya lebih pendek dariku.


Saat memperhatikan penampilan nya dari atas ke bawah, aku tersenyum bangga. Terutama saat melihat area dada. Ternyata ada juga yang lebih kecil dariku! Jadi kalau ada yang menghinaku lagi, aku bisa dengan mudah membela diri dan berkata bahwa ada yang lebih kecil dan pendek dariku.


"Siapa kau penyusup!?" gadis elf itu mengerang sambil menggertakan gigi nya.


"Hm?" aku baru sadar sekarang. Bukankah sekarang tubuh ku tembus pandang? Tapi kenapa gadis elf ini bisa melihat ku?


"Siapa kau!" gadis elf itu berteriak sambil mengayunkan tinjunya untuk menyerangku.


Aku dengan sigap mengelak. Serangannya sangat lemah. Bahkan Wiya mungkin lebih kuat darinya. Yah, lagipula dia hanya seorang gadis kecil. Jadi aku memaklumi nya.


Gadis elf itu tersungkur ke depan karena Eva menghindar. Tangannya hanya mengenai udara. Untung saja dia berhasil menahan kakinya agar tidak terjatuh ke depan.


Setelah berhasil menstabilkan posisinya, Gadis elf itu berbalik menatap Eva dengan benci. "Siapa kau penyusup jelek? Aku akan memanggil pengawal untuk menangkapmu!" dia berteriak marah seperti bayi.


"Pengawal! Pengawal!" Dia berteriak sambil menangis. "Ada penyusup! Penyusup itu melukaiku! Tangkap Dia!"


"Hei, diamlah! Aku bukan penyusup! Aku tamu Ren!" aku memprotes.


Gadis itu membelalak kaget. Lalu wajahnya berubah jelek. "Berani sekali kau memanggil Yang Mulia, kakakku, dengan namanya! Dasar tidak sopan! Pengawal, tangkap dia!"


Tiga pengawal itu hanya berdiri linglung. Karena Eva masih menggunakan sihirnya, mereka tidak melihat keberadaan siapapun sekarang. Jadi mereka bingung, siapa yang harus mereka tangkap sekarang.


Umu? Ren adalah kakaknya?


Sekarang aku mengingatnya! Gadis elf ini adalah adik tiri Ren. Dia sama sepertiku. Dia adalah salah satu tokoh antagonis wanita yang muncul di akhir cerita.


Dia adalah salah satu karakter yang berusaha untuk merusak hubungan antara Reina dan Ren saat petualangan mereka. Gadis ini beberapa kali memasang jebakan untuk Reina. Dan hampir membuat Reina kehilangan nyawanya beberapa kali. Saat Ren mengetahui nya, gadis ini langsung diasingkan entah dimana. Tidak ada penjelasan lebih lanjut di novel tentang nasibnya.


"Lena!" suara dingin muncul dan membuat udara di sekitar ku bergetar. Para pengawal langsung menjatuhkan diri mereka untuk memberi hormat. Orang itu adalah Ren.


Gadis elf itu menoleh saat namanya dipanggil. Tapi dia tidak terlihat ketakutan seperti pengawal lainnya. Dia malah tersenyum lebar dengan mata berbinar.


"Kakak!" dia berteriak bahagia sambil memeluk kaki Ren. "Kau sudah kembali. Aku sangat merindukanmu huaa" dan dia mulai menangis. "Aku tahu kau datang. Tapi, tapi para pak tua itu melarangku untuk masuk ke dalam aula. Mereka sangat menyenalkat huaa" dia terus menangis. Bahkan air matanya secara perlahan membasahi baju Ren.


Tapi Ren sama sekali tidak marah dengan sikapnya. Dia membelai kepala Lena, ekspresi nya melembut. Bagaimana pun dia sudah menganggapnya sebagai keluarga. Jadi Ren sangat menyayangi nya.


"Aku minta maaf karena tidak memberimu kabar" dia merasa bersalah.

__ADS_1


Melihat interaksi keduanya, aku memiringkan kepalaku bingung. Kelihatannya mereka saling menyayangi, tapi kenapa Ren waktu itu membuang nya. Walaupun dia sudah mencelakai Reina karena rasa cemburu, tetap saja Ren sudah mengenal Lena lebih lama. Dan mereka sudah menghabiskan waktu lebih lama. Daripada Reina yang hanya ditemui nya dalam waktu singkat.


"Eva? Apa yang kau lakukan disini?" Ren mengalihkan tatapannya padaku.


Oke, dia marah. Aku langsung membatalkan sihir ku dan menunjuk kan tubuh asliku. Paea pengawal tersentak sedikit saat aku muncul tiba-tiba.


"Aku hanya jalan-jalan" jawabku canggung.


"Bukankah aku sudah bilang, aku akan menemuimu? Tapi kenapa kau masih berkeliaran?"


"Maaf....aku benar-benar menyesal..." kataku sungguh-sungguh.


"Kakak? Siapa gadis jelek itu?" tanya Lena dengan nada sarkas. Dia tidak menyukai interaksi Ren dan Eva. Dia tidak senang kalau ada perempuan lain yang dekat dengan kakaknya walaupun mereka hanyalah teman. Dia selalu menyingkirkan orang-orang seperti itu, sehingga para pembaca menjulukinya adik tiri beracun.


"Dia temanku. Jangan bersikap tidak sopan seperti itu" Ren menasehatinya.


Lena tidak peduli. Dia hanya mendengus kesal.


Ren kembali menatap Eva.


"Bukannya aku tidak memperbolehkanmu untuk berkeliling di istana. Hanya saja waktunya sama sekali tidak tepat. Bagaimana kalau kau tersesat? Lagipula tempat ini tidak damai seperti yang terlihat" jelas Ren.


"Maaf...." aku meminta maaf sekali lagi.


Aku benar-benar ceroboh. Aku sadar rasa penasaranku bisa membuat ku dalam bahaya. Tapi entah kenapa aku tetap melakukan nya walaupun aku tahu itu. Seakan-akan alam bawah sadarku menginginkan nya.


"Jadi, apa yang kau lakukan disini?" Ren bertanya lagi.


Aku pun menceritakan yang sebenarnya pada Ren. Aku tidak memiliki tujuan. Aku hanya menyusuri lorong secara acak dan sesekali mendorong pintu yang kutemui. Lalu aku sampai ke halaman ini dan bertemu dengan pemandangan yang indah.


"Halaman ini sangat indah. Taman bunga dan juga danau itu. Siapapun yang merancang nya benar-benar jenius" kataku tanpa sadar.


Mendengar perkataan Eva, Lena tersenyum penuh kemenangan. "Aku yang merancang nya. Semua itu adalah ideku!" dia berkata dengan nada sombong.


"Oh?" aku mengerjap kaget. Siapa yang mengira bahwa gadis kecil sombong ini akan mempunyai mata yang sangat bagus. "Matamu benar-benar bagus" aku memujinya dengan tulus.


Mendengar pujian Eva, kemarahan Lena padanya sedikit memudar. Tapi dia masih tidak menyukainya. Hanya karena kemarahan nya memudar, bukan berarti dia menyukainya.


"Mataku memang sangat bagus. Kakak Ren berkata mataku adalah harta karun" dia berkata dengan nada bangga.


"Lena" Ren langsung menegurnya. Seakan-akan melarangnya untuk berbicara lebih jauh. Dan Lena menurut. Dia langsung menutup mulutnya dengan cepat.


Mata yang sangat bagus ya...


Apa karena itu dia bisa melihat ku walaupun aku memakai sihir tembus pandang? Dia bisa melihat ku dengan mata telanjang. Jadi aku yakin matanya memang istimewa. Semua hal ini tidak pernah dijelaskan dalam novel. Jadi aku cukup penasaran. Tapi aku tidak berani untuk bertanya langsung tentang mata Lena. Itu adalah hal yang sangat rahasia bukan. Walaupun aku penasaran, aku tidak akan menggali rahasia orang lain. Berbeda kalau iti musuh atau orang yang kubenci.

__ADS_1


__ADS_2