Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Kemarahan Diana


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva dan Diana diarahkan ke kamar tamu. Sementara Fram meninggalkan istana dan kembali ke rumahnya.


Saat di dalam kamar, Eva merasa bosan. Jadi dia memutuskan untuk menyelinap saat Diana sibuk memberi susu untuk Evan.


Dia berkeliling istana bersama Rexus dan menemukan sebuah halaman yang sangat indah di tengah-tengah istana. Dan disana dia bertemu dengan gadis elf bernama Lena, yang merupakan adik tiri Ren. Lena adalah salah satu tokoh antagonis, sama seperti dirinya.


Ren kemudian muncul juga dan pelarian Eva pun tertangkap basah.


***


Ren berusaha menenangkan Lena, karena gadis kecil itu terus menempel dan merengek padanya.


"Tenanglah. Setelah ini aku akan menemui mu" kata Ren lelah.


"Tidak! Jangan kemana-mana! Temani aku!" Lena tidam mau kalah. Dia memeluk Ren erat-erat, tidak membiarkan nya lepas sama sekali.


"Lena!" Ren membentak nya dengan nada serius.


Suasana menjadi tegang dalam sekejap karena bentakan Ren. Lena juga membeku sesaat. Dia tidak ingin kakaknya marah. Tapi kakaknya akan pergi lagi sekarang. Padahal mereka hanya bertemu selama beberapa menit. Dia sangat merindukan nya. Dia ingin menghabiskan waktu dengannya.


Melihat wajah sedih Lena, Ren menghela napas. "Aku akan ke kamar mu nanti, oke?" dia berkata dengan nada lembut.


"Em" Lena mengangguk patuh dan melepaskan pelukannya. Tapi matanya berkaca-kaca karena menahan tangis. Dia tahu Ren marah sehingga dia tidak mau memperburuk suasana hatinya dengan menangis.


"Eva, ayo kembali" Ren langsung memegang lengan Eva dan menariknya pergi. Dia melakukan nya karena tidak ingin Eva menghilang lagi saat dia membawanya kembali ke kamar.


Tapi sikap Ren membangkitkan api cemburu di hati Lena. Wajah Lena berubah jelek saat dia melihat Ren memegang tangan Eva. Bahkan saat kedua orang itu mulai pergi. Lena masih menatap punggung Eva dengan tatapan penuh kebencian.


Ren menarikku kembali. Saat aku pergi, lorong ini terasa panjang. Tapi saat aku kembali, lorong ini terasa pendek. Aku benar-benar kembali ke kamar dalam waktu singkat.

__ADS_1


Saat kami masuk, Diana sudah menunggu ku dan dia langsung menghampiri ku dengan mata melotot.


"Dari mana saja kau, Eva? Kau tidak menyelinap pergi sembarangan bukan?" Diana berkata dengan dingin.


Sebenarnya aku sangat jarang melihat Diana marah. Jadi aku sedikit ketakutan sekarang. Ini mungkin adalah kemarahan pertama Diana padaku sepanjang hidup ini. Selama lima belas tahun hidup di dunia ini, aku belum pernah melihat Diana berbicara pada ku sedingin itu.


"Maaf..." aku menunduk kan kepalaku, menyesal.


"Kenapa kau tiba-tiba menghilang seperti itu? Aku benar-benar khawatir tahu. Kau bahkan tidak memberitahu apapun saat keluar" kemarahan Diana tidak mereda.


Dalam kenangan Diana, istana ini adalah tempat yang sangat buruk. Diana tahu bahwa para elf sangat membenci manusia. Dan mereka mungkin menyakiti manusia tanpa sadar. Hanya Ren yang membuat Diana merasa aman di tempat ini. Tapi tidak untuk elf lainnya. Mereka semua sangat menyeramkan bagi Diana. Jadi Diana benar-benar panik saat Eva menghilang. Dia takut putrinya terkena masalah yang tak terhindar kan dan terluka.


"Maafkan aku....aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi..." kataku lirih. Sekarang, aku tidak akan menyelinap keluar lagi secara diam-diam di tempat asing. Jujur saja Diana sangat menyeramkan saat marah. Bahkan lebih menyeramkan dari Duke.


"Ren, terima kasih sudah menjemput nya" kata Diana kemudian. Nada bicara dan ekspresi nya sudah kembali normal.


"Tidak masalah " jawab Ren. Dia tidak akan membela Eva walaupun Diana memarahinya. Karena kali ini Eva bersalah karena menyelinap keluar seperti itu dan membuat semua orang khawatir.


"Dia sudah tidur" jawab Diana kemudian. Diana tidak marah lagi. Dia adalah tipe wanita yang tidak mudah marah. Tapi saat dia marah, dia sangat menakutkan.


Aku tersenyum senang melihat respon normal Diana. "Dia harus tidur yang banyak karena dia masih perlu tumbuh" aku berkomentar.


"Kau juga masih perlu tumbuh Eva" kata Diana kemudian. Dia menatap Eva dengan mata sedih. "Jangan terlalu sering terlibat bahaya seperti itu oke" katanya penuh harap.


Putrinya selalu terlibat dalam bahaya. Diana tahu itu. Karena itu dia sangat marah saat tahu Eva menyelinap keluar diam-diam.


"Aku akan menjaga diriku sendiri. Jangan khawatir ibu"


"Lalu Ren, bagaimana? Kapan kita akan bertemu dengan Emerta?" Diana menatap Ren. Topiknya langsung berganti.


"Aku akan menemani kalian menemuinya malam ini. Sejauh yang aku tahu, wanita itu bekerja di laboratorium. Jadi kita akan kesana setelah makan malam" Ren menjelaskan.

__ADS_1


Diana tersenyum cerah dengan mata berbinar. "Ini adalah pertemuanku dengannya setelah sekian lama. Aku benar-benar tidak sabar dengan ekspresinya saat melihat Eva dan Evan. Wanita tua itu bahkan tidak tahu bahwa dia memiliki cucu yang cantik dan tampan sejak dia memutuskan tali komunikasi" Diana menggerutu.


"Mungkin dia sibuk? Seperti nya dia sedang meneliti sesuatu dan aku sama sekali tidak tahu apa itu" Ren memberi pendapat. Penelitian nya sudah selesai, berarti tugas Emerta untuk membantu nya juga selesai. Tapi wanita itu memutuskan untuk tinggal di laboratorium dan meneliti sesuatu yang lain.


"Tetap saja! Walaupun dia sibuk seharusnya dia tidak memutuskan surat yang kukirimkan seperti itu. Dia hanya perlu waktu sebentar untuk menulis surat. Tapi dia sama sekali tidak bisa meluangkan waktumu" kata Diana cemberut.


Ren tidak menanggapi nya. Dia tidak mau terlalu terlibat dengan urusan keluarga orang lain. Dia akan membiarkan Diana dan Emerta untuk mengatasi masalah mereka secara pribadi. Tugas Ren hanya membantu mempertemukan mereka. Setelah itu tugasnya selesai.


Ren pun mengundurkan dirinya untuk kembali. Aku yakin dia menemui Lena karena ingin menghibur gadis kecil yang sedang marah itu. Ren berkata dia akan kesini lagi nanti malam.


Waktu pun berlalu. Aku menghabiskan waktuku dengan membaca buku. Sementara Diana sudah tertidur sejak beberapa jam yang lalu. Kelihatannya dia kelelahan karena terus merawat Evan, jadi aku tidak membangun kannya.


Tapi, Evan terbangun sekarang. Anehnya, bayi itu tidak menangis. Aku pun menghampirinya dan menatapnya dari dekat karena penasaran. Kami saling bertukar tatapan.


"Yaya ya" Evan bergumam tidak jelas sambil menarik rambutku. Aku tidak keberatan dengan itu karena tidak sakit sama sekali.


"Evan, apa kau ingin membaca buku?" aku bertanya sambil menunjukkan buki yang kubaca. Jujur saja, di lubuk hati terdalam, aku berharap Evan adalah seorang reinkarnator. Sama seperti ku. Karena untuk bayi seusianya, dia cukup pintar. Jadi aku benar-benar berharap.


Aku pun mengeluarkan buku sihir dasar dari ruang dimensiku dan memberiku buku itu pada Evan. Saat seusianya, aku sudah tertarik dengan sihir yang kubaca dari buku. Bahkan aku sudah mulai bermeditasi.


Tapi harapan ku menjadi lenyap saat melihat Evan mengigit buku itu dengan antusias. Dia hanya seorang bayi normal. Bagaimana mungkin aku mengharapkannya menjadi reinkarnator? Imajinasiku benar-benar terlalu tinggi.


"Aku kakak yang buruk..." aku bergumam sambil mengambil kembali buku itu dari Evan.


"Evan lapar?" aku bertanya dengan lembut sambil menyentuh pelan pipi rotinya.


"Yaya ya" Evan merespon.


"Ibu sedang tidur Sekarang. Dia kelelahan. Jadi jangan menangis. Saat bangun nanti Evan bisa makan oke." aku membujuk nya. Ini adalay hal terbodoh yang aku lakukan. Bagaimana mungkin aku bisa berbicara dengan bayi seperti itu? Bayi tidak akan mengerti perkataan ku.


Aku mneyerah untuk menganggu Evan dan kembali fokus pada buku yang kubaca. Untung saja Evan sama sekali tidak rewel. Dia hanya mengeluarkan ocehan cadelnya yang tidak jelas sambil menggerakkan tangan dan kakinya. Tapi dia tidak menangis sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2