
Aku dan gadis elf itu saling melotot selama beberapa saat.
Sampai akhirnya gadis elf itu berteriak "Penjaga! Penjaga!"
"Sial!" aku hanya bisa mengumpat, lalu berbalik melarikan diri. Aku berusaha terbang melintasi lorong secepat mungkin. Tapi siapa sangka, gadis elf itu mengejarku dan terus melontarkan sihir.
"Ini menyusahkan..." aku menggerutu sambil mengernyitkan kening.
Lima orang muncul dengan tiba-tiba di depanku. Mereka adalah para perajurit. Kali ini aku benar-benar terkepung. Aku dikejar oleh gadis elf itu dari belakang. Dan dari depan para prajurit itu menghalangi.
Tapi tiba-tiba sesuatu yang tidak terduga terjadi!
Aku sudah bersiap menyerang. Tapi para prajurit itu hanya berlari melewatiku.
Eh?
"Putri, ada apa?" salah satu prajurit bertanya dengan wajah bingung.
Para prajurit itu menatap putri mereka dengan bingung. Kenapa putri tiba-tiba berlari dan mengeluarkan sihir seperti orang gila? Apa dia ingin menghancurkan kastil ini lagi?
Melihat wajah bingung para bawahannya, gadis elf itu semakin kesal. "Kau, dasar bodoh!" dia memukul kepala prajurit itu. "Tangkap penyusup itu!" dia berteriak sambil menunjuk ke depan.
Para prajurit itu berbalik menoleh, tapi mereka tidak melihat apa pun. Jadi mereka semakin bingung. Apa putriĀ sedang berhalusinasi.
'Ah? Aku lupa bahwa aku tidak terlihat' pikirku.
"Hahahaha" aku tertawa terbahak-bahak saat mengamati orang-orang di depannya.
"Dasar bodoh" kataku dingin dengan mata menyipit. Aku mulai mendekati orang-orang itu secara perlahan.
"Tunggu...kau....jangan mendekat..." elf itu panik.
"Kalau mendekat, kau mati!" teriaknya sambil melontarkan sihir.
Aku menghindari sihir jelek itu dengan elegan. Tapi tidak untuk para prajurit di depannya.
"Uwaaahh!!"
"Putriii"
"Tolong!!"
para prajurit itu berteriak seperti orang bodoh. Mereka berusaha menghindari sihir gadis elf, tapi mereka tetap terkena. Hingg akhirnya para prajurit itu terkapar di lantai. Tapi mereka tidak mati, hanya tidak sadarkan diri.
Aku melihat mereka dengan mata meremehkan. Sangat lemah! Gadis elf ini benar-benar lemah! Para prajurit elf itu bahkan lebih lemah dari murid junior kami! Bagaimana bisa seorang putri selemah ini? Dia benar-benar mirip dengan para gadis bangsawan itu....
"Tidak bisa dibandingkan dengan Evaku...."
Gadis elf itu panik. "jangan mendekat!"
Dia terus berteriak sambil melontarkan sihir.
Tapi aku dengan mudah menghindar dan mendekatinya.
__ADS_1
sebelum gadis itu berteriak lebih jauh dan memanggil banyak orang, aku langsung membuatnya tidak sadarkan diri.
"Tidak, kakak...."
"Heh? Kakak?"
Dia ingin memanggil saudaranya. Menyedihkan....
Aku bisa memanfaatkan elf ini untuk mencari kotak itu.
Aku segera mengambil gadis itu, menerbangkannya dan membawanya ke dalam ruang dimensi yang sudah kubuat.
***
Beberapa menit kemudian, gadis elf itu sadarkan diri.
"Siapa kau?" aku langsung menanyainya.
Tubuh gadis elf itu bergetar ketakutan. "Aku tidak akan memaafkanmu. Lihat saja! Saat kakakku tiba, aku akan membunuhmu!!" gadis itu memberontak.
Aku langsung mengeluarkan mantra pengikat dan mengikatnya.
"Lepaskan aku!!!" dia terus memberontak. "Kakak! Kakak!!"
"Berisik!" aku membentaknya dan langsung membuatnya bisu.
"....." gadis itu membuka mulutnya dan tidak ada suara yang keluar. Wajahnya pucat dan tubuhnya semakin bergetar ketakutan. Aku benar-benar puas.
"Sebaiknya perkenalkan dirimu. Aku perlu tenagamu. Dan tidak ada yang akan menolong mayat. Mayat juga tidak bisa teriak minta tolong. Sebaiknya kau patuh. Maka aku tidak akan membunuhmu" kataku dengan dingin. Aku tahu elf gelap sangat kejam. Tapi aku bisa menjadi lebih kejam dari mereka kalau mereka membuatku tidak senang.
Aku langsung membatalkan sihirku dan membuatnya bisa bersuara lagi.
"Namaku Lena, aku putri ras elf gelap..." katanya lirih.
"Oh? Kau benar-benar seorang putri? Baguslah ini akan memudahkanku. Bantu aku mencari sesuatu, maka aku akan melepaskanmu"
Mata Lena melebar, kaget. "Kau! dasar pencuri!" dia membentak.
"Ayolah! jangan berlebihan! Aku hanya ingin mencuri, bukan membunuh. Lagipula barang yang kuambil tetap akan menjadi milikku" kataku tidak tahu malu.
Lena berpikir sebentar. "Baiklah" akhirnya dia menjawab.
'Lihat saja! Setelah aku bebas, aku pasti akan bilang pada kakakku!' Lena melotot menatap pria di depannya.
"Kenapa kau sangat suka melotot? Matamu sangat jelek" aku tanpa sadar berkata sarkatis.
"uuhh..." Lena hanya bergumam sambil menundukkan wajahnya, malu! Dia benar-benar malu! Dia sangat kehilangan harga dirinya! Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini! Semua orang di kastil ini selalu memunjinya.
"Dasar manusia terkutuk!" dia mengumpat.
Aku tidak peduli. Aku mengeluarkan peta itu. Lalu mulai menunjukkan gambar segel aneh dan kotak kecil itu padanya. "Kau pernah melihat benda ini?"
"Ini...." Lena mencoba berpikir.
__ADS_1
"Aku pernah melihat ini di kamar kakak..." jawabnya lirih.
"Tunjukkan kamar kakakmu"
"Tidak mungkin! Aku tidak mungkin membantumu mencuri barang kakakku!"
"Kalau gitu mati..." kataku kejam sambil meletakkan jempolku di leher dan menggerakannya.
"uuhh..."
"Baiklah, aku akan mengantarmu"
"Tunjukkan jalan" aku langsung menerbangkannya ke depanku. "Jangan mencoba untuk menipuku!" kataku memperingatkannya.
Kami keluar dari ruang buatan dan kembali masuk ke dalam lorong kastil.
Aku tetap membiarkan gadis itu terikat dan memasang mantra untuk meledakkan diri, jaga-jaga kalau elf itu mencoba untuk kabur. Aku membiarkan gadis itu menuntunku. Dan aku tetap mengikutinya di belakang sambil menggunakan sihir tidak terlihatku.
Beberapa kali kami bertemu penjaga. Tapi penjaga itu hanya memberi salam dan membiarkan kami lewat. Gadis elf ini benar-benar berguna. Untung saja dia seorang putri, bukan pelayan, jadi kami bisa dengan bebas berkeliling kastil.
Setelah beberapa lama berjalan, kami sampai di sebuah ruangan dengan pintu termewah. Uwah! Benar-benar kamar pangeran. Dari pintunya saja sudah elegan dan mewah, isi kamarnya pasti lebih menyilaukan mata.
"Masuk" aku mendorong gadis elf itu.
Pintu terbuka. Dan aku sedikit kaget!
Pintunya memang mewah, tapi kamarnya sangat biasa. Memang luas, tapi tidak ada barang yang terbuat dari emas, permata atau besi langka. Hanya terdiri dari perabotan yang terbuat dari kayu mahoni. Kayu mahoni yang menghiasi ruangan itu mengeluarkan bau khas, sehingga suasana di kamar itu sejuk dan tenang seperti hutan.
Pangeran ini benar-benar tidak terduga!
"Tunjukkan padaku kotak itu"
Lena mengangguk. Dia mulai menuju sebuah lemari. Membaca mantra dan membuka kuncinya. Setelah itu dia membuka laci yang terkunci dengan mantra lainnya lagi. Di dalamnya ada sebuah kotak kecil. Dan ada segel di atasnya. Semuanya mirip dengan gambar dalam peta!
Aku langsung menyambar kotak itu dari tangannya. "Apa kotak ini barang berharga disini?" aku bertanya.
"Emm...aku tidak tahu. Tapi kakak selalu mengabaikan benda itu" jawab Lena ragu. Dia tidak tahu apakah kotak kecil itu berharga. Tapi kakaknya hanya menganggap itu kotak biasa. Ini juga alasan kenapa dia mau menerima tawaran Robert.
"Baiklah"
TAK! Aku membuka kotaknya. Di dalamnya ada sebuah buku kecil dan selembar kertas.
Aku melihat buku itu.
"Story of Darkland"
Buku cerita? Kenapa ada buku cerita? Apa-apaan ini? Apakah kakek itu mempermainkanku?
Lalu aku melihat kertas lainnya. Di kertas itu tertulis tulisan yang tidak kumengerti. Apa ini tulisan kuno? Aku kira aku perlu bantuan buku di perpustakaan untuk membaca apa yang tertulis di kertas ini. Dan buku cerita ini....
Aku akan membacanya nanti.
Lebih baik aku pergi dulu dari tempat ini.....
__ADS_1
Aku pun melepaskan mantra pengikatku pada elf itu. Mengambil kotak itu dan segera pergi
Eh? Tapi aku masih penasaran. Kenapa gadis elf itu bisa melihatku ya?