Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5 Pertandingan Sihir: Babak Kedua 18


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Eva dan yang lainnya berhasil menemukan ruangan yang penuh dengan harta karun. Mereka mengambil beberapa harta karun berharga dengan cepat.


Kemudian Denis datang ke tempat itu. Dia mengaktifkan lingkaran sihir aneh dan kemudian sebuah artefak kuno berbentuk piala. Itu adalah artefak yang dicari oleh Denis. Denis ingin mengambil nya tetapi sekelompok orang dari Jiwa Sihir tiba-tiba menghalanginya.


***


"Berhenti!" Kelompok Jiwa Sihir tiba-tiba muncul dan menghalangi Denis.


"Apa-apaan ini?" respon Denis tidak senang.


Salah satu penatua Jiwa Sihir maju dengan percaya diri. "Kalian semua terlalu serakah ingin semua harta ini sendiri. Kami tidak bisa membiarkan nya" katanya sambil menunjuk kami seolah-olah kami orang yang jahat di sini.


Aku mengernyit kan kening bingung. Ada apa dengan orang-orang ini? Apa otak mereka rusak? Atau mereka sudah menunjukkan sifat mereka yang sebenarnya untuk memonopoli semua harta?


Untung saja aku sudah mengambil beberapa barang dengan kualitas bagus tadi. Jadi aku sama sekali tidak peduli kalau mereka ingin mengambil sisanya.


Tapi aku menatap Denis prihatin. Setelah aku lihat, artefak Denis itu memiliki esensi mana yang sangat tinggi. Itu artefak yang sangat berharga. Pasti banyak orang yang menginginkan nya. Dia harus bertarung mati-matian untuk itu.


"Kalian semua hanya bisa mengambil satu. Jangan serakah" kata penatua itu lagi.


"Aku memang hanya ingin satu artefak. Kalian bisa ambil barang yang lain nya" kata Denis tidak peduli sambil menyentuh artefak piala itu.


"Aku sudah bilang jangan serakah bukan?" penatua itu mengeluarkan aura membunuh. Lalu dia berpindah di depan Denis. "Artefak ini lebih kuat daripada barang lainnya. Ini milik kami" katanya sambil mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.


Denis menggertakan gigi nya kesal. "Dasar tidak tahu malu! Bukankah kalian kemari untuk membantuku mencari artefak? Tapi niat kalian sebenarnya ingin mencuri!" Denis berteriak marah.


"Kami memang membantumu untuk mencari artefak. Karena itu silahkan pilih satu artefak yang kau inginkan di sana" penatua itu menunjuk tumpukan barang.


"Aku tidak tahu bahwa Jiwa Sihir akan licik seperti ini. Benar-benar tidak terduga" Denis menatap sinis pria tua di depan nya.

__ADS_1


Penatua itu tersenyum licik. "Aku juga tidak menyangka seorang bangsawan kerajaan akan menyelinap ke tempat ini"


Mata Denis membelalak kaget. Denis tidak menyangka identitas nya juga terbuka. Tapi dia tahu siapa dalangnya. Dia tidak menduga gadis bodoh itu memberitahukan semua rahasia mereka kepada orang lain!


"Penatua!" tiba-tiba Reina muncul dan langsung menghampiri Denis. "Jangan seperti itu. Bukankah kau ingin membantu kami? Aku akan mempertimbangkan tawaran mu untuk menjadi murid Jiwa Sihir. Tapi jangan lakukan ini" Reina memohon dengan mata berkaca-kaca.


"Baiklah, karena itu aku akan membiarkanmu keluar tanpa terluka. Jadi jangan terlalu ikut campur" penatua itu tersenyum licik.


"Terima kasih penatua" respon Reina lega.


"Tapi dia tidak boleh mengambil artefak itu!"


Reina mematung. Wajah Denis berubah masam.


"Tapi...penatua... bukankah kau sudah berjanji? Kami hanya butuh artefak itu saja...kami tidak butuh yang lain....kumohon..." kata Reina bergetar dengan wajah memucat.


mata penatua itu menyipit. "Aku tidak serakah. Aku mengizinkan kalian lari dan mengambil satu artefak. Tapi kalian seharusnya tahu diri. Artefak utama itu untuk Jiwa Sihir kami"


"Dasar tidak tahu malu!" Denis akhirnya tidak bisa menahan amarahnya lagi. "Aku tahu semuanya tidak akan berjalan lancar sejak perempuan bodoh itu merusak segalanya!" kata Denis benci.


walaupun aku juga pernah merebut barang orang lain. Setidaknya aku lebih profesional. Karena aku melakukannya diam-diam dan tanpa ketahuan, humph!


Aku yakin pak tua itu bersikap superior karena lawannya saat ini hanyalah anak-anak. Dia merasa lebih diuntungkan dan lebih hebat. Ditambah lagi, kelompok mereka memiliki lebih banyak anggota.


Aku, Robert dan Sayn memutuskan untuk tidak terlalu ikut campur. Dan hanya mengamati di samping.


Amarah Denis kelihatannya sudah memuncak. Dia langsung menyerang penatua itu.


Bentrokan pun terjadi. Menyebabkan beberapa dinding dan lantainya menjadi retak. Aku sama sekali tidak mengkhawatirkan kedua orang yang bertarung itu. Aku lebih khawatir pada tumpukan harta di depanku. Bagaimana kalau mereka menghancurkan bangunan dan menyebabkan semua harta ini tertimbun.


Astaga! Membayangkan nya saja membuatku sangat sedih. Kalau mereka tidak menginginkan harta itu karena tidak terlalu berharga, lebih baik diberikan saja pada ku T.T

__ADS_1


Pertarungan berlangsung selama beberapa menit. Sesuai dugaan kondisi Denis sama sekali tidak menguntungkan. Mengingat dia melawan pria tua yang umurnya bahkan 100 tahun lebih tua darinya. Tentu saja dia akan kalah dalam hal pengalaman. Walaupun dalam hal kekuatan Denis dapat mengimbangi nya karena dia termasuk pemuda yang jenius.


'Sialan! Darimana muncul monster seperti ini! Padahal dia hanyalah seorang bangsawan...' Pria tua dari jiwa sihir itu berpikir. Walaupun tubuhnya tidak terluka, tangan kirinya hampir patah karena manahan serangan Denis.


Pria tua itu sangt marah, tapi dia tetap menahan emosinya untuk tidak membunuh Denis, mengingat identitas nya sebagai Putera Mahkota. Organisasi sihir mereka tidak mungkin melawan satu negara. Walaupun mereka yakin mereka bisa menang, kerugian yang mereka terima pasti besar.


Dia hanya menginginkan artefak kuat ini. Dan dia akan melepaskan putra mahkota ini dan membawa pulang murid barunya. Dia hanya ingin membuat bocah putra mahkota ini lumpuh, tapi dia tidak akan membunuhnya.


Sementata kondisi Denis sama sekali tidak baik. Dia sudah terkena serangan berkali-kali. Tubuhnya penuh lebam dan beberapa kali dia memuntahkan darah karena organ dalamnya terluka. Walaupun Denis masih bisa menahan sakitnya dna berdiri dengan kokoh.


"Yang Mulia!" Reina berteriak cemas saat melihat tubuh Denis terpental lagi. Gadis itu menghampiri Denis sambil menangis, lalu mulai mengobatinya secara perlahan dengan sihirnya. Ajaib, dalam sedetik luka-luka Denis hilang dalam sekejap.


Penatua Jiwa Sihir itu tidak menghentikan Reina untuk menyembuhkan Denis. Dia malah mengganguk senang saat melihat Reina.


'Sihirnya lebih kuat dari murid jenius yang ada di menaraku. Gadis ini benar-benar titisan dewa. Aku harus mendapatkan nya!' pikir penatua itu antusias.


"Penatua...hiks...aku mohon...hentikan..." kata Reina lirih sambil menangis. "jangan berkelahi lagi dengan Yang Mulia! Dan artefak itu juga sangat penting bagi kami! Aku mohon lepaskan kami..." Reina memohon sekali lagi.


"Tidak" penatua itu tetap menolak.


Reina terdiam. Dia menundukkan wajahnya. Kita tidak melihat ekspresinya. Di mata orang lain dia sudah menyerah. Tapi Reina membuka mulutnya lagi.


"Kami....kami akan menukarkan artefak itu dengan harta lainnya"


Pria tua itu mengerjap "Maksudmu?"


Aku yanh hanya jadi penonton sedari tadi memiliki perasaan yang tidak nyaman. Entah apa yang dikatakan Reina, aku rasa itu tidak akan baik.


"Sebelum kami ke tempat ini. Kami menemukan dua ramuan kuno. Terlebih lagi ramuan itu mengandung sihir gelap yang sangat kuat. Aku akan menukarkan ramuan itu. Kalian bisa mengambil ramuannya, biarkan kami pergi dengan artefaknya" jelas Reina sambil menundukkan kepalanya.


Aku membelalak kaget.

__ADS_1


"Dimana ramuan itu? Berikan padaku!"


Dengan cepat Reina mengangkat tangannya dan menunjuk Eva sambil menggertakan gigi benci. "Gadis itu memonopoli semuanya..." kata Riena dengan nada dingin.


__ADS_2