Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 5. Pertandingan Sihir: Babak Pertama 3


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Charlotte menyembuhkan luka Hans dan Jean. Tapi walaupun tubuh mereka sudah membaik, poin kehidupan mereka tetap berkurang banyak. Mereka memutuskan untuk lebih berhati-hati ke depannya.


Saat itu Eva dikejutkan dengan perubahan sikap Hans dan Jean. Kedua anak itu berbicara dengannya dengan nada sopan. Eva benar-benar kaget walaupun dia tidak terlalu memikirkan alasannya.


Perjalanan mereka berlanjut. Hans dan Jean membereskan beberapa binatang sihir yang menghalangi mereka. Sampai akhirnya malam tiba dan mereka memutuskan untuk beristirahat.


***


"..."


Aku terdiam dengan mulut berkedut. Sikap Robert terhadapnya sama sekali tidak berubah. Dia masih memperlakukanku seperti anak kecil. Aku bukan anak kecil lagi oke!


Melihat Eva sama sekali tidak meresponnya, Robert mengernyitkan kening.


Lalu ekspresinya berubah kecewa. "Apa kau sudah bosan dengan mastermu..." dia berkata lirih.


Uhuk! Aku tersedak. Bukan itu alasannya!


"Bukan itu ma..."


"Aku tahu kau pasti sudah bosan denganku bukan" Robert memotong pembicaraan Eva dengan cepat. Lalu dia memasang ekspresi seperti anak kecil teraniaya, yang membuat Eva merasa tidak enak.


"Apa gadis kecilku sudah melupakanku? Apa gadis kecilku sudah bosan denganku?" Robert bergumam dengan aneh.


Aku merasa tidak enak. Tidak mungkin aku akan merasa bosan dengan guruku sendiri! Sama sekali tidak mungkin!


"Kenapa kau bosan denganku? Apa salahku? Apa kau sudah menemukan penggantiku?" Robert sama sekali tidak memberikan Eva kesempatan untuk berbicara. Dia terus mengoceh.


Robert menatapku dengan mata berkaca-kaca, yang membuatku semakin tidak enak!


Akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan tidak mengeluarkan kata-kata pembelaan itu. Aku berjalan lingung menuju alas tidur yang ada di samping Robert.


Robert sudah menunggunya dengan senyum berseri-seri.


Aku memposisikan diriku di samping Robert.


Robert langsung memelukku erat-erat dan membuatku merasa sesak sesaat. Tapi dia melonggarkan pelukannya kemudian, yang membuatku merasa lega.

__ADS_1


Eva tidak tahu bahwa pria itu memeluknya sambil tersenyum licik. Aktingnya cukup bagus sehingga rencananya berhasil. Dia melihat gadis kecil di dalam pelukannya. Tubuh gadis itu sudah agak besar sekarang. Dia tumbuh menjadi lebih tinggi dan sudah mencapai dadanya. Gadis ini akan terus bertambah besar ke depannya. Memikirkan itu, dia tersenyum senang. Dia juga merasa nostalgia saat mencium aroma gadis itu. Gadis kecil itu memiliki aroma lembut seperti bunga lily, yang membuatnya merasa nyaman dan aman.


"Tidurlah..." Kata Robert.


Aku mengganguk dan perlahan menutup mataku.


Charlotte yang melihat semua tingkah laku dua orang di sampingnya merasa sangat kesal. Hatinya sedikit masam. Dia sangat iri. Dia sangat iri dengan Eva. Bagaimana bisa gadis kecil seperti terlahir dengan enam elemen sihir? Dia juga gadis dari keluarga kaya yang selalu hidup nyaman dari kecil. Semuanya berbanding terbalik dengan nasibnya yang harus kehilangan orang tuanya dari kecil. Dan harus belajar mandiri sejak dia masih balita. Charlotte benar-benar iri. Dia bahkan sedikit kesal dengan dewa. Kenapa para dewa itu tidak bersikap adil padanya?


Akhirnya ketiga orang itu terlelap. Tapi walaupun mata mereka terpejam dan otak mereka beristirahat, sihir mereka masih tetap bekerja. Mereka tetap memasang sihir deteksi di sekitar lingkungan mereka.


***


Empat jam berlalu...


Tidak ada terjadi apa pun, hanya suasana malam yang sunyi dan senyap.


Tiga orang yang tertidur mulai terbangun untuk berjaga. Sementara dua sisanya bersiap untuk tidur.


Mataku masih merasa sepat karena tidur selalu sebentar. Walaupun aku bisa memulihkan semuanya dengan sihir cahaya, membuat tubuhku lebih bugar. Tapi tetap saja ada keinginan untuk 'melanjutkan tidur' di dalam otakku.


Setelah kami bertiga bangun, kami langsung menuju depan gua untuk berjaga-jaga. Posisi gua yang kami tempti ini cukup tinggi sehingga aku bisa melihat dataran hutan lebat di bawah. Mungkin ini juga alasan tidak ada binatang sihir yang menyerang, karena kami berada di atas tebing. Kemungkinan besar yang akan menyerang adalah binatang sihir jenis burung karena mereka bisa terbang. Tapi binatang sihir jenis ini sangat sulit ditemukan.


"Kau menyukainya?" Robert datang dan duduk di samping Eva. Telunjuknya bergerak menunjuk langit."Aku akan membuat beberapa untukmu agar kita bisa melihatnya setiap malam" katanya sambil tersenyum.


"Membuat bintang?" aku mengernyit bingung.


Yah, bukan hal yang sulit untuk membuat bintang di ruang dimensi menurutku. Kau hanya perlu menggunakan sihir untuk mengimajinasikan semuanya.


"Ya" Robert mengangguk.


"Aku juga penasaran apa yang ada di atas sana" kata Robert sambil menatap langit melankolis. "Apa para dewa itu tinggal di atas?"


"aku tidak yakin" aku menjawab dengan cepat sambil menatap langit. Saat aku bermimpi bertemu dewa kucing, latar dunia dalam mimpiku selalu dipenuhi awan. Apa mereka memang punya tempat tinggal di atas awan? Ini masih misteri.


Walaupun aku bereinkarnasi, sulit untuk mempercayai bahwa dewa lain itu ada.


"Kalau memang para dewa itu tinggal disana, aku ingin menghancurkan mereka" kata Robert dengan senyum sinis.


"Eh?" aku mengerjap. "Kenapa?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Aku sudah membenci para dewa sejak aku masih kecil" Robert mengangkat kedua tangannya.


"..."


Aku tidak punya pendapat apapun.


Tapi ada satu hal penting yang harus kuingat. Aku tidak boleh membiarkan dewa kucing itu bertemu Robert. Walaupun aku tidak tahu apakah Robert bisa membunuh dewa.


Tapi...di dalam novel tidak pernah dijelaskan kalau Robert membenci dewa. fakta ini cukup mengejutkanku.


Kami membicarakan banyak hal selama beberapa jam. Walaupun beberapa hal tidak penting, karena dia selalu menggodaku.


Aku sudah lama mengenal Robert, tapi dia belum pernah menceritakan apa pun tentang dirinya sampai saat ini. Walaupun aku mengetahui semuanya dari novel, itu tidak cukup karena novel hanya berfokus pada tokoh utama. Jadi setelah pembicaraan ini, aku mengetahui banyak tentang Robert. Bagaimana masa kecilnya, bagaimana dia berpetualang, apa makanan kesukaannya, bagaimana sifat dia yang sebenanrnya. Ini sebenarnya cukup menyenangkan. Sampai dia mengatakan:


"Aku ingin membunuh putra mahkota itu"


"Ehhhhh?!" aku mengerjap kaget. Robert ingin membunuh Denis! Apa-apaan ini?! Sejak kapan dia punya dendam terhadap Denis? Aku tahu hubungan keduanya cukup buruk, tapi aku tidak mengira mereka berencana untuk membunuh satu sama lain.


"Kenapa?"


"Karena dia menghalagi jalanku" Robert menjawab sambil menatap Eva penuh pengertian. "Aku tidak menyukainya.."


Ehem! Aku berdehem. "Begitu...Tapi bukankah mengalahkannya sudah cukup? Tidak perlu membunuhnya. Maksudku membunuh itu cukup kejam" Aku mencoba memberi saran. Kelihatannya ini hanya perkelahian anak muda yang ingin membandingkan kekuatan mereka. Tidak perlu saling membunuh. Ini hanya kebencian karena iri antara kekuatan sama lain.


"Em" Robert berpikir sambil memegang dagunya. "Ini cukup bagus. Aku akan mengalahkannya sampai orang tuanya tidak mengenalnya saat bertemu dengannya"


Mulutku berkedut.


Di dalam novel itu, walaupun mereka saling berebut cinta Reina, mereka tidak pernah benar-benar bertarung satu sama lain. Yah, itu karena Reina selalu melerai mereka. Jadi aku cukup kaget saat mendengar Robert memiliki tujuan untuk membunuh Denis.


Akhirnya pembicaraan kami berhenti di sini, karena Jean dan Hans sudah mulai terbangun.  Kami mulai berkumpul lagi.


"Baiklah, kita akan melanjutkan perjalanan" kata Robert sambil melihat semua orang


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2