
Cerita sebelumnya:
Eva dan dua orang pria asing itu memutuskan untuk menunggu sampai malam, sebelum akhirnya mereka kembali ke Kota Sihir. Mereka mengisi waktu itu dengan membicarakan kisah hidup mereka masing-masing. Tanpa sadar Eva mulai larut ke dalam kisah petualangan mereka.
Malam pun tiba, mereka memutuskan untuk kembali dengan lingkaran teleportasi. Tapi hal yang aneh terjadi. Seharusnya mereka berteleport ke penginapan mereka di Kota Sihir, tapi nyatanya mereka berteleport di tempat asing.
Sementara di sisi lainnya, para Dean dari Menara Sihir sudah tiba di Kota Sihir. Ini karena Dean Wason sangat khawatir saat mendengar laporan Robert. Lalu mereka semua memutuskan untuk berpencar dan mencari Eva malam ini.
***
Empat orang berjubah hitam berkumpul satu sama lain di sebuah rumah kayu. Mereka mengelilingi meja sesekali menyesap minuman keras yang ada di depan mereka.
"Bagaimana kalian berdua bisa begitu bodoh? Dia hanya seorang gadis kecil, tapi kalian tidak bisa menangkap nya!" teriak salah satu dari mereka sambil menghentakkan botol minuman di meja.
"Cih! Ini bukan salahku sama sekali. Ada yang menolongnya secara diam-diam dan menggunakan cara licik untuk mengalihkan perhatian kami" dia memberikan pembelaan.
"Itu salah kalian! Tetap saja orang yanh menolongnya itu juga hanya bocah. Kau tahu bocah akan selalu bergaul dengan bocah. Dasar bodoh! Kita sudah hidup seabad, tapi otakmu benar-benar bodoh!"
"Apa maksudmu? Berhenti mengatakan diriku bodoh! Kau yang bodoh!"
"Dasar tua bangka tidak tahu diri!"
"Kau yang tua bangka tidak tahu diri!"
Akhirnya dua orang dari mereka saling adu mulut seperti anak kecil. Sampai membuat kesal dua orang lainnya.
"Cukup kalian berdua!"
Dua orang itu akhirnya berhenti berkelahi.
"Bisakah kalian berhenti berkelahi seperti anak kecil. Kita harus memikirkan cara untuk mengambil benda itu!"
"Kita harus mencarinya sekarang. Ini akan lebih sulit kalau mereka sudah kembali ke penginapan dan masuk ke domain sihir"
"Kau benar..." dua orang yang berkelahi itu berhenti dan menjawab secara bersamaan.
"Jadi tunggu apa lagi. Ayo kita cari sekarang. Jangan lupa kirimkan sinyal telepati kalau kalian menemukan jejaknya."
__ADS_1
Tiga orang lainnya merespon dengan mengangguk kan kepala mereka.
Mereka berempat mengeluarkan alat sihir dengan bentuk seperti kompas. Mereka melacak keberadaan Eva dengan kompas itu. Yah, benar sekali kompas ini adalah alat Sihir untuk melacak mana. Karena mereka sudah mendapatkan sampel mana Eva, mereka hanya harus mengikuti jejak mana yang ditinggalkan. Tapi ada satu kelemahan. Mereka melacak semua tempat yang dikunjungi Eva, semua tempat yang meninggalkan jejak mana. Jadi mereka perlu berusaha keras untuk mencari tempat spesifik di mana gadis itu bersembunyi.
Mereka pun keluar dari rumah kayu itu dan mulai berpencar.
Mereka mencari selama beberapa jam. Sampai akhirnya satu orang dari mereka mulai menghubungi lewat telepati.
"Aku menemukan jejak mana yang kuat di tempat ini" orang ini sedang berada di Padang rumput.
"Aku juga. Mananya benar-benar kuat dan tempat ini sangat misterius" satu orang sedang berada di atas atap salah satu toko.
"Aku juga. Aku merasakan mana gadis ini sangat kuat di penginapan..."
"..."
Semua orang langsung terdiam.
"Penginapan? Penginapan mana?"
"...." Semua orang terdiam lagi.
"Dasar bodoh!" kata salah satu dari mereka, membentak dengan sangat keras.
"Tentu saja kau merasakan mananya di tempat itu. Itu tempat penginapan para peserta Pertandingan sihir! Dia memang tinggal di tempat itu. Aku ingin mengeluarkan isi otakmu dan memeriksanya!" bentak salah satu dari mereka. Emosinya benar-benar memuncak kali ini. Ini semua karena semua dia memiliki rekan yang sangat bodoh. Rekan bodoh nya ini bahkan tidak bisa bekerja dengan baik dan hanya bermain-main. Dia tidak menyukainya!
Haa~ dia akhirnya menghela napas pasrah.
"Aku akan mengabaikanmu" katanya. Lalu dia mulai berbicara dengan dua orang lainnya. "Mari kita berkumpul di daerah perkotaan lalu menuju ke padang rumput"
Semua rekannya langsung setuju.
Akhirnya keempat orang pria tua itu menuju Kota Sihir. Mereka berkeliaran di daerah pertokoan sambil menyembunyikan diri mereka di kegelapan malam.
"Hm....jejak mananya memang kuat di daerah ini. Mungkin gadis itu pernah berkeliaran ke daerah ini."
"Tapi kenapa kita tidak bisa menemukan nya?"
__ADS_1
"Ada dua kemungkinan. Pertama jejak mana gadis itu sangat kuat sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk pudar. Kedua, gadis itu bersembunyi di suatu tempat sehingga kita tidak bisa menemukannya"
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Hanya ada satu cara" dia mengeluarkan alat sihir aneh berbentuk benang. "Kita letakkan alat pengganggu mana ini di sini. Dan di tempat kedua juga. Jadi kalau benang ini mendeteksi mana gadis itu, dia akan mengacaukan nya. Setelah itu kita akan menangkap gadis itu secepatnya karena benang ini tidak akan pernah lepas dari nya"
Semua orang mengangguk setuju
"Ayo pergi ke tempat selanjutnya."
Empat orang itu pun mulai menghilang di tengah kegelapan malam.
Dua jam kemudian, sekelompok orang mulai muncul di daerah yang sama. Mereka adalah kelompok Menara Sihir yang sekarang juga mencari gadis kecil itu.
Dean Wason mengernyitkan keningnya. "Aku merasakan mana yang sangat familiar barusan. Tapi itu hilang tiba-tiba..." dia bergumam bingung.
"Dean kau tidak apa-apa?" Robert bertanya saat melihat Dean Wason sedikit melamun.
"Aku tidak apa-apa. Alat pendeteksi mana itu mengarah ke sini. Ayo kita periksa sebelum pindah ke tempat lainnya" Dean Wason memerintahkan.
***
Aku berteleportasi ke tempat yang asing. Aku akhirnya memutuskan untuk memeriksa lingkungan sekitar. Ternyata kita masih berada di daerah perkotaan dengan banyak sekali rumah kayu. Lalu kenapa daerah ini sangat sepi. Bahkan mereka tidak bisa merasakan kehadiran penduduk. Untuk kota yang normal, mereka biasanya masih bisa merasakan penduduk yang tinggal walaupun hari sudah malam.
"Hati-hati" si tuan memperingatkan.
Lalu tiba-tiba empat orang berjubah hitam mengelilingi mereka.
"Hahahaha! Akhirnya kita berhasil!" teriak salah satu jubah hitam. Teriakannya sangat bergema dengan keras di kegelapan malam.
Eva dan dua orang lainnya terpojok di tengah-tengah.
"Ck!" si Tuan mendecakan lidahnya kesal.
"Sial!" yang satunya mulai mengumpat.
Sementara Eva sibuk berpikir. Apa yang harus dia lakukan untuk melarikan diri? Dia tidak bisa bertarung saat ini. Perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Mereka bertiga hanya anak-anak di mata para jubah hitam ini. Dia harus memikirkan sebuah rencana! Rencana untuk bisa melarikan diri tanpa terluka lalu kembali untuk melapor!
__ADS_1