
BAB 7
Cerita sebelumnya:
Bom itu tidak berhasil meledak dan bahkan menghilang secara perlahan. Semua orang bingung dan Marquis Zent mengira bahwa alat sihir miliknya rusak. Tapi ternyata itu adalah ulah Ren. Ren tiba dengan penampilan elfnya yang mencolok dan menarik perhatian semua orang. Sementara di sisi lain pangeran Erick bertemu dengan rombongan prajurit aneh dengan armor silver yang sangat mencolok. Rombongan itu memperkenalkan diri mereka sebagai sisa dari organisasi kuil suci. Pangeran Erick kaget saat mendengarnya.
***
Reinell menatap Pangeran Erick sekali lagi sebelum dia undur diri. Sebenarnya dia merasa agak curiga dengan perilaku pemuda ini. Tapi karena pihak lain adalah seorang pangeran dari Kerajaan jauh, dia tidak berani untuk mengusik lebih jauh.
Pangeran Erick merasa lega saat melihat musuhnya mundur dengan teratur. Harusnya seperti itu. Tapi tiba-tiba dua orang disamping Reinell membisikan sesuatu padanya. Membuat Reinell tiba-tiba berbalik dan tidak jadi pergi.
"Ada apa?" pangeran Erick berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
"Yang Mulia, saya berbalik untuk memperingatkan anda. Salah satu pelayan anda adalah pelayan di kediaman Duke Well. Orang-orang saya mengenalinya. Mungkin dia adalah mata-mata. Jadi berhati-hatilah" katanya sambil menunjuk ke arah seorang pelayan.
Tubuh pelayan itu bergetar ketakutan dan dia langsung berlutut. Tapi dia tidak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Oh, baiklah" Pangeran Erick menundukkan kepalanya dan berkata dengan serius. "Terima kasih atas informasinya Tuan Reinell. Aku tidak mengira bahwa ada mata-mata yang menyusup ke dalam wilayahku. Aku akan membereskannya setelah ini" katanya dengan ekspresi serius.
Reinell tersenyum. "Terima kasih kembali" Dia berbalik kembali menuju ke arah pasukannya.
Pangeraan Erick tidak berani kembali ke dalam tendanya sampai dia memastikan bahwa orang-orang itu berhasil menghilang dari wilayahnya. Setelah memastikan bahwa mereka benar-benar hilang, dia mendesah lega. Lalu dia menatap pelayan yang ditunjuk tadi dengan wajah cemberut.
"Gara-gara kau, aku hampir buang air di celana" katanya. "Kalau kau memang punya wajah yang populer kenapa tidak menyembunyikan wajahmu terlebih dahulu sebelum berkeliaran" katanya cemberut. Lalu dia berbalik kembali ke tenda miliknya.
Pelayan itu menunduk. Tidak ada yang tahu ekspresinya. Tapi pelayan ini adalah pria tua yang sudah mengabdi sebagai kepala pelayan di rumah Duke selama bertahun-tahun. Jadi wajar ada yang mengenalinya. Dia sebenarnya sedikit kesal mendengar perkataan pangeran Erick. Tapi dia menahannya karena dia tidak ingin memperburuk situasi dan pria itu masihlah seorang pangeran.
Dia hanya memiliki satu harapan di hatinya. yaitu semoga tuannya dapat kembali dengan selamat. Dia semakin khawatir saat melihat musuh asing yang terlihat cukup kuat itu.
***
Dia bisa melihat bahwa sekelompok prajurit sedang bertarung satu sama lain di depan pintu gerbang ibukota. tapi Ren mengabaikannya. Tujuan utamanya adalah membantu Eva menyelamatkan Diana, bukan untuk membantu para manusia berperang satu sama lain. Lagipula Eva dan Diana adalah orang-orang berharga baginya.
Dia melintasi ibukota dan melihat kota itu menjadi sangat sepi sekali. Dan merasakan keberadaan banyak orang di suatu tempat di tengah-tengah kota. Jadi dia menuju kesana.
__ADS_1
Setelah semakin dekat ke tempat itu -aula dimana Diana akan dieksekusi secara publik- Ren bisa melihat keberadaan manusia. Beberapa orang berhamburan dan berlarian keluar, yang membuat Ren merasa tidak nyaman.
Dia menuju ke tengah aula. Tapi sesuatu menghalangi nya.
"Penghalang!" Ren menyentuh penghalang transparan itu dengan jarinya. Penghalang itu terasa kenyal seperti gelembung sabun. Dan penghalang itu menghisap kekuatan sihirnya!
Dia pernah melihat penghalang seperti ini sekitar ratusan tahun yang lalu dan tidak mengira bahwa benda itu akan muncul lagi di tempat ini.
Secara perlahan dia mulai melihat perubahan aneh pada penghalang yang semakin terasa panas dan berubah warna menjadi merah.
Ren merasa bahwa hawa panas dari penghalang ini sangat familiar.
"Sihir api kuno" dia bergumam kaget setelah menyadari nya. Lalu dia tersenyum.
Ren memiliki mana api dalam tubuhnya. Melihat benda langka ini, dia merasa sangat senang. Siapa yang mengira bahwa dia akan menemukan harta yang bagus seperti ini di sebuah kerajaan kecil.
Ren pun mulai menyerap sihir yang keluar dari penghalang. Dia menyerapnya dengan mudah. Dan secara perlahan warna merah dari penghalang itu memudar. Dan penghalang itu tiba-tiba hancur dengan sendirinya.
__ADS_1
Ren tersenyum. Dia merasa puas.
"Rasanya enak"