Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 7 Berburu Penyihir Gelap 2


__ADS_3

Cerita sebelumnya:


Ada pembersihan besar-besaran di setiap tempat. Mereka mencari penyihir gelap tersembunyi dan memusnahkan mereka.


Kerajaan Well tidak terkecuali. Mereka melakukan pembersihan di ibu kota dan juga akademi. Eva berhasil lolos investigasi saat pihak akademi memeriksa kamarnya.


Setelah itu dia menemui Robert di ruangan guru. Robert memberitahu nya tentang faksi kerajaan yang mengincar keluarganya. Bahkan dia memberitahu bahwa Raja juga terlibat.


Membuat Eva sedikit kaget karena tak percaya. Eva berpikir bahwa pada akhir nya semua akan kembali ke tempat nya. Keluarga mereka tetap berada dalam bahaya, walaupun dia sudah merubah takdirnya. Bahaya itu datang dengan cara yang berbeda sekarang. Saat itu Robert sedikit menggoda Eva dan membuat gadis kecil itu melarikan diri.


***


Wajahku masih memerah. Apa-apaan sih sikap Robert itu? Jantungku tidak bisa berhenti berdetak saking gugupnya. Lagipula wajahnya benar-benar terlalu dekat. Aku berpikir dia akan...Kyaaaa! Aku menggeleng kan kepalaku dengan cepat sambil mengulangi kata-kata lupakan di dalam kepalaku. Dia pasti hanya ingin mempermainkanku. Aku yakin itu!


Aku melihat gedung di belakang ku. Robert sama sekali tidak mengejarku. Aku merasa lega, dia tidak bisa melihat ekspresi aneh ku sekarang.


Aku menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan nya, berusaha mengurangi rasa canggung ku. Lalu aku memutuskan untuk menemui Vivian karena aku tidak punya tujuan lainnya sekarang.


Tapi tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang. Sosok itu terjatuh. Aku sudah menstabilkan diriku lebih dulu saat aku mendengar suara kaki yang mendekat ke arahku.


"Maafkan aku...." sosok itu berkata pelan.


Aku menoleh dan melihat seorang gadis seumuran denganku. Dia terjatuh, menyebabkan rambut panjangnya berhamburan ke tanah dan terlihat sangat berantakan. Gadis itu terlihat tidak terurus sama sekali. Dia bahkan tidak memotong poni nya, membuat rambut poni itu menutupi wajahnya sepenuhnya.


Dia seperti sadako.


Umu? Tunggu! Sadako?


"Ah!" aku dan gadis sadako itu berteriak bersamaan karena kami saling mengenal satu sama lain.


"Eva!" gadis sadako itu dengan cepat mengenaliku.


Tapi aku belum mengenali nya. Aku benar-benar lupa namanya.


"Siapa?"


Melihat ekspresi ku yang bingung, wajah gadis sadako itu berubah kecewa. "Kita sebelumnya bertemu saat melakukan misi untuk menjemput para pangeran dan putri dari Kano." Dia berusaha menjelaskan.


"Ah! Aku ingat!" aku berteriak dengan mata berbinar. Aku ingat gadis itu. Dia adalah gadis misterius yang sangat jarang berbicara. Dan dia bukan tokoh yang muncul dalam novel juga, karena itulah aku sedikit tertarik padanya. Tapi sayang nya, aku lupa namanya. Aku benar-benar tidak menyukai ingatanku yang sangat buruk ini.


"Namaku Fena" dia berkata, seakan-akan dia tahu bahwa Eva melupakan namanya.


"Maaf..." kataku menyesal.


"Tidak masalah. Kita hanya bertemu satu kali. Sangat wajar kau melupakan namaku" katanya santai.


"Tapi, kau ingat namaku..." jawabku lagi


"Tentu saja aku ingat. Kau sangat terkenal di akademi" kata Fena sambil terkekeh kecil.


Wajahku langsung memerah malu saat mendengar nya. "Aku tidak seterkenal itu..." aku berusaha bersikap rendah hati disini. Padahal aku sedikit menyukai pujian itu.


"Tidak, tidak, kau sangat terkenal. Awal nya hanya sebagai putri tungga Duke yang menjadi tunangan putra mahkota. Tapi semua orang sekarang mengakui kekuatan mu. Mereka melihat mu menggunakan sihir tingkat tinggi dan mengalahkan senior, padahal kau masih siswa tingkat satu saat itu" kata Fena bersemangat. Dia menatap Eva dengan mata penuh pemujaan.


"Ehem!" aku terbatuk kecil. "Kenapa kau sangat terburu-buru seperti itu?" aku langsung mengalihkan pembicaraan nya dengan cepat.

__ADS_1


"Oh..." wajah Fena tiba-tiba berubah menjadi sedih dan panik. "Aku...aku..." dia tergagap.


Belum sempat Fena menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba lima orang muncul mengepung kami. Mereka adalah lima orang staff akademi. Mereka langsung memegang lengan Fena dan mengunci gadis itu seakan-akan dia adalah seorang buronan.


Saat itu, aku baru teringat bahwa Fena adalah penyihir gelap! Berarti penyihir gelap yang dirumorkan itu benar-benar adalah dirinya. Walaupun Eva sudah menduga ini sebelumnya, dia tidak bisa tidak kaget. Itu berarti Fena sedang melarikan diri dari dari mereka.


Salah satu staff meletakkan alat sihir aneh di kening Fena. Dan BIPPPP! Alat itu berbunyi.


"Dia memiliki mana gelap dalan tubuhnya" kata staff itu memastikan. Lalu staff lainnya tersentak.


Mereka memang menemukan banyak sekali barang aneh di dalam kamar asrama gadis itu. Ada alat sihir aneh dan juga buku mantra untuk mempelajari sihir gelap. Mereka sudah curiga pada awalnya, tapi gadis itu melarikan diri dengan bodoh.


Fena panik. Dia tidak tahu bahwa akan ada inspeksi mendadak di kamarnya pagi-pagi sekali. Dia belum menyembunyikan semua barangnya di dalam ruang dimensi karena saat itu dia tidak berada di asrama. Saat dia sampai dia melihat banyak orang di kamar nya, jadi dia berlari dengan bodoh karena panik.


"Tapi dia seorang bangsawan" salah satu staff bergumam tak percaya. "Aku tidak menduga bahwa ada penyihir gelap yang menyusup di kalangan bangsawan"


Gulp!


Aku menelan ludahku, gugup, saat mendengar nya. Karena Fena sudah ketahuan Sekarang, mereka mungkin akan memeriksa seluruh keluarga bangsawan. Bagaimana kalau dia menemukan identitas bahwa kami bertiga adalah penyihir gelap? Semuanya akan tambah runyam! aku benar-benar akan jadi gila kalau hal itu terjadi.


"Bisakah kita memeriksa dia juga?" tiba-tiba muncul suara yang tidak asing. Reina muncul dan menunjuk Eva dengan ekspresi polosnya. "Orang ini. Entah kenapa aku pernah melihat dia mengeluarkan mana gelap." katanya gugup. Lalu dia membuat wajah sedih. "Tapi aku tidak yakin..."


Dia menatap Eva dengan mata menyedihkan. "Bisakah aku memeriksamu? Aku hanya ingin memastikan saja. Ini semua demi keselamatan orang lain. Bukan berarti aku tidak percaya padamu. Jangan marah padaku oke" katanya dengan wajah menyedihkan.


Aku menatapnya dengan mata melotot. Arghhh! Aku benar-benar membenci gadis itu! Kenapa dia tiba-tiba muncul dan mengatakan hal seperti itu, seakan-akan dia adalah dewi. Aku bahkan hampir muntah darah saat mendengar semua perkataan nya. Dia berani menuduhku, tapi bertindak seolah-olah dia melakukan semua itu demi keselamatan orang lain.


"Reina benar. Kita harus mengecek nya. Aku melihat mereka berdua adalah kenalan. Ada kemungkinan mereka adalah sekutu" salah satu staff, pendukung Reina, menyuarakan pendapatnya.


Tapi staff lainnya memasang wajah ragu. Mereka tahu dengan jelas identitas Eva. Mereka juga tahu konflik antara Eva dan Reina, terutama sejak kejadian di ujian pertandingan itu. Eva menyebabkan salah satu teman Reina menjadi cacat. Mereka bermusuhan karena itu. Mereka sama sekali tidak ingin terlibat dengan konflik antara kedua gadis bangsawan ini. Mereka tidak tahu bahwa hubungan Eva dan Reina sudah tidak baik sejak dulu.


Aku sangat gugup saat alat pendeteksi itu mengarah ke arahku. Dengan cepat aku mengalirkan mana cahaya ke seluruh tubuhku sambil memejamkan mataku. Berharap bahwa mana gelap di dalam tubuhku benar-benar terblokir oleh mana cahaya itu.


Dan ternyata dugaanku benar. Aku selamat. Aku tidak mendengar bunyi apapun dari alat itu. Aku pun mendesah lega.


"Apa yang kau lakukan?" staff lainnya langsung merebut alat sihir pendeteksi itu dari rekannya. Dan dia membungkuk untuk meminta maaf pada Eva. "Sebagai ketua tim, aku benar-benar minta maaf karena kelancangan rekan saya" katanya sungguh-sungguh. Sikap rekannya memang tidak sopan. Dia langsung mengarahkan alat sihir asing ke wajah Eva. Kalau Duke mengetahui itu, mereka akan berada dalam konflik yang cukup parah.


Tiga staff lainnya juga membungkukan tubuh mereka untuk meminta maaf. Hanya staff terakhir yang menatap Eva dengan tatapan tidak senang.


"Minta maaf sekarang!" sang ketua akhirnya berteriak marah.


Staff itu mengernyitkan kening nya dan akhirnya membungkukan tubuhnya dengan enggan. "Aku minta maaf" katanya tidak tulus.


Aku kesal. Apa aku memang semudah ini untuk ditindas. Aku tentu saja menahan tanganku yang gatal untuk memukulnya. Tidak peduli bahwa dia adalah pria yang lebih tua dariku. Sikapnya sangat tidak sopan.


"Karena kau bersikeras untuk memeriksaku, maka aku akan memeriksa mu juga" kataku sambil tersenyum licik. Daripada memukuli nya, aku memikirkan balas dendam yang lebih setimpal.


Staff itu mengernyitkan keningnya tidak senang. "Kenapa aku harus melakukan nya?" dia langsung membantah.


"Diam!" sang pemimpin langsung membentaknya. "Nona, kami, semua staff di akademi ini memiliki latar belakang yang sangat jelas. Tidak mungkin ada penyihir gelap yang menyusup di antara kami" sang pemimpin itu menjelaskan maksud nya dengan sangat sopan.


"Oh?" aku menaikkan alisku. "Latar belakang yang sangat jelas ya? Apa kau mengatakan bahwa latar belakang bangsawan ku tidak jelas, sehingga kau mengarah kan alat Sihir itu secara sembarangan padaku?" aku melotot penuh kebencian.


"Tidak...tidak, kami tidak berani..." dia menjawab cepat.


"Aku tidak akan menerima permintaan maaf kalian. Aku akan melaporkan semuanya kepada ayahku, raja dan juga kepala sekolah atas perlakuan tidak sopan kalian" kataku kejam.

__ADS_1


"Nona, kami akan memeriksa nya" sang pemimpin itu langsung mengalah dengan cepat. Mereka semua bisa dipecat kalau Eva benar-benar melaporkan mereka.


"Aku yang akan melakukan nya sendiri. Karena dia mengarahkan alat brengsek ini padaku, jadi aku akan membalasnya" kataku tajam.


Dia pun memberikan alat sihir pendeteksi itu padaku dengan pasrah. Aku langsung mendekati staff tidak tahu diri ini. Saat ini staff itu sedang berdiri dengan angkuh dan menatapku dengan tatapan penuh percaya diri.


Aku tersenyum sinis. Lihat saja, sampai kapan dia akan memasang wajah seperti itu.


Aku mengarahkan alat itu padanya. Tidak lupa aku mengalirkan sedikit mana gelap pada jari-jari ku dan BIPPPP! Bunyi yang sangat keras terdengar.


Semua orang di tempat itu membeku dengan mulut terbuka. Sementara staff brengsek itu membeku dengan ekspresi tak percaya.


BAK!


Aku berpura-pura kaget dengan menjatuhkan alat itu secara refleks ke tanah. Lalu aku mulai menatap sosok di depanku dengan mata melotot kaget. "Astaga! Kau benar-benar....Aku tidak mengira...Astaga!" kataku berteriak kaget.


Sosok itu sadar. "Tidak mungkin. Alat itu pasti rusak. Aku bukan penyihir gelap sama sekali" dia berteriak. Tapi dua staff lainnya langsung mengunci lengannya dan memakaikan borgol pengunci sihir di tangannya.


"Dia pasti melakukan sesuatu pada alat itu! Aku yakin itu! Percaya padaku hei! Sudah berapa lama kita menjadi rekan kerja! Jangan percaya padanya!" dia terus berteriak frustasi. Tapi sang pemimpin langsung menyumpal mulutnya dengan kain agar dia tidak terus berteriak.


"Kami benar-benar minta maaf nona" katanya dengan wajah menyesal. "Siapa yang mengira bahwa diantara staff ada hal seperti ini..." katanya lirih, dia masih tidak percaya dengan kejadian yang terjadi di depan matanya ini.


"Aku akan memberimu saran. Lebih baik suruh kepala sekolah untuk mengecek seluruh staff" kataku. "Bisa saja ada lebih banyak yang bersembunyi. Jangan hanya mengecek para siswa" kataku kemudian.


Dia mengangguk patuh.


Fena menatap semuanya dengan tatapan kagum. Dia tidak menyangka Eva akan melakukan hal seperti itu. Dia memang gadis yang keren dan dia sudah tahu itu.


Fena terus menatapnya dan akhirnya mata mereka bertemu.


"Aku akan menyelamatkan mu"


Eva tiba-tiba mengirimkan telepati padanya.


Fena mengerjap tak percaya. Saat dia mulai dibawa oleh orang-orang itu dia bergumam "Terima kasih..." sambil menangis.


Semua orang sudah pergi, kecuali Reina. Gadis itu masih di sana dan menatap Eva dengan tatapan intens.


"Hal jahat apa lagi yang kau lakukan?" kata Reina tajam. "Dia jelas-jelas bukan penyihir gelap! Kau pasti melakukan sesuatu pada nya!" dia menggertakkan giginya, benci.


Aku menatap gadis licik di depanku. Sayangnya aku tidak bisa menggunakan cara yang sama untuk memenjarakan nya karena dia semua orang tahu dia adalah penyihir Cahaya.


"Hal jahat? Bukankah selama ini kau yang selalu memikirkan hal-hal jahat itu?" kataku dengan senyum jijik. "Kalau kau memusuhi ku karena kursi putri mahkota. Kau bisa mengambil posisi itu dengan mudah. Aku sama sekali tidak menginginkan nya" kataku frontal. Awal mula semua ini terjadi, karena aku bertunangan dengan Denis. Jadi, kalau aku membatalkan pertunangan, semua akan kembali pada tempat nya.


"Eva!" tapi tiba-tiba suara yang sangat keras muncul. Itu adalah Denis. Dia datang karena mereka mengatakan bahwa mereka menemukan penyihir gelap yang bersembunyi itu. Tapi saat dia datang, yang dia lihat adalah pertengkaran kedua wanita. Bahkan dia mendengar kata-kata yang paling tidak diinginkan nya.


"Bagaimana kau bisa mengatakan hal seperti itu? Apa kau kira menjadi tunanganku adalah hal yang murah sehingga kau bisa mengopernya sembarangan?" kata Denis marah. Dia benar-benar tidak menyukainya saat Eva menyatakan bahwa dia akan membatalkan pertunangan mereka.


Aku mengerutkan kening, kesal. Kenapa Denis tiba-tiba muncul dan membuat semuanya semakin rumit sekarang?


"Heh? Kita memang bertunangan. Tapi siapa yang akan tahan kalau aku mempunyai tunangan yang selalu memarahiku dan bahkan memilih untuk mendengarkan orang lain dari pada mendengarku?" kataku jijik. "Pada akhirnya pembatalan pertunangan akan terjadi. Aku sama sekali tidak ingin kursi ratu yang murahan itu. Kau bisa bersama dengan gadis menjijikan itu" kataku berani.


Aku sudah menyerah dan membuang semuanya. Saat aku mengatakan semua itu, entah kenapa aku merasa lega. Harusnya aku bersikap seperti ini dari dulu. Mencoba untuk menarik hatinya benar-benar membuang-buang waktuku.


Denis sangat marah. Dia tidak bisa membendung nya. Dia tidak bisa menerima bahwa Eva mengatakan kursi ratu sangat murah. Perkataan itu berarti Eva menghina ibu dan juga kerajaannya. Dia mengangkat tangannya ingin menampar gadis itu. Eva juga tidak menghindar, membiarkan Denis menampar nya. Tapi tangan Denis terhenti di udara, karena ada yang menahannya.

__ADS_1


__ADS_2