
Cerita Sebelumnya:
Eva dan Vivian makan di sebuah restoran. Awalnya semua berjalan baik-baik saja sampai Reina muncu. Kemunculan Reina memicu emosi yang ada di hati Vivian, sehingga Vivian mulai berteriak marah. Suasana menjadi gaduh. Aku dan Vivian dipenuhi tatapan benci para tamu restoran. Dan saat konflik memuncak, Denis tiba-tiba muncul dari pintu depan.
***
Denis dan pangeran kedua menghampiri sumber keributan di depannya. Saat mereka tiba, semua orang langsung berdiri dan menyapanya dengan hormat.
"Apa yang terjadi?" Denis berkata dengan nada dingin sambil mengamati kerumunan. "Kalian seharusnya tidak membuat keributan di tempat umum seperti ini. Kalian harus menjaga sikap di depan umum. Apa kalian lupa etiket bangsawan?"
Tatapan Denis beralih ke yang lainnya. "Kalian juga. Kalian saat ini memakai seragam akademi. Apa kalian ingin mencemarkan nama baik akademi dengan berkelahi di tempat umum"
Wajah semua orang menunduk.
"Maaf....yang mulia...." Jawab Reina Sedih dengan mata berkaca-kaca. "Aku yang salah..."
"Tidak!" salah satu teman Reina menentangnya. "Reina sama sekali tidak bersalah. Dia hanya ingin menyapa kakaknya. Tapi siapa yang tahu kakaknya akan membentaknya seperti itu. Semua orang disini adalah saksinya. Mereka melihat kedua orang gadis bangsawan itu menyakiti Reina" katanya heroik.
Denis menatap wanita itu. Kemudian dia mengalihkan tatapan secara bergantian ke arah Eva dan Vivian.
Vivian langsung menunduk.
Tapi saat Denis bertatapan dengan Eva, Eva menatapnya balik dengan mata melotot.
Sebenarnya aku merasa kesal. Kenapa orang ini ada disini? Dia pasti akan menyalahkanku lagi bukan? Tapi...Cih! Aku sama sekali tidak peduli! Saat dia menatapku dan Vivian dengan penuh selidik, aku langsung melotot padanya. Kau ingin membentak kami bukan? Lakukanlah! Lagipula aku tidak peduli!
Tapi, itu tidak terjadi sesuai dengan perkiraanku! Saat mata kami bertemu, Denis hanya menatapku selama dua detik lalu mengalihkan tatapannya dengan canggung.
"Kalian pasti salah paham..." kata Denis sambil menatap para teman Reina satu per satu. "Aku tahu konflik yang terjadi di keluarga mereka" katanya sambil melirik Reina dan Vivian secara bergantian. "Kalian tidak mungkin tidak tahu...Semua orang sudah tahu bahwa hubungan kedua putri marquis tidak baik. Kalian seharusnya tidak membawa konflik yang berhubungan dengan urusan keluarga kalian di depan publik seperti ini" katanya sambil menatap Reina dan Vivian. "Lalu kalian seharusnya tidak melibatkan orang yang sama sekali tidak ada hubungannya..." dia takut-takut melirik Eva.
"Maafkan saya yang mulia" kata Vivian sambil menundukkan kepalanya.
"Maafkan saya juga yang mulia..." kata Reina dengan wajah memerah malu. Anehnya, wajah sedih itu menghilang dalam sekejap. Dia menundukkan wajahnya karena malu.
"Aku tahu hubungan kalian buruk. Tapi harusnya kalian tidak berkelahi seperti ini di depan umum. Aku harap kalian bisa berbaikan." kata Denis menasehati.
"Aku dengar kau melarikan diri dari rumahmu bukan?" tanya pada Vivian.
Vivian hanya mengangguk.
"Seharusnya kau kembali. Marquis sudah menceritakan semuanya padaku. Tentang Reina, sebaiknya kau tidak bersikap berlebihan padanya" kata Denis.
Mendengar perkataan Denis, Vivian mengepalkan tangannya erat-erat menahan marah. "Baik yang mulia..." katanya dengan suara bergetar. "Tapi aku memang ingin tinggal jauh dari mansion. Aku ingin hidup mandiri"
"Baiklah, kalian bisa bubar bukan? Kalian terlalu menarik perhatian. Aku tidak ingin ada rumor buruk yang terbentuk karena sikap kalian" kata Denis dengan sikap sok bijaksana.
"Saya undur diri yang mulia..." kata Reina. Dia membawa tiga orang temannya pergi ke lantai dua.
Saat aku melihat kepergiannya, aku mengangguk senang. Pilihan yang bagus. Dia pergi ke lantai dua, setidaknya kami tidak akan bertemu lagi. Apalagi kami sudah selesai makan. Sudah waktunya untuk kembali ke asrama.
"Ayo kita kembali" aku mengajak Vivian.
__ADS_1
Kami berdua berdiri. Denis dan pangeran berdua masih berdiri di tempat. Aku tidak mempedulikannya. Walaupun aku merasa Denis terus menatapku. Aku sama sekali tidak menoleh padanya. Aku memperlakukannya seperti udara. Menganggapnya tidak ada. Aku tidak mau emosiku naik saat aku melihatnya. Itu buruk bagi kesehatan kau tahu...
Saat kami berjalan keluar, tiba-tiba Denis menarik tanganku.
"Tunggu " katanya. "Ada yang ingin kubicarakan sebentar padamu"
"Hmph!" aku merenggut sambil menatapnya tidak senang. Tapi melihat sorot matanya yang serius, aku menuruti keinginannya. Seketika hatiku melunak. "Baiklah..."
"Aku duluan Eva. Aku akan kembali ke asrama" kata Vivian.
"Hati-hati"
"Aku pergi duluan" kata Denis sambil menatap pangeran kedua.
"Ehh? Kita tidak jadi makan?" katanya mengeluh.
"Pergilah ke lantai dua. Gadis itu ada di sana. Bukankah kau mengajakku karena ingin mengikutinya" kata Denis dengan senyum mengejek.
Wajah pangeran kedua langsung memerah. Tanpa mengatakan apa pun, dia langsung berlari ke lantai dua.
"Ikut aku" kata Denis sambil menatap Eva serius.
Denis mengajaknya terbang menuju halaman samping akademi. Kebetulan halaman itu menyediakan kursi dan meja, lalu kondisinya juga sepi. Tidak ada yang akan menganggu pembicaraan mereka.
Aku langsung duduk di salah satu kursi, tapi Denis masih berdiri di sampingnya.
"Apa yang ingin kau katakan?" kataku malas. "Aku juga sibuk. Aku tidak bisa menghabiskan waktuku untuk hal yang tidak penting"
Aku langsung tersentak. Ini mengejutkanku! Orang ini minta maaf? Yang benar saja!
"Apakah kau akan memaafkanku?" katanya penuh harap dengan mata berbinar. Ini benar-benar merusak image Denis dalam cerita. Kemana perginya pria yang dingin dan keren itu! Tampilannya sekarang seperti orang bodoh! Lihat saja mata berkaca-kaca dan wajah memerahnya. Dia seperti bocah cengeng....Tapi dia cukup imut...
"Iya..." kataku lirih, masih tidak percaya.
Mendengar jawaban ragu Eva, Denis menunduk kecewa. "Aku minta maaf karena sudah membantakmu.." katanya lirih. "Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku bersikap dingin karena harga diriku yang tinggi. Aku tidak akan bersikap dingin lagi. Aku akan memperlakukanmu sama dengan yang lain. Jangan membenciku oke..." katanya dengan nada memohon.
Mulutku berkedut. Aku benar-benar bingung.
Kalau ada yang melihat adegan ini. Pasti mereka akan salah paham. Karena Eva duduk dengan sikap seorang ratu dan wajahnya datar. Lalu Denis dengan wajah menyedihkan dan membungkuk padanya. Ini seperti adegan majikan membentak pelayannya. Tentu saja semua orang akan terkejut yang bersikap seperti pelayan itu adalah putra mahkota.
"Aku tidak membencimu oke..."
"Tapi waktu itu kau bilang kau membenciku?"
"Aku sedang emosi saat itu. Aku sama sekali tidak membencimu."
"..."
Denis mengangkat wajahnya. Dalam sekejap ekspresinya menyedihkannya langsung hilang dan dia tersenyum nakal. "Baiklah.." Dia mendekatkan wajahnya pada Eva. "Lalu bisakah kita bertemu setiap hari?"
Karena pergerakan Denis yang tiba-tiba aku sedikit tersentak dan wajahku memerah. "Itu tidak mungkin bertemu setiap hari" kataku sambil menjauhkan wajahku tidak nyaman.
__ADS_1
Wajah Denis berubah kecewa untuk yang kedua kalinya. "Lalu, maukah kau bergabung dengan Dewan?" ajaknya lagi.
"Eh? Tapi aku masih murid baru. Bukankah Dewan hanya untuk murid senior?"
Denis tersenyum. "Serahkan saja padaku" kata Denis sambil membusungkan dadanya dengan bangga. "Mulai tahun ini aku adalah ketua Dewan. Aku akan merubah regulasinya. Kalau kau ingin bergabung, aku menganggap permintaan maafku diterima" katanya dengan mata penuh permohonan.
Aku merasa tidak enak untuk menolak. Lagipula ini tidak masalah. "Baiklah.."
Denis tersenyum. Dia membuka ruang dimensi dan mengeluarkan sebuah kotak. "Ini hadiah permintaan maafku..." katanya sambil memberikannya pada Eva. "Aku ingin memberikannya padamu di pesta itu. Tapi hubungan kita semakin memburuk....Aku tidak sempat memberikannya padamu."
Aku juga langsung membuka ruang dimensi dan mengeluarkan kotak hadiah "Ini hadiah ulang tahunmu. Aku juga tidak sempat memberikannya padamu waktu itu"
Sebenarnya Aku tidak pernah menyiapkan hadiah ulang tahun untuk Denis. Aku sama sekali tidak kepikiran. Hadiah ini disiapkan oleh Diana. Diana membuat sebuah syal rajut kembar. Dia memberikannya satu padaku lalu sisanya menghadiahkannya untuk putra mahkota.
Mereka saling menerima hadiah.
Denis tersenyum. Telinganya memerah. Tapi tentu saja Eva tidak memperhatikan.
"Aku ingin mengajakmu pergi..."
Belum sempat Denis menyelesaikan perkataannya. "Tidak" Aku langsung menolaknya. "Aku sibuk. Aku harus berlatih dan menemani Vivian" kataku.
Sebenarnya aku menghindari berduaan dengan Denis. Walaupun kita sudah saling memaafkan, itu masih canggung buatku. Perubahan sikap Denis yang tiba-tiba ini membuatku tidak nyaman. Walaupun aku ingin dia tidak bersikap dingin padaku, tapi sikapnya saat ini terlalu berlebihan. Lagipula coba kalian bayangkan...Orang yang sudah bermusuhan denganmu selama bertahun-tahun tiba-tiba meminta maaf dengan wajah memelas dan mengajakmu untuk bertemu setiap hari. Tentu saja pasti canggung. Aku bahkan mengira Denis teracuni ramuan yang merusak otaknya, karena itu dia bersikap seperti ini.
Ini sama sekali bukan Denis yang kukenal....
Tanpa basa-basi, aku langsung undur diri dan menuju ke asramaku.
Saat aku masuk ke dalam kamar, aku melihat Vivian sedang sibuk dengan gambar-gambar aneh.
"Kau sudah kembali?"
"Hmm" aku langsung melemparkan diriku di atas tempat tidur.
"Apa yang kalian bicarakan?"
"Dia meminta maaf saat kejadian malam itu" jawabku langsung sambil merenung.
"Yah lagipula itu bukan salah putra mahkota. Itu salah perempuan penggoda itu. Dia selalu menggoda pria. Bahkan ayahku tergoda olehnya" kata Vivian benci.
"Kau sangat membencinya. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Vivian mulai menjelaskan sumber masalahnya. Kenapa dia begitu membenci Reina. Setelah mendengarnya, aku merenung. Novel bahkan tidak pernah menjelaskan bahwa Reina suka mencuri barang Vivian. bahkan mencuri kalung ibunya. Tapi melihat Reina yang kukenal ini sangat berbeda dengan deskripsi yang ada di dalam novel. Kalau perkiraanku benar, bahwa Reina berpura-pura menjadi gadis polos dan naif. Bukankah Reina ini terlalu licik?
"Aku kira putra mahkota menyukaimu. Kau tidak menyukainya?" tanya Vivian.
"Suka ya...Aku belum memutuskannya..." kataku ambigu.
Entahlah, tapi aku belum merasakan rasa suka padanya. Walaupun jantungku sedikit berdegup karena sikapnya yang tiba-tiba. Tapi itu bukan suka. Karena aku juga merasakan hal yang sama saat di dekat Robert dan Sayn.
Lagipula aku tidak mau berharap terlalu jauh. Aku takut saat aku benar-benar jatuh cinta, emosiku tidak akan terkendali. Dan aku benar-benar jatuh ke dalam jurang seperti Eva di dalam novel. Karena sudah mengalami kehidupan Eva selama lima siklus kehidupan. Eva yang gampang jatuh cinta dan cemburu, lalu Eva yang bernasib tragis karena cintanya. Membuatku takut untuk jatuh cinta.
__ADS_1
'Lagipula ini hanya sebuah novel. Semua yang ada disini hanyalah khayalan. Aku masih belum menganggap semua yang kualami di dunia ini nyata. Aku merasa seperti bermimpi panjang...'