Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Rumah Fram


__ADS_3

Cerita Sebelumnya:


Eva, Diana dan Emerta menikmati waktu mereka bersama di desa elf. Evan tidak ikut dan berada dalam pengawasan Ren.


Ini adalah pertama kalinya Eva melihat Desa elf. Dia sangat kaget saat melihat pemandangan yang ada di sana. Tempat ini dipenuhi dengan robot tanaman, alat sihir aneh dan kereta pohon. Lebih mengejutkan nya lagi, ini semua adalah hasil penelitian Ren.


Saat itu juga Emerta bertemu dengan Rexus. Emerta mengetahui Rexus adalah naga hanya dalam sekali lihat. Emerta juga menceritakan bahwa dia pernah bertemu dengan naga tua di kota elf ini. Eva yang mendengar semua cerita itu sangat kagum pada sang naga dan membuat Rexus menjadi cemburu.


***


Tempat akhir dari perjalanan mereka adalah kediaman Fram. Aku tidak akan mengingat hal ini kalau Rexus tidak mengingat kanku.


Dengan nada merajuk Rexus berkata "Aku ingin bertemu Fram"


Sehingga aku menyetujui nya langsung. Diana juga ingin melihat kondisi rumah bocah elf itu. Sejak Diana tiba di istana elf, dia sudah tahu identitas sebenarnya Fram. Dia bukan manusia tapi elf gelap. Tapi Diana tidak terlalu memikirkan hal itu. Lagipula itu hal yang normal bagi elf untuk menyamar saat berkunjung ke komunitas manusia.


Emerta tidak mengenal Fram. Tapi dia tetap mengikuti putri dan cucunya tanpa protes apapun. Dia juga penasaran dengan elf kecil yang tinggal bersama mereka sebelum nya.


Kita bisa menemukan rumah Fram dengan mudah karena bantuan Rexus. Rexus tahu bau Fram dan bahkan bisa mencium baunya dari jauh. Aku bahkan berpikir bahwa Rexus adalah reinkarnasi anjing pelacak.


Saat sampai, aku terkejut. Rumah Fram lebih besar dari rumah pohon lainnya. Terlebih lagi bangunan itu bertingkat dan memiliki dua pengawal elf yang menjaga nya. Mengingat kanku pada rumah bangsawan.


"Apa benar Fram ada disini?" aku bertanya dengan sedikit ragu.


"Apa kau meragukan skill naga?" Rexus merasa tersinggung dengan pernyataan nya.


"Tentu saja tidak. Tapi siapa yang mengira bahwa dia bocah kaya" gumamku tak percaya.


Saat aku akan masuk, kedua pengawal elf langsung menghentikanku. Mereka menatapku seolah-olah aku orang asing.


"Kami adalah tamu raja Ren. Kami kemari ingin bertemu dengan Fram" aku berusaha menjelaskan dengan sopan.


Ekspresi kedua pengawal itu tersentak sebentar sebelum akhirnya kembali normal. "Kembali. Ini bukan tempat orang asing seperti kalian" Mereka sama sekali tidak percaya dengan perkataanku.


Aku sempat bingung sesaat, memikirkan cara untuk masuk. Tapi aku tiba-tiba teringat dengan daun emas yang diberikan Ren padaku.


Aku pun mengeluarkan daun itu dan menunjukkan nya pada mereka. "Aku sama sekali tidak berbohong"


Mereka tersentak dan langsung menarik senjata mereka secepat kilat. "Maafkan kami. Kami akan memberitahu tuan muda lebih dulu" salah satu dari mereka masuk ke dalam rumah dengan lompatan yang sangat hebat. Sejak rumah pohon berada di atas pohon, setiap elf akan melompat atau terbang saat ingin masuk ke rumah mereka.


"Tuan muda ya..." Dia benar-benar bocah kaya. Hidup nya sangat nyaman. Tapi kenapa dia melarikan diri dan bahkan ditangkap oleh pendagang budak?


Tak lama kemudian, Fram muncul dengan penampilan barunya untuk menyambut kami.


"Kalian?" mata Fram berbinar cerah. "Masuk" katanya tanpa basa-basi.


Kami semua melompat ke halaman rumah Fram. Halamannya kecil karena itu di atas pohon, tapi sangat cantik. Aku bisa melihat pot-pot kecil yang berisi buah-buahan dipajang di depannya.


Saat aku masuk, aku sangat menganggumi interior dan dinding rumahnya. Dindingnya sangat berbeda dengan rumah manusia yang terbuat dari batu. Dindingnya terbuat dari akar tumbuhan sehingga memiliki nilai seni tersendiri. Di tambah dengan lampu sihir aneh ciptaan Ren di langit-langit. Semuanya sangat cantik, mengingat kanku pada tempat tinggal di negeri dongeng dengan interior yang sangat modern. Bahkan aku bisa melihat beberapa robot pembersih di rumahnya. Sebelum pulang, aku akan meminta beberapa robot ini pada Ren untuk dibawa pulang. Mereka sangat lucu dan efisien.


Fram membawa kami ke ruang tamu dan menyuruh kami duduk. Tidak ada banyak orang di rumahnya. Aku hanya melihat Fram dan juga kepala pelayan elf di samping nya.


Saat kami duduk, Rexus keluar dari tas dengan cepat dan ikut duduk di atas sofa.


Astaga! Sofanya bahkan terbuat dari kelopak bunga. Sungguh karya seni!


"Siapa yang mengira bahwa Fram kecil kita adalah seorang Tuan Muda~" aku berusaha menggoda nya.


Uhuk! Fram terbatuk. Wajahnya memerah, dia berusaha menahan rasa malu nya.

__ADS_1


"Kepala pelayan, tolong siapkan beberapa minuman untuk para tamu" Fram memerintahkan. Pelayan elf itu mengangguk sopan dan pergi meninggalkan ruangan.


Karena kami sudah berada di tempat yang aman, kami pun melepaskan tudung jubah kami. Sebenarnya aku merasa sangat panas saat berjalan dengan menutupi kepalaku. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua demi keamanan.


"Kenapa kalian kemari?" Fram bertanya. Dia mengalihkan topiknya, tidak mempedulikan godaan ku.


"Rexus merindukan mu" jawabku kemudian.


"Siapa yang merindukannya!" balas Rexus langsung dengan wajah cemberut.


Aku hanya meresponnya dengan senyuman.


"Fram, perkenalkan. ini nenekku. Dia adalah seorang peneliti di istana" aku berusaha mengenal kan nenek ku sejak kedua orang itu belum pernah bertemu.


"Halo, nyonya. Saya adalah Fram Angius." Fram memperkenalkan dirinya dengan suara kekanak-kanakannya.


"Angius?" Emerta sedikit kaget setelah mendengar nya. "Apa kau anak perdana menteri?" tanya Emerta. Walaupun dia tidak terlalu tahu sistem bangsawan di kerajaan elf. Dia mengenal Bangsawan elf bernama Angius. Dia adalah perdana menteri, tangan kanan Raja. Tapi dua tahun lalu, dia meninggal dengan mengenaskan karena serangan musuh. Menyebabkan seluruh kerajaan elf berduka. Ditambah lagi tuan muda Angius juga ikut menghilang dan membuat semua orang merasa khawatir.


"Benar sekali. Apa nyonya mengenal ayahku?" tanya Fram tak percaya.


"Tidak, dia sangat terkenal. Tapi aku mengenal ibumu" jawab Emerta jujur.


Aku kaget. Ternyata Fram adalah seorang bangsawan. Aku tahu ibu Fram adalah murid David. Siapa yang mengira bahwa ayahnya adalah perdana Mentri. Identitas Fram ternyata cukup berpengaruh.


"Ibuku?" Fram memiringkan kepala tidak mengerti.


"Ya. Ibumu adalah salah satu murid ayahku" kata Emerta sambil tersenyum melankolis.


Mata Fram mengerjap beberapa kali. Lalu dia mengangguk mengerti.


"Fram, hidupmu sudah cukup nyaman dan terlindungi. Kenapa kau melarikan diri dan bahkan ditangkap oleh pedagang budak?" aku tidak bisa menahan diriku untuk bertanya.


"Aku tidak suka tinggal disini" jawab Fram jujur. "Terasa sesak. Aku sama sekali tidak bisa bernapas. Aku tahu kedua orang tuaku meninggal. Semuanya menjadi sulit sejak itu" kata Fram menyedihkan.


Kepala pelayan itu sedikit mengerjap kaget saat melihat tiga orang manusia. Tapi dia tidak mengatakan apapun, hanya meletakkan teh itu dengan sopan. Lalu mengundurkan dirinya untuk keluar ruangan.


Aku langsung menyesap tehnya lebih dulu. Bukannya aku tidak percaya Fram. Tapi semenjak diracuni, aku harus hati-hati. Aku sudah menyiapkan sihir cahaya ku dan meminumnya.


"Oh?" teh ini tidak beracun. Ini teh yang sama seperti yang kuminum di laboratorium. Teh ini membuat mana gelapku bergejolak sesaat. "Sebenarnya teh apa ini?" tanpa sadar aku bergumam.


"Itu adalah teh hitam yang hanya ada di kerajaan elf gelap" Fram menjawab. "Para Elf menanam teh ini sendiri. Kami merawatnya dengan memberi mana gelap. Sehingga teh ini sangat berguna untuk meningkatkan stamina dan juga mana gelap kami" Fram menjelaskan dengan sedikit rasa bangga.


Ah! Jadi seperti itu. Aku kira akan sangat sulit memperoleh sumber daya untuk meningkatkan sihir gelap. Tapi itu tidak sulit sekarang karena aku memiliki hubungan dengan elf gelap. Jujur saja, aku merasa lebih aman memiliki hubungan dengan elf gelap daripada organisasi penyihir gelap. Semuanya tentu saja karena keberadaan Ren. Dia bisa menjamin keselamatan kami semua di tempat ini. Tapi tidak ada yang menjamin keselamatan kami di organisasi penyihir gelap yang cukup jahat itu.


'Aku juga akan meminta tehnya untuk dibawa pulang' aku langsung memutuskan. Aku akan meminta beberapa oleh-oleh pada Ren. Sejauh ini aku hanya butuh robot bunga dan juga teh hitam ini.


Kami meminum teh yang dihidangkan untuk sesaat. Tidak ada racun di dalam nya. Aku merasa sangat lega.


"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang Fram?" aku bertanya lagi. "Apa kau akan menggantikan ayahmu untuk menjadi perdana mentri?" tanyaku spontan.


Tubuh Fram bergetar ketakutan. "Tidak..." katanya lirih. "Aku melarikan diri karena aku tidak ingin mewarisi jabatan ini dan itu. Tapi mereka semua memaksaku..." kata Fram menyedihkan.


"Sejak kedua orang tuaku meninggal. Kondisi rumah ini sangat tidak baik. Keluarga ku terbagi menjadi dua kubu, ada yang mendukung ku dan ada yang membenciku karena mereka memiliki kandidat lainnya. Kandidat lainnya adalah sepupu besarku. Jujur saja sepupuku lebih cocok untuk tugas ini. Dia adalah pria yang sangat pintar dan jujur. Walaupun dia sangat dingin, dia tidak licik seperti bangsawan lainnya. Dia orang yang jujur. Aku ingin melarikan diri dari sini dan menjadi petualang. Menjadi petualang adalah mimpiku" Fram menjelaskan dengan mata penuh kerinduan.


"Lalu kenapa kau kembali ke rumah sekarang?" aku bertanya lagi. Jujur saja, rasa penasaran menggelitikku.


"Sepupuku sakit. Jadi aku harus kembali" dia menjawab pasrah.


"Fram kecil yang malang~" Diana menatap Fram dengan sedih. Anak sekecil itu sudah dibebankan oleh warisan. Benar-benar malang. Padahal di umur segitu, mereka harusnya masih bermain bukan bekerja. Diana tidak akan berpikir seperti ini kalau dia tahu Fram berumur seratus tahun.

__ADS_1


"Eva, bisakah kau membantuku?" tanya Fram kemudian dengan mata penuh harap. Membuat ku tersentak kaget.


"Apa yang bisa kulakukan? Aku sama sekali tidak tahu bagaimana politik di kerajaan elf berjalan" kataku canggung.


"Kau bisa meminta tolong pada Ren untuk mencabut hak warisku" kata Fram kemudian dengan tekad di matanya.


"Kenapa aku? Kau bisa meminta tolong pada Ren sendiri bukan?" aku bertanya tidak mengerti.


"Aku sudah melakukan nya. Ren tidak mau" katanya, hampir menangis.


"Lalu bagaimana kau bisa yakin Ren akan setuju kalau aku yang bilang?" kataku frustasi. Darimana logika Fram berasal? Aku baru saja kenal dengan Ren. Tidak mungkin Ren akan membantu nya seperti itu.


"Kalau Eva pasti bisa" jawab Fram percaya diri. "Ren akan menyetujui keputusan mu"


Aku tidak tahu dari mana kepercayaan diri Fram berasal. Itu adalah hal yang cukup bodoh.


"Bagaimana kalau kau berpura-pura meninggal? Tidak ada yang menuntut mu untuk hak warismu. Dan sepupu mu secara otomatis akan menjadi pewaris berikut nya" aku berbicara secara acak. Tentu saja ide ini sangat bodoh dan tidak ada seorang pun yang akan melakukan nya.


Tapi Fram mendengar nya dengan mata berbinar. Seakan-akan dia sudah mendapatkan pencerahan.


"Jangan dengarkan omong kosong ku" kataku kemudian dengan wajah canggung. Bagaimana mungkin aku bisa meminta orang untuk berpura-pura meninggal? Aku tidak sadar bahwa aku memikirkan ide yang buruk seperti ini.


"Terima kasih" Fram berhenti mendesakku untuk membujuk Ren. Dan melihat ku dengan mata penuh syukur. Semua ini malah membuat ku merasa tidak nyaman.


Kami tidak melanjutkan topik sensitif ini lebih jauh. Kami hanya berbicara dengan topik seperti biasa. Terutama tentang alat sihir aneh dan perabotan aneh di rumah elf. Aku sangat antusias tentang semua itu dan berharap membawa beberapa untuk oleh-oleh.


Akhirnya kami pun kembali ke istana setelah selesai mengunjungi rumah Fram. Fram melambai pada kami sebagai salam perpisahan sambil tersenyum lebar.


Entah mengapa aku merasa tidak nyaman. Aku tidak melakukan hal yang salah bukan?


***


Keesokan harinya, saat aku sedang sibuk bermain dengan Evan, Ren tiba-tiba memanggil ku. Aku pun bergegas menuju aula.


Aula istana saat itu masih sepi. Hanya ada Ren dan Fram. Fram?


"Ada apa?" aku bertanya sambil mengerjap polos.


"Eva! Aku berhasil! Rencanamu benar-benar brilian!" Fram berkata dengan nada penuh semangat sambil melompat kecil di tempat.


Aku merasa sedikit tidak nyaman sekarang. "Rencana apa?"


"Aku mati." jawab Fram langsung, membuat tubuhku membeku. "Aku mati. Semua orang di rumah itu tahu bahwa aku mati. Mereka memakamkanku dan menjadikan kakakku pewaris! aku sudah bebas sekarang!" kata Fram bersemangat.


Aku hampir pingsan di tempat sekarang. Bagaimana Fram benar-benar melakukan rencana itu hanya dalam satu malam.


Aku melihat Ren yang sedari tadi diam dengan takut-takut. "Ini bukan ideku, kau tahu? Aku hanya mengatakan nya secara acak. Itu bahkan bukan ide sama sekali. Itu hanya pemikiran yang bodoh" aku berusaha membela diriku yang tidak bersalah.


"Tidak. Idemu sangat bagus Eva" jawab Fram langsung dengan mata berbinar.


"Ren....ini bukan salahku"


"Cukup..." akhirnya Ren membuka mulutnya. Dia merasa sangat pusing akhir-akhir ini. Bahkan masalah kerajaan ini lebih rumit dari penelitian nya. Dia tidak bagus membaca emosi mahluk hidup, sehingga pekerjaan nya semakin sulit. "Mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Mulai sekarang Fram Angius tidak ada lagi" dia berkata dengan nada dingin.


"Yeah!" Fram mengacungkan tangannya ke atas dan berseru senang.


Hanya aku yang membeku di tempat karena rasa bersalah. "Ren...kau tidak marah padaku bukan?" aku bertanya lagi, memastikan.


"Tidak" Ren menggeleng kan kepalanya. "Aku hanya frustasi harus menambah kan bebanku untuk merawat dua anak kecil" katanya.

__ADS_1


"...."


Walaupun aku tidak berumur seribu tahun, aku sudah dewasa kau tahu? Aku merasa sedikit tersinggung sekarang.


__ADS_2