
Cerita sebelumnya:
Eva tidak bisa duduk diam karena semua orang tiba-tiba tidak bisa dihubungi dalam beberapa jam ke depan. Jadi dia memutuskan untuk meninggalkan kerajaan Kano dan menuju kerajaan Well. Tapi dia merasakan ada banyak orang di depan pintu kamarnya. Saat dia keluar, ada begitu banyak orang yang menatapnya dengan benci dan mulai mengatainya dengan sarkas. Eva tidak menghiraukan nya. Tapi Louis dan dua temannya tiba-tiba menyerang nya. Eva menyerang balik tapi hal itu membuat Lilac tidak senang dan ikut menyerangnya.
***
Lilac mengeluarkan pedang nya. Eva tidak menunjukkan gerakan apapun. Melihat Eva memandang rendah dirinya, Lilac semakin merasa kesal.
"Berhenti memandang rendah ke semua orang!" kata Lilac sambil mengayunkan pedangnya.
Eva menghindar. Dia tidak mengerti perkataan Lilac karena dia memang tidak pernah memandang rendah orang lain.
Tapi pedang Lilac berputar dan menuju ke bahunya, sangat cepat. Eva menggunakan sihir anginnya untuk mempercepat pergerakan nya. Jadi dia berhasil menghindar walaupun pedang Lilac berhasil memotong dua helai rambut pirangnya.
Eva ingin menghadapi Lilac dengan serius. Tapi dia tidak bisa. Kalau dia menggunakan sihir tingkat tinggi, dia akan membuat keributan dan merusak tempat ini. Dia juga tidak tega melukai Lilac. Dia tidak ingin bertarung dengannya walaupun saat ini mereka menjadi musuh.
Eva tahu Lilac merupakan karakter penting. Dia memiliki bakat yang lebih baik daripada Louis. Dan di masa depan, dia akan menjadi tokoh yang kuat dan dihormati oleh banyak orang. Tapi sayangnya tokoh itu hanya akan berperan sebagai pengawal putri. Ya, Lilac akan terus menjadi pengawal Reina sampai gadis itu dinobatkan sebagai Ratu. Dan saudara kembarnya, Louis, juga bernasib sama.
Tapi sayangnya dia bukanlah Eva yang dulu, yang tidak terlalu mendalami sihir dan tidak bisa bertarung. Kali ini dia bukan eksistensi manja seperti yang ada di buku novel itu. Dia akan menang.
Bukannya meremehkan Lilac. Tapi gadis kecil itu bukan lah tandingan nya sama sekali. Dia malah ingin bertindak hati-hati agar tidak menyakiti gadis kecil itu.
Lilac semakin kesal saat melihat Eva bersikap santai. Dia merasa harga dirinya jatuh karena Eva terlalu meremehkan nya.
"Jangan meremehkanku!" katanya dengan nada mengancam sambil memperkuat serangannya.
Lilac bergerak cepat. Serangan nya kembali meleset dan merusak lantai bangunan. Dan dia berhasil memotong beberapa helai rambut Eva lagi.
Eva tahu kondisi fisiknya tidak sekuat prajurit sihir. Dia hanya memperkuat fisiknya dengan sihir tapi dia tidak kuat. Dan dia tidak bisa melawan serangan pedang Lilac dengan tangan kosong. Karena serangan Lilac berbeda jauh dengan serangan Louis dan teman-temannya.
__ADS_1
Eva mengeluarkan belatinya. "Aku tidak meremehkan mu"
Dia dengan cepat menyerang Lilac kembali. Gerakannya cepat, Lilac hampir terkena belati tajam itu tapi berhasil menghentikannya dengan pedangnya.
TRANG! TRANG! TRANG!
Kedua senjata itu beradu satu sama lain. Tapi Lilac kewalahan dan hanya bisa bertahan.
Sampai akhirnya TRANG! Serangan terakhir Eva berhasil membuat Lilac terdorong ke belakang beberapa langkah.
Melihat Lilac yang masih linglung, eva menggunakan kesempatan ini untuk mengayunkan kakinya dan menendang dada Lilac. Lilac pun terpental ke belakang sambil batuk darah.
'sudah cukup' pikir Eva. Dia tidak mau berlebihan dan melukai lawannya. Dia tidak ingin melukai dan membunuh siapapun. Karena beberapa dari mereka sama sekali tidak bersalah. Jadi Eva berharap Lilac akan menyerah.
Tapi dugaan Eva salah. Lilac tidak menyerah. Dia bersiap menggunakan serangan lainnya dan dengan cepat meminum ramuan penyembuh.
Lilac pun menyerang lagi. Kali ini dia merubah gaya bertarungnya. Dia menyerang dengan tangan kanan dan menggunakan sihir api di tangan kirinya.
Reina mengeluarkan sihir cahaya nya, Blind dan melemparnya ke arah Eva.
Eva tidak menyangka bahwa ada orang lain yang menyerangnya. Karena sihir itu dia kaget dan tidak bisa melihat serangan Lilac. Lilac pun kaget karena ada orang yang ikut campur tiba-tiba.
Eva refleks menghindari keduanya, tapi terlambat. Serangan Lilac berhasil melukai bahunya. Ada bekas luka sayat disana dan jujur saja, itu sangat sakit. Tapi Eva menyembuhkan luka itu dengan sihir cahayanya. Luka itu pulih dengan cepat.
Lilac merasa senang karena dia melihat darah di pedangnya. Serangannya berhasil melukai Eva. Harusnya begitu. Tapi Eva terlihat baik-baik saja. Hanya ada bekas robekan di bajunya, tapi tidak ada luka sama sekali.
Lilac bingung. Eva pasti menggunakan sesuatu untuk memulihkan lukanya tapi dia tidak melihat Eva meminum ramuan atau apapun.
Eva melihat Reina dengan tatapan menakutkan. Kalau dibilang ada orang yang paling dibencinya, sudah pasti jawabannya gadis itu! Berani-beraninya dia menggunakan serangan licik untuk melukainya.
__ADS_1
Eva menggunakan sihir anginnya lalu melempar belatinya. Belatinya bergerak cepat ke arah Reina dan menusuk kakinya.
"Arghhh!" Reina berteriak kesakitan. Belati itu cukup tajam dan hampir memotong kakinya. Tapi untung saja kakinya tidak terpotong walaupun lukanya cukup dalam.
Reina menangis kesakitan sambil menggunakan sihir cahaya untuk menyembuhkan kakinya. Kakinya secara perlahan sembuh tapi rasa sakit itu tetap menyakiti nya, membuat menangis.
Belati itu kembali setelah memotong musuh dan Eva mengayunkan belatinya untuk membersihkan darah kotor yang tersisa.
Semua orang menjadi hening saat melihat kejadian itu. Mereka sedikit ketakutan kalau Eva tiba-tiba menyerang mereka seperti itu. Serangan itu bisa membunuh mereka! Bahkan butuh beberapa ramuan penyembuh untuk menyembuhkan luka potong yang besar seperti itu. Dan mereka sadar bahwa mereka bukanlah tandingan Eva.
"Kau kejam" kata Lilac syok. "Bagaimana kau bisa melukai gadis tak berdosa seperti itu?" katanya kemudian.
Eva mengernyitkan keningnya jijik. "Tidak berdosa? Bukannya kau lihat dia menggunakan serangan sembunyi-sembunyi padaku?" Kalau bukan karena refleks dan sihirnya, dia juga akan terluka parah dan mungkin tidak ada yang peduli padanya. Benar-benar perlakuan yang tidak adil.
"Dia memang kejam. Tidak heran dia penyihir gelap" kata suara asing yang tiba-tiba muncul. Itu adalah suara dari putra mahkota Kano. Pria itu muncul dengan Raja, para pangeran, putri dan pengawal kerajaan.
"Gadis itu penyihir gelapnya?" tanya Raja Kano.
"Iya ayah!" karena putra mahkota bersemangat. "Bagaimana?"
Raja kani tersenyum. "Tentu saja, tangkap!"
Lalu semua orang mulai mengelilingi Eva. Mengurung nya agar tidak melarikan diri.
Beberapa murid dari kerajaan Well yang sebelumnya ketakutan akhirnya kembali bersemangat. Mereka ikut mengepung Eva bersama dengan yang lainnya.
Sementara, tidak ada yang mempedulikan Reina yang terluka. Gadis itu menggertakan giginya sambil terus menuangkan sihirnya.
'Aku harus sembuh, sembuh, sembuh!' dia mengatakan hal itu berulang-ulang di dalam hatinya.
__ADS_1
Lalu Eva melihat semua orang yang menatapnya dengan tatapan benci. Dia menggeleng kan kepalanya.
"Sepertinya tidak perlu menahan diri sekarang" gumam nya sambil mengangkat tangannya.