
Cerita Sebelumnya:
Eva melanjutkan perjalanan nya sampai dia tiba di sebuah hutan yang sangat indah. Di tengah hutan itu ada sebuah danau besar. Dan di sekitar danau besar itu dia melihat empat orang yang dikenalinya. Mereka adalah Robert, Sayn, Denis dan Reina. Eva tidak tahu asal mula mereka bertemu. Tapi yang dia tahu pasti, keempat orang itu bertarung dengan binatang sihir yang sangat kuat.
***
Aku melihat pertarungan mereka dari balik semak-semak. Aku yakin tiga orang pria itu bisa mengalahkan binatang sihir. Jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku hanya penasaran bagaimana mereka semua bisa bersama. Apa itu sebuah kebetulan atau mereka memang merencanakannya?
"Aku mencium bau enak~" aku mendengar Rexus berbicara sambil mengeluarkan kepalanya dari balik jubahku.
"Apanya yang enak?" tanyaku ketus. Bocah rakus ini baru saja makan dan dia masih mau makan! Dasar rakus!
"Ada sesuatu yang enak di depan. Ular bodoh itu menyembunyikannya" kata Rexus.
"Apa itu?" apa itu ramuan langka yang ada di domain sihir? Hmm....kalau benar, aku sangat menantikan nya~
"Aku tidak tahu. Tapi itu enak." jawab Rexus ambigu.
"Baiklah. Ayo buat perjanjian" kataku sambil menatap Rexus dengan wajah serius.
Rexus hanya memiringkan kepalanya tidak mengerti.
"Kalau kita menemukan sesuatu yang enak di tempat ini. Jangan memakannya oke?"
"Tapi saat ingin makan, aku selalu meminta izinmu manusia" jawab Rexus sedih. Dia sedikit merasa bersalah karena dia banyak makan. Dia bahkan berpikir bahwa Eva akan membuangnya karena tidak mampu memberi nya makan. Tentu saja Eva akan menyetujui pikiran Rexus, tapi hanya di dalam hatinya.
Aku merasa tidak nyaman saat melihat ekspresi sedih Rexus. Lagipula bocah itu masih kecil dan dalam masa pertumbuhan. Wajar saja dia banyak makan.
*Sejenak Eva melupakan bahwa yang dianggap nya bocah itu adalah seekor naga. Binatang paling buas dan paling rakus di dunia.
"Bukan begitu... maksudku jangan memakan apa pun yang ada di domain sihir ini. Hanya di tempat ini. Aku tidak melarangmu untuk makan di tempat yang lain" kataku berusaha menjelaskan.
Rexus hanya menyetujuinya dengan anggukan lesu.
__ADS_1
Akhirnya dua orang itu kembali fokus pada pertarungan di depan mata mereka.
Denis menyerang ular itu menggunakan pedangnya. Walaupun kulit ular itu tergores, itu hanya luka kecil. Kelihatannya sisik ular itu sangat tebal.
Ular itu semakin marah saat tahu tubuhnya mulai terluka dan mengibas kan ekornya. Denis berusaha menahan kibasan itu dengan pedang nya tetapi tubuhnya tetap terhempas ke belakang.
Sayn dan Robert menyerang bersamaan menggunakan sihir angin dan api mereka. Sehingga bola api besar terbentuk dan mengenai ular itu.
Ular itu menggunakan sayap kecil di punggungnya untuk terbang ke atas lalu dia mengeluarkan sihir dari mulutnya. Sihir itu mengarah ke bola api besar milik Sayn dan Robert, lalu DUAR! Bola api itu pecah di udara dan menyebabkan percikan api di sekeliling danau.
Sementara Reina berusaha menggerakan kaki kecilnya untuk menghindari serangan yang terjadi. Sesekali gadia itu akan menggunakan sihirnya pada tiga pria di depannya, agar luka mereka sembuh dan stamina mereka pulih.
Tapi jujur saja, ular itu memang sangat kuat. Hampir sekuat naga yang kulihat di dalam mimpiku.
Robert, Sayn dan Denis memandang satu sama lain sebelum menganggukan kepala mereka dengan pelan. Kelihatannya tiga orang itu memutuskan untuk bekerja sama, agar pertarungan ini cepat berakhir. Mereka bisa saja menyerang ular itu sendiri dan tidak bekerja sama dengan yang lain, tapi konsekuensinya pertarungan itu akan berlangsung lama dan menghabiskan banyak mana. Sementara mereka harus menghemat waktu di tempat ini karena waktu mereka hanyalah empat hari. Satu hari sudah berlalu. Dan hanya tersisa tiga hari.
Ketiga pria itu pun menyerang secara bersamaan. Saat Robert dan Sayn menggunakan sihir mereka, Denis akan menyerang dengan pedang nya.
Lagipula sehebat apa pun ular itu, dia tidak akan bisa membagi fokusnya ke banyak tempat. Akibatnya beberapa serangan para manusia itu berefek fatal pada tubuhnya.
Setelah ular itu dikalahkan, pohon besat di tengah danau tiba-tiba bergetar hebat. Pohon raksasa itu pun runtuh. Lalu di tempat dimana pohon itu berakar ada sebuah batu bulat besar dengan rune sihir aneh yang terukir di atasnya.
"Apa ini?" gumam Reina takjub. Baru kali ini dia melihat rune sihir dengan bentuk seindah itu.
Sayn dan Denis juga mengamati batu itu.
Sementara Robert tiba-tiba menghilang dari kelompok itu. Lebih tepatnya nya pria itu tidak menghilang, tapi dia menyadari mana Eva dan segera menghampiri gadis kecil itu.
Eva tidak sadar bahwa Robert menghampiri nya. Dia hanya fokus pada ular, pohon dan batu besar itu. Dia sama sekali tidak peduli dengan manusia yang terlibat. Sampai akhirnya dia mendengar suara dingin itu di belakang tubuhnya.
"Apakah menyenangkan ?"
Aku langsung menoleh saat mendengar suara dingin yang kukenal itu.
__ADS_1
"Masta?"
"Aku mencarimu. Ternyata kau ada disini" kata Robert dengan lembut. Suara dingin itu menghilang seketika. Robert merasa lega saat dia tahu Eva baik-baik saja.
Ternyata tidak hanya Robert yang menghampirinya. Sayn dan Denis juga tiba-tiba muncul.
Aku berkedip bingung menatap tiga orang itu.
"Bagaimana kalian bisa bersama? Apa kalian selalu menjelajah bersama-sama?"
"Tidak mungkin!" jawab tiga orang itu serentak. Wajah mereka berubah jelek. Mereka hanya bertemu beberapa saat yang lalu karena sebuah kebetulan. Tidak mungkin bagi mereka untuk menjelajah bersama! Itu sama sekali tidak masuk akal!
Robert membuka mulutnya dan menjelaskan apa yang terjadi. Setelah penjelasannya selesai, Eva mengangguk mengerti.
"Ternyata semuanya hanya kebetulan" gumamku setelah mendengar cerita Robert. Tapi tetap saja, Kebetulan itu benar-benar tidak terduga. Mungkin karena takdir mereka terhubung satu sama lainnya.
Aku segera keluar dari tempat persembunyian dan menuju batu besar itu dengan yang lainnya.
Mata Reina membelalak kaget saat dia melihat Eva yang tiba-tiba muncul. Wajahnya berubah sangat jelek. Dia membencinya. Kenapa gadis ini tiba-tiba ada di tempat ini?
Tapi dia merubah ekspresi nya kemudian dan menyapa Eva dengan ramah. "Halo nona...aku tidak menyangka kita akan bertemu di tempat ini..." dia berkata dengan nada malu-malu.
Aku merasa bingung dengan sikap ramah Reina. Lagipula gadia itu selalu membenciku, tapi sekarang dia tiba-tiba menyapaku. Ah~ mungkin ini hanya pencitraan nya karena ada banyak orang di sini.
"Halo" aku menjawab singkat. Lalu aku mengalihkan perhatian ku pada yang lain, tidak mempedulikannya.
Sementara Rexus sangat ribut di dalam jubahku sambil terus berteriak dengan antusias.
"Makanan Enak! Ayo, kita masuk manusia! Ada makanan enak! Makanan enak!" anak kecil iti terus berteriak menggunakan telepati nya sehingga suaranya terus bergema di dalam kepalaku.
"Oke, oke," kataku pasrah. Aku tidak berani berbicara dengan kasar padanya.
"Apa kau tahu cara masuk ke dalam?" tanyaku kemudian. Batu bulat besar ini kemungkinan adalah kuncinya dan ada ruangan misterius di dalamnya. Aku menyimpulkan semua nya setelah mendengar semua teriakan Rexus itu.
__ADS_1
"Tentu saja!" jawab Rexus yakin.