
Cerita Sebelumnya:
Sayn POV dan penyebab terjadinya event pertukaran pelajar. Pertukaran pelajar terjadi karena dua negara ingin memperpanjang gencatan senjata mereka. Mereka tidak siap untuk berperang karena memiliki masalah internal masing-masing. Sehingga pertukaran pelajar ini dibentuk sebagai hubungan kerja sama antar dua negara.
***
Aku masih linglung memikirkan berita yang disampaikan oleh Lilac. Mengawasi para pangeran dan putri dari Negara Kano? Pertukaran pelajar? Bagaimana ini bisa terjadi?
Ini benar-benar event baru! Aku tidak tahu apa yang akan kuhadapi di dalam event ini nanti. Dan aku tidak bisa memprediksi masa depanku! Ini benar-benar gawat. Dan yang lebih penting, aku terlibat dalam event ini!
Ck! Aku mendecakkan lidah.
Haa~ Lalu menghela napas.
"Jangan-jangan dewa kucing itu sengaja agar aku tidak mengetahui masa depan? Kucing sialan!" aku mengumpat.
"Itu bukan salahku miaow~" tiba-tiba suara kucing itu menyerang pikiranku. Dan aku langsung tersentak. "Itu semua salahmu miaow~ Kau melakukan banyak hal berbeda yang membuat alur cerita berubah miaow~ Jadi rasakan sendiri miaow~" kata kucing itu dengan nada mengejek.
"Kucing sialan! Kau ada dimana? Tunjukkan dirimu!"
Tapi hanya kesunyian yang menyerangku. Suara kucing itu tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Dewa sialan itu....
Sejak awal semua ini salahnya, bukan salahku! Dia membuatku menjadi seorang gadis yang menghadapi kematian bukan seorang putri! Kalau dari awal dia membuatku menjadi seorang putri, aku tidak perlu melakukan hal-hal yang menyimpang untuk menyelamatkan hidupku! Dari sejak awal ini memang salahnya. Dan dia melemparkan kesalahan ini padaku? humph!
"Kucing bodoh itu..."
Baiklah, ayo tenang~
Aku berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya. Lagipula aku tidak tahu apa yang akan terjadi selama pertukaran pelajar ini. Aku hanya bisa menjalaninya dan mengikuti arus. Tapi ada satu hal yang harus aku ingat. Aku harus mengingatnya! Aku harus waspada! Aku harus melindungi diriku sendiri dari bayang-bayang event kematian. Karena aku tidak tahu event kematian apa yang terjadi dalam "pertukaran pelajar" itu.
"Sudahlah....lagipula menghabiskan energi untuk berpikir hal yang tidak kuketahui. AKu harus menyiapkan pertemuan kedua orang itu"
***
Waktu sudah menjelang malam. Aku harus mempersiapkan pertemuan guru Wilson dengan bocah elf itu..
Aku langsung membawa bocah elf itu ke halaman belakang mansion. Saat kami tiba, aku melihat Guru Wilson sudah duduk di salah satu bangku taman.
Saat melihat Wilson, mata bocah elf itu langsung berbinar. "Kakak~" katanya manja sambil berlari ke arah Wilson.
"Hmm?" aku agak kaget. "Kakak? Bukan guru?"
"Darimana saja kau bocah bodoh!" bentak Wilson sambil memukul bokong bocah itu.
"Uhhh..." bocah itu meringis dengan wajah sedihnya.
"Aku benar-benar khawatir padamu. Kenapa kau tidak pernah menghubungiku?" Raut wajah Wilson langsung berubah. Matanya berkaca-kaca dan dia mengacak-acak rambut bocah elf itu.
"Kakak...Maaf...hiks, hiks....ayah....ibu....." bocah itu langsung melempar dirinya dan memeluk Wilson. Lalu terisak dalam pelukannya.
__ADS_1
"Jangan memikirkannya lagi oke. Aku akan membalasnya. Kau tenang saja." Kata Wilson dengan suara yang tajam. Membuatku sedikit bergidik.
Wilson mencubit pipi bocah itu. "Kau benar-benar tambah gemuk. Kelihatannya dia menyumpalmu dengan banyak makanan" kata Wilson sambil sesekali melirik Eva.
Aku langsung memasang wajah cemberut. "Anak kecil sedang masa pertumbuhan. Mereka perlu banyak makanan. Lagipula dia semakin lucu saat lebih gemuk"
Aku berjalan maju ke arah mereka dan menekan pipi bocah itu dengan jari telunjuk. Pipinya seperti mochi. Sangat kenyal. Pyun, Pyun, buntalan kenyal itu sesekali memantulkan jariku dan membuatku ketagihan untuk meremasnya. Tapi aku menahan hasratku untuk itu. Aku tidak ingin melukai wajah bocah itu.
"Baiklah...Aku akan pergi. Kalian bisa berbicara berdua oke" kataku sambil teleport ke dalam kamarku. Aku ingin menyiapkan barang-barang yang akan kubawa besok. Mulai besok aku akan menjalankan misi mengantar itu.
***
"Baiklah bocah...Kau benar-benar suka tinggal disini ya...sampai-sampai tidak menghubungiku" kata Wilson sambil menatap tajam bocah elf itu.
"Maafkan Fram kakak Ren..." kata bocah itu dengan nada kekanak-kanakan. "Kakak Eva sudah membantuku dan mananya sangat enak. Jadi aku tidak sengaja ketagihan untuk menyerapnya..."
"Dan kau bahkan menyelinap ke asrama untuk menyerap mananya?" kata Wilson dengan senyum tajam.
"Maaf..." Fram menundukan kepalanya dalam-dalam. "Aku tidak dapat menahannya..."
Haa~ Wilson menghela napas. "Kau benar-benar gila...Untung saja mana gadis itu tidak terbatas. Atau dia akan meninggal karena kau terus menghisapnya. Sangat tragis kau menyakiti gadis yang menolongmu"
"Aku tidak ingin menyakitinya!" sangkal Fram. "Kakak itu sangat enak. Mananya sangat kuat....Itu sangat lezat...Aku tidak ingin menyakitinya...Aku bahkan hanya menyesapnya sedikit demi sedikit karena tidak ingin dia terluka"
"Baiklah. AKu tidak akan mengatakan apa-apa lagi. Lagipula sebenarnya tindakanmu tidak buruk untuk gadis itu. Mana gelapnya sering bocor dan bisa berbahaya kalau terdeteksi oleh orang lain. Gadis bodoh itu sama sekali tidak menyadarinya. Setidaknya kau bisa menyerap mana yang bocor itu. Lagipula kolam mana gadis itu sangat tak terbatas. Aku tidak tahu sebesar apa..."
Saat Wilson ingin masuk lebih dalam dan mengamati kekuatan sebenarnya dari gadis itu, dia tiba-tiba terpental keluar! Seperti ada kekuatan dari luar yang mengusirnya dan tentu saja bukan kekuatan gadis itu. Dan kekuatan itu juga sangat kuat. Dia bisa merasakannya.
"Jadi bagaimana? Kau sudah menyelesaikan tugasmu bukan?" tanya Wilson penuh selidik.
Fram mengangguk cepat. "aku sudah selesai. Kalau belum, tidak mungkin aku pergi liburan dengan orang tuaku!"
"Lalu kenapa kau tidak kembali dan membuatku khawatir? Alasan ditangkap pendagang budak itu tidak masuk akal! Para manusia lemah itu bukan tandinganmu, bagaimana mungkin kau ditangkap! Katakan yang sejujurnya padaku!" desak Wilson dengan wajah serius.
Wajah Fram memerah. Dia menunduk malu-malu. "Aku tertarik dengan seorang gadis elf...aku mengikutinya dan tertangkap..."
PLAK! Dengan gerakan cepat tangan Wilson melayang dan memukul kepala bocah itu. "Kau...." dia berkata geram. "Disaat dua orang tuamu dibunuh, kau masih sempat untuk mengikuti seorang gadis? Dasar tidak tahu malu!!"
Note: Fram saat ini seperti seorang anak berumur enam tahun, kecil dan pendek. Tapi itu wajar di kalangan elf, karena mereka berumur panjang dan pertumbuhan mereka sangat lamban. Elf yang berumur dibawah 500 tahun akan memiliki penampilan anak-anak. Elf yang berumur 500 tahun ke atas berpenampilan seperti remaja. Sementara elf dewasa, mereka sudah berumur ribuan tahun. Kadang para elf menggunakan sihir untuk mengubah penampilan mereka saat berbaur dengan manusia.
"Aku minta maaf kakak..." katanya sedih. "Itu bukan salahku! Anak itu menggunakan mantra untuk membuatku tertarik! Lagipula...lagipula aku sudah seratus tahun..." katanya sedih. Dia menatap Wilson prihatin. "aku tidak ingin menjadi sepertimu yang sudah berumur ribuan tahun tapi masih....."
BOMMM! Perkataan Fram langsung terpotong. Wilson tanpa segan langsung mengeluarkan siihir penghancur dan mengarahkannya pada Fram. Fram tidak akan pernah menyangka bahwa Wilson akan menyerangnya, jadi dia sama sekali tidak membuat pertahanan diri. Akhirnya, tubuhnya terseret dan terpental beberapa ratus meter.
Dengan tampilan menyedihkan dan compang-camping, Fram berusaha berdiri. Dia benar-benar mengatakan hal tabu tentang gurunya dan dia merasa takut "Maaf kakak..." katanya lirih dengan mata berkaca-kaca. Dia ingin Wilson merasa kasihan padanya. Tapi sayangnya, Wilson tidak peduli. Dia menatap Fram dingin, lalu mengangkat satu kakinya dan menendang bocah itu lagi.
"UWAHHH!" kali ini Fram berteriak karena badannya terpental untuk yang kedua kalinya.
Wilson menatap bocah malang itu dengan kebencian. Bocah ini masih saja tidak tahu malu. Dia mencari bocah ini kemana-mana setelah insiden berbahaya itu. Dia khawatir padanya. Tapi setelah dia tahu bahwa bocah itu menempel seperti parasit dengan seorang gadis manusia, dia agak kesal. bagaimana dengan tenaga yang sudah disia-siakannya untuk mencarinya? Ternyata bocah ini snegaja tidak ingin kembali dan menetap di tempat lain. Parahnya lagi, dia mengatakan hal yang paling dibencinya. Untung saja dia menutup mulut bocah busuk itu!
__ADS_1
Dia memang terkenal sebagai penyendiri di desa elf. Tapi memangnya kenapa? Dia adalah raja! Dia bisa memutuskan hidupnya sendiri. Tapi siapa yang tahu bahwa rumor buruk terbentuk di antara para elf gara-gara ini. Karena dia terlalu penyendiri, sampai dia berumur 1000 tahun, dan genap memasuki dunia dewasa, dia sama sekali tidak memiliki pasangan. Dimana para elf yang seumuran dengan dirinya mulai berpasangan dan membuat anak. Jujur saja ini wajib dilakukan secepat mungkin karena angka kelahiran elf sangat rendah.
Tapi 1000 tahun berlalu lagi. Umurnya sudah genap 2000 tahun dan dia sama sekali tidak punya pasangan. Semenjak itu dia terkenal dengan julukan "Raja penyendiri", "Raja tunggal", "Raja jomblo". Dan bahkan ada beberapa orang yang memodifikasi rumor tentangnya menjadi lebih mengerikan. "Raja Mandul!" Karena dia sama sekali tidak memiliki pasangan, semua orang menduga bahwa dia terkena kutukan, alias mandul....
Cih, Wilson menggertakan giginya. Dia benar-benar kesal saat melihat kembali masa lalunya. Benar-benar menyedihkan. Dia ingin membunuh semua orang yang mengejeknya, tapi kalau dia melakukan itu bukankah populasi elf akan lebih berkurang? raja bodoh mana yang mengurangi jumlah populasi kaumnya sendiri?
***
Aku sedang berpikir di kamarku sambil menatap seisi ruang dimensi. Aku sudah bersiap-siap dengan barang yang kuperlakukan untuk menjalankan misi itu. Sebenarnya aku tidak tahu berapa lama misi itu, tapi aku kira bisa sebulan. Karena kami perlu menginap beberapa hari dulu di kerajaan Kano untuk menunggu para pangeran dan putri itu bersiap-siap.
BRUAKKK! DUARRR!
Saat aku sedang asyik berpikir, tiba-tiba terdengar suara ledakan. Tentu saja aku kaget! Aku memperhatikan bahwa sumber suara itu berasal dari halaman belakang tempat kedua elf itu sedang berbicara.
Tanpa berpikir, aku langsung teleport ke halaman belakang. Dan langsung disuguhkan dengan pemandangan yang berantakan. Yah, sebenarnya ini tidak terlalu berantakan apabila dibandingkan dengan perbuatanku dulu. Tapi tetap saja penghancuran properti! Aku melihat tanah berlubang membentuk garis yang panjang sampai keujung pagar bangunan. Lalu pagar bangunan yang ada diujung juga berlubang membentuk cetakan manusia.
"Apa yang terjadi?"
Wilson menatapku dengan tenang. "Maafkan aku...aku benar-benar emosi..."
"Emosi?"
Lalu aku melihat sosok kecil di ujung pagar. Sosok itu compang-camping. Walaupun tubuhnya tidak berdarah, ada beberapa lebam kehitaman di kulitnya. Bahkan keningnya juga bengkak.
"Waa...kau kenapa bocah?"
"Huwaaaa!!!" Fram langsung menangis. Dengan cepat dia menghampiri Eva dan memeluknya. "Kakak memukulku...." adunya.
"Kenapa kau melakukan itu?" tanyaku dengan tatapan tidak setuju. Bagaimana pria dewasa sepertinya memukul bocah yang bahkan masih berumur enam tahun. Dia benar-benar kejam. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan sampai kekacauan ini terjadi?
Guru Wilson mengacuhkanku. "Kau ikut aku" katanya menatap bocah elf itu.
"Huwaaa tidak mauuu!!!" Fram memberontak. "Aku tidak mau dipukul lagiii..." dengan sigap dia menyembunyikan dirinya di belakang Eva sambil terisak.
"Bisakah kau menghentikannya? Bagaimana bisa pria tua sepertimu membuly seorang anak kecil?" kataku cemberut sambil meletakkan kedua tangan di pinggang, berpose dengan sikap menantang.
"Hm,hm, itu benar." angguk Fram antusias.
Wilson menatap kedua bocah di depannya. Urat-urat kekesalan muncul di kepalanya. Dia mengepalkan tangannya erat-erat berusaha menahan kekesalannya.
Haa~ akhirnya dia menghela napas.
"Ambil ini" Wilson melempar sesuatu seeperti bola kaca pada Fram. "Setidaknya aku bisa menghubungimu dengan ini. Kalau kau ingin tinggal disini, silahkan. " Dia menajamkan tatapannya "Tapi jangan membuat masalah"
Wut, wut, wut, Fram langsung mengangguk cepat dan memasukkan bola itu dalam sakunya.
SYUU!! Tanpa mengatakan apa pun secara perlahan sosok Wilson menghilang dari depan kami.
"Orang itu! Dia bahkan tidak bertanggung jawab dengan kekacauan yang sudah dibuatnya!" kataku kesal sambil menatap halaman mansionku dengan frustasi.
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE