
Cerita sebelumnya:
Setelah Robert memberitahukan semua hasil penyelidikannya, Denis menyuruh Jean untuk mengecek kediaman Marquis. Marquis Zent juga menyuruh kedua penyihir berjubah putih itu untuk menghalangi Jean. Dan Robert mengirim kedua Dean. Hingga pada akhirnya hanya Jean yang kembali dan memberikan informasi yang didapatnya secara rahasia kepada Denis. Saat Denis ingin mengumumkan sesuatu, seseorang dengan panik memberitahu seluruh aula bahwa ibukota sudah diserang oleh ribuan pasukan. Hal itu menyebabkan semua orang yang berada di aula menjadi ricuh. Marquis menggunakan kesempatan itu membalaskan kemarahan miliknya. Dia pergi ke tengah panggung dan menusuk Diana di dadanya dengan belati miliknya.
***
Semua orang sibuk bertarung. Tapi dia, seorang pangeran muda yang perkasa hanya bisa duduk sambil memandangi seorang bayi kecil yang sedang tertidur. Evan masih tertidur dengan nyenyak. Lalu ada satu orang pelayan yang baru saja memandikan dan mengganti baju bayi itu. Dia melakukan semua aktivitasnya dengan canggung karena Erick terus menatapnya. Itu bukan tatapan mesum, tapi tetap saja dia merasa tidak nyaman. Setelah menyelesaikan semua tugasnya, dia dengan cepat beranjak keluar tenda.
Pangeran Erick cemberut. Dia benar-benar merasa sangat kesal dan bosan. Tujuannya mengikuti Eva kembali ke kerajaan Well bukanlah untuk menjaga seorang bayi dan duduk seharian. Dia juga ingin menyaksikan perang itu dari dekat!
__ADS_1
Sebenarnya dia bisa saja diam-diam menyelinap keluar dan mengintip perang yang terjadi di ibukota. Tapi dia tidak melakukannya karena dia tidak mau meninggalkan tanggung jawabnya. Seperti yang dikatakan Duke, hanya ada beberapa prajurit dan pelayan di perkemahan ini. Lalu Sayn hanya menitipkan satu orang penyihir untuk berjaga di sekitar perkemahan. Memang benar, kalau tidak ada hal appaun yang terjadi, tingkat keamanan seperti ini sudah cukup. Tapi kalau ada yang menyerang perkemahan ini dan dia tidak ada disana, semua orang akan berada dalam bahaya. Karena itulah, dia akan menjaga keselamatan semua orang sampai Duke dan semuanya kembali dengan selamat.
Pangeran Erick menompang dagunya dengan kedua tangannya sambil melirik Evan. Bayi itu memang lucu. Tapi memandangi bayi seharian dan tidak melakukan apapun benar-benar membuat seluruh tubuhnya merasa gatal.
Tapi tiba-tiba dia merasakan sesuatu. Dia membuka ruang penyimpanannya dan mengeluarkan bola kristal seukuran telapak tangan yang terus bercahaya. Itu adalah salah satu alat komunikasi sihir yang diberikan oleh ayahnya.
"Apa yang kau lakukan bodoh?!" suara kesal Raja Albion bisa terdengar dengan jelas dari balik bola kristal. Sudah jelas sang Raja berteriak. Untung saja bola kristal itu hanya mentransmisi sebagian kecil suara sehingga suara yang keluar dari sana tidak besar. Dan tidak membangunkan Evan yang sedang tertidur lelap.
Pangeran Erick dengan acuh menutup telinganya lalu berkata "Aku sibuk"
__ADS_1
Dia sudah bersiap untuk mengembalikan bola kristal itu kembali ke ruang penyimpanannya tetapi sang ayah berkata dengan nada dingin. "Aku akan membakar gudang sampahmu"
"Oh, ayah yang baik. Aku sangat merindukanmu~ Bagaimana keadaanmu? Pinggangmu tidak sakit karena perjalanan yang jauh bukan? Kau harus memanggil tabib kalau itu terjadi. Aku benar-benar khawatir padamu~" sikap pemuda itu langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Seperti seorang rubah, dia mulai bersikap sopan dan mengirim sang Raja kata-kata manisnya.
Urat-urat kekesalan muncul di kepala Raja Albion. Putra tunggalnya itu benar-benar nakal karena itulah dia mendidiknya dengan keras sejak anak itu masih kecil. Dia ingat saat pangeran masih bocah, dia sering menggoda pelayan muda dan mengejek anak-anak bangsawan sampai mereka menangis. Mau tidak mau dia harus mendisiplinkannya walaupun itu tidak membuahkan hasil apapun sampai dia beranjak dewasa.
"Cukup. Aku akan benar-benar membakar tempat sampah itu. Kau tidak akan menemukan apapun saat kau kembali"
"Ayah" pangeran Erick jatuh berlutut. "Aku minta maaf" katanya sambil merengek. "Aku minta maaf..." Sekarang dia benar-benar menyesal karena sudah mengabaikan ayahnya selama ini.
__ADS_1