Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Terungkap


__ADS_3

cerita Sebelumnya:


Sepuluh pembunuh elf mengepung Eva dan menyerangnya. Terjadi pertempuran sengit antara kedua pihak. Sampai Eva akhirnya berhasil membunuh hampir semua dari mereka dan menyisakan dua pembunuh dengan tangan terpotong. Lalu Ren mulai datang saat Eva mengirimkan telepati nya.


***


"Bunuh atau tidak?" Ren bertanya dengan tatapan yang sangat dingin. Aku bahkan sedikit bergidik ngeri saat melepaskan nya.


"Tidak. Kita harus tahu siapa yang mengirim mereka. Jangan membiarkan mereka bunuh diri juga" kataku. Ada banyak sekali cara untuk bunuh diri, takut nya saat kami mulai melepaskan mereka, mereka akan melakukan bunuh diri dengan cepat.


"Itu tidak akan terjadi" kata Ren kemudian. Ren menatap kedua pembunuh itu. Aku tidak tahu apa yang dilakukan Ren. Tapi seakan-akan terhipnotis oleh matanya, kedua pembunuh itu, yang sebelumnya meronta-ronta seperti orang gila menjadi sangat tenang.


"Apa itu hipnotis?" aku bertanya dengan mata penasaran. Seakan-akan aku melihat Sihir baru yang menarik.


"Bukan" Ren secara perlahan melepaskan ikatan yang melilit kedua elf itu. Anehnya, kedua elf itu dengan tenang berlutut tanpa ada tanda-tanda melarikan diri sama sekali. "Ini adalah kekuatan raja elf gelap. Lagipula mereka berdua masih rakyatku" sambung Ren.


"Begitu" Ternyata ada kekuatan Raja yang bisa membuat orang-orang dibawahnya untuk patuh. Kekuatan yang menakjubkan. Aku sangat iri pada Ren.


Kalau aku memiliki kekuatan seperti itu, aku akan menggunakan nya untuk para manusia yang ingin mengancam hidupku. Terutama Marquis dan Raja, sehingga masa depanku bisa menjadi lebih cerah. Tapi itu hanya mimpi oke.


"Siapa yang menyuruh kalian?" aku langsung bertanya kepada kedua elf yang sedang berlutut itu.


"Ketua" jawab mereka serempak.


Ketua? Aku tidak mengerti sama sekali.


"Darimana kalian berasal? Dimana markas kalian?"


"Kami berasal dari organisasi pembunuh yang berada di kerajaan Albonia" jawab salah satu dari mereka.


"Kerajaan Albonia?" aku mengernyit tidak mengerti. Aku belum pernah mendengar nama kerajaan itu sama Sekali. Bahkan aku tidak pernah mendengar nama kerajaan itu di dalam novel. Jujur saja, novel itu hanya menjelaskan tentang kerajaan Kano dan Kerajaan Well. Aku tidak tahu tentang kerajaan lainnya. Tapi aku mengerti ada banyak kerajaan manusia di dunia ini sejak dunia ini sangat besar.


"Jadi di tempat itu" Ren bergumam dengan wajah datarnya.


"Kau tahu tempatnya?" aku bertanya.


"Ya. Aku pernah pergi kesana beberapa ratus tahun yang lalu" jawab Ren.


Wajah ku berkedut setelah mendengar jawabannya. Beberapa ratus tahun yang lalu? Beberapa ratus tahun yang lalu, semua tokoh utama di novel Flower Summer belum lahir sama sekali!


"Ayo kita ke sana" katanya lagi, membuatku mematung.


"Sekarang?" tanyaku dengan wajah canggung.

__ADS_1


"Ya. Tentu saja. Aku meletakkan lingkaran transportasi di kerajaan itu sebelum nya." dia menjelaskan.


"Ren, apa kau sudah mengelilingi seluruh dunia?" kataku tak percaya. "Apa kerajaan ini sangat jauh?"


"Apa maksudmu dengan mengelilingi dunia? Aku belum melakukannya. Dunia ini sangat besar dan ada tempat yang tidak bisa kuraih juga" Ren menunjuk ke atas langit. "Aku masih belum bisa menjelajah sesuatu di atas sana" matanya memancarkan cahaya penuh kerinduan seakan-akan ada sesuatu di atas langit. "Kerajaan Albonia sangat jauh dari tempat ini. Kita perlu melakukan perjalanan dengan kapal karena harus melintasi lautan" katanya nostalgia.


Aku belum pernah naik kapal seumur hidup ku. Tapi kedengarannya terlihat mengasyikan. Kerajaan ini ternyata terletak di pulau yang berbeda. Pantas saja novel itu tidak menjelaskannya sama sekali.


Ren pun membawa kami berteleportasi ke kerajaan itu. Aku dan dua elf itu sampai dengan cepat, dalam hitungan detik. Tapi daerah yang kami datangi tidak terlihat seperti kota manusia, ini hanya hutan biasa.


"Apa benar di daerah sini?" aku bertanya dengan wajah ragu.


"Ini bukan tempat nya" jawab Ren sambil mengubah penampilan nya menjadi manusia. "Gerbang kotanya ada di depan, beberapa ratus meter dari sini. Daerah ini hanyalah hutan yang berbatasan dengan pintu masuk" Ren menjelaskan.


Ren menyuruh kedua elf itu untuk menutupi wajah mereka dengan masker. Lalu menutup kepala mereka dengan tudung jubah. kita tidak bisa menyuruh mereka berubah menjadi manusia karena mereka bukan bangsawan.


Hanya elf bangsawan yang bisa merubah diri mereka menjadi manusia. Itu adalah kekuatan dari lahir yang diberikan oleh dewa. Karena itulah Ren dan Fram bisa menggunakan wujud kedua mereka dengan sesuka hati.


Kami pun menuju ibu kota kerajaan Albonia. Tidak cukup sulit untuk masuk ke dalam kota. Kami hanya perlu membayar beberapa koin kepada penjaga gerbang dan kami bisa dengan mudah masuk ke dalam kota.


Ini adalah kota manusia keempat yang kulihat, setelah kerajaan Well, kano dan kota sihir. Kota ini memiliki suasana yang berbeda dari kota lainnya. Lebih tepatnya, kota mereka tidak terlalu modern. Bahkan pakaian mereka aneh.


Pakaian mereka mirip dengan pakaian yang kulihat di film alladin. Apa mereka adalah penduduk padang pasir? Tapi tidak ada padang pasir disini. Aku bahkan baru saja melihat hutan.


Kedua elf itu mengarahkan kami ke salah satu bangunan di tepi kota. Bangunan itu berada di daerah yang sangat sepi dan terlihat seperti bangunan terbengkalai. Tapi bangunan itu terlihat lebih besar dari pada rumah-rumah yang ada di daerah itu. Hanya saja terlihat seperti bangunan kosong.


Kami masuk. Kedua elf itu memimpin di depan. Bangunan itu terlihat kosong tanpa ada interior dan perabotan apapun.


"Kita akan menunggu disini" Ren tiba-tiba menarik tangan Eva dan mengaktifkan sihir yang aneh. Itu adalah sihir untuk menghilangkan hawa keberadaan mereka. "Biarkan dua orang itu masuk lebih dulu, agar kelompok lainnya tidak curiga" dia menambahkan.


Aku mengangguk patuh.


Kedua elf itu pun membuka pintu rahasia bawah tanah. Ternyata ruangan yang dipakai sebagai markas besar adalah ruang bawah tanah. Itu sudah menjadi hal yang sangat umum di dunia ini.


Aku dan Ren menunggu di atas sampai Ren memberikan instruksi selanjutnya. Sementara kedua elf itu turun ke bawah untuk menemui pemimpin mereka.


Ruang bawah tanah itu tidak seperti ruang bawah tanah, tapi lebih mirip seperti istana yang mewah, dengan interior dan perabotan yang berkilau.


Poupitas sedang bersantai di sebuah sofa yang sangat besar, dengan beberapa budak wanita manusia yang melayani nya. Dia memiliki prinsip, karena manusia menjadikan kaum mereka budak, maka mereka juga berhak menjadikan para manusia itu menjadi budak. Jadi Poupitas menyerang beberapa desa manusia dan mencuri wanita mereka, untuk dijadikan sebagai budaknya.


Poupitas sedang berbaring santai di salah satu paha wanita pelayannya sambil menikmati suapan manisan yang diberikan oleh pelayan lainnya.


Dia tersentak saat melihat dua anggota nya tiba. Karena kedua elf itu menggunakan jubah hitam yang menyelimuti seluruh tubuh mereka, Poupitas tidak bisa melihat kedua tangan mereka yang terpotong.

__ADS_1


"Kalian sudah kembali?" Poupitas menaikkan kedua alisnya. "Mana yang lainnya? Dan bagaimana misi kalian?" dia bertanya.


"Mereka semua sedang dalam perjalanan Tuan" kata salah satu dari elf itu berbohong, mengatakan bahwa delapan elf lainnya masih dalam perjalanan ke markas mereka.


"Kami sudah berhasil membunuh target Tuan" sambung elf satunya.


"Kalian sudah berhasil? Kenapa kalian tidak membawa kepalanya? Aku ingin mempersembahkan kepala itu untuk dewiku dan membuat nya senang" kata Poupitas cemberut.


Dia berharap bisa memberikan kesan yang baik kepada Lena kalau dia mengiriminya kado kepala manusia. Tapi ternyata dia tidak bisa sejak bawahannya sangat bodoh dan tidak peka. Tapi dia tetap sangat senang sejak dia berhasil membunuh targetnya. Lagipula target nya hanya seorang gadis kecil, sangat mudah untuk dibunuh. Dia sudah bersiap untuk memberitahu Lena kabar baik ini.


Harusnya seperti itu, tapi tiba-tiba Ren muncul di depan matanya. BRAK! Tanpa aba-aba apapun Ren mengangkat tangannya dan menampar Poupitas. Puopitas tidak melakukan apapun karena tidak menduga serangan itu, sehingga tubuh nya terbang dan menabrak dinding belakang.


Para budak manusia yang sedari tadi berada di samping Poupitas langsung menjerit dan berlari tidak beraturan. Sementara dua elf itu masih berlutut dengan wajah datar, seakan-akan tidak ada sesuatu yang terjadi.


Poupitas berusaha bangkit dengan darah di mulut nya. Dia tidak sempat mempertahankan tubuhnya karena serangan Ren sangat tiba-tiba untuknya.


"Itu kau!" Poupitas menggertakan gigi nya benci.


"Aku tidak mengenalmu" jawab Ren ketus.


Kau juga tidak mengenalinya. Elf jahat ini sama sekali tidak pernah muncul di dalam novel. Kalau dia muncul, akan terlalu banyak karakter jahat yang terbentuk. Novel itu hanya menjelaskan organisasi pembunuh milik Sayn.


"Itu tidak penting untuk tahu siapa kau" kata Ren sombong. "Lagipula kau akan benar-benar lenyap hari ini" katanya sambil menatap Poupitas dengan tatapan pembunuh.


Poupitas mengernyitkan keningnya. Dia membenci Ren. Tapi setelah melihat tatapan meremehkan dari Ren, dia semakin membenci nya.


"Jangan meremehkanku" Poupitas menggertakan giginya, dia menggunakan sebuah sihir terlarang. Sihir yang dapat mengutuk seseorang sampai kematian mereka. Tapi untuk menggunakan sihir ini dia perlu mengorbankan beberapa tahun masa hidupnya.


Tapi Ren melindungi dirinya dengan cepat. Sihir itu mengenai tubuhnya, tapi dia berhasil menangkal sihir kutukan itu dan menyingkirkan nya. Lagipula siapa Ren? Dia sudah hidup ribuan tahun dan menghadapi jutaan musuh. Sihir kutukan seperti cemilan untuknya. Poupitas terlalu meremehkan Ren karena dia berpikir masa hidup mereka sama. Dia lupa bahwa Ren adalah seorang raja.


Ren mendekat dan mencekik leher Poupitas. Dalam sekejap Poupitas kehilangan kontrol untuk menggerakkan tubuhnya sendiri. Ren menatap Poupitas dan menggunakan sihir kekuasaan nya, membuat pria itu kehilangan kontrol pada dirinya.


"Siapa yang menyuruhmu untuk melakukan pembunuhan itu?" tanya Ren dengan tatapan tajam.


"Dewi..." Poupitas membuka mulutnya.


Ren mengernyitkan kening. Dia tidak mengerti. "Dewi? Siapa dewi itu?"


"Lena..." dia menjawab.


Ren tersentak. Dia membeku tak percaya. Dia masih tidak biaa mempercayai apa yang didengarnya.


Aku juga mendengar pengakuan Elf itu. Jadi memang Lena. Tapi ternyata semuanya terbongkar semudah ini? Aku tidak tahu apa yang akan Ren lakukan padanya setelah dia mengetahui hal itu. Jujur saja aku merasa buruk pada Lena. Di masa lalu, dia diusir karena Reina. Sekarang aku yang menyebabkan nya. Walaupun aku tidak tahu apakah dia akan menghadapi pengusiran atau hukuman lainnya yang tidak kuketahui.

__ADS_1


__ADS_2