
cerita sebelumnya:
Eva menemui Emerta dan dia mendapatkan alat sihir baru. Itu adalah sebuah kertas sihir hitam yang sangat misterius. Ternyata kertas sihir itu bisa berfungsi sebagai monitor pelacak untuk daerah sekeliling nya.
Eva bermain-main dengan kertas Sihir itu dan tanpa sengaja menemukan dua pembunuh di balik jendela kamarnya. Untung saja Eva menyadari para pembunuh itu sehingga dia bisa menghindar dan melawannya. Sampai akhirnya para pembunuh itu bunuh diri dan Ren datang ke kamarnya.
***
Lena mengigit jarinya frustasi. Dia mengirim dua prajurit terbaiknya untuk membunuh gadis manusia itu. Tapi sampai sekarang kenapa mereka belum kembali?
"Lena" suara dari balik pintu kamarnya mengangetkan nya. Mata Lena berbinar cerah saat dia mendengar suara itu, dia mengenalinya.
Dia langsung membuka pintu kamarnya dan berseru manja. "Kakak~"
Ada Ren yang menunggunya di balik pintu. Ren tidak melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar, tapi hanya berdiri di depan pintu. "Lena, apa kau ingat para prajurit yang kuberikan untuk menjagamu?" tanya Ren tiba-tiba.
Deg!
Lena tersentak. Awalnya dia sangat senang saat tahu Ren mengunjungi kakaknya. Tapi tiba-tiba Ren menanyakan hal seperti itu. Apa Ren menemukan keberadaan pengawalnya? Itu sebabnya dua pengawal itu tidak kembali saat ini, Ren pasti membunuh mereka! Lena bergidik ngeri. Dia paling takut kalau Ren mengetahui semua tindakannya.
"Kau memberikan ku banyak sekali prajurit kakak. Aku tidak mengingat nama mereka. Tapi aku tahu mereka. Kenapa?" Lena berusaha mengerjapkan matanya polos, berpura-pura tidak tahu.
Ren mengernyitkan keningnya. "Tidak apa-apa." katanya kemudian. "Kembali tidur" katanya sambil berbalik pergi.
Tapi Lena menghentikan nya dengan menarik bajunya. Dia menatap Ren dengan mata berkaca-kaca. "Kakak, tidak bisa kah kau menginap malam ini? Aku sangat senang saat tahu kau datang menemuiku. Tapi ternyata kau hanya datang untuk menanyakan para prajurit yang sama sekali tidak penting itu" kata Lena sedih.
"Maaf, aku sibuk" Ren menjawab datar. Dia langsung pergi setelah tangan Lena lepas dari pakaiannya.
Lena melihat punggung Ren yang semakin lama semakin menjauh. BAM! Dia menutup pintu kamarnya dengan keras. Lalu dia melompat ke atas tempat tidur dan berteriak frustasi sambil membenamkan wajahnya di bantal. "Ini semua karena wanita manusia itu! Kenapa selalu manusia, arghhh! Aku sudah menyingkirkan satu tapi tetap ada manusia lainnya. Menyebalkan!" dia menggertakkan giginya kesal.
"Aku akan serius sekarang. Sudah saatnya memanggil mereka untuk melenyapkan manusia itu" lanjutnya dengan wajah menghitam.
***
Hari berlalu dengan cepat. Aku pun harus bersiap untuk menemui Damian lagi. Jujur saja, aku tidak terlalu ingat arah ke goa tempat tinggal Damian. Dan kali ini Fram juga tidak bisa ikut untuk memandu. Untung saja Rexus mengingat jalannya. Jadi kemungkinan untuk tersesat menjadi lebih rendah sekarang.
Aku pun menggunakan sihir terbang ku untuk keluar dari desa elf. Sementara Rexus duduk dengan nyaman di atas kepalaku. Aku sebenarnya sangat iri dengan naga kecil ini. Dia tidak harus menggunakan tenaganya saat bepergian. Dia hanya perlu menumpang dengan orang lain, memanfaatkan tubuhnya yang kecil.
__ADS_1
Di masa depan, Rexus tidak akan bisa melakukan hal seperti ini lagi karena tubuhnya akan menjadi sangat besar. Dan tidak ada yang bisa ditumpangi nya lagi.
Kami berangkat cukup pagi dan bahkan tidak berpamitan dengan Ren. Aku berpikir kami hanya pergi sebentar, jadi tidak perlu berpamitan sama sekali padanya.
Kami sampai lebih cepat dari biasanya. Goa itu masih terlihat sama seperti terakhir kali aku berkunjung. Saat kami masuk, Damian langsung membuka matanya dengan malas.
"Halo, Damian" aku menyapanya.
Sebenarnya aku sedikit bingung. Kenapa Damian selalu tertidur di dalam goa nya? Apa dia tidak bosan dan tidak ingin bermain keluar? Sekejap aku lupa bahwa Damian adalah seekor naga tua. Dia tidak akan memikirkan hal-hal seperti itu lagi karena dia sudah hidup sangat lama di dunia ini.
"Kau sudah datang manusia kecil" suara Damian bergema di seluruh goa.
"Ya. Rexus bilang kau memanggilku. Ada apa?" aku bertanya langsung ke intinya.
Damian mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya dia mengangkat kepalanya. "Aku ingin menitipkan benda ini kepadamu".
Dia membuka mulutnya dan sebuah bola kristal hijau melayang keluar. Lalu berhenti di hadapan ku.
Bola kristal ini terlihat familiar...
Damian menyadari perasaan tidak senang Eva hanya dari wajahnya. "Ini untuk mu" katanya kemudian.
"Eh?" aku tersentak kaget.
"Aku akan memberikan pusaka naga ini untukmu. Jaga baik-baik"
Astaga! Bukan untuk Ren? Tapi untukku?
"Kenapa?" tanyaku bingung. Aku mengernyit kan keningku tak mengerti.
Damian menghela napas. Kemudian dia membuka mulutnya dan menjelaskan semuanya dengan nada lirih. "Aku sudah hidup terlalu lama. Umurku mungkin tidak akan bertahan lama. Semua orang tahu itu dan mereka mulai mengincar pusaka nagaku. Aku ingin kau menjaga pusaka naga itu untukku."
"Kenapa?" aku masih tidak mengerti. "Kenapa harus memberikannya padaku? Aku kira kau bisa menitipkan nya pada Ren. Itu akan jauh lebih aman" Aku takut aku akan kehilangan benda berharga ini. Apalagi kehidupan ku juga tidak baik. Aku memiliki masa depan yang sangat gelap. Dan umurku juga diujung tanduk.
"Karena kau terhubung dengan anak ini" Damian menunjuk Rexus. "Kalau kau benar-benar tidak menginginkan pusaka nagaku. Kau bisa memberikannya pada anak ini saat anak ini sudah menjadi naga muda" katanya. "Lagipula anak ini adalah muridku. Jadi tidak masalah"
"Siapa yang muridmu kakek tua" sela Rexus dengan wajah cemberut. "Kakek itu hanya memerintahkan nya untuk mencabut rumput dan menggali tanah seharian. Dia tidak belajar apapun kecuali diperlihatkan sebagai tukang bersih-bersih.
__ADS_1
Damian mengabaikan komplain Rexus dan dia melanjutkan. "Aku juga melihat sesuatu yang aneh saat aku mendeteksi ingatan jiwamu. Kau bukan berasal dari dunia ini"
Deg!
Aku langsung mematung.
"Tapi kau bukan mahluk asing itu. Jangan khawatir. Para dewa tidak akan memburumu. Hanya saja keberadaan mu sedikit istimewa. Karena itulah aku ingin memberikan pusaka nagaku padamu" Damian melanjutkan.
Aku masih mematung. Aku tahu naga sangat kuat. Tapi aku tidak tahu mereka bisa membaca ingatan jiwa sebelum aku bereinkarnasi ke dunia ini. Semuanya cukup mengejutkan. Tapi aku merasa sedikit lega saat Damian berkata aku bukan mahluk asing.
"Baiklah, aku akan menjaganya dengan baik. Mungkin aku akan memberikannya kepada Rexus saat dia tubuh lebih besar" kataku setuju.
Damian tersenyum. Ini pertama kalinya aku melihat naga raksasa tersenyum. Pemandangan yang cukup aneh tapi unik.
Setelah tersenyum, Damian meletakkan kepalanya lagi dengan malas. Seakan-akan dia ingin kembali tidur.
"Kau bisa kembali manusia kecil. Dan kau anak kecil hitam. Lanjutkan tugasmu untuk mencabut rumput di depan" kata Damian.
Aku bisa melihat Rexus menatap naga tua itu dengan mata melotot karena kesal. Aku hanya bisa tersenyum pasrah melihat naga kecil itu.
Setelah ini, kami tidak akan bertemu lagi. Mungkin kami akan terpisah cukup lama. Bisa jadi selama beberapa tahun sampai kami bertemu kembali. Sejak aku tidak ada, Damian akan bertanggung jawab untuk makanan naga kecil itu. Karena Rexus tidak bisa mencari makanannya sendiri.
"Rexus..." aku memanggilnya.
Rexus memiringkan kepalanya. "ada apa?" dia langsung menghampiri ku, terbang dengan sayap capungnya.
Aku langsung membawanya dalam pelukan ku dan memeluknya dengan erat. "Aku akan merindukanmu. Jangan membuat masalah di tempat ini"
"Hei, manusia. Kita tidak berpisah jauh. Aku masih bisa mengunjungi mu kalau aku mau" bantah Rexus dengan wajah cemberut. Sebenarnya dia juga sedih. Tapi dia menahannya dan berpura-pura tidak merasakan apapun.
"Um, kunjungi aku sesekali oke" jawab ku langsung sambil melepaskannya dalam pelukanku. "Sampai jumpa"
Akhirnya, aku harus kembali ke istana elf sendiri. Mulai sekarang Rexus akan tinggal bersama dengan Damian.
Aku berpikir aku bisa kembali dengan tenang. Tapi ternyata tidak. Saat aku berada sudah cukup jauh dari goa Damian, sepuluh orang berjubah hitam, tiba-tiba mengepung ku.
Apalagi ini? Tidak bisakah mereka membiarkanku istirahat satu hari saja? Desa elf benar-benar tempat yang menyebalkan!
__ADS_1