
Cerita sebelumnya:
Eva dan Denis kembali ke menara sihir setelah berkeliling pasar. Mereka menemui Duke Wason setelahnya, lalu Eva memutuskan untuk menginap. Dan Denis menawarkan kamarnya agar Eva dapat bermalam.
***
Aku terbangun. Tapi kenapa dadaku terasa menyesakkan? Aku merasakan kehangatan dan merasa sulit bernapas.
Saat aku membuka mata, yang pertama kali kulihat adalah dada Robert. Dia benar-benar memelukku dengan erat sampai aku kesulitan bernapas.
"Masterrr..." aku mencoba membangunkannya sambil memukul kecil dadanya. "Lepas, sudah pagi. Aku ingin bangun..."
Robert merespon. Dia membuka matanya, lalu menatap gadis kecil dalam pelukannya. Tapi dia tidak melepaskannya. Dia malah menurunkan posisi kepalanya sedada Eva lalu mendekapkan kepalanya dan memeluknya dengan erat.
"Masterrr...." aku berkata dengan panik. "Sesak, lepaskan" aku berusaha menggeliat untuk lepas dari pegangannya.
Setelah beberapa menit pemberontakan, Robert akhirnya melepasku.
Haa~ aku menghela napas lega. Dia pasti mengigau bukan? Apa dia bermimpi buruk sampai butuh dekapan kuat seperti itu?
"Masterr, kau tidak bangun?" tanyaku saat melihat Robert masih berbaring santai di kasur.
"Aku sudah bangun..." jawab Robert lirih sambil menangkupkan satu lengannya ke kepala.
"Master kau tidak apa-apa?"
"....."
Robert tidak menjawabku. Kelihatannya dia melamun.
"Master, kau bermimpi buruk?"
"...."
Dia masih tidak menjawab.
"Masterrrr!!"
Robert langsung mengalihkan tatapannya padaku dan bangkit berdiri.
"Aku tidak apa-apa" katanya sambil mengusap kepalaku dengan brutal.
"Aku akan mengantarmu menemui Dean Cristal. Persiapkan dirimu" katanya lagi, lalu melenggang pergi meninggalkan kamar.
Aku mengernyitkan kening "Ada apa dengannya?"
***
Robert bermimpi buruk. Dia bermimpi sangat buruk. Dia tidak tahu dari mana asal mimpi itu. Mimpi itu sangat aneh.
__ADS_1
"Apa itu mimpi masa depanku? Tapi kenapa begitu mengerikan?"
Robert bermimpi, saat dia melarikan diri dari Menara Sihir, dia menetap menjadi guru di akademi. Saat itu dia akan terpikat pada seorang gadis baik, tapi bukan Evanya. Gadis itu adalah gadis polos yang memiliki sihir cahaya yang sangat kuat. Sayangnya, sosok gadis itu sangat buram di mimpinya. Dia tidak tahu siapa orang itu.
Gadis suci dalam mimpinya sering berkelahi dengan Eva. Mereka adalah musuh berat. Tapi aku tidak tahu, kenapa saat itu aku juga membenci Eva karena selalu menganggu gadis itu. Aku memarahi Eva dan bahkan aku tidak peduli saat dia jatuh berlutut di hadapanku, memohon ampun. Kenapa? Dia agak bingung kenapa dia membenci Eva. Lalu kenapa Eva berlutut di hadapannya? Kenapa dia tertarik pada gadis suci itu? Mimpi itu sangat tidak jelas.
Tapi, yang paling mengerikan adalah saat adegan berganti. Disitu dia melihat bahwa prajurit membawa mayat Eva dan membakarnya.
"Kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?" dia agak bingung. Bagaimana dia bisa bermimpi seperti ini? Apa pemicunya?
Lalu, setelah melihat kematian Eva, dia melihat kematiannya sendiri. Karena perang, dia mengorbankan dirinya, dan kehilangan semua sihirnya. Dia putus asa karena sihirnya lenyap dan dia memutuskan untuk menjadi pengembara. Mencari tahu cara untuk mengembalikan sihirku lagi. Tapi, aku terbunuh oleh ayahku sendiri. Aku mati dengan rasa terkejut yang kuat dan perasaan itu masih membekas.
'Kenapa? Kenapa orang tuaku membunuhku? Padahal Aku sudah membantunya. Kenapa orang yang kucintai tidak mencintaiku? Aku sudah memberikan segalanya untuknya?'
Saat kematiannya, Robert langsung membuka matanya. Dan saat itu dia sadar bahwa dia mimpi buruk. Saat itu juga dia melihat aura gelap tipis yang merembes keluar dari tubuh gadis dalam dekapannya.
"Mimpi itu berasal darinya? Tidak mungkin bukan? Itu tidak masuk akal" dia berpikir.
Lalu dia memutuskan mendekap gadis itu erat-erat untuk menyerap aura gelap yang keluar darinya. Aura gelapnya tidak boleh tersebar atau semua orang akan tahu bahwa dia adalah penyihir gelap .
Robert merenung sebentar. Dia memikirkan mimpinya.
Apaakah mimpi itu berasal dari aura gelap yang bocor dari Eva? Tapi kenapa bisa? Apa dasarnya sehingga gambaran seperti itu bisa muncul?
Robert benar-benar bingung kali ini. Dia tidak ingin memikirkannya. Tapi mimpi yang dialaminya terlalu berbahaya. Bagaimana kalau benar-benar terjadi?
'Tidak! Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi!' Robert membuat tekad kuat dalam hatinya
***
Aku sudah selesai bersiap-siap. Kemudian, aku menyusul Robert keluar kamar. Dan aku melihat dia sedang berdiri di sana terdiam. Tatapannya kosong. Kelihatannya dia melamun lagi?
"Masterrr..." aku memanggilnya.
"....."
Tapi dia tidak merespon.
Aku langsung mendekatinya dan menepuk bahunya. "Master"
Robert langsung membuyarkan pikirannya dab menatap Eva. "Ah! Maaf...kau sudah bersiap-siap?"
"Aku sudah selesai. Ada apa denganmu master?"
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya penasaran memikirkan sesuatu"
"Oh, baiklah" aku mengangguk mengerti.
"Masterr, kau akan menungguku?"
__ADS_1
"Aku hanya akan mengantarkanmu ke Dean Cristal. Aku harus pergi sebentar, ada urusan yang harus kuurus"
Wajahku berubah cemberut "Kau berbohong padaku master! Kau bilang akan mengajakku liburan!" kataku kesal.
Robert mencubit pipiku dengan tiba-tiba. "Jangan marah oke. Aku akan menepati janjiku. Kita akan jalan-jalan. Aku akan menjemputmu kalau kau sudah selesai"
"Janji"
"Iya"
"Baiklah..."
Robert langsung memegang tanganku dan menuntunku untuk menemui Dean Cristal. Kami masuk ke salah satu pintu yg berada di lantai 98. Ruangan terbuka, dan aku memasuki aula yang elegan. Aula itu putih bersih dengan berbagai perabotan berwarna pastel. Ada meja, kursi, dan beberapa pot bunga. Lalu ada berbagai macam bunga dalam pot itu dengan berbagai warna. Ruangan ini benar-benar meninggalkan jejak seperti kamar perempuan. Hanya saja ini seperti selera para wanita muda, sementara Dean Cristal sudah berumur.
Kami masuk dan aku melihat Dean Cristal ada disudut, menyirami bunga-bunga miliknya.
Dean Cristal melihat kami, lalu tersenyum. "Kalian sudah datang?"
"Selamat pagi Dean" kami menyapa.
Robert memandangku "Aku hanya akan mengantarkanmu sampai disini. Selamat tinggal" sahutnya sambil melambai padaku.
"Selamay tinggal masterr. Jangan lupa menjemputku"
"Tentu saja"
Robert berteleportasi dan perlahan sosok Robert mulai menghilang dari hadapanku.
"Silahkan duduk gadis kecil"
"Terima kasih"
"Jadi bagaimana? Kau ingin tinggal disini?" tanya Dean Cristal sambil mengangkat alisnya.
"Hmm... maafkan aku guru. Aku tidak berencana untuk tinggal lama di Menara Sihir. Aku akan pulang nanti. Aku mohon bimbingan guru untuk melatihku nanti" kataku dengan wajah menyesal.
Aku tidak berniat untuk tinggal di Menara sihir seperti para Murid itu. Aku lebih suka tinggal di mansionku sendiri. Walaupun di sini mengasyikkan, aku tidak cocok tinggal disini. Tempat ini hanya cocok dijadikan tempat liburan.
"Baiklah, aku sudah tahu itu dan aku sudah mengantisipasinya. Aku akan memberikan titik teleport ke menara sihir sehingga kau bisa kemari dengan mudah hanya dari mansionmu" kata Dean Cristal.
"Walaupun aku tidak bisa selalu mengawasimu, kau tidak boleh meremehkan latihanmu. Karena pertandingan sihir akan diadakan sebentar lagi. Kau harus bersiap-siap"
"Aku mengerti" kataku sambil mengangguk.
Aku tahu pertandingan sihir akan diadakan dua tahun lagi. Itu terjadi saat aku baru masuk ke dalam akademi.
"Baiklah, aku tahu kau anak rajin dan patuh. Sekarang aku akan mengajarimu dan memberimu bahan belajar. Setelah kembali ke mansion kau harus berlatih oke?"
"Baik guru. Guru tenang saja. Aku benar-benar tidak akan bermalas-malasan"
__ADS_1
Tentu saja, karena menjadi kuat adalah tujuanku!