
Cerita sebelumnya:
Acara makan bersama mereka berakhir dengan akward. Eva memutuskan untuk pergi dan melanjutkan aktivitas belanjanya. Tapi tiba-tiba Denis menghentikannya dan mengajaknya untuk berbicara secara pribadi. Denis mengatakan langsung bahwa dia melaksanakan misi di Kota Sihir. Walaupun dia tidak memberitahu detail misinya. Sehingga Eva tidak terlalu tertarik.
Eva pun ingin mengakhiri pembicaraan mereka, tapi Denis menghentikannya lagi dengan menarik tangannya dan mengatakan bahwa dia akan melindunginya. Hal ini membuat Eva semakin bingung. Bahkan lebih membingungkan lagi karena Denis langsung melarikan diri setelah itu.
Denis melarikan diri dari keramaian. Jensen dan Reina menghampirinya. Saat itu Reina dengan tegas mengatakan bahwa dia akan membantu Denis. Tapi dia melakukan kesalahan yang membuat Denis murka. Walaupun setelah ini Reina akan memastikan semuanya baik-baik saja dan dia akan tetap membantu misi Denis.
***
Keesokan harinya...
Akhirnya, hari yang dinantikan tiba. Hari ini pertandingan babak kedua akan dimulai. Aku dan Kelompok Menara Sihir segera menuju aula untuk masuk ke Domain Sihir. Kali ini dari Menara Sihir ada enam belas orang yang akan ikut. Itu adalah enam murid dan sepuluh Dean. Dean Wason berjalan paling depan untuk memimpin barisan. Lalu diikuti dengan sembilan Dean lainnya. Enam murid berbaris di barisan paling belakang.
Saat sampai di aula kami melihat bahwa suasana lebih ramai dari biasanya. Bahkan beberapa organisasi memiliki 20-30 orang dalam kelompok mereka.
Aku melirik ke Komunitas Pengembara, tapi tidak bisa melihat keberadaan Denis dan Jensen. Mungkin dua orang itu bersembunyi di antara barisan. Lalu aku melihat ke Tim Jiwa Sihir. Reina ada di sana, bahkan dia diberi posisi barisan cukup depan. Sayn juga berada dengan kelompoknya. Aku tidak menduga bahwa hampir semua tokoh utama itu berkumpul di tempat ini. Padahal ini adalah event milik Robert kalau dilihat dari sudut pandang novel.
Tetua Kota Sihir yang biasanya menjadi pemandu muncul dan naik ke podium di tengah-tengah aula.
"Baiklah, Domain Sihir akan dibuka sebentar lagi." Dia mulai membuka pembicaraan. Saat tetua itu berbicara, suasana aula langsung menjadi sunyi. "Aku sudah menjelaskan sebelumnya bahwa urutan masuk kalian berdasarkan peringkat yang kalian peroleh dari babak pertama. Kelompok dengan peringkat pertama akan masuk lebih dulu, lalu disusul kelompok peringkat di bawahnya setiap tiga puluh menit. Kalian hanya punya waktu empat jam di dalam Domain Sihir sebelum kembali. Tapi walaupun hanya empat jam, bisa saja kalian masuk ke suatu ruang dimana kalian menghabiskan beberapa hari di dalam domain, tapi tetap empat jam di dunia nyata. Setelah empat jam, Domain Sihir akan tertutup dan kalian akan diteleportasi kembali ke dunia nyata. Ada satu hal penting lagi yang akan kusampaikan. Saat kalian masuk, kalian akan diteleportasikan secara terpisah dari tim kalian. Jadi berhati-hatilah. Kali ini, kalau kalian terluka dan mati, kalian tidak akan kehilangan poin, tapi kehilangan nyawa kalian. Ini adalah pertarungan sebenarnya. Dan juga harta yang kalian dapat dari Domain Sihir tergantung keberuntungan kalian masing-masing. Aku harap kalian memiliki keberuntungan yang baik."
Dia menatap kelompok Menara Sihir. "Kalian bisa masuk" katanya.
Dean Wason mengeluarkan token itu. Tiba-tiba token itu bercahaya, kami sudah ingin di teleportasi ke dalam domain. Aku mempersiapkan diri, tapi aku merasakan seseorang mengenggam erat tanganku. Ternyata itu Robert!
__ADS_1
"Kita akan masuk bersama" kata Robert sambil memperkuat pegangannya.
SYUUU! Kelompok Menara Sihir mulai lenyap satu per satu dari aula. Hanya menyisakan tiga kelompok lainnya yang menunggu giliran mereka.
***
Pandanganku menjadi kabur sesaat, lalu pemandangan di depanku berubah. Aku melihat tangan kananku. Aku mengira aku akan berteleportasi di tempat yang sama dengan Robert. Tapi ternyata salah. Orang yang mengenggam tanganku lenyap. Menyisakan diriku sendiri di tempat ini.
Aku melihat sekelilingku. Banyak sekali semak-semak dan pepohonan. Hutan? Apa aku berteleportasi ke hutan lagi?
Tapi hutan yang kulihat ini sangat aneh. Semak-semak di sekitarnya penuh dengan duri. Pepohonan itu tidak memiliki sehelai daun pun, hanya ranting-ranting besar yang melilit satu sama lain.
Jujur saja, aku sangat bingung. Tempat ini sangat aneh. Di mana aku bisa menemukan harta karun? Bahkan mereka sama sekali tidak memberikan aku peta. Cih! Apa-apaan. Semuanya benar-benar tergantung pada keberuntungan dan kemampuan bertahan hidup sekarang.
Aku menyusuri hutan aneh itu dengan wajah cemberut. Aku sama sekali tidak melihat apa pun, hanya beberapa tumbuhan aneh yang tidak berguna. Aku berkeliling cukup lama. Bahkan langit sudah menggelap, menandakan bahwa malam akan datang. Aku tidak tahu sudah berapa waktu berlalu di dunia nyata. Tapi aku sudah mengelilingi tempat ini selama delapan jam!
"Apa kau lapar?" tanyaku.
Dia menggeleng. Lalu terduduk dan diam.
SHUUU~
Suasana sangat sunyi, aku bahkan hanya mendengar suara desir angin sepoi-sepoi yang melintas di depan kami.
"Apa yang terjadi? Kau sangat aneh..." kataku heran sambil mengangkat Rexus dari kepalaku dan menggendongnya. Mataku bertemu dengan telur itu.
__ADS_1
"Tempat ini tidak asing..." kata Rexus lirih.
"Eh?"
"Aku merasa pernah ke tempat ini sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa aku merasa tidak nyaman seperti ini. Rasanya sangat sedih...aku ingin menangis..." kata Rexus lirih.
Aku mengernyitkan kening. Lalu aku mengingat sesuatu! Mimpi yang kulihat waktu itu! Mimpi saat para manusia dan para binatang sihir itu bertarung!
"Apakah mereka bertarung di sekitar sini?" gumamku tidak percaya.
Aku kembali bangkit berdiri dan lanjut menjelajah. Aku mengingat-ngingat mimpi yang kulihat itu. Awan gelap, lahan gelap dan tandus. Setelah menyusuri hutan sampai malam, kami mulai keluar dari hutan itu dan tiba di tempat yang tidak asing. Ya! Ini adalah tempat dalam mimpi itu. Lahan tandus, langit malam yang gelap, tanah mati yang berwarna hitam tanpa satu pun tanaman. Ini adalah tempat itu.
Aku memperhatikan Rexus yang kubawa dalam gendonganku. Bocah itu tetap diam sampai akhirnya dia melompat keluar dari tanganku. Rexus mulai berlari. Aku cukup kaget dan mencoba menghentikannya.
"Rexus, kau mau kemana?" teriakku panik sambil mengejar telur kecil itu.
Rexus terus berlari ke depan dengan kaki kecilnya. Lalu dia berhenti di tengah-tengah tanah tandus itu. Dan mulai mencakar tanah di bawahnya dengan kaki kecilnya.
"Rexus, apa yang kau lakukan?" aku langsung mengambilnya dan meletakkan mahluk kecil itu di bahuku.
"Di bawah...di bawah!" katanya panik.
"Oke, oke, tenanglah. Kau tidak akan bisa mencakarnya dengan kaki kecilmu itu. Aku akan membantumu" kataku. Dengan sigap aku menggunakan elemen bumi dan membuat retakan tanah yang lumayan besar.
Aku meletakkan Rexus di samping lubang retakan yang besar dan mengintip ke bawah.
__ADS_1
"Apa itu?" gumamku bingung sambil mengernyitkan kening. Aku melihat sebuah tumpukkan berwarna hitam dan sangat besar. Tapi semua itu tidak jelas karena terlalu gelap.
TAK! Aku menghentakan kakiku dan membuat retakan yang lebih besar. Lalu aku membuat bola-bola api dan melemparkannya ke dalam lubang. Aku mulai melihat dan tidak percaya dengan apa yang kulihat saat ini. Sebuah tumpukan tulang raksasa berwarna hitam terkubur di bawah.