
Cerita sebelumnya:
Eva dan Ren membicarakan perihal tentang mahluk asing. Ciri-cirinya dan juga kekuatannya. Lalu Eva juga meminta tolong Ren untuk menyelamatkan temannya. Tapi Ren tidak bisa membantu karena dia tidak bisa ikut campur dengan urusan kepala sekolah.
***
Ren tidak bisa membantuku. Jujur saja, aku cukup kecewa. Tapi mau bagaimana lagi. Aku tidak mungkin memaksa Ren kalau dia tidak bisa. Aku hanya bisa berjuang sendiri atau mencari beberapa bantuan sekarang. Aku langsung memikirkan Robert dan Sayn, berniat untuk meminta bantuan mereka.
Pertama, aku menghubungi Robert lewat telepati.
"Bisakah kau membantuku untuk membebaskan temanku dari penjara akademi?" aku bertanya.
"Aku tidak bisa" jawab Robert dengan nada menyesal. "Aku memiliki kontrak dengan kepala sekolah bahwa aku tidak akan mencampuri urusannya" jawaban Robert sama persis dengan Ren. Mungkin ini karena jabatan guru yang mereka emban.
"Baiklah, terima kasih"
"Kau bisa meminta bantuan Dean Wason" Robert memberikan sarannya. "Tapi akan lebih baik kalau kau tidak terlibat dengan penyihir gelap lainnya. Karena hal itu bisa membahayakan keluarga mu" Robert memperingati.
"Aku mengerti"
Aku tahu ini berbahaya. Tapi gadis itu sudah berharap bahwa aku akan menolong nya, jadi aku tidak bisa meninggalkan nya seperti ini. setidaknya aku harus bisa membiarkan gadis itu melarikan diri dari kerajaan ini.
Aku pun menghubungi Sayn dengan telepati ku. Aku bisa merasakan bahwa sinyal telepati kami terputus sebentar, lalu tersambung lagi.
"Kau ada dimana sekarang?" aku bertanya.
"Em, maaf. Aku sedang dalam misi" dia menjawab.
Aku merasa tidak nyaman saat mendengarnya. Aku mengira dia sedang libur sekarang. "Maafkan aku. Akan ku hubungi lagi nanti"
__ADS_1
"Memangnya ada apa?" dia bertanya.
Aku sama sekali tidak ingin menganggu misinya. Jadi aku berbohong. "*Bukan hal yang penting. Aku akan memberitahu mu nanti. Saat kau punya waktu luang"
"Baiklah*"
Pencarian bantuan gagal. Apa aku harus meminta tolong pada kakek? Tapi bukankah terlalu berlebihan melibatkan Ketua menara sihir untuk hal seperti ini? Jadi aku memutuskan untuk melakukan misi penyelamatan ini sendiri.
Aku berpikir bahwa ini tidak akan sulit karena aku hanya harus menyelinap di akademi. Mencuri kunci dan membawa Fena kabur dari sana. Kalau dipikir-pikir lagi itu cukup sederhana. Baiklah, aku pasti bisa.
Aku pun bersiap untuk menjalankan misi penyelamatan itu tengah malam. Aku akan melakukan nya dari asrama karena semuanya akan lebih mudah kalau dilakukan dari tempat yang dekat. aku juga tidak perlu menyelinap masuk ke dalam akademi karena aku sudah berada di dalam akademi sekarang.
Saat aku bersiap-siap, aku melihat Vivian masih tertidur lelap di samping ku. Aku pun memakai pakaian penyamaran ku. Itu adalah pakaian serba hitam yang terlihat seperti pencuri. Aku memakai topeng yang menyembunyikan wajah dan rambut ku. Penampilan ku terlihat seperti ninja Sekarang.
Aku juga tidak boleh lupa untuk membawa banyak kertas mantra untuk melarikan diri. Ini bisa digunakan dalam situasi yang sangat darurat.
Setelah semuanya siap, aku menggunakan sihir untuk menghilangkan hawa keberadaan ku dan menyelinap keluar asrama.
Aku memakai sihir yang membuat tubuhku menjadi tembus pandang dan mulai menuju ke penjara bawah tanah.
Saat sampai, aku bisa melihat dua orang penjaga di depan. Mereka adalah staff akademi yang mendapat kan tugas jaga. Aku bisa memukuli mereka, tapi itu akan semakin mencurigakan. Kalau ada yang menemukan kedua penjaga dipukuli, maka penyusupan akan ketahuan.
Jadi aku memakai ramuan untuk membuat mereka tertidur. Ini adalah ramuan yang kudapat kan dari Emerta. Ini adalah gas tidur! Aku sangat bersyukur bahwa Emerta memberiku beberapa barang berguna selain kertas GPS itu. Terima kasih nenek! Kau memang yang terbaik!
Setelah kedua penjaga itu tertidur, aku segera mencari kunci untuk membuka ruang bawah tanah.
KRIETTT, pintu gerbang besi itu secara perlahan terbuka. Ada tangga kecil yang mengarah ke ruang bawah tanah. Aku langsung terbang ke bawah tanpa menginjak kan kaki di anak tangga, karena itu membuang-buang waktu. Aku perlu mengeluarkan Fena dengan cepat sebelum kedua orang itu bangun.
Aku mengira penjara bawah tanah ini akan terlihat seperti gua yang gelap dan lembab. Tapi dugaanku salah! Saat aku masuk ke dalam, aku melihat sebuah ruangan normal tanpa dinding dan lantai batu.
__ADS_1
Aku mengecek salah satu penjara kosong dan menemukan bahwa ruangan itu terlihat seperti penjara yang cukup mewah. Di dalamnya ada meja, kursi dan bahkan tempat tidur bertingkat. Tidak terlihat seperti penjara sama sekali. Bahkan mereka memiliki lampu sebagai penerangan. Jujur saja penerangan di tempat ini lebih baik daripada istana elf.
Aku menyusuri penjara untuk mencari keberadaan Fena. Gadis itu berada di penjara paling ujung. Dia duduk dengan lesu di atas kursi sambil melipat kakinya keatas, lalu membenamkan wajahnya di permukaan lutut nya yang menengkuk.
"Fena!" aku memanggil nya lewat telepati.
Fena langsung terbangun. Gadis itu tidak tertidur sama sekali. Aku masih membuat tubuhku menjadi transparan, jadi dia tidak bisa melihat ku.
"Kau sudah disini? Sendiri?" Fena mengerjap tak percaya. "Ini berbahaya. Sebaiknya kau kembali sebelum ada yang menemukan keberadaan mu!" kata Fena panik.
Dia tahu bahwa Eva berniat untuk menolong nya. Awalnya dia mengira bahwa gadis itu akan mengirim orang yang sangat profesional untuk tugas ini. Tapi ternyata dia melakukan nya sendirian. Mau tidak mau Fena merasa sangat khawatir. Sehebat apapun Eva, dia masihlah seorang siswa. Dia tidak mempunyai banyak pengalaman. Fena takut rencananya memiliki celah dan mereka akan ketahuan. Semuanya akan menjadi rumit kalau hal itu terjadi.
"Jangan khawatir. Aku akan mengeluarkan mu" kataku percaya diri.
Jeruji itu dikunci. Aku berusaha melelehkan kuncinya dengan sihir api. Dan itu berhasil. Jeruji nya terbuka. Harusnya seperti itu. Tapi tiba-tiba BIP! BIP! BIP! bunyi alarm yang sangat keras terdengar di seluruh ruangan.
Penghuni ruang bawah tanah itu langsung terbangun. Bahkan seluruh staff dan juga kepala sekolah juga ikut terbangun karena suara bel alarm yang sangat keras itu.
Aku segera meraih Fena, mengeluarkan kertas mantra, dan berteleportasi secara acak keluar dari akademi.
Walaupun kami sudah berhasil keluar dari akademi. Jejak teleportasi kami masih bisa dikejar oleh mereka. Dan beberapa menit kemudian, beberapa orang tiba-tiba muncul, mereka semua berteleportasi dan mengepung kami dari tempat yang sangat acak.
Aku menarik Fena dan menuju ke sisi yang penjagaannya paling lemah. Hanya ada dua penyihir disana. Aku mengeluarkan belati sihirku dan menebasnya ke arah mereka.
Aku tidak berniat untuk memotong mereka sama Sekali. Tapi terpaan angin yang terbentuk dari tebasan itu, mendorong mundur tubuh mereka. Ini sangat mudah. Aku tahu bahwa tubuh penyihir sangat lemah. Mereka tidak bisa bertarung dari jarak dekat.
Aku berhasil menyingkirkan dua penyihir ke samping dan melarikan diri dengan cepat menggunakan sihir anginku ke jalan kecil yang ada di depanku. Fena yang dari tadi diam merasa sangat mual. Dia merasa bahwa tubuhnya terombang-ambing dari atas ke bawah karena Eva terus menariknya.
"Eva, aku akan muntah..." Fena bergumam menyedihkan dengan tubuh melambai seperti layang-layang. Dia berusaha untuk menahan rasa mualnya dengan menggembungkan pipinya.
__ADS_1
Dan tentu saja Eva tidak mendengar keluhannya sama sekali dan terus berlari dengan cepat.