Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 6 Rahasia Vivian


__ADS_3

cerita sebelumnya:


Mereka tidak menemukan Vivian di gedung kelas B. Jadi mereka memutuskan hal secara random karena tidak bisa melakukan apapun.


Lilac dengan bersemangat mengajukan diri nya untuk menjadi lawan latih tanding Sayn.


Lalu mereka pun memutuskan menuju lapangan latihan. Tapi saat di tengah jalan, mereka menemukan keberadaan Vivian. Vivian saat itu bersama dengan Reina. Dan lebih mengejutkan lagi, Vivian menampar Reina dengan keras di tempat itu.


***


Beberapa jam sesudah Fram menceritakan rahasia nya pada Eva, ada hal mengejutkan lainnya yang terjadi di ibukota. Lebih tepatnya di kediaman Marquis Zent.


Vivian kembali ke kamar nya untuk membawa semua barangnya dari mansion ini. Dia dan Marquis Zent sudah memutuskan hubungan orang tua dan anak. Dia juga sudah diusir dari mansion itu. Jadi Vivian berniat untuk membawa semua barang miliknya dan ibunya. Dia tidak ingin meninggalkan jejak apapun di tempat ini.


Bukan berarti setelah diusir, Vivian akan menjadi gelandangan yang tidak punya rumah. Dia masih ada beberapa simpanan uang untuk membeli rumah. Tapi dia menahannya karena dia bisa tinggal di asrama saat ini. Jadi dia berniat untuk menyimpan uang itu dan menambahnya dengan mencari pekerjaan.


Mencari pekerjaan adalah masalah tersulit. Dia tidak punya siapapun lagi di tempat ini. Kakek dan ibunya, kedua orang yang disayangi nya sudah lama meninggal.


Lalu dia juga tidak bisa meminta bantuan bibinya, karena bibinya juga dalam kesulitan sekarang. Semuanya terjadi karena ayahnya. Entah kenapa Marquis Zent memotong semua pemasukan milik bibi nya, sehingga semua toko yang mereka dirikan di ibukota hampir seluruhnya bangkrut. Ayahnya benar-benar ingin menghancurkan semua orang yang berhubungan dengan ibunya.


Vivian selesai mengepak semua barangnya dan memasukkan nya ke dalam ruang dimensi miliknya. Saat dia keluar dari kamarnya dan melintasi lorong, potret keluarga lengkapnya masih menempel di dinding lorong.


Vivian menatap lukisan itu dengan mata melankolis. Itu adalah potret ayah dan ibunya saat mereka masih muda, serta potret Vivian kecil saat dia masih berumur empat tahun.


Vivian kecil tersenyum lebar dalam potret itu. Dia duduk di pangkuan ibunya dengan patuh sambil memeluk boneka kelinci putih nya.


Saat masih kecil dia tidak pernah tahu masalah yang dihadapi oleh orang tua nya. Vivian hanya tahu bahwa dia hidup dengan bahagia dan kedua orang tuanya menyanyangi nya.

__ADS_1


"Mereka berdua bahkan tidak tersenyum" kata Vivian sedih sambil membelai pelan potret keluarga itu.


Kedua orang tuanya memasang ekspresi datar seakan-akan mereka adalah orang asing yang tidak mengenal satu sama lain. Dia tidak mengerti arti dari ekspresi ini saat masih kecil, tapi sekarang dia sudah mengerti.


"Selamat tinggal" kata Vivian lirih sambil menundukkan kepalanya. Ini adalah terakhir kalinya dia menginjakkan kaki di rumah ini.


"Ayah akan melepas potret itu besok"


Suara menyindir itu tiba-tiba terdengar di telinganya.


"?"


Vivian menoleh. Dia melihat Reina menatap dirinya sambil melipat kedua tangannya.


Wajah Vivian berubah masam. "Aku tidak peduli" jawabnya dingin. Dia bergerak maju melintasi Reina tanpa menoleh ke belakang lagi. Reina juga tidak membalas. Sehingga pertemuan mereka berakhir sampai disini.


Vivian pun menuruni tangga untuk pergi ke lantai dasar. Seharusnya dia bisa mencapai pintu depan mansion dengan mudah. Tapi tiba-tiba dia menemukan sesuatu yang tidak terduga.


Dia melihat Marquis Zent sedang berbicara dengan orang mencurigakan yang memakai jubah hitam.


Dia refleks bersembunyi. Dia tidak tahu kenapa dia bersembunyi. Mungkin dia sama Sekali tidak ingin berpapasan dengan ayahnya. Tapi dia malah mendengar percakapan yang mengejutkan.


"Aku sudah mengatur semuanya. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar" kata Marquis Zent serius.


"Terima kasih atas kerja samamu" sang jubah hitam itu mengeluarkan suara yang sangat dingin. Vivian bahkan tidak menganggap itu adalah suara manusia. Bahkan dia merinding ketakutan saat mendengar nya.


"Tidak perlu berterima kasih. Kita mempunyai musuh yang sama. Ini sangat membantu" Respon Marquis Zent dengan nada senang.

__ADS_1


'Musuh?' Vivian mengernyitkan kening. Dia berpikir musuh seperti apa yang membuat ayahnya bekerja sama dengan orang mencurigakan seperti itu.


"Apa tidak masalah bagimu untuk merahasiakan semuanya dari rajamu?"


"Tidak masalah" respon Marquis Zent percaya diri. "Yang mulia menyerah kan semua yang berhubungan dengan orang itu padaku. Dia tidak akan menyalahkanku karena melindungi kerajaan ini"


"Kau benar. Keluarga itu sangat berbahaya. Aku berpikir rajamu tidak akan sanggup melawan semuanya sendiri"


Marquis Zent menghela napas. "Kau benar. Aku juga terkejut saat tahu mereka menyembunyikan penyihir gelap. Terlebih lagi itu keturunan David. Aku akan menyembunyikan fakta ini dari yang mulia, sampai saat yang tepat. Keluarga yang sangat terkutuk"


"Mereka menyembunyikan semuanya dengan baik"


"Karena itulah pemusnahan Duke Court harus secepatnya dilakukan" Mata Marquis Zent menyipit tajam saat dia mengucapkan kata-kata terakhir ini.


Sementara Vivian mendengar semuanya dengan tubuh bergetar ketakutan. Dia bahkan menahan erat-erat mulutnya dengan telapak tangannya agar tidak mengeluarkan suara sekecil apapun. Dia benar-benar mendengarkan sesuatu yang terlarang saat ini.


Dia bahkan menjadi lebih takut saat mendengar "Pemusnahan Duke Court" dari mulut ayahnya.


Sang jubah hitam seperti nya menyadari bahwa ada kehadiran asing di sekitar mereka.


"Siapa disana?" katanya sambil melempar sebuah jarum tak terlihat ke arah tempat Vivian bersembunyi.


Jarum itu adalah senjata sihir beracun yang dapat membunuh musuh dalam beberapa detik. Pembicaraan mereka adalah rahasia. Kalau ada yang menguping, tikus itu harus lenyap di tempat.


Tapi sang jubah hitam tidak menemukan apapun. Dia hanya melihat jarum beracun nya tertancap pada dinding kosong tanpa tanda-tanda kehadiran siapapun.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa" si jubah hitam mengambil jarumnya kembali dengan elegan. "Aku mengira ada orang di sini. Hanya perasaan ku."


__ADS_2