
Cerita sebelumnya:
Eva menghubungi Ren bahwa dia akan menggunakan lingkaran sihir itu bersama Diana. Ren tidak menjawab apapun sebagai alasannya. Dan bahkan memberikan respon tidak teeduga untuk berkunjung ke tempat nya.
Lalu hari ini, Eva dan Vivian berencana untuk memasak bersama. Vivian memeriksa seluruh dapur dan gudang penyimpanan untuk melihat bahan makanan dan bumbu. Lalu ternyata mereka kekurangan bumbu.
Eva dan Vivian pun mengunjungi toko makanan yang ada di ibu kota. Di sana Eva menemukan sebuah bubuk aneh yang terasa sangat familiar. Lalu tidak disangka mereka juga bertemu dengan Sayn dan Reina saat perjalanan pulang.
***
Sayn awalnya tidak mengenali Eva dan Vivian karena kedua orang itu mengenakan pakaian biasa dan seluruh rambut mereka ditutupi oleh topi besar.
Tapi Sayn tidak akan pernah lupa dengan suaranya. Saat kedua gadis itu berbicara, dia langsung tersentak. Gadis berambut emas itu adalah Eva. Jadi tanpa sadar dia menegurnya.
Jujur saja itu tindakan yang cukup bodoh. Karena kalau Eva melihat nya sekarang, mungkin dia akan salah paham. Sayn merasa menyesal sekarang. Tapi sudah terlambat. Eva sudah melihatnya dengan tatapan dingin sekarang.
Sayn juga tidak ingin menjelaskan kesalahan pahaman yang terjadi. Karena dia tidak ingin menghancurkan misinya.
Aku tersentak. Siapa yang mengira bahwa aku akan menemukan pemandangan tidak terduga ini saat berbalik?
Bukannya aku percaya diri. Tapi bukankah hubungan Sayn dan Reina tidak sedekat ini? Atau mungkin itu sudah berkembang tanpa aku ketahui?
Aku mengernyit kan kening bingung saat melihat keduanya. Aku tidak menemukan klue apapun.
Aku juga bisa merasakan hawa dingin di samping ku. Ya, itu berasal dari Vivian. Dalam sekejap senyum indah itu menghilang dari wajahnya. Ekspresi nya berubah menjadi sangat menakutkan. Dia terlihat seperti seorang gadis jahat sekarang.
Vivian sangat membenci Reina. Dia tidak bisa menahan kebenciannya saat dia melihat gadis itu. Jadi aku sedikit takut Vivian akan berteriak dengan marah dan membuat kami menjadi pusat perhatian. Lalu rumor baru tentang dua orang gadis jahat yang membentak gadis lugu pun terbentuk lagi di ibukota.
Tapi ternyata tidak. Walaupun tubuh Vivian bergetar karena marah. Dia berusaha untuk tidak berteriak dengan memeras roknya. Jadi dia hanya menatap Reina dengan mata melotot untuk melampiaskan amarahnya. Aku cukup lega dan kagum karena Vivian sudah sedikit dewasa sekarang.
Reina sadar bahwa dia ditatap dengan tatapan kebencian. Sontak gadis itu bergetar ketakutan dan sedikit menyembunyikan tubuhnya di balik lengan Sayn. Tidak lupa dia memeluk erat lengan Sayn dengan kedua tangannya.
Aku melihat semuanya dengan tatapan sedikit jijik. Jadi mereka sudah sedekat itu ya?
Aku juga tidak menyukai Reina. Tapi aku tidak akan kehilangan kendali kalau Emosiku tidak memuncak. Aku hanya akan mengabaikan nya dan menganggap nya tidak penting.
Kebetulan sekali tatapan ku bertemu dengan tatapan Reina. Aku melihat Reina tersenyum penuh kemenangan. Itu hanya terjadi sedetik sebelum dia mengubah ekspresinya kembali menjadi menyedihkan lagi.
__ADS_1
Aku hanya bisa mengerjap kaget. Apa Reina memang seperti ini aslinya? Bukankah dia terlihat seperti ular daripada tokoh utama? Apa-apaan!?
Apa sekarang Reina merasa menang karena dia mendapat kan perhatian Sayn. Aku semakin jijik melihatnya. Oke, kau bisa mengambil nya. Mulai sekarang aku sudah menentukan tekadku untuk tidak terlalu terobsesi dengan para tokoh utama itu.
Bukankah kalian lihat bahwa semua usahaku sia-sia? Lihat saja Denis. Dia tetap kembali dingin padaku. Sekarang Sayn. Mungkin Robert dan Ren akan menyusul kemudian. Aku tidak tahu kapan. Intinya takdir keempat pria itu terikat pada Reina, sekeras apapun aku mencoba. Jadi, aku sudah menyerah.
Aku akan melindungi diriku sendiri. Aku tidak butuh mereka. Lagipula tidak mungkin mereka menyerang ku kalau aku bersikap bersahabat bukan? Setidaknya aku tidak mau bermusuhan dengan mereka untuk meminimalisir efek penjahat.
Suasana di antara keempat orang itu hening sejenak sejak Sayn mengeluarkan gumaman spontan nya. Membuat mereka terlihat seperti kelompok aneh di jalanan publik.
Aku tersadar bahwa kami berempat sudah melamun selama beberapa waktu.
"Oh, halo Sayn" aku pun memecah keheningan itu untuk pertama kalinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Sayn bertanya dengan ekspresi polos seakan-akan dia tidak melakukan hal yang salah.
"Berbelanja" aku menjawab singkat sambil menunjuk toko di sampingku.
"Oh? Apa kau akan memasak?" Sayn menunjukkan keterkejutan nya. Dia ingin mencoba masakan Eva, jauh di dalam lubuk hatinya. Tapi dia tidak bisa mengatakan nya.
"Oh? Vivian?" Sayn memandang Vivian.
Vivian langsung tersadar saat namanya di panggil. Dia tersenyum canggung. "Halo, tuan Sayn. Kita pernah bertemu sebelumnya. Maaf tidak memberimu salam"
"Tidak apa-apa"
"Lalu apa yang sedang kau lakukan?" aku bertanya balik.
Aku terus berbicara pada Sayn dan menganggap Reina tidak ada. Bahkan aku tidak memberi salam pada nya. Vivian juga sadar dengan tindakan ku. Jadi dia juga melakukan hal yang sama. Hanya ada Sayn di matanya, sehingga amarahnya sedikit berkurang.
Vivian perlu berlatih tentang hal ini di masa depan, untuk menganggap Reina sebagai udara. Agar dia bisa mengatur amarahnya.
"...." Sayn tidak menjawab. Dia menunduk kan kepalanya. Ekspresi nya sedikit gelap. Aku merasa sedikit aneh dengan sikapnya. Jadi aku sedikit penasaran. Mungkin ini bukan seperti yang kupikirkan bukan?
Umu? Aku lupa sebelumnya Sayn sudah tahu bahwa Marquis Zent berniat mencelakakan keluargaku bukan. Bahkan aku meminta bantuannya untuk mencari informasi. Apa dia mendekati Reina karena hal itu? Aha! Mataku langsung cerah saat aku menyadarinya.
"Berjalan-jalan. Sama dengan mu" jawab Sayn kemudian sambil tersenyum. "Apa kalian akan memasak bersama?" dia mengalihkan topik nya.
__ADS_1
"Iya, kami akan memasak besar-besaran di mansion Duke" jawab Vivian. "Apakah kau ingin ikut makan malam? Kami memasak cukup banyak" Vivian menawarkan.
Aku menatap Vivian tak percaya. Siapa yang mengira dia akan mengundang Sayn? Tapi itu hal yang baik! Aku bisa bertanya alasannya saat dia di rumahku! Vivian cantik, kau sangat pintar!
"Umm..." Reina tiba-tiba bergumam. Padahal selama ini dia selalu diam membisu. "Apa aku boleh ikut? Aku juga ingin dekat dengan kalian..." katanya malu-malu.
Aku mengangga tak percaya saat menatap Reina. Hei! Bukankah orang ini terlalu tak tahu malu?! Bagaimana dia bisa menawarkan diri seperti itu? Padahal dia tahu bahwa rumahku adalah kandang singa. Maksudku, kami adalah musuh! Apa dia yakin dengan keamanan nya hanya karena Sayn juga ikut? aku sangat iri dengan rasa percaya dirinya.
"Maaf, kami tidak punya cukup makanan untuk mengundang orang lagi" jawab Vivian datar.
Oke, langsung ditolak.
Wajah Reina pun berubah sedih. Dia menatap Sayn dengan ekspresi kasihan, berharap Sayn membantu nya karena sikap Vivian yang kasar.
Tapi Sayn mengabaikan nya. "Baiklah, sampai bertemu nanti malam" jawab Sayn. Lalu dia menatap Reina dengan ekspresi polos. "Ayo pergi"
"Eh? Iya..." gumam Reina lemah. Dia sedikit kesal karena Sayn mengabaikan nya. Tapi setelah melihat pria itu tersenyum dan memperlakukan nya dengan normal, rasa kesal itu menghilang. Dia mengira bahwa Sayn mungkin sedikit bodoh dan tidak mengerti perasaan wanita sama sekali. Tapi tidak apa-apa, dia memaklumi nya. Pria itu hanya tidak peka.
Setelah Sayn dan Reina berbalik pergi, aku pun mengajak Vivian untuk kembali.
"Penyihir sialan itu! Kenapa dia bisa muncul di mana pun!" Vivian akhirnya menggerutu kesal.
"Tentu saja dia akan ada dimana pun karena dia bisa bergerak" aku menjawabnya sebagai lelucon.
Haa~ Vivian menghela napas. "Tapi itu tidak baik untuk kesehatan jantungku" keluh Vivian.
"Vivian, aku akan memberimu satu buah tips oke"
Vivian mengerjap penasaran.
"Anggap saja dia sebagai udara saat kau bertemu dengan nya"
Vivian mengernyitkan keningnya dan mebjawab tidak yakin. "Itu cukup sulit..."
"Karena itu berlatih lah. Setelah itu, kau akan terbiasa seperti ku!" kataku percaya diri. Aku sudah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun.
Vivian hanya bisa tertawa kecil saat melihat tingkah Eva. "Ya, ya, kau yang terbaik~"
__ADS_1