Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat

Aku Reinkarnasi Menjadi Gadis Jahat
Bab 2: Target Berubah


__ADS_3

Eva dan Robert sedang sibuk dengan dunia mereka sendiri. Eva berusaha menatap Robert dengan mata berair, memohon pengampunan serta membangun asuransi keamanan masa depannya. Sementara Robert menatap Eva dengan lembut, karena dia benar-benar tidak tahan untuk menyakiti Eva, apalagi melihat wajah sedihnya.


Dean Caro dan Charlotte terkejut sejenak. Tapi mereka langsung menghapus rasa terkejut mereka, dan menatap pasangan di depan mereka dengan waspada.


'Bagaimana mungkin?' pikir Dean Caro.


'Bocah kecil ini bisa menggunakan banyak elemen. Hal ini tidak boleh diketahui penatua lainnya' wajahnya berubah buruk.


"Ti...tidak mungkin..." Charlotte tergagap. 'Gadis kecil itu bisa menggunakan sihir cahaya' pikir Charlotte sambil menyipitkan matanya. Dia menjadi lebih benci dengan Eva.


Sihir cahaya sangat jarang di dunia ini. Bagi seseorang yang memiliki sihir cahaya dihubungkan dengan sihir suci, dan semua itu sudah tertanam di pikiran semua orang. Oleh karena itu, Charlotte tersingkir dalam cerita sebagai 'Putri Suci' karena Reina memiliki sihir cahaya yang lebih kuat dan lebih menakjubkan.


Walaupun sihir cahaya yang dimiliki Eva tidak dominan seperti Reina, tetap saja Chaarlotte merasa berbahaya karena posisinya bisa terancam.


Dean Caro menatap Eva. Dia langsung menjentikkan jarinya dan tiba-tiba sepuluh orang jubah putih bermunculan mengelilingi Eva dan Robert.


'Apaa?? Bagaimana bisa orang-orang ini muncul lagi? Bukankah sudah dibekukan oleh Robert?' aku berpikir sambil menatap patung-patung es hasil karya seni Robert.


'Ternyata pak tua ini memiliki bawahan yang lumayan banyak. Dia masih menyimpan cadangan bawahan. Sementara dia belum turun tangan sama sekali. Bukankah kita bisa kelelahan kehabisan sihir? Walaupun ikan teri itu tidak kuat dan bukan tandingan Robert, tetap saja jumlah mereka lumayan banyak' pikirku.


"Tangkap gadis kecil itu!" Teriak Dean Caro tiba-tiba.


"...." Semua orang menatap Dean Caro bingung.


Para jubah putih saling melirik satu sama lain bingung lalu mereka melihat Dean Caro. Bagaimana misi mereka bisa berubah hanya dalam beberapa jam? Bukankah kita ada disini untuk menangkap Robert?


Charlotte menatap Dean Caro skeptis. 'Kenapa Dean berubah pikiran?' dia berpikir.


Robert menatap gadis kecil disampingnya. 'Kenapa targetnya bisa berubah? Ada apa ini? Apa rencana orang tua itu? Apa ini gara-gara sihir Eva? Setidaknya dia tidak akan menyakiti Eva bukan? Dia masih mempunyai status bangsawan tinggi di negeri ini!' pikirannya penuh dengan pertanyaan.


Sementara Eva...


"Ahhhh!" Aku refleks berteriak kaget.


Lalu aku menatap pak tua itu dengan mata terbelalak.


Kenapa dia ingin menangkapku? Ya, maksudku aku memang ditangkap, tapi aku bukan target utama. Kenapa aku tiba-tiba menjadi mangsa utama?


Aku merubah tatapanku dengan waspada. Lalu mulai memeluk Robert dan memegang bajunya erat-erat.

__ADS_1


"Masterr, apa pak tua itu gila?" kataku agak keras.


Robert menahan tawanya. "Kau tenang saja. Selama aku ada disini, aku akan melindungimu" kata Robert lembut sambil menepuk kepalaku.


Aku membalas Robert dengan senyuman paling manis yang kupunya.


Dean Caro merasa semakin kesal. Dia diabaikan dan diejek oleh orang yang lebih muda darinya. DIa benar-benar tidak dihormati oleh dua orang ini.


"Kalian tunggu apalagi, tangkap anak itu!" teriak Dean Caro.


Para jubah putih langsung tersadar dan mulai menyerang Robert.


Sementara Dean Caro hanya menyunggingkan senyum licik. Entah apa yang dipikirkannya.


Terjadi pertarungan sekali lagi. Tapi sayangnya, tiu berakhir seperti yang pertama. Robert hanya menambah karya patung esnya.


"Orang-orang tidak berguna!" kata Dean Caro sambil menggertakkan giginya.


Wajahnya mulai serius dan dia mulai menggunakan sihir untuk melawan Robert.


"Selagi aku melawan Robert, tangkap gadis itu" titah dean Caro saat melihat Charlotte.


"Apa masih tidak jelas?"


"Saya mengerti, guru..."


"Gravity!" teriak Dean Caro. Dia menggunakan salah satu mantra elemn sihirnya. Seketika tekanan disekitar kami menjadi berat. Aku langsung menggunakan sihir udara untuk meringankan tekanan disekitarku. Tapi itu tidak berguna, sihir level tinggi (aku tidak tahu level berapa, aku belum belajar tentang level mantra sihir) melawan sihir dasar. Ini benar-benar seperti manusia melawan semut. Aku adalah semutnya. Walaupun sihir kita sama-sama memiliki elemen udara.


Robert menggertakkan gigi untuk melawan tekanan yang membuatnya susah untuk berdiri. Dia langsung melontarkan sihir serangan, tapi Dean Caro langsung menyalankan alat sihinya dan membuat shield pelindung. Shield ini berbeda dari shield sebelumnya yang pernah dihancurkan Robert.


Tampaknya ini item langka milik Dean Caro. Dan alat sihir itu lumayan kuat, karena sudah setingkat digunakan oleh penatua bukan para bawahan.


Robert terus melontarkan serangan, tapi tekanan itu semakin kuat. Aku juga berusaha berpikir untuk menggunakan sihir yang berguna. Tapi, aku hanya mempelajari sihir dasar! Aku tidak bisa melawan sihir dengan level tinggi.


Robert ingin melarikan diri, tapi tidak bisa. Dia tidak bisa bergerak cepat. Dia ingin berteleportasi, tapi dia hanya bisa melakukan itu sendiri, Eva akan tetap tertinggal. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia menyesal karena tidak mengajarkan mantra sihir lanjutan kepada Eva. Setidaknya dia bisa mengajarkannya teleportasi, agar bisa keluar dari situasi mendesak ini.


Situasi Robert saat ini tidak baik. Aku bisa mendengar suara napasnya, tampaknya Robert sudah kelelahan. Karena terlalu mengkhawatirkan kondisi Robert, Eva tidak waspada dengan sekitarku. Eva tidak memperhatikan Charlotte dan bawahannya yang akan menyerangnya.


"Aku tidak akan menahanmu, aku akan menghancurkanmu!" gumam Charlotte. Dia sama sekali tidak berniat untuk menuruti perintah Dean Caro.

__ADS_1


'Anak ini tidak boleh dibirkan hidup. Setidaknya dia harus cacat' hanya itu yang ada dipikirannya saat dia melihat Eva dengan benci.


Eva merasakan aura kebencian menerpa punggungnya. Dia menoleh dan melihat Charlotte sudah menyerang. Dia tidak siap, tapi dia langsung menggunakan sihir bumi untuk shield dengan cepat.


Sayangnya Charlotte bisa menghindarinya dengan bantuan jubah putih penjaganya.


"Mati!" kata Charlotte benci.


"BERHENTIIII!!!" tiba-tiba sebuah teriakan memekan terdengar. Teriakan ini lebih keras dan lebih kuat dari teriakan saat Dean Caro muncul. Tanah dibawahku mulai bergetar dan mulai berbunyi krek,krek,krek karena mulai retak.


Dean Caro langsung menghentikan sihirnya. Charlotte langsung berhenti di tempat.


Dari ruangan itu tiba-tiba mulai muncul tiga orang tua-tua. Tampaknya para tua-tua itu menggunakan teleportasi untuk masuk.


Dean Caro kaget dan refleks langsung menundukkan kepalanya memberi hormat "Selamat datang ketua"


Charlotte menyusul memberi hormat "Selamat datang Dean Wason"


Robert juga tidak lupa memberi hormat "Selamat datang ketua"


Hanya aku yang diam mematung sambil memperhatikan orang-orang tua ini. Ada tiga orang tua-tua yang muncul, dua orang kakek dan seorang nenek.


Hmmm....siapa mereka.


Ketua? Oh? Ketua Menara Sihir?


Dean Wason menyipitkan matanya menatap Dean Caro "Bukankah ada larangan untuk menjebak dan bertarung dengan orang lain di menara sihir. Kenapa kau berani menetangnya" kata Dean Wason serius. Seketika aura yang menekan langsung mengenai Dean Caro.


Seperti yang kita tahu, penatua di menara sihir dibagi menjadi sepuluh tingkat. Dean Wason adalah penatua pertama sekaligus pemimpin. Dean Caro, hanya penatua kelima, mereka berbeda lima tingkat, tapi karena promosi Dean Caro bukan karena kekuatan, tapi karena muridnya yang jenius, perbedaan kekuatan mereka lebih jauh dari itu.


"Saya salah ketua" kata Dean Caro pasrah. Seketika aura yang menekannya langsung memudar.


"Kau boleh pergi. Dan jangan membuat kesalahanmu semakin banyak. Aku akan menentukan hukumanmu setelah berdiskusi dengan penatua lainnya" kata Dean Wason dengan bijaksana.


Dean Caro masih menundukkan wajahnya. "Baik ketua" katanya sambil secara perlahan menghilang.


Tapi sebelum menghilang, dia menatap tajam Eva 'Aku harus menangkap anak itu. Aku tidak lagi peduli dengan anak jenius atau apalah itu. Tapi seorang yang bisa menggunakan banyak elemen. (note: Dean Caro tidak tahu Eva bisa menggunakan semua elemen, karena Eva tidak mengeluarkan semuanya). Manusia didunia ini hanya bisa menggunakan tiga elemen paling banyak, dan gadis ini bisa menggunakan lebih. Dia adalah 'benda' itu, yang muncul dalam prasasti batu. Tidak apa aku tidak bisa menangkapnya sekarang, aku bisa menangkapnya nanti. Dan merebusnya jadi obat hehehe... Setelah aku mendapatkan obat itu, putri suci, ketua menara suci, raja-raja di negara, para anak jenius, para orang terkuat atau apalah itu bukan tandinganku hahaha...Mereka hanya akan menjadi abu dihadapanku'


Seketika Dean Caro menyunggingkan senyum sinis sebelum benar-benar lenyap.

__ADS_1


__ADS_2