
Cerita sebelumnya:
Pangeran Erick kelelahan setelah seharian menggunakan sihir terbang. Dia sudah meminum ramuan penyembuh beberapa kali sehingga efektiviatsnya turun dan dia tidak merasakan apapun saat dia meminum ramuan terakhir. Eva melihat hal itu dan membantu erick dengan sihir cahayanya. Saat itulah dia tahu bahwa Eva juga bisa menggunakan sihir cahaya dan dia sangat syok.
Sementara di sisi lain, Duke berhasil sadar. Dia langsung mencari Evan dan Diana. Tapi dia hanya menemukan Evan dan Sayn. Sayn pun menjelaskan semua yang terjadi dan membuat dia menjadi sangat murka. Sayn menenangkannya sehingga mereka menyusun rencana untuk menyelamatkan Diana.
***
Denis membawa tubuh Raja ke aula kerajaan. Di sana, para bangsawan itu sudah berkumpul dengan ekspresi sedih. Mereka tahu tentang kematian Raja karena Jendral besar kerajaan memberitahu mereka. Kecuali faksi Court, para tua-tua itu tidak ada disana. Karena Jendral tidak menyukai mereka dan mereka juga sibuk bersembunyi untuk membersihkan keterlibatan mereka dengan Duke Court.
Sementara Ratu masih terisak sambil memeluk tubuh suaminya. Dia sama sekali tidak menduga bahwa Raja akan meninggal. Dia sama sekali tidak siap. Saat dia melihat tubuh Raja yang kaku dan tidak bernyawa, dia menjadi histeris seketika. Dia membenci sang pembunuh dan hatinya dipenuhi dengan dendam. Ratu langsung menuju ke penjara bawah tanah, karena dia ingin membunuh Diana dengan tangannya.
Tapi Denis dan para pengawal langsung menghentikannya. Walaupun Ratu memberontak dan berteriak "Aku akan membunuhnya!"
Denis dan yang lainnya tetap menahan Ratu.
Kemudian tangisan Ratu pecah, "Aku benar-benar tidak menyangka bahwa wanita iblis itu akan menyebabkan hidupku menjadi kacau" Ratu mengingat momen saat dia masih berteman baik dengan Diana. Walaupun Diana adalah penyihir gelap, Ratu tidak membencinya. Tapi rasa benci itu muncul saat dia tahu Diana membunuh Raja karena ingin melarikan diri dari penjara. "Dia membuat hidup kakakku dan keponakanku menderita" rengeknya. "Dia membunuh suamiku"
__ADS_1
"Dia akan menjalani eksekusi publik besok pagi. Dia akan dihukum sesuai dengan prosedur" kata Denis. Walaupun nada bicaranya datar, dia masih bersikap sopan pada ibunya.
Ratu masih tidak terima. Dia terus memberontak. Sampai akhirnya Denis membuatnya pingsan dan menyuruh pelayan untuk membawa kembali sang Ratu ke kamar.
Setelah itu Denis menatap semua orang yang ada di aula dan berkata "Pemakaman Raja akan dilakukan besok, setelah proses eksekusi pelaku dilaksanakan" katanya bijak.
Refleks, dia duduk di kursi tahta karena dia perlu memimpin pertemuan. Dan tidak ada yang memprotesnya.
"Yang Mulia, posisi Raja telah kosong. Kita tidak bisa membiarkan hal ini. Kerajaan musuh akan menggunakan kesempatan ini untuk menyerang kita karena mereka tahu bahwa konflik internal kerajaan kita sudah sangat fatal" penasehat Kerajaan menyatakan pendapatnya.
"Aku setuju Yang Mulia. Kita tidak bisa membiarkan kursi Raja kosong karena itu akan menganggu stabilitas kerajaan" lanjut jendral besar.
"Jangan khawatir. Aku akan mengurus semuanya" kata Denis tenang. "Kita harus membereskan masalah ini terlebih dahulu. Lalu akan melihat laporan kalian untuk membereskan masalah umum lainnya."
Mereka tersenyum dan mengangguk patuh "Baik Yang Mulia"
"Dan kita harus memilih pendamping yang bisa membantu Yang Mulia juga. Di usia muda ini adalah usia yang tepat untuk calon Raja dan calon Ratu belajar" Marquis Zent menambahkan dengan senyum sumringah.
__ADS_1
Suasana menjadi beku sesaat. Semua orang tahu bahwa tunangan Denis adalah Putri Marquis, yang akan menjadi calon Ratu negeri ini. Tapi karena kasus ini, hal itu tidak mungkin. Mereka belum memikirkan kandidat calon ratu lainnya.
Denis menatap tajam Marquis, membuat suasana menjadi semakin tegang. Tapi Marquis masih tersenyum polos.
"Aku tidak memikirkan tentang hal itu sekarang" jawab Denis dingin.
"Tapi Yang mulia, proses belajar...."
"Marquis!" Denis meninggikan suaranya.
Marquis Zent langsung menutup mulutnya. "Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia" katanya dengan perasaan masam.
"Dan juga berita rinci tentang kematian Raja jangan disebarluaskan" kata Denis sambil melihat sekeliling ruangan.
Tapi Marquis tiba-tiba mengangkat tangannya dan berkata dengan gugup "Tapi...aku sudah menyebarkannya..."
Urat-urat kekesalan muncul di kening Denis.
__ADS_1
Marquis Zent memang sudah menyebar berita bahwa penyihir gelap tahanan kerajaan itu sudah membunuh Raja. Sehingga semua orang terkejut. Beberapa penduduk menangis, karena mereka sangat loyal dan berpikir bahwa Raja Well adalah Raja yang baik. Beberapa lainnya khawatir dengan nasib mereka ke depannya. Mereka takut memikirkan kerajaan lain menginvasi rumah mereka karena hal ini.
Sementara faksi Court memiliki perasaan campur aduk. Mereka panik dan senang di saat yang bersamaan. Mereka senang karena Raja tua itu meninggal. Tapi mereka panik karena Denis naik tahta. Mereka takut bahwa Denis akan menyingkirkan mereka. Tapi walaupun begitu mereka tidak akan membiarkannya. Ini adalah harta dan tanah leluhur mereka. Mereka tidak akan pergi. Dan sebenarnya keluarga merekalah keluarga kerajaan sebenarnya. Kalau Keluarga dengan marga Well tidak menginvasi mereka dan menduduki tahta.