
cerita sebelumnya:
Reina ingin menukarkan artefak piala itu dengan ramuan kuno yang di dapat kan oleh Eva. Perhatian penatua itu pun mulai berpindah pada Eva.
Reina bangga dengan rencana pertukaran itu, tapi ternyata Denis tidak setuju. Mereka pun bertengkar, sampai akhirnya Denis melayangkan tamparan dan membuat semua orang terkejut.
Penatua Jiwa Sihir tidak peduli dengan konflik anak-anak dan tetap mendesak Eva untuk menyerahkan ramuannya. Eva tidak mau, lebih tepatnya tidak bisa karena dia hanya punya satu ramuan.
Akhirnya terjadi pertarungan lagi. Robert, Sayn dan Denis memutuskan untuk membantu Eva, sehingga pertarungan empat vs sepuluh terjadi.
Tapi seseorang yang misterius tiba-tiba menghentikan mereka dengan teriakan yang menggelegar.
***
Aku tercengang. Bagaimana kekuatan suara bisa menyebabkan seluruh tanah bergetar? Sekuat apa orang ini? Tapi kenapa aku merasa kekuatan ini sangat familiar. Aku pernah melihatnya entah dimana...
Semua orang pun menghentikan gerakan mereka karena suara yang dahsyat itu.
Lalu dari pintu masuk, mereka bisa melihat siluet tiga orang mendekat. Mau tidak mau, mereka semua merasa waspada karena kemunculan orang baru yang sangat asing ini.
Aku juga menatap pintu masuk dengan mata penasaran. Siapa orang asing yang datang kali ini? Musuh atau teman?
Siluet itu perlahan semakin mendekat dan menujukkan sosok mereka yang sebenarnya.
Aku mengerjap kaget. Dan tanpa sadar tersenyum lebar.
"Kakek!" aku berteriak senang sambil menghampiri Dean Wason dan memeluknya.
Robert juga mendekat ke arah mereka. "Kau sudah tiba Dean. Lama sekali" kata Robert dengan nada mencibir. Entah kenapa akhir-akhir ini Robert tidak takut saat berbicara dengan para penatua itu. Seakan-akan sikap kakunya menghilang dalam sekejap. Walaupun dia menjadi sangat tidak sopan juga sekarang.
"Hahaha" Dean Wason tertawa canggung. Dia menepuk bahu Robert "Maafkan aku, aku ada urusan sebentar saat dalam perjalanan" katanya. Lalu dia mengelus rambut Eva yang memeluknya.
"Dia hanya tertipu dengan ilusi wanita cantik dan mengaktifkan jebakan" kata Dean Crsytal masam. "Tidak tahu umur" gumamnya dengan suara yang sangat kecil.
__ADS_1
"Eh? Itu semua bohong! Aku tahu di tempat itu ada harta, jadi aku pura-pura tertipu!" kata Dean Wason canggung, berusaha membela dirinya.
Robert dengan cepat memisahkan Eva dari Dean Wason setelah dia mendengar perkataan Dean Crsytal.
"Tidak tahu malu" gumamnya.
'Pantas saja dia datang terlambat padahal dia memiliki pelacak' pikir Robert. Sebelumnya kedua orang itu saling memakai pelacak mana satu sama lain agar mudah bertemu.
Sepertinya Robert mengetahui sifat asli Dean Wason dan hal itu membuat sikap hormatnya pada ketua organisasi sihir itu menghilang seketika.
"Ehem! Sudahlah. Jangan membicarakan hal tidak penting lagi" Dean Wason mengubah topik pembicaraan. Lalu dia menatap penatua Jiwa Sihir.
"Apa kalian di tindas oleh kerangka tua ini?" tanyanya dingin.
"Dia menginginkan harta muridku" jawab Robert.
"Berani sekali kau menindas cucuku!" Dean Wason berteriak. Hembusan angin yang kuat tiba-tiba menyerang lawan. Dan kami bisa melihat bahwa hampir semua dari mereka terhempas ke belakang. Hanya sang penatua itu yang berhasil mempertahankan pijakan nya.
Sebenarnya dirinya tidak terlalu kuat. kekuatan nya hanya biasa saja bila dibandingkan dengan penatua lainnya dari Jiwa Sihir. Lebih tepatnya dia berada di peringkat terakhir. Jadi tidak mungkin dia melawan tiga penatua tertinggi dari tim lawan. Sama sekali tidak mungkin!
"Aku...aku minta maaf. Aku sama sekali tidak melakukan apapun pada cucumu. Aku hanya ingin melihat harta miliknya"
"Omong kosong!" Dean Wason tidak mau berkompromi dan dia langsung melancarkan serangan.
BOM! terdengar bunyi ledakan. Penatua Jiwa Sihir itu tidak bisa menahannya dan tubuhnya terpental menabrak dinding di belakangnya. Meninggal kan bekas retakan dengan bentuk tubuh manusia.
Uhuk! Uhuk! Dia batuk darah dan berusaha berdiri. Tubuhnya lemah dan penuh luka. Dia ingin melawan, tapi dia tidak bisa mengeluarkan sihirnya. Dia cukup putus asa kali ini.
"Mati" kata Dean Wason benci sambil melayangkan serangan terakhir.
Tapi sebuah bayangan muncul untuk menghentikan serangannya.
Bayangan itu seperti proyektor manusia yamg tidak berwujud. "Hentikan" katanya.
__ADS_1
"Kau? Kenapa kau mencampuri urusan kami dengan tubuh palsumu!" Dean Wason tampaknya mengetahui identitas proyektor manusia itu dan mulai mengamuk marah.
Bayangan itu tersenyum. "Maafkan aku temanku. Aku tidak menyangka bahwa salah satu dari kami akan membuat masalah dengan cucu kecilmu" katanya tulus sambil membungkuk untuk meminta maaf.
"K...ketua..." penatua yang sudah terluka itu tampak terkejut dan berlutut hormat pada bayangan di depannya.
Wajah bayangan itu masam saat dia melihat si penatua. "Dasar brengsek! Berani sekali kau bertindak tidak bermoral seperti itu. Menindas anak-anak dan melukai mereka. Tunggu saja setelah aku menemukanmu. Aku akan menghukummu" teriak bayangan itu. "Untung saja muridku meminta bantuan ku. Kalau tidak kau akan jadi mayat sekarang! Mintaa maaf!"
"Saya minta maaf" kata penatua itu gugup sambil berlutut di hadapan Dean Wason.
"Jangan meminta maaf padaku. Minta maaf pada cucuku" Teriak Dean Wason ganas.
"Gadis kecil, saya minta maaf"
"O...oke" aku berkata dengan nada canggung. Sejujurnya sangat sulit mencerna situasi saat ini.
Aku tahu penatua ini jahat. Tapi bukan berarti aku bisa memutuskan hukumannya dengan kematian. Lebih tepat menyerahkan nya pada organisasi nya sendiri. Lagipula kejadian ini mengingatkan ku pada ayah kandung Robert. Dean jahat itu. Mengingat kanku bahwa tidak semua penatua di dalam organisasi sihir itu baik. Tapi tentu saja ada beberapa orang yang benar-benar baik.
Bayangan proyektor itu pun secara perlahan menghilang. lalu seorang pemuda, yang kelihatannya murid dari penatua itu maju dan membungkuk hormat.
"Kami minta maaf atas masalah yang penatua kami buat. Atas nama master saya berterima kasih karena tidak membunuhnya"
"Humph!" Dean Wason mendengus. "Untung saja aku mengenal gurumu, kalau tidak aku akan membunuh kerangka tua ini tanpa ampun!"
"Terima masih senior. Kami akan undur diri. Kami tidak peduli dengan harta di reruntuhan ini, kalian bisa mengambil nya" kata pemuda itu. Lalu dia dan kelompoknya pergi melewati pintu keluar.
Eh? Mereka benar-benar menyerahkannya semua harta pada kami? Wow! Aku akan kaya!
Aku menatap semua tumpukan harta itu dengan mata berbinar.
Denis di sisi lain menghela napas lega saat melihat bantuan datang. Dia segera menyimpan artefak piala itu dalam ruang dimensinya sebelum ada pihak lain yang menginginkan nya.
Sementara Reina menatap semua kejadian di depannya dengan mata gelap. Gadis itu cukup syok karena Denis menampar nya. Jadi sekarang jiwanya mulai mengembara dan dia mulai tidak mempedulikan kejadian di sekitar nya.
__ADS_1