
Cerita Sebelumnya:
Ren menemui Damian dan dia menemukan Damian dengan sosok manusianya yang menangis frustasi. Damian kehilangan wujud naganya karena ingin mempertahankan hidupnya. Naga bisa berubah wujud selama satu kali dalam hidup mereka. Setelah berubah untuk yang kedua kalinya, mereka akan terjebak dalam tubuh manusia. Kehilangan tubuh naga mereka dan juga kehilangan sihir naga.
***
Duke Enell dan Pale bersama para prajurit segera menuju ke gerbang ibukota. Pasukan berkuda mereka membuat kedatangan yang sangat mencolok. Jendral besar kerajaan bahkan bisa melihat kedatangan mereka dari jauh.
"Bersiap menyerang musuh!" kata Jendral Besar kepada seluruh prajurit yang mengelilingi gerbang kota.
Semua orang langsung berteriak dan mengangkat senjata mereka.
Enell juga menyemangati para prajuritnya. "Serang" katanya dengan nada dingin.
Jendral Besar dan Duke Enell saling menatap satu sama lain dengan tatapan tajam. Lalu peperangan pun dimulai.
Sementara Duke menghadapi garis depan, Emerta, Eva dan Sayn menyelinap masuk dengan sihir terbang. Awalnya segel sihir itu menghalangi mereka untuk masuk. Seperti ada dinding tidak terlihat yang terbentuk di udara.
__ADS_1
Emerta meminjam belati milik Eva. Lalu mana gelap menyelimuti seluruh belati dan SYAT! Dia merobek segel itu seolah-seolah dia merobek bungkus makanan.
Sayn juga tersentak kaget saat melihat Emerta merusak segel pelindung itu dengan mudah.
Lalu retakan besar terbentuk dan ketiga orang itu melangkah masuk ke dalam langit-langit ibukota. Tapi mereka dihadang oleh beberapa orang dengan cepat. Mereka adalah penyihir kerajaan yang memasang segel di ibukota agar proses eksekusi berjalan dengan lancar.
Salah satu orang penyihir maju, kelihatannya wanita itu adalah pemipinnya, dan berkata "Berhenti disana, penyusup! Kalian tidak diizinkan untuk masuk"
Eva mengenali wanita itu. Dia adalah salah satu guru dari akademi. Tapi wanita itu melihat ketiga orang di depannya seperti melihat orang asing. Walaupun dia mengenali Eva, dia tetap harus menjalankan tugasnya untuk menjaga keamanan ibukota.
"Jangan bunuh mereka" kata Eva langsung saat melihat Emerta berniat bertarung dengan mereka. "Kau juga" dia melihat Sayn.
Eva bagaimana pun masih merasa bersalah kalau dia membunuh orang-orang yang tidak bersalah ini. Bahkan diantara mereka adalah gurunya. Dia masih punya hati untuk mengampuni mereka. Apalagi dia tahu bahwa neneknya, Emerta, adalah orang yang kejam. Yang bisa membunuhnya tanpa pandang bulu sama sekali.
Emerta akan menghadapi semua penyihir itu sendirian. Baginya itu adalah hal yang mudah. Dia tidak membiarkan Eva dan Sayn ikut campur.
"Kalian pergi duluan, aku akan menyusul" kata Emerta.
__ADS_1
"Kami tidak akan membiarkan kalian!" empat orang mendekat ke arah Sayn dan Eva.
Tapi BAM! Emerta melempar sihirnya dan mengenai tubuh keempat orang itu. Mereka terpental dan muntah darah. Tapi masih bisa berdiri.
Eva dan Sayn menggunakan kesempatan ini untuk menuju tempat eksekusi. Eva tidak mengkhawatirkan neneknya. Dia yakin Emerta akan menyelesaikannya dalam beberapa menit dan menyusul mereka ke aula eksekusi.
Aula eksekusi itu berada di tengah ibukota dan bisa ditemukan dengan mudah karena sangat besar dan mencolok.
Eva bisa melihat kerumunan orang di aula, yang menonton jalannya eksekusi. Lalu dia bisa melihat para bangsawan dan tamu-tamu penting di kursi depan. Serta Diana yang berada di tengah aula.
Tapi keadaan aula itu sangat ricuh. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Karena jarak dia hanya mendengar sayup-sayup dari suara mereka.
Mereka berdua berusaha mendekat. Sampai akhirnya dia bisa melihat Denis menatapnya.
Lalu tiba-tiba teriakan kesakitan terdengar. Marquis Zent tiba-tiba menusuk Diana dengan pisaunya dan tertawa terbahak-bahak di tengah aula.
Eva membeku. "Ibu!" Dia langsung berteriak panik sambil terbang dengan cepat ke arah Diana.
__ADS_1