
Cerita sebelumnya:
Sayn datang menyelamatkan Diana dan dua bawahannya setelah berhasil menyelamatkan Duke. Sayn menghancurkan alat sihir yang menyegel kekuatan mana semua orang dan berniat untuk melarikan diri. Tapi Marquis Zent bersama dua orang bawahannya, dengan jubah ungu tiba-tiba muncul. Sayn dan Raja, keduanya tidak menduga kedatangan Marquis Zent. Marquis membawa Evan sebagai sandera dan dia memainkan bayi itu sesuka hatinya. Raja tidak setuju dengan hal itu dan Marquis Zent tiba-tiba menenntang Raja, membuat Raja kaget. Bahkan salah satu jubah ungu itu tiba-tiba menyerang Raja dan menusuknya dalam diam.
***
Raja merasakan rasa dingin yang menyengat seluruh tubuhnya. Mulutnya bergerak, dia ingin mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada suara yang keluar. Dia melihat Marquis Zent yang tertawa dengan mata merah. Sebelum akhirnya, BRUK! terjatuh ke tanah dengan darah yang berceceran keluar dari perutnya.
Sayn tidak menduga kejadian ini. Ini benar-benar tidak terduga untuknya. Dia tidak menyangka akan melihat plot twist seperti ini. Diana juga syok. Wanita itu hampir berteriak karena sangat kaget tapi dia berhasil menahan suaranya dan menutup mulutnya dengan tangannya. Dua orang lainnya juga terkejut.
"Dasar pria tua tidak berguna" kata Marquis sambil menendang tubuh Raja yang berada di lantai.
"Hentikan!" kata Sayn refleks. Walaupun dia tidak menyukai kedua pria tua ini. Dia tidak menyukai kalau ada orang yang menginjak orang lain di depan matanya. Kecuali, mereka adalah musuhnya, dia tidak akan peduli. Tapi pria tua itu bukanlah musuhnya.
Marquis Zent menatap Sayn dengan mata menyipit " Bukan urusanmu, kenapa kau tiba-tiba marah?" katanya dengan nada mengejek. Lalu dia kembali menyentuh pipi Evan. "Haruskah aku membiarkan tikus kecil ini menyusul pria tua bodoh ini?"
"Kau!" Sayn menggertakkan giginya.
"Bu, bu, bu. Aku berharap tikus kecil ini tidak menangis saat bangun atau aku langsung membunuhnya" Marquis Zent berkata dengan nada mengejek. Dia ingin mengatakan sesuatu lagi, tapi terdengar suara langkah kaki dari pintu masuk.
Segerombolan orang muncul dari pintu masuk penjara bawah tanah. Mereka adalah para prajurit dan penyihir yang telah dipanggil Raja untuk menahan para penyusup.
"Raja!" Jendral besar itu melihat Raja berlumuran darah dan belari ke arahnya dengan panik. Dia bergegas mengeluarkan ramuan penyembuh dan meminumkannya kepada Raja. Bibir Raja sudah membiru dan tubuhnya sudah kaku. Ramuan penyembuh itu tidak memberikan reaksi apapun.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?!" Jendral besar itu berteriak histeris. Semua orang membeku di tempat dan suasana menjadi sangat hening. Jendral besar tahu bahwa dia sudah terlambat untuk menyelamatkan nyawa Raja.
"Hu, hu, hu, hu" terdengar suara terisak yang memecahkan keheningan. Marquis Zent jatuh berlutut sambil menangis keras. "Yang mulia, yang mulia..."
"Apa yang terjadi? Katakan padaku!"
"Aku, aku. Aku tiba di tempat ini dan yang mulia sudah terluka." Marquis Zent menunjuk ke arah Sayn dan yang lainnya."Para penyusup dan mata-mata itu membunuh Raja"
Seketika aura membunuh yang sangat kuat memenuhi seluruh ruangan. Aura yang berasal dari semua orang yang baru saja tiba. Mereka semua menatap Sayn dan yang lainnya dengan tatapan mata membunuh.
"Brengsek!" jendral besar itu menatap Diana dan Sayn sambil menggertakan giginya. Dia tidak percaya bahwa para penyusup itu berani membunuh seorang Raja Well.
Jendral besar sudah khawatir dari awal dan menyuruh Raja untuk membawa lebih banyak pengawal sebagai pelindung. Tapi Raja tidak mengindahkan perkataanya karena berpikir misi interogasi ini tidak berbahaya sama sekali. Dan hanya membawa tiga penyihir kecil dan dua orang pengawal dengannya.
"Sampah" kepala sekolah akademi, yang merupakan ketua dari para penyihir kerajaan juga berkata dengan nada benci.
"Aku sama sekali tidak menyentuhnya" Sayn berusaha menjelaskan. "Salah satu bawahan pria tua itu yang menusuk Raja" Sayn menunjuk Marquis Zent.
Tangisan Marquis Zent semakin keras. "Bagaimana mereka masih bisa berkata seperti itu setelah membunuh Yang Mulia. Aku tidak mungkin melakukan hal jahat seperti itu pada Yang Mulia. Aku sudah mengabdi kepada Yang Mulia berpuluh-puluh tahun dan memberikan pengabdianku padanya" Marquis berkata dengan nada puitis.
Sayn merasa ingin muntah. Dan Diana menatap Marquis dengan tatapan jijik. Tapi tentu saja semua orang mempercayai perkataan Marquis. Tidak ada yang percaya dengan penjelasan Sayn. Sayn juga menutup mulutnya karena percuma untuk menjelaskan segalanya. Orang-orang itu tidak akan mempercayainya. Sayn menyesal karena dia tidak membawa alat sihir apa pun yang bisa merekam adegan. Dia tidak punya apa-apa untuk membuktikan dirinya sekarang.
Semua orang mulai melihat ke arah para penyusup dengan tatapan benci. Lalu Marquis mulai menunjukkan bayi yang berada di genggamannya. "Tapi aku berhasil menangkap bayi penyihir itu. Walaupun Duke dan yang lainnya sudah melarikan diri. Kita masih punya bayi ini untuk menangkap mata-mata itu" kata Marquis bersemangat.
__ADS_1
Diana hampir menangis saat melihat bayinya di ayunkan dengan kasar seperti itu. Evan juga tidak sadarkan diri, sehingga membuatnya merasa khawatir. Dia tidak tahu apa yang dilakukan oleh Marquis Zent sehingga membuat Evan menjadi tidak sadarkan diri seperti itu.
Kondisi Sayn, Diana dan yang lainnya sedang kritis saat ini. Mereka dikepung di segala arah dan tidak bisa melarikan diri. Mereka juga harus menanggung dosa karena membunuh Raja.
Sayn ingin melarikan diri dengan cepat sebelum ada banyak orang yang mengepung mereka. Lagipula mereka kalah jumlah. Bagaimana bisa lima orang dari mereka melawan semua orang. Dia ingin membawa Diana dan melarikan diri dengan sihir teleportasi. Tapi mereka tidak bisa. Karena Evan berada di tangan musuh. Kalau mereka melarikan diri sekarang sambil membawa Diana dengan paksa, Evan akan terbunuh. Dan tentu saja Sayn tidak ingin membuat Eva merasa sedih karena hal itu.
"Lihat bayi ini. Kalian bisa membalaskan dendam Raja kalian dengan membunuh bayi ini!" kata Marquis. Matanya masih merah, tapi dia berbicara dengan sangat lantang. "Kita bisa membunuhnya sebagai peringatan"
"Hentikan!" teriak Diana. Dia ingin menggapai bayinya tapi dua orang jubah hitam itu selalu menghentikannya.
Jendral besar itu menatap Diana dan Evan dengan tatapan tidak yakin. Sebelumnya dia sangat menghormati Duke dan keluarganya. Sampai kejadian ini terjadi dan identitas istri Duke itu terungkap, penghormatan itu telah hilang dari matanya. Semua keluarga Duke adalah kriminal di matanya saat ini. Dan tentu saja pembunuh itu harus dihukum mati. Tapi dia tetap tidak tega untuk melukai seorang bayi. Tapi dia ingin balas dendam.
"Tidak ada yang ingin membalas kematian Raja?" Marquis berkata sambil memiringkan kepalanya. "Ini tidak adil, kalian tahu! Penyihir gelap itu juga perlu merasakan sakit saat kehilangan orang tersayang! Seperti kita yang sudah kehilangan Yang Mulia!" Mata Marquis mulai bekaca-kaca.
Jendral besar itu mulai terhasut kara-kata Marquis. Dia berdiri dan menarik pedangnya. Lalu mengayunkan pedangnya.
"Tidak!" Diana berteriak histeris.
Sayn dengan cepat bergerak ke arah Jendral dan Marquis.
Tapi SHUT! Tiba-tiba Evan yang berada di tangan Marquis menghilang. Semua orang mengira bahwa Sayn mengambilnya. tapi sosok itu bukan Sayn. Semua orang menatap sosok yang berdiri di samping sambil menggendong sang bayi.
"Putra mahkota!" mereka berkata serentak sambil membungkuk hormat. Ya, Denis telah datang.
__ADS_1
Jendral besar menjatuhkan pedangnya dan ikut membungkuk. "Yang mulia, maafkan aku"
"Apa yang terjadi?" suara Denis menggema di seluruh penjara. Suara yang sangat dingin dan dipenuhi aura membunuh.